
TOK TOK TOK
"Giselle." panggil Calista.
"Giselle, ayo sarapan."
"Sebentar Calista." jawab Giselle dengan sedikit kepayahan dari dalam kamar.
"Apakah sesuatu terjadi denganmu Giselle?" tanya Calista.
"A.. Aku ti.. tidak apa-apa Calista sebentar." jawab Giselle. Namun Calista yang curiga akhirnya membuka pintu itu dan melihat Giselle tengah terkapar lemas di dekat kamar mandi di dalam kamar itu.
"GISELLE." teriak Calista, dia lalu membantu Giselle untuk bangun dan memapahnya ke tempat tidur.
"Giselle, apa yang sudah terjadi denganmu?"
"Tidak apa-apa Calista, hanya sedikit pusing dan lemas, perutku juga mual."
"Wajahmu sangat pucat, Giselle. Lebih baik sekarang kita ke dokter."
"Tidak Calista, aku tidak mau merepotkanmu."
"Tidak Giselle, kau sedang sakit. Sebentar ya." kata Calista lalu pergi keluar dan masuk kembali bersama Leo.
"Leo, lihat keadaannya."
"Giselle kau harus ke dokter sekarang, jika kau tidak mau maka akan kuberitahu Revan jika kau ada di sini!"
"Leooo kau jangan terlalu keras seperti itu, kasihan Giselle."
"Tidak Calista, ini demi kebaikannya."
"Bagaimana Giselle, kita ke rumah sakit sekarang ya?" tanya Calista.
Giselle lalu mengangguk. Calista lalu membantunya berdiri dan memapahnya masuk ke dalam mobil.
"Lihat keadaanmu Giselle, berdiri sendiri saja kau tidak mampu, tapi malah menolak ke rumah sakit." kata Leo saat mereka ada di dalam mobil.
"Leooooo." teriak Calista sambil mencubit suaminya.
"Calista bukankah aku mengatakan yang sebenarnya."
"Lebih baik kau diam dan ayo pergi ke rumah sakit sekarang." gerutu Calista.
***
Revan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi. Senyumnya mengembang saat dia sudah sampai di rumah Leo.
"Semoga kau disini Giselle." kata Revan sambil turun dari mobil kemudian membunyikan bel rumah itu.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang asisten rumah tangga.
__ADS_1
"Bi, saya mau tanya sesuatu, apakah Gisell tinggal di sini?"
"Iya Tuan, sejak kemarin Nyonya Giselle tinggal di rumah ini."
'Bagus.' gumam Revan sambil menyunggingkan senyumnya.
"Bisakah Bibi panggilkan Giselle?"
"Oh maaf, Nyonya Giselle sedang pergi dengan Tuan Leo dan Nyonya Calista."
"Pergi? Pergi kemana?"
"Ke rumah sakit, tadi pagi Nyonya Giselle sepertinya sakit jadi Tuan dan Nyonya membawa dia ke rumah sakit yang ada di dekat sini."
"Baik Bi, terimakasih saya permisi dulu."
"Iya Tuan." jawab Bi Asih kemudian menutup pintunya.
"Sial, Giselle sampai sakit seperti ini? Ini pasti karena aku!" gerutu Revan saat ada di dalam mobil.
Sementara itu, Leo dan Calista tampak mengamati dokter yang sedang memeriksa Giselle dengan penuh tanda tanya.
"Dok, sebenarnya bagaimana keadaan Giselle?"
"Sebentar Tuan Leo, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut." kata dokter itu kemudian keluar ruangan dan menyuruh salah seorang perawat untuk membawa Giselle ke ruangan salah satu dokter di rumah sakit itu.
"Apa Giselle menderita penyakit yang parah, Leo?"
Beberapa saat kemudian, dokter tersebut dan Giselle pun kembali. "Bagaimana dok? Apakah sesuatu terjadi pada Giselle?" tanya Calista.
"Oh tidak Nyonya, anda tenang saja, tadi saya membawa Nyonya Giselle ke ruangan dokter kandungan untuk melakukan USG, dan ternyata benar seperti dugaan saya jika Nyonya Giselle saat ini sedang hamil.
"APA HAMIL DOK?" teriak Calista disertai raut wajah bahagia.
"Iya Nyonya Giselle sedang hamil, dan saat ini usia kandungannya memasuki usia empat minggu, masih sangat muda dan rentan sekali, saya harap kalian bisa menjaga kondisi kehamilan Nyonya Giselle."
"Iya dok, iya kami akan menjaga Giselle sebaik mungkin." jawab Calista sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya Giselle bisa pulang sekarang, kalian bisa menebus vitamin yang sudah saya resepkan di apotik."
"Iya dok, terimakasih." kata Calista kemudian menghampiri Giselle yang kini sedang menangis."
"Hei, kenapa kau menangis Giselle?" tanya Calista.
"Kenapa ini terjadi lagi Calista? Kenapa ini terjadi lagi?" kata Giselle sambil menangis.
"Giselle kau tidak boleh berbicara seperti itu, kau seharusnya bahagia, apa yang harus kau takutkan? Kau memiliki suami, ayah dari bayi yang kau kandung."
"Tapi aku tidak mau kembali pada Revan Calista, aku tidak mau menjadi istri kedua, ini terlalu menyakitkan untukku." kata Giselle sambil terisak.
"Hei Giselle kata siapa kau istri keduaku?" teriak seseorang dari ambang pintu.
__ADS_1
"RE.. REVAN!" kata Giselle dengan sedikit gugup, dia lalu mengarahkan pandangannya pada Leo.
"Leo apa kau yang memberitahu Revan jika aku disini?" tanya Giselle.
"Tidak, apa untungnya aku memberitahu Revan jika kau ada di sini." gerutu Leo.
"Kau tidak usah pertanyakan itu Giselle, kau adalah istriku, kemanapun kau pergi aku akan selalu berusaha mencarimu."
"Calista, ayo kita pulang, aku tidak mau bertemu dengan dia." kata Giselle sambil menarik tangan Calista.
"Kau mau kemana Giselle?" kata Revan kemudian mencekal tangan Giselle.
"Revan, tolong jangan pernah temui aku lagi."
"Tidak, tidak bisa, kau sedang mengandung anakku, bagaimana mungkin kau menyuruhku untuk tidak bertemu denganmu!"
"Karena aku sudah ingin bercerai denganmu Revan, aku ingin bercerai denganmu!"
"TIDAK, itu tidak akan kulakukan!"
"Kenapa tidak bisa kau lakukan? Aku sudah muak melihatmu, aku juga tidak ingin anakku memiliki seorang pembohong seperti dirimu!"
"Giselle, bagaimanapun juga janin yang ada di dalam kandunganmu itu adalah darah dagingku! Tolong mengertilah aku tidak mengatakan yang sejujurnya padamu saat awal kita menikah karena aku tak tahu hubungan kita akan seperti ini, saat itu aku hanya ingin bertanggung jawab padamu karena telah melakukan kesalahan padamu."
"Baik jika itu ada yang ada di dalam benakmu, setelah anak ini lahir, tolong segera ceraikan aku!"
"Tidak bisa karena kau adalah istriku!"
"Istri keduamu Tuan Revan." kata Giselle sambil tersenyum sinis.
"Istri kedua apa? Saat ini hanya kau lah istriku satu-satunya karena aku telah menalak Stella!"
Giselle begitu terkejut dengan apa yang Revan katakan, dia lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Jadi kau sudah menalak Stella, Revan?"
"Ya, dengarkan baik-baik! Aku sudah menalak Stella dan kami akan segera bercerai setelah anak dalam kandungan Stella lahir!"
Calista lalu menghambur pada Giselle. "Kau dengar itu Giselle, kau kini adalah satu-satunya istri Revan, sekarang pulanglah, kembalilah pada suamimu!"
"Ya kau harus pulang bersamaku Giselle, karena aku akan meresmikan pernikahan kita."
"Pulanglah Giselle." kata Leo.
Revan lalu mendekat ke arah Giselle dan menggenggam tangannya. "Ayo kita pulang, akan kukenalkan dirimu pada kedua orang tuaku."
"Orang tuamu?"
"Ya, mereka baru saja pulang dari New York."
"Apa mereka mau menerimaku?"
__ADS_1
"Giselle kita harus berusaha membuat mereka percaya jika yang sedang mengandung darah dagingku adalah dirimu bukan Stella." jawab Revan sambil tersenyum menyeringai, dan diikuti anggukan Giselle.