
Vallen lalu memandang Firman.
"Firman, kau tenang saja. Aku tidak memiliki maksud buruk pada Vallen. Aku hanya ingin berbicara hati ke hati dengannya karena ada sesuatu diantara kami yang belum kami selesaikan."
Mendengar perkataan Rayhan, Firman pun mengangguk.
"Baik, silahkan." kata Firman. Dia kemudian menatap Vallen sambil mengangguk dan membelai wajahnya, lalu mereka tersenyum.
'Dasar breng*ek, mereka malah menunjukkan kemesraan mereka di depanku.' gumam Rayhan sambil memalingkan wajahnya karena menahan perasaan yang begitu sakit.
Firman kemudian berjalan menjauhi meja tersebut lalu duduk di salah satu kursi yang yang tidak jauh dari meja Rayhan.
"Kapan kau mengenalnya?" tanya Rayhan saat Firman sudah menjauh dari mereka.
"Belum lama."
"Belum lama tapi kau sudah sangat tergila-gila padanya, apa sebenarnya yang membuat kau begitu mencintainya? Apakah dia lebih lembut dan perhatian dariku?"
Vallen kemudian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Lalu kenapa kau begitu mencintainya?"
"Karena aku belum pernah bertemu dengan laki-laki seperti dirinya." kata Vallen sambil tersenyum.
"Memangnya dia seperti apa?"
"Dia laki-laki yang sangat sombong dalam mengakui perasaannya, namun dia menyimpan perhatian yang begitu besar pada orang yang dicintainya."
"Heh apa hebatnya laki-laki seperti itu?" jawab Rayhan sambil tersenyum kecut.
"Rayhan, terkadang rasa cinta itu memang sulit dimengerti, bahkan kau tidak bisa memilih dimana cintamu akan berlabuh. Saat hatimu mengatakan kau mencintainya, kau takkan bisa mengelaknya."
"Kupikir setelah putus denganku kau berubah menjadi lebih dewasa, ternyata kau masih sama saja, NAIF!"
"Terserah kau mau menyebutku apa. Aku hanya mencintai Firman, itu yang kutahu."
"Kau memang keras kepala."
"Memangnya kau tidak? Kau bahkan sangat egois, karena kau selalu memilih pada situasi yang mementingkan dirimu. Saat itu kau memilih memutuskan aku untuk mengikuti semua kata-kata orang tuamu, lalu setelah kau menjalani rumah tangga yang di luar ekspektasimu kau ingin kembali padaku. Hei Rayhan, kami memiliki perasaan, bukan hanya tempat singgah. Kau tidak bisa datang dan pergi seenak yang kau mau, ini hati Rayhan. Setiap jejak yang kau tinggalkan akan berbekas." kata Vallen dengan nafas tersengal-sengal karena menahan emosi yang begitu menyesakkan dadanya.
"Apa kau tahu, saat kau memutuskan hubungan kita, hatiku begitu hancur. Rasanya begitu sulit menjalani kehidupan ini, hingga bernafas pun terasa begitu berat. Hingga akhirnya aku bertemu dengan Firman, dan disaat aku sudah jatuh cinta padanya, kau kembali datang dan meminta aku kembali padamu. Aku bukan barang yang bisa kau buang lalu kau ambil lagi sesukamu."
"Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu."
"Tapi nyatanya seperti itu, Rayhan. Kau memperlakukan kami layaknya sebuah barang."
__ADS_1
"Kami?"
"Ya, aku dan istrimu. Kami adalah korban keegoisanmu! Kau pikir dia apa? Kau sudah berjanji pada Tuhan untuk bertanggung jawab padanya, tapi kenyataannya apa? Kau menelantarkannya begitu saja hanya untuk menuruti nafsu dan keegoisanmu."
"Karena ternyata aku tidak bisa mencintainya."
"Setidaknya kau bisa menyayangi anak yang ada di dalam kandungannya. Jika kau tidak pernah bisa jadi suami yang baik, setidaknya kau bisa menjadi ayah yang baik untuk anakmu."
Rayhan pun hanya terdiam, dia kemudian tampak berfikir.
"Rayhan, aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan bisa mencintai istrimu dengan sepenuh hatimu, kau hanya butuh waktu. Tolong kembalilah padanya." kata Vallen sambil menatap Rayhan.
"Vallen tolong jangan menatapku seperti itu. Kau tahu aku tidak akan pernah bisa menolak yang kau inginkan jika kau sudah menatapku seperti itu."
"Karena itu, tolong kembalilah. Bersikaplah lebih dewasa dan bijaksana, Ray. Buanglah semua egomu."
Rayhan kemudian mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"Baik, baik Vallen. Aku akan kembali pada Inara dan keluargaku, aku juga akan mengajaknya untuk tinggal bersama denganku di London, karena lusa aku sudah memulai pekerjaanku di sana."
Mendengar perkataan Rayhan, Vallen pun tersenyum.
"Keputusan yang bagus Rayhan, aku yakin kalian pasti akan bisa hidup bahagia."
"Semoga saja."
"Firman, tolong kau panggilkan wanita itu, yang di pojok."
Firman kemudian mendekati wanita yang duduk di pojok cafe lalu menyuruhnya untuk mendekat pada Vallen. Rayhan pun begitu terkejut melihat Inara yang ternyata ada di cafe tersebut.
"Kau sudah menjebakku Vallen?" kata Rayhan sambil tersenyum kecut.
"Ya, kau tahu sendiri bagaimana sifat jahilku." jawab Vallen sambil terkekeh.
"Itu yang membuatku jatuh cinta padamu dan tidak pernah bisa melupakanmu." jawab Rayhan. Di saat itu juga Firman dan Inara sudah berdiri di samping mereka.
"Firman, ayo kita pulang sekarang."
"Vallen, kau mau pergi?" tanya Inara.
"Iya Inara, aku sudah selesai berbicara dengan Rayhan. Silahkan kau temui dia, aku juga ingin berkencan dengan kekasihku. Bukan begitu, Firman?" tanya Vallen sambil mengedipkan mata kanannya.
"Ya, kami harus pergi sekarang. Kami pergi dulu, permisi. Ayo Vallen." kata Firman sambil menarik tangan Vallen.
"Kami pulang dulu." kata Vallen sambil tersenyum dan melambaikan tangannya pada Rayhan dan Inara.
__ADS_1
"Terimakasih banyak." kata Vallen pada Firman saat mereka berjalan keluar dari cafe.
"Untuk?"
"Berpura-pura menjadi kekasihku, aktingmu bagus apalagi saat kau membelai wajahku, aku sangat suka itu."
"Bagaimana perasaanmu melihat mereka berdua? Apa masih begitu sakit sampai kau langsung mengajakku pulang?"
"Aku baik-baik saja." jawab Vallen sambil tersenyum.
"Jangan berbohong. Masih terasa sakit kan?"
"Ya, sedikit, tidak banyak."
Firman lalu menghentikan langkah mereka saat sudah di halaman parkir. Dia kemudian berdiri di hadapan Vallen lalu memandangnya.
"Kenapa kau memandangku seperti itu?"
Firman kemudian semakin mendekatkan tubuhnya, lalu memeluk Vallen.
"Jangan bersedih, aku akan selalu ada di sampingmu. Aku akan selalu menjagamu." kata Firman sambil terus memeluk Vallen dan membelai rambutnya.
Vallen pun tersenyum kemudian balas memeluk Firman.
"Terimakasih banyak Firman."
"Aku tidak suka kau yang seperti ini, aku tidak ingin melihat kesedihan di wajahmu. Aku ingin kembali melihat gadis aneh yang kukenal." kata Firman yang membuat Vallen terkekeh.
"Dasar laki-laki sombong, aku tidak serapuh yang kau pikirkan. Aku sudah melupakan semua masa laluku dengan Rayhan, aku tidak pernah memikirkan dia lagi, ya tadi memang ada sedikit rasa sedih tapi itu hanya sedikit sangat sedikit."
"Tapi kenapa tadi wajahmu terlihat begitu sedih? Kau masih mencintainya kan?"
"Hahahahahha... Hahahaha, tidak."
"Lalu?"
"Aku hanya lapar, tahukah kau aku bahkan mengabaikan makan siangku karena begitu banyak pasien di rumah sakit. Berbicara dengan orang seperti Rayhan juga begitu menguras energiku." gerutu Vallen sambil menyenderkan kepalanya di dada Firman.
"Kenapa kau tidak memesan makanan di dalam?"
"Karena aku ingin makan berdua denganmu, tolong kau suapi aku."
"Selain aneh kau juga ternyata sangat manja."
"Firman, kita sudah terlalu lama berpelukan sepertinya mulai banyak orang yang memperhatikan kita."
__ADS_1
Firman kemudian melepaskan pelukannya kemudian mereka tertawa bersama. Rayhan yang memperhatikan gerak-gerik mereka dari dalam cafe pun hanya bisa tersenyum kecut sambil menahan perasaan yang begitu sakit.
'Hatimu memang bukan lagi untukku, Vallen.' gumam Rayhan dalam hati.