Salah Kamar

Salah Kamar
Belum Menikah?


__ADS_3

"Firman, kami pulang dulu. Tolong jaga Vallen baik-baik, meskipun dia sedikit nakal, kau harus bersabar menghadapinya."


"Iya ma."


"Mama tolong jangan bicara seperti itu," gerutu Vallen.


"Memang kenyataannya begitu, kau sangat sulit dikendalikan."


"Tidak ma, Vallen sangatlah manis dan penurut."


"Mama dengar sendiri kan jika Firman mengatakan aku sangat baik dan penurut."


"Itu karena Firman suami yang sangat baik dan mau menutupi kekurangan istri seperti dirimu."


"Ah, terserah mama saja."


"Ya sudah kami pulang dulu, kalian baik-baik disini."


"Iya ma."


Firman kemudian menatap Vallen sambil tersenyum. "Kau benar-benar sedang mengandung anakku?"


"Tentu saja, kau pikir aku sedang berbohong?"


"Tidak, aku hanya merasa sangat bahagia."


"Jadi kau percaya padaku?"


"Tentu saja, aku hanya tidak menyangka karena ini rasanya begitu cepat, sepertinya kita belum lama menikah dan kau sudah mengandung anakku."


"Bukankah itu yang kau inginkan?"


"Tentu saja, aku sangat bahagia."


Di saat itulah tiba-tiba ponsel Firman berbunyi.


"Firman, lihat ponselmu."


Firman kemudian mengambil ponselnya dan melihat sebuah nama di layar ponselnya.


"Delia." kata Firman.


Vallen kemudian mengerutkan keningnya.


"Coba kau angkat saja."


Firman kemudian menganggukkan kepalanya lalu mengangkat panggilan telepon itu, namun saat Firman mengangkat panggilan itu, tiba-tiba panggilan itu pun dimatikan.

__ADS_1


"Mati," kata Firman.


"Mungkin dia salah memencet nomermu."


"Mungkin."


"Ya sudah, kita tidur saja, aku lelah Firman."


"Mau kugendong?"


"TENTUUUU SAJA!! CEPAT GENDONG AKU, FIRMAN!!"


Sementara di ujung sambungan telepon, tampak Delia menghembuskan nafas panjangnya.


"Aku harus melakukan ini, tapi aku tidak yakin, aku sudah tidak mau mengganggu mereka lagi, tapi aku harus, ah aku harus bagaimana?" kata Delia sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Lebih baik aku menghubungi Mas Firman besok saja," kata Delia lalu mematikan ponselnya.


🖤🖤🖤


TOK TOK TOK


"Silahkan masuk."


"Oh, Nyonya Aini, sebentar ya Dokter Vallen sedang ke toilet, silahkan duduk."


"Oh iya," jawab Aini kemudian duduk di kursi ruangan Vallen.


"AINI!! Apa kabar? Sepertinya kau sudah lama tidak mengunjungiku."


"Iya Dokter Vallen, aku baru pulang dari Jogja, dan aku sedikit sibuk di sana."


"Sibuk? Memangnya apa yang sedang kau kerjakan di sana?"


"Aku baru saja menyelesaikan kasus yang kualami."


"Kasus? Kasus apa Aini? Kau baik-baik saja kan?"


"Ya, aku baik-baik saja, aku dan Mas Roy baru saja memenjarakan orang yang telah menghancurkan hidupku."


"Menghancurkan hidupmu?"


"Ya, mantan suamiku."


"Maksudmu Dimas?"


"Ya."

__ADS_1


"Aini, apa sebenarnya yang telah terjadi? Kau baik-baik saja kan? Sebenarnya ada kasus apa antara kau dan Dimas?"


Aini kemudian menutup matanya sambil mengehembuskan nafas panjangnya.


"Kasus percobaan pemerkosaan."


"Astaga, maksudmu Dimas mencoba untuk memerkosamu lagi?"


"Ya, saat itu aku pergi ke Jogja sendirian karena aku sedang marah pada Mas Roy, saat aku sedang menghindari suamiku yang tiba-tiba datang ke rumahku, tiba-tiba Dimas mencegatku lalu menarik tubuhku ke sebuah lahan kosong, untung saja Mas Roy berhasil menyelamatkanku tepat waktu."


"Syukurlah, jadi kau baik-baik saja kan?"


"Ya, aku baik-baik saja."


"Jadi Dimas dipenjara karena itu?"


"Ya."


"Astaga, dia memang benar-benar keras kepala, apa kau tahu Aini saat aku pergi ke Jogja, dia pun berusaha untuk menggodaku, kemudian Firman menghajarnya habis-habisan, kupikir dia akan jera, tapi ternyata tidak."


"Begitulah Dimas, dia memang sangat keras kepala."


"Ya, padahal dia akan menikah dengan Delia, tapi masih saja dia bersikap seperti itu."


"Ya, dia sangat kekanak-kanakan."


"Aku kasihan pada Delia. Pasti hatinya begitu hancur karena seharusnya mereka sudah menikah tapi Dimas malah berbuat hal memalukan seperti itu."


"Ya, yang aku dengar dia sangatlah terpuruk. Bahkan selama satu minggu dia tidak berani keluar rumah karena malu."


"Astaga, kasihan sekali. Oh iya Aini, aku ingat, tadi malam Delia juga menghubungi Firman, tapi saat Firman mengangkat panggilan itu tiba-tiba panggilan itu pun mati."


"Dokter Vallen, apakah ini ada hubungannya dengan Dimas?"


"Entahlah, nanti akan kubicarakan kembali dengan Firman."


Disaat itulah tiba-tiba Vallen merasa mual kembali, dia kemudian bergegas ke arah wastafel lalu mencoba memuntahkan isi perutnya, namun yang keluar hanyalah berupa cairan bening.


WOEK WOEK WOEKKK


"Ah, pahit sekali rasanya." gerutu Vallen sambil berjalan ke arah mejanya. Aini hanya bisa menatap Vallen dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Dokter Vallen, apakah anda hamil? Bukankah anda belum menikah dengan Firman?" tanya Aini sambil mengerutkan keningnya. Hani yang ada di ruangan itu pun ikut menatap Vallen dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ohhh ini tidak seperti yang kalian pikirkan, percayalah padaku," kata Vallen sambil meringis dengan sedikit salah tingkah.


💙💙💙

__ADS_1


NOTE:


Maaf baru update, dan cuma bisa bisa update sedikit karena othor lagi sibuk banget sama kerjaan dunia nyata + novel sebelah yang lagi Crazy Up 😉✌️


__ADS_2