
Roy melirik Heni yang kini duduk di sampingnya sambil termenung, raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang begitu dalam.
"Kenapa sejak tadi mama diam?" tanya Roy saat dalam perjalanan pulang di dalam mobil.
"Tidak apa-apa."
"Apa mama sakit?"
"Tidak."
"Mama hanya ingin minta maaf padamu."
"Minta maaf? Minta maaf untuk apa ma?"
"Karena mama sudah memaksamu untuk melupakan Diana secepatnya. Mulai saat ini mama tidak akan pernah memaksamu lagi, hiduplah sesukamu seperti yang kau inginkan, sama seperti saat kau memilih Diana dalam hidupmu, padahal saat itu kau tahu mama tidak pernah menyetujui hubungan kalian karena sikap Diana yang tidak pernah bisa menghormati mama. Maafkan mama yang sudah begitu berambisi untuk segera memiliki menantu yang lebih baik dibandingkan Diana hingga mengabaikan perasaanmu."
"Ma." kata Roy yang begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Heni.
"Sekali lagi maafkan mama. Hiduplah sesukamu, jika kau tidak akan pernah bisa melupakan Diana, mama tidak akan pernah memaksamu kembali untuk menikah. Mama janji, mama tidak akan pernah meminta apapun padamu." kata Heni kemudian turun dari mobil karena saat ini mereka sudah sampai di rumah mereka.
Roy hanya bisa menatap punggung Heni yang kini sudah masuk ke dalam rumah.
"Roy minta maaf ma. Roy minta maaf jika selama ini Roy begitu egois tanpa pernah memikirkan perasaan mama, meskipun Roy tahu sebenarnya mama begitu terluka akan sikap Diana yang sering berkata kasar pada mama, Roy tetap menutup mata Roy dan selalu mengabaikan perasaan mama. Maaf jika selama ini tanpa Roy sadari, Roy telah menjadi anak yang durhaka pada mama karena selalu mengabaikan mama dan lebih mengutamakan Diana. Maaf Roy baru menyadarinya sekarang saat mama sudah begitu terluka." kata Roy sambil menatap Heni dengan tatapan sendu.
❤️❤️❤️❤️❤️
"Kenapa kau diam, Dimas?" tanya Aini sambil tersenyum kecut.
"Oh tidak apa-apa Aini, aku hanya teringat sesuatu."
"Teringat sesuatu? Teringat apa?"
"Menghubungi ibu, aku belum menghubungi ibuku untuk memberitahukan keberadaanku karena saat aku ke Jakarta, aku belum sempat memberitahu pada mereka karena saat itu mereka sedang pergi." jawab Dimas.
"Dimas, lebih baik kau menghubungi orang tuamu dulu agar mereka tidak mengkhawatirkanmu." kata Olivia pada Dimas.
"Iya Mba Olive, aku keluar sebentar untuk menghubungi mereka." kata Dimas lalu pergi dari kamar Aini.
__ADS_1
Aini lalu tersenyum pada Olivia dan Calista. "Mba lihat sendiri kan bagaimana sebenarnya Dimas? Aku sudah sangat mengenalnya, dia tidaklah sebaik yang kalian pikirkan, semua sikap dan kata-kata manisnya hanya untuk membuat kita iba padanya."
"Kau benar Aini, sekarang aku mendukung keputusanmu untuk menceraikan Dimas." kata Calista sambil mendekat ke arah Aini.
"Benarkah?"
"Ya, aku tidak suka caranya memaksamu mengenai hubunganmu dengan Darren, memang dia masih suamimu tapi dia tidak bisa memaksamu seperti itu. Jika dia suami yang baik, dia pasti akan memperbolehkanmu bertemu dengan Darren, dia pasti akan memikirkan kebahagiaanmu, bukan egonya."
"Mba Calista benar, dia memang tidak pernah memikirkan kebahagiaanku, yang dia pikirkan hanya ego nya agar aku menjadi miliknya seutuhnya dan memenuhi segala yang dia inginkan."
"Dasar laki-laki bre*gsek! Hampir saja aku tertipu oleh sikap manisnya."
"Kak, jangan berkata seperti itu." kata Olivia.
"Lalu aku harus berkata apa Olive? Apa kau masih ingin membelanya? Apa kau tadi tidak melihat bagaimana raut wajahnya saat Aini mengatakan ada masalah dengan kesuburannya, aku sudah pernah mengalami itu Olive. Saat Leo tau akan hal itu dia langsung memeluk dan menghiburku bukannya malah pergi seperti ini." gerutu Calista.
"Iya iya Kak." jawab Olivia sambil tersenyum.
"Mba Calista, Mba Olivia, bolehkah aku minta tolong pada kalian?" tanya Aini.
"Tolong bantu urus perceraianku Mba, aku sudah sangat ingin bercerai dari Dimas tapi kondisiku sangat tidak memungkinkan untuk bisa mengurus perceraian dengan cepat."
"Iya Aini, kau tenang saja. Aku akan membantumu mengurus perceraianmu secepatnya." jawab Calista.
"Kau sepertinya sangat bersemangat, Kak. Hahahaha."
"Ya, setelah melihat siapa Dimas yang sebenarnya aku sangat ingin Aini secepatnya bercerai dari laki-laki itu." gerutu Calista yang membuat Aini dan Olivia tertawa.
"Terimakasih mba." jawab Aini.
"Sama-sama, mulai saat ini kau harus bahagia Aini, sudah terlalu banyak luka yang kau rasakan. Aku tidak ingin membuatmu semakin terluka dengan memaksamu menjalani rumah tangga dengan Dimas."
"Iya mba, sekali lagi terimakasih."
"Jangan terlalu cepat berterima kasih Aini, karena ada satu hadiah lagi dariku untukmu." kata Olivia sambil mengambil sebuah paper bag yang dia taruh di nakas sebelah tempat tidur Aini.
"Apa ini Mba Olive."
__ADS_1
"Buka saja." jawab Olivia.
Aini pun kemudian mengambil benda yang ada di dalam paper bag tersebut. Raut wajahnya pun kini berubah begitu bahagia saat melihat isi dari paper bag tersebut.
"Ponsel? Ini ponsel untukku?" tanya Aini pada Olivia.
"Ya, itu untukmu, sudah kuisi nomor baru untukmu lalu juga sudah kuisi nomorku, nomor Kak Calista, dan nomor Laras." jawab Olivia.
"Terimakasih banyak Mba Olive." jawab Aini sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
"Kalian berdua sungguh baik padaku, bagaimana caranya agar aku bisa membalas kebaikan kalian berdua?"
"Sudah tidak usah dipikirkan Aini, sekarang yang harus kau pikirkan adalah agar kau bisa sembuh dan bisa merawat Darren." jawab Calista.
"Tentu, tentu. Terimakasih banyak Mba."
"Sama-sama." jawab Olivia dan Calista.
"Sebaiknya kau sekarang makan siang terlebih dulu."
"Nanti saja, aku belum lapar."
"Baiklah kalau begitu kau istirahat saja, aku dan Olivia mau makan siang terlebih dulu."
"Iya Mba." jawab Aini kemudian merebahkan tubuhnya.
Olivia dan Calista lalu duduk di sofa kemudian menyantap makan siang yang dibawa oleh Calista. Aini pun kini begitu asyik memainkan ponsel barunya, tiba-tiba sebuah keinginan besar dari dalam lubuk hatinya mendorong Aini untuk membuka sebuah akun sosial media, setelah membuka akun sosial media tersebut dia lalu mengetikkan sebuah nama "FIRMAN SATRIA PERDANA." ketik Aini di ponselnya tersebut. Dia lalu tersenyum memandang foto seorang lelaki yang tampak sedang duduk di tepi pantai sambil memandang lautan.
'Bagaimana kabarmu Firman, pasti saat ini istrimu sudah melahirkan, kau pasti sangat bahagia bisa menjadi seorang ayah.' gumam Aini dalam hati sambil meneteskan air mata.
'Melupakanmu bukanlah hal yang mudah bagiku Firman, karena kau adalah cinta pertamaku, terkadang aku merasa begitu lelah dan putus asa untuk bisa seutuhnya melupakan dirimu tapi aku akan selalu berusaha meskipun ini sangat pahit. Aku sadar diri, kita memang tidaklah berjodoh.' gumam Aini dalam hati.
NOTE:
Jangan terlalu mudah menilai seseorang dari sikap baiknya di depan kita karena kita sebenarnya tidak pernah tahu seberapa dalam hati manusia ☺️ ❤️
Love you dear, jangan lupa tinggalin jejaknya 😉
__ADS_1