Salah Kamar

Salah Kamar
Sebuah Janji


__ADS_3

"Kenapa kau terlihat gugup Rima? Aku hanya menyuruhmu menghentikan memberikan susu itu pada si kembar karena aku sudah pulang. Biar aku saja yang memberikan ASI untuk mereka." kata Calista sambil mendekat ke arah si kembar sedangkan Rima kini masih terlihat gugup.


"Oh tidak apa-apa Nyonya Calista, saya hanya sedikit kaget." kata Rima sambil mengelus dadanya.


'Syukurlah, dia tidak tahu apa yang akan kulakukan pada anaknya.' kata Rima dalam hati sambil menatap Calista.


***


"Kau lahap sekali Revan, memangnya kau sudah berapa hari tak makan?"


"Kau mengejekku?"


"Hahahaha tidak, hanya lucu melihatmu seperti ini, biasanya kau sangatlah galak."


"Apa kau bilang? Aku galak? Enak saja."


"Apa kau tidak sadar jika kau sangat galak Revan? Bahkan kau selalu saja memarahiku saat kita sedang bersama."


Revan kamudian menghentikan makannya. "Benarkah aku selalu memarahimu?"


"Ya, apakah kau tidak pernah sadar itu?"


"Tidak, bukankah aku selalu baik padamu? Lihat, hari ini saja aku sudah rela meninggalkan Stella untuk menjemputmu." kata Revan sambil meneruskan sarapannya. Giselle tersenyum mendengar perkataan Revan, perasaannya kini terasa begitu bahagia.


"Kau meninggalkan Stella karena diriku?"


"Ya." jawab Revan dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Jadi aku lebih penting dibandingkan Stella?"


"Tentu saja." jawab Revan secara tidak sadar yang kemudian membuat dirinya merasa malu setelah menyadari kata-katanya.


"Kau memancingku untuk mengatakan seperti ini Giselle?"


"Tidak, kau sendiri yang mengatakan padaku." jawab Giselle sambil tersenyum yang membuat Revan semakin salah tingkah.


"Sudahlah lebih baik kita pulang." kata Revan kemudian berdiri dan berjalan menjauhi Giselle untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Dasar laki-laki arogan." umpat Giselle kemudian berjalan mengikuti Revan.


Sesampainya di apartemen, Revan lalu masuk ke dalam kamar kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Rasanya aku sudah lama sekali tidak tidur di atas ranjang ini."


"Memangnya kau kemana saja?"


"Hei kau bertanya seperti itu apakah kau tidak sadar jika kau yang telah membuatku tidur di atas lantai di depan pintu kamar kemarin malam? Lalu tadi malam aku tidur di rumah sakit sambil duduk dan menjaga Stella."


"Bukan aku yang menyuruhmu melakukan itu, kau yang menginginkan itu,"

__ADS_1


"Dasar wanita tak berperasaan, tega-teganya kau mengatakan seperti ini padaku. Sekarang lebih baik kau temani aku tidur di sampingku."


"Apaaa? Enak saja kau bicara seperti itu?"


"Memangnya kenapa? Kau adalah istriku! Aku berhak memerintahmu seperti yang kuinginkan."


"Tapi pernikahan kita hanyalah sebuah pernikahan kontrak!"


"Lantas jika hanya sebuah pernikahan kontrak aku tidak berhak untuk memerintahmu! Wanita macam apa kau Giselle! Dasar wanita tidak berguna dan tidak tahu diri!!"


Giselle lalu menatap Revan dengan tatapan sendu. Revan yang melihat Giselle bertingkah seperti itu begitu merasa bersalah padanya. Dia lalu bangun dari atas ranjang kemudian mendekat pada Giselle.


"Kau kenapa Giselle? Apakah kau marah padaku? Apakah kata-kataku sudah menyakitimu?" tanya Revan yang kini berdiri di hadapan Giselle. Namun, Giselle hanya terdiam.


"Jika malam itu aku tidak membuat kesalahan denganmu tentu aku tidak harus hidup dengan laki-laki sepertimu yang selalu menghinaku." ucap Giselle dengan lirih dan tatapan wajah yang datar. Revan yang merasa bersalah lalu menggenggam tangan Giselle. "Maafkan aku Giselle, maafkan kata-kataku yang selalu menyakitimu."


Namun Giselle hanya terdiam, air mata pun mulai menetes membasahi pipinya. "Giselle, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Tolong maafkan aku, Giselle. Aku berjanji mulai hari ini aku tidak akan pernah lagi menyakitimu dengan kata-kata kasarku."


"Maafkan aku Giselle, jika aku berbohong padamu, maka aku akan kehilangan wajah tampaku." kata Revan sambil mengacungkan dua jarinya yang membuat Giselle tersenyum.


"Begitu jauh lebih baik, kau cantik jika tersenyum seperti ini."


"Gombal."


"Sungguh Giselle, aku tidak bohong, kau cantik jika tersenyum."


"Hahahaha kau mulai memancingku lagi Giselle."


Giselle kemudian tersenyum melihat Revan yang tertawa begitu lepas. "Kau juga tampan jika bersikap manis seperti ini."


"Akhirnya kau mengakui jika aku tampan,"


Giselle lalu tersipu malu, dia lalu membalikkan badannya untuk beranjak pergi dari hadapan Revan, namun saat Giselle mulai melangkahkan kakinya, tiba-tiba Revan mencekal tangannya kemudian memeluk Giselle dengan begitu erat. Saat melepaskan pelukannya, Revan pun mulai mendekatkan wajahnya pada Giselle, namun belum sempat merek menempelkan bibirnya, suara ponsel Revan sudah berbunyi.


Revan kemudian berjalan menjauhi Giselle lalu mengambil ponselnya yang ada di atas ranjang. 'Pasti dari Stella.' gumam Giselle saat melihat raut wajah Revan yang berubah menjadi begitu cemas.


"Dari Stella?" tanya Giselle.


"Bukan, dari rumah sakit."


"Ada apa rumah sakit menelponmu?"


"Stella, Stella mengamuk."


"Astagaaaa."


"Giselle aku harus ke rumah sakit sekarang."

__ADS_1


"Iya Revan, hati-hati." jawab Giselle yang menatap kepergian Revan dengan perasaan sedih.


***


Revan langsung berlari ke kamar Stella saat dia sudah sampai di rumah sakit. Berbagai perasaan kian berkecamuk dalam hatinya, apalagi saat berada di depan pintu kamar dia sudah mendengar jeritan Stella yang terasa begitu menyayat hati. Saat Revan masuk tampak Stella tengah menangis sejadi-jadinya.


"Stella tenangkan dirimu!"


"Revannn." teriak Stella sambil terus menangis. Revan kemudian mendekat ke arah Stella lalu memeluknya.


"Stella, tanangkan dirimu, tenang Stella ada aku disini."


"Revannnn." teriak Stella sambil terus menangis, hingga setengah jam lamanya dia menangis dalam pelukan Revan.


"Stella, jangan pernah bersedih lagi Stella, aku akan menemanimu disini." kata Revan sambil membelai rambutnya saat melihat Stella yang kini tampak jauh lebih tenang.


"Stella, apa yang sebenarnya sudah terjadi? Ceritakan masalahmu padaku, mungkin aku bisa membantumu."


"Davidddd, Revan."


"Ada apa dengan David? Apa dia menyakitimu?" tanya Revan dengan kening yang berkerut.


Stella hanya menangis sambil menganggukkan kepalanya. "Apa yang sudah dia lakukan padamu?"


"Dia meninggalkan aku Revan, dia meninggalkan aku setelah tahu aku sedang hamil."


"Ja.. Ja.. Jadi kau saat ini sedang hamil Stella?"


Stella lalu mengangguk. Hati Revan terasa begitu hancur saat mengetahui jika istrinya saat ini sedang mengandung anak dari laki-laki lain.


"Stella, aku tak menyangka akan jadi seperti ini." kata Revan dengan begitu lirih.


"Revan maafkan aku sudah bertindak bodoh. Aku tak menyangka jika David akan meninggalkan aku begitu saja. Maafkan aku Revan." kata Stella sambil terus menangis. Namun Revan hanya diam terpaku, tatapannya kosong dan wajahnya datar dipenuhi oleh kebimbangan.


"Revan, kenapa kau diam saja? Apa kau juga akan meninggalkan aku sama seperti laki-laki brengsek itu? Lebih baik aku mati saja Revan." kata Stella lalu mengambil pisau buah di nakas samping tempat tidurnya.


"Jangan Stella, jangan lakukanlah itu." kata Revan sambil melemparkan pisau dari tangan Stella, kemudian memeluk Stella yang kini menangis tersedu-sedu.


"Stella." kata Revan sambil memeluk dan membelai rambut Stella.


"Revan berjanjilah padaku, kau akan selalu ada untukku." Namun Revan hanya terdiam. "Revan kenapa kau hanya diam? Apa kau juga akan pergi meninggalkan aku?"


"Tidak Stella."


"Revan berjanjilah padaku, jika kau tidak akan pernah pergi meninggalkan aku."


"Iya Stella, aku janji." jawab Revan lirih sambil menahan perasaan yang begitu berkecamuk di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2