
Dengan perasan campur aduk, Kinan melangkah kembali ke mobil. Dia benar-benar terkejut dengan kemunculan kembali sosok Rena. Dia sempat berpikir bahwa hanya ada kesamaan nama karena selama ini dia memang tak pernah bertemu langsung dengan calon mempelai wanitanya. Ternyata semua itu bukan hanya kebetulan, tapi memang Rena yang asli.
"Kenapa?" tanya Bram karena terlihat jelas rasa khawatir juga terkejut di wajah sang istri. "Ada masalah sama kliennya?"
Kinan menggeleng. Dia tersenyum canggung untuk menghadapi pertanyaan Bram. "E-enggak kok. Semua berjalan normal dan acaranya dimajuin."
"Mau makan siang di mana?" tanya Bram sembari menghidupkan mobilnya. Namun, sesekali dia melirik Kinan yang masih nampak gelisah. "Nan ...."
"Bisa gak sih mas diem dulu?" tanya Kinan dengan nada tinggi. Saat ini dia merasa posisinya terancam. Dia tak bisa bayangkan jadinya seperti apa jika sang suami bertemu dengan Rena. Dia akan memastikan Bram takkan ikut dengannya selama mengurus pernikahan ini.
Kinan sadar ini terlalu egois. Apalagi, terkadang Bram selalu memaksa ikut jika dirinya terlihat kesulitan. Namun, dia tak mau kehilangan suaminya. Apalagi, tak ada jaminan jika Bram akan tetap memilih dengannya. Baginya, manusia itu dinamis dan bisa berubah pikiran kapan saja.
Bram masih diam meski sesekali melirik Kinan. Dia bingung harus memilih makan apa untuk siang ini. Apa dia harus berputar-putar dulu sampai rasa marah Kinan mereda? Tentu saja tidak.
Bram berdeham. Namun, respon Kinan malah emosi. Alhasil Bram memilih untuk diam lagi sembari berpikir makanan apa yang akan dia makan dengan Kinan siang ini. Namun, otaknya seakan berhenti bekerja setelah Kinan membentaknya. Dia jadi penasaran sebenarnya apa yang terjadi di kafe tadi?
Pilihan Bram akhirnya jatuh pada sebuah kedai grill yang letaknya tak terlalu jauh dari kafe tadi. Dia segera memarkirkan mobilnya. Namun, lagi-lagi dia bingung bagaimana cara mengajak Kinan untuk turun.
"Kalo ... Makan di sini?" tanya Bram hati-hati. Namun, tanpa menjawab, Kinan langsung turun dan membuat Bram menghela napas lega. Dia pikir Kinan akan mengatakan tak ingin makan.
Suasana Kinan tiba-tiba membaik kala hidungnya menghirup aroma dari daging panggang. Sejenak dia lupa soal permasalahannya dan memesan menu acak yang menurutnya menggiurkan. Melihat suasana hati Kinan yang membaik, tentu membuat Bram merasa sedikit lega. Setidaknya, dia tak perlu bingung harus membujuk.
"Udah ini cari es krim ya."
Bram tersenyum kemudian mengangguk, membuat Kinan kemudian merasa senang dan bertepuk tangan. "Es krim aja 'kan?"
Kinan memikirkannya sejenak sebelum akhirnya menggeleng. "Gak jadi deh. Cendol enak kayaknya."
"Makan di rumah aja ya, nanti mas minta Raka beliin."
Kinan mencebik. Padahal dia sudah membayangkan bagaimana cendol itu menyegarkan tenggorokannya di pinggir jalan. "Yaudah."
__ADS_1
Melihat respon Kinan, tentu membuat Bram tak jadi mengubungi Raka. "Oke, nanti udah ini cari tukang cendol ya."
...***...
Bram menghela napas dengan berbagai bungkusan di tangan. Dia tak tahu jika keinginan cendol saat siang tadi akan beranak pinak menjadi berbagai macam makanan. Namun, tak apa selama sang istri bahagia, Bram tak keberatan harus membawa makanan-makanan itu.
Kinan berhenti memasukan makanan ke mulutnya saat rasa mual mulai mengganggunya. Entah karena kekenyangan atau memang aroma makanan itu terlalu menyengat. Padahal, biasanya dia sangat menyukai olahan ikan itu.
Dengan wajah sedih Kinan memberikannya pada Bram. Padahal bakso ikan adalah makanan kesukaannya. "Buat mas aja."
"Habis ini mampir dulu ke dokter yuk," ajak Bram sembari meletakan makanan-makanan itu di kursi belakang. Dia sedikit curiga dengan berbagai hal yang terjadi. Meski begitu, dia memilih untuk tak banyak berharap. Apalagi, dia tak mau membebani Kinan nantinya.
"Enggak ah, mas."
"Mas janji kok gak akan terlalu berharap."
Kinan tahu itu bisa saja membuat harapan kosong. Apalagi, binar tatapan Bram menunjukan bahwa pria itu memang menaruh harap yang cukup besar padanya. Dia sungguh takut jika hasilnya mengecewakan meski dalam waktu dekat ini, dia memang merasakan beberapa gejalanya.
"Janji?"
Kinan mengangguk. Mungkin sudah seharusnya dia mengatakan ini sejak awal. Namun, karena takut itu malah akan memberikan harapan kosong. Sekarang dia lebih takut karena dia bisa merasakan sebesar apa harapan Bram soal bayi.
"Tapi jangan terlalu berharap ya, mas."
Bram tersenyum. "Enggak kok, Mas gak akan bikin kamu ngerasa kebebanin."
...***...
Soal pelaku itu masih belum ditemukan. Raka sudah mengikuti setiap jejak yang ada. Namun, dia masih tak menemukan titik terang. Hingga akhirnya dia menemukan satu bukti mengejutkan.
Pengakuan yang disampaikan oleh pria pada CCTV itu sungguh membuatnya tak habis pikir. Raka kini mengantongi nama Wira sebagai pelaku utama. Namun, dia tak langsung memberitahu Bram. Dia akan mencari bukti lain terlebih dahulu karena hanya pengakuan bukanlah bukti yang bisa dia gunakan.
__ADS_1
Sementara, Bram masih tersenyum sembari menatap sebuah foto di tangannya. Belum terlalu terlihat karena masih terlalu muda. Namun, saat ini Kinan dinyatakan hamil.
"Ini serius?" tanya Kinan yang memecah keheningan. Mereka saling diam sembari memikirkan sesuatu. Bahkan Kinan masih melamun karena tak percaya.
"Besok kita pindah ke villa aja ya, Nan."
"Kenapa?"
Bram merasa risikonya akan jauh lebih besar jika mereka tinggal di sana. Itu sebabnya Bram akan memilih untuk pindah agar Kinan dan bayinya baik-baik saja.
Bram terkekeh saat melihat Kinan kembali menangis. Sudah susah payah dia mencoba untuk membujuk, namun istrinya malah kembali menangis. "Udah ya jangan nangis. Nanti bayinya ikutan."
Memang ini seharusnya mereka umumkan setidaknya pada keluarga. Namun, untuk saat ini Bram memilih untuk menutupinya dulu. Apalagi, dokter mengatakan Kinan harus istirahat yang cukup. Juga, dokter mengatakan mereka harus kembali periksa untuk benar-benar memastikan Kinan hamil.
"Mas bikinin nasi goreng ya. Mau gak?" tanya Bram saat mendengar suara perut keroncongan dari Kinan.
"Mau, tapi jangan pake bawang."
Bram mencium pipi Kinan sebelum menuruni ranjang. Dia juga sebenarnya lapar karena antrian rumah sakit yang cukup panjang. Dia lupa tak meminta bantuan temannya.
"Eh pak Bram belum tidur?"
Bram tersenyum untuk membalas sapaan itu. "Iya nih, bi. Kinan mau nasi goreng katanya laper. Eh bakso ada di mana ya?"
"Di kulkas, pak."
Bram mulai meracik nasi goreng buatannya. Dia memasukan beberapa toping agar rasanya bisa lebih lezat. Dia juga menambahkan bubuk cabai agar rasanya lebih menggugah.
Sementara, Kinan di kamar tengah menunggu. Dia mendengar sebuah notifikasi masuk. Namun, saat diperiksa, pesan itu bukan ke ponselnya. Kinan beranjak, meraih ponsel sang suami dan terkejut kala sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul.
[Mas, ini Rena. Maaf baru muncul sekarang. Bisa kita ketemu? Ada yang perlu Rena omongin]
__ADS_1