
"Drey, kau sudah sadar?" tanya Rima.
Namun Drey tetap memejamkan matanya.
"Apa yang terjadi? Kenapa matanya masih terpejam?"
"Rima, bersabarlah, dia mungkin belum sepenuhnya sadar." jawab Calista.
Rima pun kini tampak murung mendengar perkataan Calista.
"Rima, lebih baik kau beristirahat di kamar perawatan saja."
"Tidak, aku mau disini saja."
"Rima, kondisimu masih belum pulih, kau harus banyak beristirahat."
"Tapi aku mau menunggu Drey sampai sadar, dia jadi seperti ini karena menolongku."
"Rima, kalian sudah kami atur untuk dirawat di kamar yang sama, jadi kau tetap bisa menunggu Drey sampai sadar di kamar perawatan saja. Ingat kau baru saja keguguran, kau tidak boleh terlalu lama duduk, kau harus banyak beristirahat." kata Calista.
Mendengar perkataan Calista, Rima pun kemudian mengangguk. Beberapa saat kemudian mereka dipindahkan oleh beberapa orang perawat menuju kamar perawatan.
"Terimakasih." kata Rima saat mereka sudah ada di kamar perawatan.
"Sama-sama, kami tahu kau dan Drey kini tidak dapat dipisahkan, jadi kami memutuskan agar kalian dirawat dalam satu kamar." jawab Leo.
Mendengar perkataan Leo, Rima pun tersenyum.
"Kalian terlalu berpikir jauh, aku dan Drey tidak memiliki hubungan apapun."
Leo pun kemudian tersenyum kecut.
"Tidak usah malu-malu, kami tahu kalian saling mencintai."
"Tidak Kak, Drey mencintai wanita lain, dia tidak pernah mencintaiku." kata Rima dengan raut wajah sedih.
"Darimana kau tahu jika Drey masih mencintai wanita lain? Siapa sebenarnya wanita yang dicintai Drey?" tanya Calista yang membuat Rima terdiam.
Olivia dan Kenan yang kini duduk di sofa di dalam ruangan itu lalu saling berpandangan. "Kau dengar, Kenan. Rima masih mengira jika Drey masih mencintaiku." kata Olivia yang kini menyenderkan kepalanya di bahu Kenan.
"Aku juga sebenarnya tidak tahu apakah Drey masih menyukaimu atau tidak. Tapi keputusannya untuk menikahi Rima dan menjalin hubungan yang serius cukup menunjukkan usahanya untuk keluar dari bayang-bayang cinta di masa lalunya."
"Jadi menurutmu?"
"Mungkin dia sudah memiliki perasaan pada Rima, tapi dia belum menyadari jika itu cinta. Suatu saat Drey akan menyadari itu semua."
Olivia pun mengangguk mendengar perkataan Kenan. Saat itulah tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.
__ADS_1
"Dari siapa Kenan?"
"Komandan Firdaus."
Kenan kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
"Olive, aku pergi sebentar. Aku akan mengurus jenazah Ilham yang ada di kepolisian."
"Iya Kenan."
"Leo ayo kita pergi." kata Kenan pada Leo.
"Kemana?"
"Mengurus jenazah Ilham."
"Ayo." jawab Leo sambil mengangguk, mereka lalu pergi dari ruang perawatan Rima.
"Rima, istirahatlah dan minum ini." kata Calista sambil memberikan beberapa butir obat. Rima pun kemudian mengambil obat tersebut dan meminumnya. Beberapa saat kemudian, Rima pun tampak tertidur. Calista lalu menghampiri Olivia yang masih duduk di sofa.
"Kakak, ada yang ingin kuceritakan padamu."
"Ada apa Olive? Kenapa kau tampak begitu serius?"
"Emh, ini mengenai Rima dan Drey."
"Rima dan Drey?"
"Lalu?"
"Dia pernah mencintaiku Kak, beberapa kali dia mengutarakan perasaannya padaku, tapi aku selalu menolaknya. Saat itu, sebelum kami mencurigai Ilham, bahkan Leo dan Kenan pernah berpikiran jika yang meneror aku dan Kenan adalah Drey."
"Astaga, kenapa aku baru tahu ini semua? Kenapa kalian tidak menceritakannya padaku?"
"Mungkin saat itu, pikiran kami fokus pada Ilham jadi kami melupakan Drey."
"Iya Olive, aku mengerti."
"Lalu apa yang harus kita lakukan Kak?"
"Bagaimana sebenarnya perasaan Drey saat ini terhadapmu?"
"Entahlah, sepertinya dia sudah tidak mencintaiku."
"Apa kau yakin?"
"Ya, bukankah dia mau menikahi Rima? Jadi pasti dia sudah tidak mencintaiku lagi."
__ADS_1
"Olive, kau polos sekali. Bukankah kau tahu jika Drey akan menikahi Rima karena dia telah berbohong pada orang tuanya."
"Aku yakin Drey sudah tidak mencintaiku."
"Tapi aku tidak, aku harus menyelidiki semua ini. Aku tidak ingin Rima selalu sakit hati karena orang-orang yang dia cintai tidak pernah mencintainya. Bukankah kau tahu bagaimana rasanya mencintai orang yang tidak pernah mencintai kita? Sangat melelahkan bukan?"
Olivia kemudian mengangguk. Disaat itulah Drey tampak membuka matanya.
"Kakak, lihat itu sepertinya Drey sudah sadar."
"Kau sudah sadar Drey?" tanya Calista dan Olivia sambil mendekat kearahnya.
Drey pun kemudian mengangguk perlahan. Dia lalu mengarahkan pandangannya ke sampingnya dan begitu terkejut melihat Rima juga dalam kondisi memakai infus.
"Olive, apa sebenarnya yang telah terjadi pada Rima? Lalu bagaimana dengan Ilham?"
"Begini Drey, Rima mengalami keguguran. Sedangkan Ilham, dia sudah meninggal. Polisi menembaknya saat dia mencoba kabur dari rumah sakit jiwa, seketika dia langsung meninggal di tempat karena ada peluru yang menembus jantungnya."
"Astaga, Rima mengalami keguguran? Ini semua salahku, aku sudah mendorong kursi roda Rima hingga membuatnya terpental. Aku telah begitu ceroboh dan melakukan kesalahan yang begitu besar." gerutu Drey sambil menjambak rambutnya.
"Tenang Drey, jangan salahkan dirimu. Ini semua sudah takdir."
"Tapi ini semua terjadi karena aku Olive, aku yang sudah membuat Rima seperti ini. Jika aku tidak terlambat menyelamatkan Rima tentu dia tidak harus kehilangan bayinya."
"Cukup Drey, jangan salahkan dirimu lagi. Ini sudah takdir dari Tuhan, jika kau menyesali semua takdir ini, berarti kau tidak percaya pada Tuhan, bagaimanapun ini adalah kehendak Nya." kata Calista.
"Kau benar Calista." jawab Drey lirih.
"Lalu bagaimana dengan Ilham? Benarkah dia sudah meninggal?" tanya Drey lagi.
"Ya, dia sudah meninggalkan. Saat ini Leo dan Kenan sedang mengurus jenazahnya di kepolisian. Jika dibiarkan hidup dia pun akan sangat berbahaya, dia adalah seorang psikopat." jawab Calista.
"Ya, Ilham sangat berbahaya. Dia bisa melukai siapapun yang dia mau tanpa memikirkan akibatnya. Aku sebenarnya tidak mengerti mengapa Ilham bersikap seperti itu? Kenapa dia menyakiti Rima selama mereka menikah?"
"Tidak hanya itu Drey, dia tidak hanya menyakiti Rima. Selain itu dia juga meneror rumah tanggaku dan Kenan, bahkan Kenan pun pernah mengalami luka tusuk juga di perutnya karena perbuatan Ilham."
"Apa? Meneror rumah tangga kalian? Kenapa dia sampai bersikap seperti itu?" tanya Drey pada Oliva.
Mendengar pertanyaan Drey, Olivia dan Calista pun terdiam.
"Kenapa kalian diam?" tanya Drey.
"Baik jika kalian tidak mau menceritakannya padaku, mungkin itu adalah privasi bagi kalian semua." kata Drey sambil tersenyum.
Olivia dan Calista kini pun tampak canggung.
"Dia meneror Olivia dan Kenan karena Ilham mencintai Olivia, Olivia adalah cinta pertama Ilham." kata Rima tiba-tiba ikut menimpali.
__ADS_1
"Rima, kau sudah bangun?" tanya Calista yang terkejut karena tiba-tiba Rima ikut menimpali pembicaraan mereka.
'Jadi, Ilham sebenarnya mencintai Olivia? Sama sepertiku?' kata Drey dalam hati.