Salah Kamar

Salah Kamar
Berjanjilah


__ADS_3

[Kekasih Vallen?] tanya sebuah suara di ujung sambungan telepon.


[Ya saya kekasihnya.] jawab Firman kembali. Vallen pun hanya tersenyum mendengar perkataan Firman.


[Oh baiklah, maaf sudah mengganggu.]


[Tidak apa-apa, lalu apa ada yang bisa saya bantu?]


[Tidak, terimakasih.]


[Sama-sama.] kata Firman kemudian menutup panggilan telepon itu lalu mengembalikan ponsel itu pada Vallen yang kini menatapnya sambil tersenyum.


Seorang pelayan warung itu pun mendekat.


"Kau mau pesan apa Nona Vallen?"


"Apa saja, kau saja yang pesan ya."


"Apa kau sudah lupa makanan Indonesia?"


"Begitulah."


"Dasar sombong, makanan negeri sendiri saja sampai lupa." gerutu Firman sambil menuliskan pesanannya. Lalu memberikan pada pelayan yang ada di sampingnya. Dia lalu melirik Vallen yang kini sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Terimakasih banyak sudah berpura-pura menjadi kekasihku, kau keren sekali."


Firman pun tersenyum.


"Sebagai temanmu, setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk membantumu."


"Teman?" tanya Vallen sambil mengerutkan keningnya.


"Lalu kau pikir kita apa? Musuh?"


"Menganggapku sebagai teman? Aku pikir kau hanya menganggapku sebagai gadis yang aneh."


"Aku masih tetap berpikiran seperti itu. Nona Vallen, apakah kekasihmu masih menyukaimu?"


"Entahlah, memangnya kenapa? Apa kau cemburu?"


Firman pun tertawa.


"Hahahaha, kau terlalu percaya diri, aku hanya tidak habis pikir ada laki-laki yang mau mencintaimu."


"Enak saja, apa kau tidak bisa melihat wajahku yang begitu cantik dan menggemaskan?" gerutu Vallen.


"Apa kau sadar mengatakan seperti itu?"


"Tentu saja, apa ada kelainan pada matamu sampai kau tidak bisa melihat kecantikanku? Coba kau lihat aku baik-baik."


Firman lalu memandang wajah Vallen sambil tersenyum yang membuat Vallen terlihat begitu gugup dan salah tingkah.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?"


"Bukankah kau yang menyuruhku untuk memandangmu?"


"Tapi bukan dengan tatapan seperti itu."


"Memangnya kenapa jika aku menatapmu seperti ini?"


Vallen pun mendekatkan wajahnya pada Firman.


"Aku takut kau jatuh cinta padaku, jatuh cinta padaku bukan hal yang mudah karena kau tidak akan bisa melupakan aku meskipun hanya sebentar saja." jawab Vallen dengan gaya cueknya yang membuat Firman tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau tertawa?"

__ADS_1


"Dasar gadis aneh, hahahaha." jawab Firman sambil terus tertawa.


"Kau yang terlalu sombong." gerutu Vallen.


"Apa? Sombong?"


"Ya, kau sangatlah sombong Tuan Firman, pantas saja kekasihmu meninggalkanmu." gerutu Vallen sambil melirik Firman yang kini tersenyum.


"Kau salah gadis aneh."


"Apanya yang salah?"


"Kau tidak tahu apapun tentang diriku tapi kau sudah menduga-duga tentang hidupku."


"Apanya yang menduga-duga? Bukankah seperti itu? Kita sama-sama patah hati karena ditinggal kekasih yang menikah dengan orang lain. Begitu kan?"


"Kisah cintaku tidak sesederhana itu Nona Vallen, karena akulah yang terlebih dulu meninggalkan kekasihku."


"Oh jadi kau dulu yang meninggalkan kekasihmu? Dasar laki-laki kurang ajar! Jahat sekali kau sampai meninggalkan kekasihmu, aku menyesal pernah menganggapmu sebagai laki-laki baik!"


"Kau berkata seperti itu tanpa tahu alasanku..."


Belum sempat Firman melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba seorang pelayan mengantarkan makanan mereka.


"Kau minum dulu saja, kau pasti haus."


"Aku jadi tidak bernafsu memakan makanan ini setelah tahu dirimu yang sebenarnya." gerutu Vallen.


"Aku belum menceritakan semuanya tapi kau sudah menarik kesimpulan dulu tentangku."


"Memangnya kenapa kau meninggalkan kekasihmu? Kau tertarik pada wanita lain? Setelah mantan kekasihmu sudah menikah lalu kau beru menyesal? Kau pantas mendapatkan itu!" gerutu Vallen.


Firman pun tersenyum.


"Kenapa kau hanya bisa tersenyum? Apakah kau sedang menyadari semua kesalahan masa lalumu?"


"Nona Vallen, aku sebenarnya sudah pernah menikah."


"Kami sudah bercerai, aku sudah menalaknya."


Vallen pun semakin memandang Firman dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kau memang jahat."


"Dengarkan aku dulu, aku menceraikannya karena dia membohongiku, aku dijebak supaya tidur dengannya. Lalu dia berpura-pura hamil darah dagingku, padahal yang dia kandung adalah darah daging laki-laki lain, dan saat itu aku sudah memiliki kekasih yang sangat kucintai. Aku begitu berat melepas kekasihku, hatiku begitu hancur saat melepasnya, namun ternyata aku dibohongi mentah-mentah oleh mantan istriku." jawab Firman sambil tersenyum kecut.


"Astaga tragis sekali nasibmu, maafkan aku sudah berfikiran buruk padamu."


"Tidak apa-apa."


"Lalu mantan kekasimu bagaimana? Apa dia tahu kau sudah bercerai dengan mantan istrimu?"


Firman pun menganggukkan kepalanya.


"Dia sudah tahu."


"Kenapa kalian tidak kembali bersama?"


Firman pun tersenyum.


"Saat aku mengetahui kebohongan yang dilakukan mantan istriku, di saat itu juga dia menikah dengan laki-laki lain, sudah terlambat untuk kembali padanya. Dia juga sepertinya sangat mencintai suaminya dan telah membuang semua rasa cintanya untukku."


"Astaga kasihan sekali, pantas saja kau terlihat begitu terpuruk. Jadi itu alasannya kau pergi dari kampung halamanmu lalu merantau sampai ke sini?"


Firman pun mengangguk.


"Ya, aku ingin melupakan semua masa laluku. Aku ingin melupakan rasa cintaku pada mantan kekasihku dan semua masa lalu buruk yang pernah kualami karena sudah dijebak mantan istriku. Aku ingin membuka lembaran baru dalam hidupku."

__ADS_1


Vallen pun kemudian menggenggam tangan Firman sambil menatapnya dengan tatapan sendu.


"Kau laki-laki yang hebat, mereka bukanlah jodohmu, bersabarlah suatu saat kau pasti akan menemukan wanita yang benar-benar menjadi jodohmu."


Firman pun mengangguk sambil tersenyum.


"Ya, aku tahu itu. Aku sadar mereka bukanlah jodohku."


Firman kemudian memandang tangan Vallen yang masih menggenggam tangannya. Vallen yang melihat Firman yang sedang menatap tangan mereka lalu menarik tangannya.


"Maafkan aku."


"Tidak apa-apa. Lebih baik kau habiskan makananmu, kau mau berjalan-jalan menyusuri pantai denganku?"


Mendengar perkataan Firman, Vallen pun tersenyum sambil mengangguk. Mereka kemudian berjalan menyusuri pantai sambil tertawa dan bercanda.


"Ternyata kau tidak terlalu menyebalkan seperti yang kubayangkan."


"Hahahaha, kau juga tidak seaneh seperti yang kupikirkan."


"Firman, kita tetap berteman kan?"


"Tentu saja, kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?"


"Karena sebentar lagi aku akan kembali ke Jakarta. Nanti sore aku pulang ke Jakarta."


"Oh, jadi kau pulang hari ini?"


Vallen pun mengangguk.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, sebentar lagi sore. Kau harus mempersiapkan dirimu."


Vallen pun mengangguk meskipun dengan anggukan yang begitu berat. Mereka kemudian kembali ke resort. Sepanjang perjalanan, Vallen merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya, perasaannya kini begitu campur aduk, sedih, sakit, dan bahagia campur aduk menjadi satu. Dia kemudian semakin mengeratkan pelukannya pada Firman saat dalam perjalanan pulang.


'Kencang sekali, apa dia takut naik motorku?' gumam Firman dalam hati.


Hingga beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di resort. Vallen lalu turun dari motor Firman lalu memandang Firman yang sedang turun dari motor lalu berdiri di depannya.


"Kenapa kau terlihat sedih?"


Vallen pun menggelengkan kepalanya sambil mencoba tersenyum meskipun dipaksakan.


"Selamat tinggal, terimakasih banyak sudah membuatku bahagia hari ini."


"Ya, sekarang kau pulanglah hati-hati di jalan. Beritahu aku jika kau sudah sampai di rumah."


Vallen pun hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Nona Vallen, pulanglah keluargamu pasti sudah menunggumu."


Vallen pun mengangguk, lalu membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauhi Firman.


'Baru saja aku akan berpisah dengannya, kenapa aku sudah begitu merindukannya?' gumam Vallen dalam hati.


Lalu dia membalikkan badannya kembali.


"Ada apa lagi Nona Vallen?"


"Apakah kita bisa bertemu lagi?"


Firman pun tersenyum.


"Tentu saja."


"Ya." kata Vallen kemudian membalikkan badannya. Namun baru berjalan beberapa langkah lagi, Vallen sudah membalikkan badannya kembali.


"Ada apa lagi Nona Vallen?" tanya Firman sambil mengerutkan keningnya. Namun Vallen tidak menjawab pertanyaannya, dia kemudian berlari ke arah Firman lalu memeluknya.

__ADS_1


'Astaga.' gumam Firman dalam hati karena begitu terkejut Vallen tiba-tiba memeluknya.


"Berjanjilah suatu saat kau akan menemuiku kembali." kata Vallen sambil memeluk Firman.


__ADS_2