Salah Kamar

Salah Kamar
Masih Ada Waktu


__ADS_3

"Selamat tinggal Stella, semoga kau bisa beristirahat dengan tenang." kata Rima kemudian meninggalkan ruang ICU kembali menuju ke ruangannya.


Setelah pulang dari rumah sakit, Rima mengendarai mobilnya menuju ke salah satu cafe di tengah kota. Sampai setengah jam lamanya dia menunggu namun seseorang yang dia tunggu tak kunjung datang.


'Kemana wanita tua itu.' gumam Rima.


Senyum pun kemudian tersungging di bibirnya saat melihat seorang wanita paruh baya masuk ke dalam cafe itu dengan sedikit tergesa-gesa.


"Maaf saya terlambat." kata wanita itu.


"Tidak apa Tante Nurma, saya juga belum lama di sini."


"Apa yang ingin kau bicarakan...Em.. E.. Rima, itu namamu kan Rima?"


"Iya nama saya Rima, saya ingin berbicara tentang penawaran tante tempo hari."


"Ya bagaimana, apakah kau mau menikah dengan David?"


Rima kemudian tersenyum dan mengangguk perlahan. "Bagus Rima, memang itu jawaban yang kuinginkan darimu karena aku sudah begitu muak pada wanita itu."


"Iya tante saya mengerti perasaan anda, memang sangat sulit menerima wanita seperti Stella yang orang tuanya telah menyakiti perasaan dan menginjak-injak harga diri anda dan keluarga anda."


"Kau benar Rima tapi sayangnya David tidak menyadari itu, dia terlalu mencintai wanita sialan itu sehingga semua kejahatan yang telah diperbuat keluarga mereka tertutup oleh rasa cinta yang begitu besar pada Stella."


"Anda tenang saja Tante Nurma, saya akan berusaha membuat dokter David untuk melupakan Stella karena mulai hari ini dokter David harus bisa melupakan Stella untuk selama-lamanya."


"Apa maksudmu? Apa kau telah berbuat sesuatu pada mereka?" tanya Nurma.


"Apa tante belum tahu jika Stella kini sudah meninggal?"


"Stella meninggal? Tidak.. Tidak mungkin Stella sudah meninggal karena beberapa saat yang lalu David mengatakan jika tiga hari lagi dia akan menjalani operasi transplantasi sumsum tulang belakang."


Rima begitu terkejut mendengar perkataan Nurma. 'Tidak mungkin, bukankah tadi aku sudah mendengar sendiri jika alat elektrokardiograf itu sudah berbunyi yang menandakan jantung Stella sudah berhenti berdetak?' gumam Rima.


"Rima, kau kenapa? Sepertinya kau sudah salah informasi Rima, Stella saat ini masih hidup, dia belum meninggal." kata Nurma lagi yang membuat Rima begitu panik.


"Benarkah tante?"


"Tentu saja benar, coba kau tanyakan pada salah satu rekan kantormu di rumah sakit."


"O..Oh iya." jawab Rima gugup kemudian mengeluarkan ponselnya dan menayangkan kabar Stella pada Maya, salah satu perawat di ruang ICU.


'Brengsek! Kenapa ini semua bisa terjadi!' umpat Rima dalam hati saat membaca balasan dari Maya tentang Stella yang kondisinya sudah membaik.

__ADS_1


*Flashback*


"TIDAK.. INI TIDAK MUNGKIN!" teriak David sambil menjambak rambutnya. Dia lalu mengamati dokter Fadli yang kini sedang menggunakan alat kejut jantung untuk menyelamatkan Stella.


David menatap tubuh Stella yang beberapa kali terpental dengan tatapan nanar dan air mata yang terus-menerus mengalir di wajahnya.


"Stella ingat janji kita Stella, ingat janji kita." kata David sambil menutup wajahnya dengan begitu putus asa, hinga sebuah suara tiba-tiba mengejutkan dirinya.


TUT TUT TUT TUT TUT


"Dokter David tenangkan diri anda, Nyonya Stella masih bisa diselamatkan." kata dokter Fadli yang kini ada di sampingnya.


"Terimakasih.. Terimakasih dokter." kata David sambil menghapus air matanya kemudian mendekat pada Stella dan mencium pipinya.


"Aku tahu kau pasti bisa bertahan sayang, aku tahu kau akan menepati janji kita, aku tahu kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku. Kau tahu Stella...." kata David menghentikan kata-katanya karena sebuah tepukan mengenai pundaknya.


"Dokter ada yang ingin kubicarakan." kata Fadli.


"Baik." jawab David.


"Ada apa dokter Fadli?"


"Begini dokter David, memang untuk saat ini Nyonya Stella masih bisa diselamatkan, tapi saya tidak bisa menjamin bagaimana kondisinya kedepan."


"Itulah yang sedang saya pikirkan dokter, bukankah selama ini Nyonya Stella selalu minum obat dan menjaga asupan makanannya?"


"Tentu saja, dia selalu minum obat dan menjaga asupan makanannya."


"Tapi mengapa satu minggu ini sel darah putihnya melonjak drastis?"


"Jadi menurut dokter ada sesuatu yang aneh dengan kondisi Stella?"


"Ya, kemungkinan Nyonya Stella mengkonsumsi makanan atau obat-obatan lain di luar yang saya berikan untuknya."


"Tolong cek kandungan darah Stella dokter Fadli, kita harus menyelidiki semua ini."


"Iya dokter David. Lalu ada satu lagi."


"Apa dok?"


"Sebelum kondisi kesehatan Nyonya Stella semakin memburuk, kita harus menemukan donor sumsum tulang belakang untuknya. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengoperasi Nyonya Stella jika dokter David ingin Nyonya Stella benar-benar sembuh."


"Iya dokter, saya akan berusaha mencari donor sumsum tulang belakang untuk Stella."

__ADS_1


"Baik dokter David, saya mau mengecek keadaan Nyonya Stella kembali. Permisi."


David pun mengangguk, dia lalu menatap Stella yang kini terlihat begitu lemah. 'Stella, aku pasti akan menemukan pendonor itu. Aku janji aku pasti bisa menyembuhkanmu.' kata David dalam hati. Perlahan David pun mulai keluar dari ruang ICU menuju ke ruangannya.


Saat pintu ruangan kerjanya dia buka, David begitu terkejut melihat tiga orang tengah menunggunya di ruangan tersebut.


"Kalian?" tanya David dengan kening berkerut.


"David, tadi kami ke ruangan Stella dan tidak menemukan kalian jadi kami langsung ke sini." kata Revan sambil tersenyum.


"Iya, kondisi Stella tadi sangat kritis dan hampir saja kehilangan nyawanya." kata David sambil melirik tajam sepasang suami istri yang duduk di atas sofa.


Mereka kemudian mendekat pada David. "David, sekarang katakan bagaimana kondisi Stella?" tanya wanita yang menghampirinya.


"Peduli apa kalian pada Stella, Nyonya Rena dan Tuan Hilman?"


"David tolong jangan bicara seperti itu, bagaimanapun juga Stella adalah putri kami. Kami sangat menyayanginya, memang kami telah melakukan begitu banyak kesalahan karena selalu mengatur hidupnya."


"Jadi kalian baru menyadari itu saat Stella hampir kehilangan nyawanya?"


"Kenapa kau dan Stella tidak memberitahu kondisi kesehatannya pada kami David?"


"Stella tidak ingin kalian tahu. Stella sudah sangat lelah mengikuti semua keinginan kalian, dia ingin menentukan hidupnya sendiri." jawab David ketus.


"Karena itulah kami ingin membayar semua kesalahan kami." jawab Hilman. David kemudian menatap Hilman dengan tatapan tajam.


"Apa maksud anda?"


"Aku akan mendonorkan sumsum tulang belakangku pada Stella."


"Bukankah anda menderita penyakit jantung? Maaf itu tidak diperbolehkan, anda harus benar-benar sehat jika ingin mendonorkan organ tubuh anda."


"Tidak David, tidak, aku tidak sakit apapun. Itu hanya alasanku saja agar dulu Stella tidak bercerai dengan Revan." kata Hilman yang membuat emosi David kian memuncak.


"Dasar kurang ajar!" bentak David.


"Kalian memang benar-benar egois! Kami bahkan sampai menjalani kehidupan yang begitu sulit karena keegoisan kalian berdua!" bentak David.


Revan kemudian mendekat pada David dan menenangkannya. "David, sudah David kendalikan emosimu. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan Stella, percuma saja aku sampai pergi ke New York untuk menjemput mereka pulang jika kau seperti ini."


"Jadi kau pergi ke New York, Revan?"


"Ya aku pergi ke New York menemui orang tua Stella untuk menceritakan semua yang kita alami, semuanya David. Sekarang kita masih ada waktu untuk memperbaiki semua ini dan menyelamatkan Stella." kata Revan yang membuat David kini sedikit tenang.

__ADS_1


__ADS_2