Salah Kamar

Salah Kamar
Nomor Ponsel


__ADS_3

Firman kemudian berjalan ke arah taman tempat pesta pernikahan tersebut digelar. Pernikahan tersebut berkonsep outdoor wedding party yang digelar di taman yang ada di resort tersebut.


'Tidak usah ragu Firman, kau bisa memberikan ponsel itu pada seorang pelayan yang sedang melayani tamu di pesta tersebut, kau tidak perlu memasuki area pesta itu.' gumam Firman dalam hati sambil meyakinkan dirinya.


Beberapa menit kemudian, Firman pun sudah sampai di area taman tersebut. Dia melangkahkan kakinya dengan sedikit ragu-ragu, lalu mengamati sepasang pengantin yang sedang bersiap melangsungkan ijab qabul sambil menunggu pelayan yang berjalan di dekatnya.


Sementara itu di tengah pesta itu, acara akad nikah Drey dan Rima pun dimulai, Drey mengucapkan ijab qabul dengan satu tarikan nafas dengan begitu lantang yang membuat semua menjawab "SAH."


Rima dan Drey pun saling berpandangan, dan tersenyum lalu Drey membelai wajah Rima sambil mengucapkan kata "I love you." yang membuat Rima semakin tersipu malu.


Vallen yang melihat pemandangan yang ada disekitarnya pun hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.


"Astaga, sepertinya aku sudah salah mengambil keputusan untuk ikut dalam pesta ini. Semua orang yang ada di sini memiliki pasangan kecuali diriku. Ini benar-benar membuatku merasa tidak nyaman." gerutu Vallen sambil melihat ke sampingnya. Tampak Stella sedang bergelayut manja di tangan David sedangkan di depannya ada Olivia dan Calista yang dipeluk oleh suaminya masing-masing. Di samping kirinya sepasang suami-istri yang terlihat sering bertengkar sedang mengasuh buah hatinya yang baru saja lahir, terkadang sang istri selalu berteriak "Astaga Revannnn!!! kau ceroboh sekali."


Sedangkan di samping kanannya tampak sepasang pengantin baru, Aini dan suaminya yang akan menjadi pasien pertamanya setelah besok dia mulai bekerja di rumah sakit sedang saling menatap satu sama lain sambil bergurau. Sementara di samping Aini, seseorang yang tadi mengenalkan dirinya bernama Laras juga sedang bercengkrama dengan suaminya.


"Astaga aku benar-benar berada di tempat yang salah, lebih baik aku pergi saja dari sini."


"Kak Stella, Kak David."


"Iya ada apa?"


"Aku ingin pergi ke lobi sebentar, ada seorang teman yang akan meneleponku."


"Iya Vallen."


Vallen pun berdiri lalu mulai berjalan meninggalkan pesta itu menyusuri tepi taman. Tiba-tiba netranya tertuju pada seorang laki-laki yang mengenakan kaos oblong berwarna putih serta celana jins tampak sedang mengamati pesta tersebut.


"Sepertinya dia bukan salah satu tamu undangan, pakaiannya saja terlihat sangat santai." kata Vallen sambil mendekat ke arah lelaki itu.


💜💜💜💜💜


"Hmmm kenapa tidak ada pelayan yang mendekat ke arahku." gerutu Firman sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ah itu ada pelayan yang sedang membawakan makanan, lebih baik aku mendekat ke arahnya saja untuk menitipkan ponsel ini pada Zidan yang sedang mengawasi jalannya pesta." kata Firman, dia kemudian membalikkan tubuhnya.


Namun baru saja dia berbalik, seorang wanita cantik mengenakan gaun pesta berwarna cream sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum.


"Sekarang kau bisa memperkenalkan dirimu padaku." kata wanita itu sambil tersenyum.


Firman pun ikut tersenyum, namun saat akan berbicara tiba-tiba terdengar sebuah suara yang memanggil dirinya.


"Firman!!"


"Oh Zidan."


"Kenapa kau ada disini Firman?"


"Oh ini, ponselmu tertinggal di kamar jadi aku bermaksud untuk memberikan ponsel ini padamu, pasti kau membutuhkannya untuk menghandle pekerjaanmu sekarang."


"Astaga, aku sampai melupakan ponselku. Terimakasih banyak Firman."


"Ya."


"Aku kembali ke pesta itu dulu, lebih baik kau tidak usah mendekat ke sana karena aku melihat Aini bersama suaminya ada di pesta itu." bisik Zidan di dekat telinga Firman.


"Aku tahu itu." jawab Firman sambil tersenyum.

__ADS_1


Zidan lalu melangkah pergi meninggalkan Firman yang kini sedang berdiri bersama Vallen.


"Jadi namamu Firman?"


Firman pun tersenyum sambil mengangguk, kemudian berjalan pergi meninggalkan Vallen.


"Astaga, dingin sekali dia." gerutu Vallen yang melihat Firman yang kini berjalan menjauhinya.


"Kau mau kemana?"


Firman kemudian membalikkan badannya.


"Apa itu penting bagimu?"


"Hei kau meninggalkan seorang wanita yang sedang berbicara padamu, apa itu sopan?"


Firman pun mendekat kembali ke arah Vallen.


"Lalu aku harus bagaimana? Mengajakmu mengobrol? Aku bahkan tidak mengenalmu, bagaimana jika kau memiliki niat buruk padaku?"


"Kau memang benar-benar menyebalkan, aku menyesal sudah mengenalmu." kata Vallen kemudian berjalan menjauhi Firman menuju ke bagian depan resort. Melihat Vallen yang pergi menjauhi pesta, Firman pun bergegas menghampirinya.


"Kau mau kemana? Ini sudah malam, berbahaya bagimu keluar dari sini sendirian."


"Itu jauh lebih baik daripada aku harus bersamamu." jawab Vallen sambil berjalan ke arah luar resort.


"Kenapa kau pergi dari pesta itu?" tanya Firman yang kini berjalan di belakang Vallen.


Mendengar pertanyaan Firman, Vallen pun menghentikan langkahnya.


"Bukan urusanmu."


"Bagaimana bisa kau berfikiran seperti itu?"


"Hanya dugaanku saja."


"Sayangnya dugaanmu salah."


"Lalu?"


"Aku hanya kesepian." jawab Vallen sambil memonyongkan bibirnya.


"Kesepian? Bukankah pesta itu sangat meriah? Semua orang tampak begitu bergembira."


"Ya, karena mereka memiliki pasangan, tidak seperti diriku."


Mendengar perkataan Vallen, Firman pun tertawa.


"Kenapa kau tertawa?"


"Kau sangat lucu, jadi kau iri dengan orang-orang yang ada di pesta itu karena kau tidak memiliki seorang kekasih?"


"Bisa dikatakan seperti itu."


"Astaga, kau memang sangat lucu."


"Lalu kau mau kemana?"

__ADS_1


"Entahlah."


"Biar kutemani, tidak baik seorang wanita pergi keluar sendirian dengan memakai pakaian pesta seperti ini."


"Aku juga tidak yakin padamu, bagaimana jika kau juga ingin berbuat jahat padaku?"


Mendengar perkataan Vallen, Firman pun terdiam.


"Kenapa tiba-tiba kau diam?"


"Jadi kau tidak percaya padaku?"


Vallen pun tersenyum.


"Bukankah tadi kau juga mengatakan hal seperti itu padaku?" jawab Vallen yang membuat keduanya tertawa.


Tiba-tiba ponsel Vallen pun berbunyi.


"Kak David."


Vallen pun mengangkat panggilan itu.


[Halo Kak.]


[Vallen, kau dimana?]


[Ada di lobi bersama temanku.]


[Sebentar lagi ada acara lempar bunga, ayo cepat kembali.]


[Benarkah?]


[Ya.]


[Baik, aku akan kembali ke pesta.] jawab Vallen kemudian menutup panggilan dari David.


"Aku kembali ke dalam dulu."


"Ya, itu jauh lebih baik dibandingkan kau berkeliarannya disini."


"Terimakasih sudah menemaniku, ternyata kau bukan orang jahat."


Firman pun tersenyum. Vallen kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat pesta itu lagi, namun baru saja dia melangkahkan kakinya, tiba-tiba Firman memanggilnya kembali.


"Nona Vallen."


Vallen pun membalikkan badan.


"Ada apa?"


"Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"


Mendengar perkataan Firman, Vallen pun tersenyum.


"Aku akan memberikan nomor ponselku saat kita bertemu kembali, saat itu aku akan memberikan nomor ponselku padamu." jawab Vallen sambil meninggalkan Firman.


Firman pun hanya tersenyum mendengar jawaban dari Vallen.

__ADS_1


"Gadis yang aneh."


__ADS_2