
Ibu Firman kemudian mendekat pada Delia yang masih menangis, lalu memeluknya.
"Bersabarlah Delia, ikhlaskanlah semua yang telah terjadi. Jika Firman adalah jodohmu, suatu saat dia pasti akan kembali padamu tapi jika dia bukan jodohmu, ibu yakin suatu saat kau pasti bertemu dengan orang baik yang akan menjadi jodohmu. Yakinlah pada Tuhan, Delia."
"Percuma kau menangisi Firman, Delia. Dia sudah pergi, lebih baik kau melanjutkan hidupmu, jadilah orang tua yang baik untuk Shakila."
'Shakila? Astaga, kenapa aku baru menyadarinya sekarang. Aku telah begitu bodoh menyerahkan Shakila pada mereka hanya untuk menuruti nafsuku untuk kembali pada Firman.' gumam Delia dalam hati.
'Sebelum terlambat, lebih baik aku mengambil Shakila kembali di rumah Dimas, aku ingin mengembalikan semua uang yang telah mereka berikan padaku.' gumam Delia. Dia pun menghapus air matanya.
"Ibu, Delia pamit pulang dulu Bu."
"Iya Delia." jawab Ibu Firman kemudian memeluk Delia.
Delia kemudian melepaskan pelukan itu sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak Bu, terimakasih banyak sudah menjadi ibu mertua yang bijaksana dan tidak pernah menghakimi semua kesalahan Delia."
"Iya Nak, tidak apa-apa. Semua orang di dunia pernah berbuat salah, dan setiap orang berhak memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya tersebut."
"Iya Bu, sekali lagi terimakasih banyak. Delia pulang dulu ."
Delia kemudian keluar dari rumah Firman lalu berjalan menuju ke rumah Dimas.
'Shakila, maafkan mama Shakila, maafkan mama. Mama sudah begitu bodoh menyerahkanmu begitu saja pada mereka. Mama sudah terlalu bernafsu untuk mendapatkan sesuatu yang tidak pernah mama gapai lagi sampai mengorbankan dirimu.' gumam Delia sambil menangis.
TOK TOK TOK
Delia mengetuk rumah, hingga beberapa saat kemudian seorang pembantu pun membukakan pintu rumah itu.
"Bisa saya bertemu dengan Tante Fitri?"
"Sebentar Non, silahkan duduk dulu."
Pembantu tersebut lalu masuk ke dalam rumah, sedangkan Delia duduk di ruang tamu rumah tersebut.
"Ada apa Delia?" tanya Fitri yang kini berjalan menghampirinya.
"Tante Fitri, maaf aku berubah pikiran. Bisakah aku mengambil Shakila kembali, aku akan mengembalikan semua uang yang sudah tante berikan tapi tolong kembalikan Shakila padaku, tante." kata Delia dengan begitu gugup.
Fitri kemudian mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu?"
"Tante, bisakah tante mengembalikan Shakila padaku? Aku tidak bisa hidup tanpa Shakila, tante." jawab Delia sambil terisak.
"Kemarin aku tidak bisa berfikir panjang dan hanya menuruti nafsuku, kini aku benar-benar menyesal tante. Aku hanya ingin Shakila kembali padaku."
Fitri lalu memandang Delia dengan tatapan tajam.
"Tidak semudah itu, Delia. Apa kau lupa jika kau sudah menandatangani surat perjanjian itu? Dalam surat itu kau sudah menyetujui jika kau tidak memiliki hak apapun pada Shakila."
"A.. Apa?"
"Ya, bukankah kau sudah menandatangani surat perjanjian di atas materai itu, apa kau lupa?"
'Astaga, aku kemarin hanya menandatangani surat itu tanpa membaca isinya.' gumam Delia.
Raut wajahnya pun kini terlihat panik.
__ADS_1
"Kenapa Delia?"
"Tante, aku akan melakukan apapun asalkan aku bisa hidup dengan Shakila. Tolong jangan pisahkan kami, Tante." kata Delia yang kini bersimpuh di kaki Fitri.
Fitri pun tersenyum.
"Sudah berdiri Delia, jangan seperti itu, berhentilah menangis. Kau tidak akan berpisah dengan Shakila jika kau mau menuruti kata-kataku."
Delia pun kembali duduk di samping
"Menuruti kata-kata tante? Apa tante?"
"Menikahlah dengan Dimas, menikahlah dengan Dimas saat masa idahmu selesai dengan Firman." jawab Fitri sambil tersenyum.
"Bagaimana Delia?"
'Astaga.' gumam Delia dalam hati.
💜💜💜💜💜
David beberapa kali melihat arlojinya sambil sesekali mengamati para penumpang yang keluar dari pintu kedatangan di bandara.
"Lama sekali, dia selalu saja begitu." gerutu David.
Saat dia membalikkan tubuhnya tiba-tiba seorang wanita muda sudah berlari ke arahnya kemudian memeluknya.
"Anak nakal." kata David sambil balik memeluk wanita itu.
"Bagaimana kabarmu Kak?"
"Baik, sangat baik. Apalagi saat ini Stella sudah hamil lagi."
"Baguslah, jadi aku akan memiliki seorang keponakan."
"Iya."
Mereka kemudian berjalan ke arah parkir mobil kemudian menaiki mobil David.
"Vallen, apa kau akan langsung bekerja di rumah sakitku atau kau ingin bersenang-senang terlebih dulu?" tanya David saat mereka sudah ada di dalam mobil.
"Emhhhh, mungkin aku ingin bersenang-senang terlebih dulu."
"Untuk melupakan laki-laki itu?"
"Sudahlah Kak, aku tidak ingin membahasnya."
"Beberapa hari lagi salah satu temanku Rima dan Drey akan menikah di sebuah resort, kau bisa ikut dengan kami, siapa tahu bisa membuatmu sedikit terhibur."
Vallen pun tersenyum.
"Sepertinya itu bukan ide yang buruk, barangkali disana aku bisa bertemu dengan jodohku." kata Vallen sambil terkekeh.
"Jadi kau mau ikut dengan kami?"
"Tentu saja."
"Vallen, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu? Ini berhubungan dengan profesimu sebagai dokter spesialis kandungan."
"Bertanya apa kak? Sepertinya serius sekali?"
__ADS_1
"Begini Vallen, salah seorang temanku mengalami kecelakaan yang menyebabkan ketidaksuburan."
"Ketidaksuburan?"
"Ya, dia mengalami kecelakaan yang cukup parah sehingga menyebabkan permasalahan pada sel telurnya. Apakah kondisi seperti itu masih bisa sembuh? Maksudku apakah masih ada kemungkinan dia untuk bisa hamil lagi?"
"Tentu saja, tapi aku harus memeriksanya terlebih dulu."
"Terimakasih Vallen, besok kita akan bertemu mereka di pesta pernikahan temanku."
"Jadi itu alasan yang sebenarnya kau mengajakku ke pesta itu untuk bertemu dengan temanmu yang mengalami masalah itu, karena aku belum ingin bekerja di rumah sakit jadi kau menyuruhku bertemu dengannya di pesta besok?"
David pun tersenyum.
"Kurang lebih seperti itu." jawab David sambil terkekeh.
"Dari dulu kau selalu pintar untuk menipuku, Kak." gerutu Vallen.
💜💜💜💜💜
"Kau sedang menelepon siapa, Leo?"
"David baru saja menelponku?"
"David? Ada apa David malam-malam seperti ini menelponmu? Apakah ada sesuatu yang penting?"
"Calista, adik David namanya Vallen, dia baru saja lulus sebagai dokter spesialis kandungan dari Cambridge."
"Wow luar biasa, dia pasti sangat pintar."
"Ya begitulah. David baru saja mengatakan padaku jika dia sudah membicarakan masalah Aini pada adiknya."
"Lalu apa kata adiknya? Apa Aini bisa sembuh?"
"Kemungkinan tapi harus ada pemeriksaan lebih lanjut terlebih dulu."
"Ya, lakukan saja. Aku akan mengatakan pada Aini dan Roy agar mereka bisa melakukan pengobatan secara intensif pada Vallen."
"Tapi masalahnya Vallen belum ingin bekerja di rumah sakit terlebih dulu, dia sedang ingin bersantai."
"Bersantai? Memangnya kenapa? Bukankah setiap orang yang sudah selesai kuliah selalu ingin cepat bekerja?"
"David mengatakan jika adiknya sedang patah hati, jadi mungkin dia perlu menata hatinya terlebih dulu sebelum bekerja kembali di rumah sakit."
"Oh, lalu bagaimana dengan Aini? Apakah dia harus menunggu sampai Vallen sampai dia sudah bekerja di rumah sakit?"
"Tentu tidak, karena itulah David meminta kita agar mempertemukan Aini dan Vallen di pesta pernikahan Drey dan Rima, besok. Mereka datang ke pesta itu kan?"
"Tentu saja, tentu mereka akan datang. Nanti aku menghubungi Aini kembali."
"Iya Calista."
"Leo, jika kondisi rahim Aini bisa disembuhkan ini akan menjadi jalan keluar terbaik bagi Roy karena dia tidak perlu takut akan kesalahan yang selalu menghantuinya."
"Iya Calista, itu adalah jalan terbaik bagi mereka berdua."
"Semoga saja Aini bisa sembuh."
"Iya, lebih baik sekarang kita tidur." jawab Leo sambil mendorong tubuh Calista ke atas ranjang lalu mulai menindihnya.
__ADS_1
NOTE: Ga usah pada berisik kalo ada tokoh baru ya, Vallen bukan pelakor, pada pengin Aini sembuh kan 😉
Sabar ya, semua tokoh nanti akan keluar mengikuti alur.