
"Bukan.. Bukan, kau pasti salah Bi, aku memintamu untuk membelikan tissue bukan pembalut, kau tadi sudah salah dengar Bi."
"Tapi tadi Nyonya bilang pembalut."
"Bi Asih, kamu bagaimana? Sudah salah masih ngeyel!"
Bi Asih yang mendengar bentakan Giselle hanya diam saja. "Giselle, kau tidak perlu membentak Bi Asih seperti itu, mungkin dia hanya salah dengar."
"E.. Ee.. Iya Leo, aku kan jadi malu kalau kayak gini."
"Ya sudah lebih baik sekarang kau tidur Giselle, ini sudah malam, wanita hamil tidak boleh tidur terlalu malam. Bi Asih, tolong kunci semua pintu rumah!" perintah Leo.
"Iya Tuan," jawab Bi Asih.
"Kau mau kemana Bi! Berikan pembalutnya padaku!" ujar Giselle.
"Bukankah kau tidak membutuhkan pembalut itu Giselle, kenapa kau memintanya pada Bi Asih?" tanya Calista.
"E.. Ini.. Ini untuk persediaan saja," kata Giselle sambil meninggalkan Leo dan Calista menuju kamarnya.
"Bagaimana Leo?" tanya Calista saat melihat Giselle telah masuk ke dalam kamar.
Leo hanya tersenyum mendengar kata-kata Calista. "Kita lihat besok, sebaiknya kita tidur, ini sudah malam."
Calista lalu mengangguk dan mengikuti Leo menuju kamarnya.
"BRENGSEK!!! Hampir saja ketahuan! Untung Leo dan Calista itu bodoh jadi aku masih bisa membohongi mereka!" umpat Giselle di dalam kamar sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Oh tidak, aku sampai lupa sesuatu, bukankah malam ini aku harus mengajak Leo tidur di kamarku? Kenapa aku bisa sampai lupa seperti ini? Lebih baik aku merayu Leo, sekarang dia pasti masih ada di bawah," kata Giselle sambil mengganti bajunya dengan lingerie seksi transparan berwarna hitam, kemudian lingerie itu ditutup dengan kimono saat Giselle keluar dari kamar untuk mencari Leo. Namun baru beberapa langkah dia keluar dari kamar, saat melewati kamar Calista, dia mendengar ******* dan erabgan dari Leo dan Calista yang sedang bercinta.
'Kurang ajar, brengsek, bedebah kau Calista! Kau selalu mencul kesempatan untuk bersama dengan Leo,' kata Giselle dalam hati.
***
Sementara Laras dan Ramon yang telah selesai makan malam masih bersenda gurau. Ramon lalu memegang tangan Laras.
"Laras, sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah begitu tertarik padamu."
Jantung Laras kian berdetak semakin kencang mendengar kata-kata Ramon. 'Apakah dia mau mengungkapkan cintanya padaku?' batin Laras.
Ramon lalu memegang dagu Laras dan membelai wajahnya. "Aku mencintaimu Laras, apakah kau mau menerima cintaku?"
Hati Laras begitu bahagia mendengar kata-kata Ramon. 'Akhirnya, selangkah lagi aku akan memiliki suami yang kaya.' gumam Laras.
__ADS_1
"Bagaimana Laras, apakah kau mau menerima cintaku?"
Laras lalu mengangguk sambil tersipu malu. "Ya, Ramon aku juga menyukaimu," jawab Laras malu-malu.
'Berhasil, akhirnya aku akan menikah dengan wanita kaya. Kini aku tak perlu lagi menggantungkan hidupku pada Giselle, apalagi pada Calista yang sudah tidak memedulikanku,' kata Ramon dalam hati.
"Terima kasih Laras sayang, terimakasih, aku janji akan selalu membahagiakanmu." kata Ramon sambil tersenyum.
'Yes, sekarang kau akan kubuat kau bertekuk lutut padaku Ramon,' batin Laras.
Ramon lalu memegang tangan Laras. "Sayang, aku sebenarnya sangat ingin menikah denganmu. Tapi..."
"Tapi, apa Ramon?"
"Saat ini perusahaanku sedang mengalami sedikit masalah Laras."
"Memangnya kenapa dengan perusahaamu?"
"Beberapa hari yang lalu, aku tertipu oleh salah satu klien yang tidak membayar jasa di perusahaan kami, dan kini kami mengalami kerugian yang cukup besar, sehingga kondisi finansialku tidak seperti biasanya," kata Ramon disertai raut wajah yang begitu sedih.
"Hei, jangan bersedih Ramon. Mungkin aku bisa membantumu? Bukankah jika perusahaanmu sudah kembali stabil kita bisa secepatnya menikah?" tanya Laras.
"Iya Laras kau benar, aku akan secepatnya menikahimu jika perusahaanku sudah stabil seperti semula," jawab Ramon sambil menyeringai.
"Memangnya apa yang bisa kubantu untukmu Ramon? Kau bisa menggunakan tenagaku untuk ikut membangun perusahaanmu lagi."
"Suntikan modal? Maksudmu?"
"Ya, kau hanya perlu menanamkan sedikit modalmu di perusahaanku," kata Ramon sambil mulai sedikit mendekat pada Laras dan mencium tengkuknya.
Laras yang belum pernah diperlakukan begitu mesra oleh seorang lelaki begitu terpedaya oleh rayuan Ramon.
"Baik Ramon, aku akan memberikan suntikan modal untukmu," jawab Laras yang kini mulai menikmati sentuhan Ramon.
"Malam ini menginaplah di apartemenku," ujar Ramon sambil mengedipkan matanya yang membuat jantung Laras berdegup kian kencang.
"Menginap di apartemenmu?"
"Ya Laras, kita bersenang-senang malam ini," kata Ramon sambil mengajak Laras keluar dari rumah makan.
"Iya Ramon.
'Yes, ini kesempatan bagus, aku akan membuat Ramon benar-benar jatuh ke dalam pelukanku dan tidak akan pernah bisa meninggalkan aku,' batin Laras sambil masuk ke dalam mobil Ramon dan sesekali melirik pada Ramon yang serius mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
Perasaan Laras kian berkecamuk ingin semakin menguasai hidup Ramon setelah malam ini memberikan kesuciannya pada Ramon. 'Ramon harus menikahiku, aku tidak akan membiarkan dia pergi dari hidupku. Aku harus membantu memberikan suntikan dana untuknya agar semakin cepat dia menikahiku,' gumam Laras setelah melewati malam yang begitu panas dan romantis bersama Ramon.
"Kau kenapa diam saja Laras?" tanya Ramon sambil mencium bahu Laras, tubuh telanjang keduanya kini hanya tertutup oleh sebuah selimut.
"Tidak apa-apa Ramon, aku cuma ingin tahu, memangnya berapa suntikan dana yang kau butuhkan?
"Tidak banyak sayang."
"Berapa?"
"Lima miliar."
Tulang Laras seakan rontok mendengar nominal yang disebutkan Ramon.
'Darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu?' kata Laras dalam hati.
***
Matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya, namun Kenan dan Olivia kini sudah berdiri di depan rumah Calista dan memencet bel rumah itu.
Beberapa saat kemudian, tampak Calista sendiri yang membukakan pintunya, dan Leo mengikuti di belakangnya.
"Kenan, Olive, kalian sudah datang."
"Ya Calista, Leo, maaf jika pagi-pagi kami sudah merepotkan kalian. Aku hanya ingin memastikan keadaan Olivia baik-baik saja selama kutinggalkan, aku dan Mama akan pergi ke Singapore untuk menghadiri pernikahan kerabat kami. Tapi kondisi kehamilan Olive saat ini sedikit lemah, dan aku khawatir jika dia kuajak, sesuatu hal yang buruk terjadi padanya."
"Iya Kenan, aku mengerti, dia akan aman dan bahagia selama kau titipkan bersamaku," kata Calista.
"Ya sudah, aku pergi dulu, Vansh dan Mama sudah menungguku di Bandara."
"Iya Kenan hati-hati."
"Kau jaga diri baik-baik ya Olive," kata Kenan sambil mengecup kening Olivia.
"Iya Kenan."
"Ayo kita masuk Olive." kata Calista, setelah mobil Kenan meninggalkan rumahnya. Di saat itu pula, Giselle yang baru bangun tidur berjalan menuruni tangga.
"Kakak, wanita itu?" tanya Olivia.
"Dia maduku," jawab Calista, Olivia lalu menghampiri Giselle.
"Hei kau bukankah wanita yang menabrakku saat di rumah sakit?"
__ADS_1
Calista dan Leo pun ikut menghampiri mereka. Giselle tampak gugup melihat Olivia yang ada di hadapannya.
"Hei saat itu kau bilang padaku jika kau baru saja mengalami keguguran," kata Olivia begitu lantang yang semakin membuat Giselle panik, raut wajahnya pun berubah menjadi pucat.