Salah Kamar

Salah Kamar
Berbuat Apa?


__ADS_3

"FIRMANNNN!!" teriak Vallen sambil menghambur ke pelukan Firman.


"Hati-hati, sayang. Kau sedang hamil, jangan lompat-lompat seperti ini."


"Hahahaha, maafkan aku, aku sudah sangat merindukanmu. Tahukah kau sejak aku hamil aku jadi selalu ingin ada di sampingmu, hahahaha."


"Ya, ya, ya."


"Kenapa cuma menjawab ya saja? Apa kau tidak merindukanku?"


"Hahahaha, lalu aku harus menjawab apa? Kau tahu sendiri jika aku pun selalu merindukanmu."


"Hahahaha baguslah kalau begitu."


"Vallen, sebenarnya aku punya alasan menjemputmu lebih awal."


"Apa?"


"Aku ingin mengajakmu bertemu dengan seseorang."


"Bertemu dengan seseorang?" tanya Vallen sambil mengerutkan keningnya.


"Ya."


"Laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan."


"APAAAA PEREMPUAN??? TEGA SEKALI KAU MENGAJAKKU BERTEMU DENGAN ISTRI MUDAMU! KITA SAJA BARU MENIKAH, FIRMAN! KAU SUDAH MEMILIKI WANITA LAIN! FIRMAN, KAU BENAR-BENAR JAHAT! KATA-KATA CINTAMU TERNYATA PALSU! FIRMAN AKU MENYESAL TELAH BERTEMU DENGANMU! AKU MENYESAL MENJADI ISTRIMU! TERNYATA KAU SEORANG PEMBOHONG DAN BUAYA DARAT!!" teriak Vallen sambil menangis dan memukul-mukul tubuh Firman.


"Hahahaha."


"Kenapa kau tertawa? Jahat sekali kau tertawa diatas penderitaanku Firman!"


Firman kemudian memeluk tubuh Vallen.


"JANGAN MEMELUKKU!"


"Sayang dengarkan aku, wanita yang akan kita temui itu bukan istri mudaku, bagaimana mungkin kau bisa memiliki pemikiran seperti itu? Bukankah kau tahu jika aku sangat mencintaimu?"


"Tapi kenapa kau mengajakku bertemu dengan wanita itu? Memangnya apa urusannya dia sampai harus bertemu denganku?"


"Karena dia ingin berbicara denganmu, dia ingin mengatakan sesuatu padamu, Vallen. Mungkin kau bisa membantunya mengatasi masalah yang sedang dihadapinya saat ini."


"Jadi wanita itu sedang mengalami masalah dan membutuhkan bantuanku?"

__ADS_1


Firman lalu mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi sekarang," ucap Vallen sambil berjalan meninggalkan Firman lalu masuk ke dalam mobilnya.


Firman pun hanya tersenyum. "Dasar aneh, sudah hampir memiliki anak tapi kau tetap saja menjadi wanita yang aneh," kata Firman kemudian ikut berjalan masuk ke dalam mobil mereka.


Hampir satu jam lamanya, akhirnya mereka sampai pada alamat yang dituju. Mobil mereka tampak berhenti di depan sebuah rumah di komplek perumahan yang ada di pinggiran kota Jakarta.


"Jauh sekali Firman, ini di perbatasan ibu kota, memangnya siapa wanita yang akan kita temui? Bukankah kau tidak memiliki sanak saudara yang ada di sini?"


"Dia salah satu temanku yang berasal dari kampung halamanku, dan saat ini dia ada di rumah salah seorang sanak saudaranya dan dia ingin bertemu denganmu, ada sesuatu yang ingin dia katakan padamu, Vallen."


"Firman, orang yang berasal dari kampung halamanmu yang kukenal hanyalah Aini, Dimas dan Delia. Aini tidak mungkin meminta bertemu denganku disini, sedangkan Dimas sedang dipenjara. Jangan-jangan yang ingin bertemu denganku adalah Delia?" tanya Vallen sambil mengerutkan keningnya.


Firman pun menganggukkan kepalanya.


"Huh dasar, yang ingin bertemu denganku memang bukan istri barumu, tapi dia mantan istrimu, itu sama saja, Firman," gerutu Vallen sambil mendengus kesal.


Firman kemudian memegang wajahnya. "Memangnya kenapa? Apa kau masih cemburu padanya?"


"Tidak." gerutu Vallen sambil memonyongkan bibirnya. Namun tiba-tiba raut wajahnya berubah seketika, Vallen kemudian menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Kau kenapa sayang?"


"Firman, jangan-jangan Delia minta bertemu denganku untuk meminta tolong padaku?"


"Iya aku tahu tapi..."


"Tapi kenapa Vallen?"


"Firman, tahukah kau jika tadi Aini datang untuk kontrol rutin, lalu sesuatu kembali terjadi pada rahimnya, kondisi rahimnya memburuk, Firman."


"Kenapa bisa seperti itu, Vallen?"


"Emmh.. E... Aini mengatakan jika dua minggu yang lalu dia pulang ke kampung halamannya, karena dia sedang marah pada suaminya, jadi saat Roy datang menyusulnya, Aini melarikan diri, dan nahasnya dia bertemu dengan Dimas, dan saat itu Dimas berniat memerkosa Aini lagi, Firman."


"Apa berniat memperkosa Aini lagi? Dimas memeng benar-benar BRE*GSEK! Lalu apakah Aini bisa menyelamatkan diri?"


"Ya, untungnya Roy datang di saat yang tepat, dia berhasil menyelamatkan Aini, dan memasukkannya Dimas ke dalam penjara."


"Syukurlah jika Dimas sudah masuk penjara, selama ini dia sudah banyak berbuat jahat tapi dia tidak pernah mendapatkan hukuman atas semua perbuatannya."


"Tapi karena kejadian itu, kondisi rahim Aini jadi sedikit mengalami masalah, karena saat kejadian itu Aini mengalami benturan yang cukup keras."


"Astaga. Vallen, apakah kedatangan Delia ke sini dan memintaku untuk mempertemukan dia denganmu ada hubungannya dengan Dimas?"

__ADS_1


"Itulah yang aku takutkan, Firman. Aku takut jika kedatangan Delia untuk meminta bantuanku untuk bertemu dengan Aini dan Roy sedangkan saat ini keadaan Aini sedang semakin memburuk karena tingkah laku, Dimas. Lalu apa yang harus kita lakukan, Firman?"


"Sebaiknya kita temui dia dulu, nanti kita bicarakan lagi."


"Iya, Firman."


Mereka kemudian turun dari mobil menuju ke rumah itu. Namun belum sempat, mereka mengetuk pintu. Pintu rumah itu pun sudah terbuka, tampak Delia kini berdiri di depan mereka sambil tersenyum.


"Vallenn, Firman, silahkan masuk."


"Iya," jawab Vallen kemudian memasuki rumah tersebut.


"Apa kabarmu, Vallen?"


"Baik Delia."


"Kenapa kau tampak sedikit pucat?"


"Oh itu karena..."


"Karena Vallen sedang hamil, kami sudah menikah secara siri Delia, dan saat ini Vallen sedang hamil," jawab Firman sambil tersenyum.


"Syukurlah, aku ikut bahagia."


"Ya, dan rencananya kami akan melangsungkan pernikahan resmi sekaligus resepsi dalam waktu dekat."


"Oh itu bagus, Firman."


"Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kami juga belum menerima undangan darimu? Bukankah kau akan menikah dengan Dimas?" tanya Firman untuk memancing Delia.


Mendengar perkataan Firman, Delia pun menundukkan kepalanya.


"Kau kenapa, Delia?" tanya Vallen sambil mengerutkan keningnya.


"Kami menunda pernikahan kami."


"Memangnya kenapa?"


"Dimas dipenjara karena hampir saja memperkosa Aini. Karena itulah aku datang ke sini dan meminta bertemu denganmu untuk meminta bantuan padamu untuk membujuk Aini dan suaminya agar mengampuni Dimas," ucap Delia sambil terisak dengan menundukkan kepalanya.


"Seperti dugaan kita, Vallen." bisik Firman.


"Ya."


Delia kemudian mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Bisakah kalian membantuku? Tolong bantu aku, Vallen. Bantu aku bertemu dengan Aini dan suaminya, tolong bantu aku untuk membujuk mereka, tolong bantu aku karena saat ini aku sedang hamil. Aku sedang hamil anak Dimas."


Firman dan Vallen kemudian saling berpandangan. "Astaga Firman, kita harus berbuat apa?"


__ADS_2