
"GISELLE!!" Teriak Santi lagi.
"Astaga, sebaiknya aku turun saja sekarang." kata Giselle kemudian keluar dari kamarnya dan melihat Santi yang kini sudah duduk di sofa ruang keluarga.
"Ya ma, ada apa?"
"Mama lelah, Giselle. Badan mama sakit, tolong kau pijit mama."
"Ma, tapi perut Giselle sudah besar. Tidak bisa bergerak bebas."
"Alasan saja, apakah belum cukup ancaman yang kuberikan padamu hari ini? Apa kau mau aku berbuat lebih pada ibumu? Apa kau mau melihat ibumu meregang nyawa karena mengetahui semua yang telah kau perbuat di masa lalu?"
Mendengar perkataan Santi, Giselle pun menarik nafas panjang. "Baik ma." jawab Giselle kemudian mendekat pada Santi.
"Eh bagian kaki dulu Giselle, kalau kau sudah selesai memijit kakiku baru kau memijit badanku." kata Santi sambil tersenyum menyeringai.
"Baik ma." jawab Giselle kemudian duduk di atas lantai sambil memijit kaki Santi.
"Awas kau Giselle, jika kau berani mengatakan ini pada Revan ataupun papa aku tidak segan-segan untuk memberitahukan masa lalumu pada orang tuamu, kau harus ingat aku tidak pernah main-main dengan semua kata-kataku, apa aku mengerti?"
"Iya ma."
"Bagus, mulai sekarang, kau jadilah menantu yang baik dan penurut."
"Iya ma."
"Jangan hanya iya iya saja Giselle."
"Baik ma, Giselle mau melakukan apapun yang mama katakan."
"Bagus."
'Heh dasar menantu sialan, mulai hari ini akan kubuat kau hidup menderita hingga akhirnya kau tidak tahan dengan semua kelakuanku dan kau pergi dengan sendirinya meninggalkan Revan. Setelah itu, Revan akan kujodohkan dengan Viona, putri jeng Resti yang cantik dan berkelas itu.' kata Santi dalam hati sambil tersenyum kecut melihat Giselle yang kini sedang memijit kakinya.
'Tuhan, tolong aku. Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak mau hidup dalam tekanan Mama Santi seperti ini, tapi untuk sementara waktu aku tidak bisa mengatakannya pada papa ataupun Revan karena mama bisa saja berbuat nekat. Apa yang harus kulakukan? Apakah sebaiknya aku meminta bantuan pada Calista ataupun Olivia agar mereka bisa melindungi orang tuaku dari Mama Santi?' gumam Giselle sambil terus memijit kaki Santi.
"Hei Giselle, apa yang sedang kau lakukan? Apa kau memikirkan sesuatu? Aku peringatkan Giselle kau jangan berani-berani untuk menentangku atau kau akan tahu sendiri akibatnya."
"Iya ma, Giselle hanya sedikit lelah."
"Lelah? Baru seperti ini saja kau sudah lelah? Dasar malas."
__ADS_1
'Sabar Giselle, sabar, aku harus memikirkan cara untuk melawan mama sebelum dia bertindak lebih jauh.' kata Giselle lagi.
'Harapanku adalah Calista dan Olivia tapi bagaimana caranya aku berbicara dengan mereka, aku tidak mungkin membicarakan masalah serumit ini di telepon. Lebih baik besok kupikirkan cara agar aku bisa keluar dari rumah ini.' gumam Giselle kembali.
"GISELLE!!! APA SEBENARNYA YANG KAU LAKUKAN!!! KAU SEDANG MEMIJIT KAKIKU ATAU MELAMUN!" bentak Santi yang tiba-tiba mengagetkannya.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang dari arah depan rumah.
'Bu.. Bukankah itu suara papa? Astaga, kenapa tiba-tiba papa pulang.' gumam Santi.
"Giselle... Giselle cepat berdiri, kau jangan duduk di lantai." kata Santi dengan begitu panik.
Namun Giselle hanya terdiam sambil sedikit menyunggingkan senyum di ujung bibirnya.
"Giselle kenapa kau diam saja? Ayo cepat bangun." kata Santi lagi.
"Iya ma, sebentar. Bukankah mama tahu jika gerakan Giselle sekarang melambat karena perut Giselle yang sudah besar."
"Tidak usah banyak bicara, cepat bangun dan duduk di sampingku."
Namun sebelum Giselle sempat berdiri, Farhan sudah sampai di ruang keluarga tersebut.
'Oh tidak.' kata Santi dalam hati.
"Emh.. E.. Tidak ada apa-apa pa." jawab Santi.
"Mama, Papa sedang bertanya pada Giselle, kenapa mama yang menjawab?" tanya Farhan dengan kening berkerut disertai tatapan curiga.
"Oo..Ooh... Tidak apa-apa, mama hanya tidak ingin papa cemas."
"Giselle, sekarang papa tanya padamu, apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa kau duduk di atas lantai?"
Giselle pun mengarahkan pandangannya pada Santi. Santi pun terlihat memelototkan matanya sambil sedikit menggerutu.
"Tidak ada apa-apa pa, Giselle hanya sedang mencari jepit rambut kesayangan Giselle yang terjatuh."
"Astaga Giselle, kau sedang hamil besar, tidak baik duduk di atas lantai seperti itu. Bukankah tadi pagi Revan sudah mengatakan padamu jika kau membutuhkan sesuatu kau tinggal minta bantuan pada Mama atupun Bi Cici."
"Iya pa, maaf Giselle lupa."
"Lalu kenapa tadi mama berteriak-teriak?" tanya Farhan pada Santi.
__ADS_1
"Ya itu pa, tadi mama sedang menyuruh Giselle untuk tidak mencari jepit rambutnya."
"Tapi kenapa tadi terdengar seperti bentakan? Apa mama membentak Giselle?"
"Oh tentu saja tidak pa. Mama tadi tidak membentak Giselle hanya sedang memanggil Bi Cici saja."
"Benarkah itu Giselle? Mama tidak menyakitimu lagi kan?"
"Tidak pa." jawab Giselle sambil tersenyum.
"Ya sudah sebaiknya kau istirahat saja Giselle."
"Iya pa." jawab Giselle kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Farhan lalu memandang Santi dengan tatapan penuh curiga. Santi yang ditatap Farhan dengan tatapan begitu tajam pun terlihat salah tingkah.
"Papa, kenapa tiba-tiba papa pulang mendadak seperti ini? Apa ada berkas yang tertinggal?" tanya Santi dengan begitu gugup.
"Iya, papa mau mengambil beberapa dokumen yang tertinggal di ruang kerja papa tapi papa benar-benar tidak menyangka jika papa sampai melihat hal seperti ini terjadi lagi di rumah ini!"
"A... Apa maksud Papa?"
"Papa tahu mama dan Giselle pasti sudah berbohong mengenai jepit rambut itu kan? Memangnya papa tidak mendengar bentakan mama pada Giselle tadi?"
"Pa... Sebenarnya mama tidak bermaksud buruk pada Giselle, mama hanya ingin Giselle lebih banyak bergerak. Mama pernah hamil, dan terlalu banyak diam itu tidak baik untuk kehamilannya pa."
"Mama jangan terlalu banyak alasan. Masalahnya pasti tidak sesederhana itu."
"Tidak pa, sungguh mama tidak melakukan apapun pada Giselle." kata Santi dengan sedikit terisak.
"Baik, untuk kali ini papa maafkan mama tapi lain kali jika hal seperti ini terjadi lagi, seperti yang sudah papa katakan pada mama jika papa tidak segan-segan untuk mengusir mama dari rumah ini!"
"Sekali lagi papa peringatkan! papa hanya tidak ingin kepercayaan yang telah diberikan Revan untuk mau kembali lagi ke rumah ini jadi sia-sia karena keegoisan mama. Giselle dan anak yang ada di dalam kandungannya adalah sumber kebahagiaan bagi Revan! Jangan pernah mama menghancurkan kebahagiaan Revan hanya untuk keegoisan mama sendiri! Apa mama mengerti?" bentak Farhan, kemudian meninggalkan Santi berjalan ke ruang kerjanya untuk mengambil berkas yang tertinggal.
"Iya pa, mama mengerti." jawab Santi dengan lirih.
'Kurang ajar, lain kali aku harus bermain lebih cantik agar mereka tidak curiga.' gumam Santi dalam hati sambil melihat Farhan yang kini sudah keluar dari ruang kerjanya sambil menatap dirinya dengan tatapan begitu tajam.
'Astaga, hidupku kenapa jadi seperti ini gara-gara menantu sialan itu.'
Sementara Giselle di dalam kamarnya tampak memandang ponselnya sambil melihat sebuah nama di layar ponselnya. "Calista."
__ADS_1
"Apakah sebaiknya aku meminta tolong pada Calista?"