Salah Kamar

Salah Kamar
Sakit


__ADS_3

"Papa, kenapa papa tega sekali berkata seperti itu pada mama? Mama tidak pernah menyakiti mereka."


"Tidak usah banyak alasan ma, jika mama tidak pernah melakukan apapun pada mereka kenapa Revan sampai bertindak seperti itu?"


"Itu karena dia dipengaruhi oleh Giselle pa. Bukankah sejak dulu papa tahu jika Revan anak yang penurut. Dia berubah menjadi pembangkang seperti ini sejak mengenal Giselle."


"Mama jangan mengada-ada karena papa mengenal Revan sejak kecil, dia tidak mungkin sampai berbuat seperti itu jika tidak ada sebabnya."


"Baik jika papa lebih mempercayai Revan dan menantu sialan itu, lebih baik mama pergi saja dari sini!" gerutu Santi.


"Silahkan saja mama pergi dari sini, bukankah tadi papa juga sudah berkata seperti itu pada mama? tapi jangan bawa fasilitas apapun yang sudah papa berikan untuk mama."


Mendengar perkataan Farhan, Santi hanya mendengus kesal kemudian berjalan menjauhi Farhan menuju ke kamarnya. "Mama mau kemana? Katanya mau pergi dari sini?" ledek Farhan sambil tersenyum.


"Mama mau tidur." kata Santi kemudian menutup pintu kamar.


"Hahahaha, dasar. Apa kau sudah lupa masa lalumu ma? Dulu sebelum menjadi istriku kau juga hanya sekretarisku." kata Farhan sambil terkekeh.


Sementara Revan yang sudah sampai di apartemennya, langsung memeluk Giselle yang kini sedang memasak di dapur.


"Kau masak apa Giselle? Sepertinya aku sudah begitu lama tidak memakan masakanmu."


"Kau berlebihan, kita hanya berpisah selama lima hari Revan."


"Tapi rasanya seperti bertahun-tahun."


"Hahahaha."


"Kenapa kau tertawa? Apa kau tidak merindukanku?"


"Tentu saja aku merindukanmu, kupikir kau sudah tidak ingin hidup bersamaku lagi jadi saat mama mengusirku aku langsung pergi begitu saja dari rumahmu."


"Ke rumah Leo?"


"Ya, tapi Calista menyuruhku untuk pergi ke rumah Olivia karena beberapa hari yang lalu mamamu sempat datang ke rumahnya dan bertanya tentang masa laluku pada Bi Asih. Calista tidak ingin aku bertemu dengan mama terlebih dahulu untuk sementara waktu karena mama bisa saja datang lagi ke rumahnya."


"Sial, jadi mama sudah menyelidiki masa lalumu dan mencari-cari kesalahanmu? Mama memang benar-benar keterlaluan!" gerutu Revan sambil mengepalkan tangannya.


"Sudahlah Revan, bagaimanapun juga dia adalah mamamu."


"Tapi dia sudah begitu keterlaluan, dia terlalu ikut campur dalam rumah tangga kita Giselle."


"Revan, sudah jangan pikirkan lagi yang terpenting sekarang adalah kita bisa hidup tenang dan bahagia." kata Giselle sambil mengalungkan tangannya pada leher Revan kemudian mengecup pipinya.

__ADS_1


"Jadi kau mulai memancingku Giselle." kata Revan sambil tersenyum dan hanya dibalas cibiran oleh Giselle.


***


"Kenapa aku harus takut? Bukankah ada kau yang bisa menemani David dan menggantikan posisiku." kata Stella sambil tersenyum yang membuat Rima menelan ludah dengan kasar.


"Kenapa kau tiba-tiba menjadi salah tingkah Rima?" tanya Stella lagi.


"Emh.. E.. Apa maksud anda berkata seperti itu Nyonya Stella?" tanya Rima gugup.


"Hahahaha, maafkan aku Rima, aku hanya bercanda padamu."


"Syukurlah." kata Rima sambil tersenyum dan mengelus dadanya.


"Hahahaha kau kenapa? Apa David begitu menakutkan bagimu?"


Rima lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Hahahaha, sebenarnya dia orang yang sangat baik Rima. Hatinya begitu lembut dan penyayang."


"Dia berbuat seperti itu karena dia mencintai anda Nyonya Stella."


"Apa perlu kubuat David untuk bisa jatuh cinta padamu agar dia juga bisa bersikap baik padamu? Hahahaha."


'Kau tidak tahu Stella, jantungku memang selalu berdegup kencang saat mendengar namanya, entah ini disebut apa aku pun tak tahu, apakah ini benar-benar cinta atau hanya sekedar perasaan kagum saja. Dan jika boleh memilih, lebih baik memang aku tidak pernah bertemu dengannya jika hanya untuk melihatnya bermesraan dengan orang yang dicintainya di depan mataku.' kata Rima dalam hati sambil melihat Stella yang kini masih tersenyum.


"Tapi setidaknya kau masih memiliki pilihan dalam menentukan jalan hidupmu Rima. Tidak sepertiku." kata Stella.


"Apa maksud anda Nyonya Stella?"


"Rima, aku tidak pernah menentukan jalan hidupku karena semua diatur oleh kedua orang tuaku. Mereka begitu egois karena selalu memikirkan yang terbaik untuk mereka tapi bukan untukku."


"Jangan berkata seperti itu Nyonya, setidaknya anda beruntung masih memiliki kedua orang tua yang menyayangi anda."


"Sayang? Entahlah aku tidak tahu mereka benar-benar menyayangiku atau tidak, karena sejak kecil sampai dewasa aku tidak pernah memiliki hak untuk menentukan jalan hidupku. Semua diatur oleh kedua orang tuaku. Kau tahu, aku bahkan seperti tidak memiliki jati diri dan tidak pernah memiliki hidupku. Itulah sebabnya sifatku menjadi egois dan angkuh seperti ini." kata Stella sambil terisak.


"Tenangkan diri anda Nyonya Stella." kata Rima sambil menggenggam tangan Stella.


"Maaf jika aku sudah terlalu banyak bicara padamu Rima."


"Tidak apa-apa, saya senang bisa menjadi tempat berbagi untuk anda."


CEKLEK

__ADS_1


Tiba-tiba suara pintu kamar perawatan Stella pun terbuka.


"Nyonya Stella, dokter David sudah datang. Tolong hapus air mata anda jika tidak dokter David memarahi saya lagi." bisik Rima pada Stella.


"Iya Rima." kata Stella sambil membersihkan sisa-sisa air mata di wajahnya.


"Bagaimana keadaanmu Stella?" tanya David sambil mengecup kening Stella dan membelai rambutnya.


"Baik sayang, sangat baik. Rima sudah menjadi teman dan pendengar yang baik untukku."


"Bagus Rima, kau melakukan tugasmu dengan baik. Sekarang kamu boleh pergi dari sini." kata David dengan wajah datar tanpa melirik sedikitpun pada Rima.


"Baik dokter." jawab Rima.


"Nyonya Stella, saya pergi dulu."


"Iya Rima, David tolong kau minta Rima untuk menemaniku lagi besok." rengek Stella.


"Baik, mulai besok dan seterusnya kamu harus menemani Stella di sini."


'Mampus, bagaimana aku bisa kuat menahan rasa sakit di hatiku jika setiap saat harus melihat mereka bermesraan.' kata Rima dalam hati sambil menelan ludah.


"Heh, kenapa kau diam? Apa kau tuli?"


"Emm.. E.. Iya baik dokter David."


"Kau jangan terlalu galak padanya David." gerutu Stella.


"Ya sudah kau boleh pergi dari sini."


"Baik dokter." kata Rima kemudian buru-buru meninggalkan mereka.


Tetapi baru saja beberapa langkah dia meninggalkan ruangan itu, Rima tiba-tiba teringat sesuatu. 'Astaga, ponselku tertinggal di kamar Stella.' gumam Rima kemudian kembali ke kamar perawatan Stella.


Namun saat Rima baru saja membuka pintu kamar dia melihat David yang kini terlihat sedang mencium bibir Stella. Mereka yang kaget mendengar suara pintu yang terbuka langsung menghentikan ciuman mereka dan memandang Rima yang kini berdiri di ambang pintu.


"Rima! Apa-apaan kamu! Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?" bentak David.


"Ma.. Maaf, saya hanya mau mengambil ponsel saya yang tertinggal." kata Rima lalu mengambil ponselnya yang ada di meja dekat sofa.


"Sekali lagi maaf." kata Rima sesaat sebelum meninggalkan kamar itu. Kemudian dia bergegas pergi untuk menyembunyikan air mata yang kini mulai mengalir deras membasahi wajahnya.


'Sakit... Sakit sekali.' kata Rima sambil terisak.

__ADS_1


__ADS_2