Salah Kamar

Salah Kamar
Lisan


__ADS_3

"Siapa sayang?" tanya Kenan pada Olivia yang masih berdiri depan pintu sambil memegang sebuket bunga di tangannya.


"Apa ini?" kata Kenan sambil mengambil bunga yang ada di tangan Olivia.


"BRE*GSEK!!! SIAPA YANG BERANI MEMBERIKAN BUNGA PADA ISTRIKU!!" teriak Kenan.


"Sabar Kenan."


"Apa Olive? Sabar? Aku tidak mungkin bisa bersabar melihat semua ini Olive! Jika aku bertemu orang itu maka akan kucabik-cabik dan kulempar mayatnya ke jurang!"


"Cukup Kenan! Cukup! Kendalikan emosimu, mungkin ini hanyalah ulah iseng dari seseorang."


"Tidak mungkin!"


"Hei ada apa ini ribut-ribut?" tanya Laras dan Ramon yang datang karena mendengar suara berisik.


"Lihat ini, ada seseorang yang mengantarkan bunga untuk istriku!" teriak Kenan.


"Wah berani-beraninya dia berbuat seperti itu, itu sama saja meremehkanmu Kenan." kata Ramon.


"Ramon!" bentak Laras pada Ramon karena Kenan kini terlihat semakin emosi mendengar perkataan Ramon.


"Maaf." bisik Ramon.


"Memang siapa pelakunya?" tanya Laras.


"Entahlah, aku belum sempat mengecek CCTV."


"Bagaimana kalau kita mengecek CCTV nya sekarang." kata Ramon.


"Ayo." jawab Kenan.


Mereka pun kemudian masuk ke dalam rumah Kenan dan mengecek CCTV di ruang kerja Kenan. Namun saat mereka mengecek CCTV tersebut, yang terlihat mengantarkan bunga hanyalah seorang kurir pengantar bunga.


"SIAL!" teriak Kenan.


"Kenan lebih baik kau mengecek toko tempat dia membeli buket bunga itu."


"Kau benar Ramon, nanti siang aku akan mengecek ke toko bunga itu."


Beberapa saat kemudian pun terdengar teriakan dua orang anak masuk ke dalam rumah. "Daddy, Mommy."


"Itu Vansh dan Laurie, Kenan kendalikan emosimu jangan sampai menunjukkan amarahmu di depan Mama dan anak-anak." kata Olivia.

__ADS_1


"Iya Olive."


***


"Setelah kalian menikah Ayah akan kembali ke kampung Nak." kata Pram pada Ilham dan Rima.


"Kenapa Pak Pram tidak tinggal bersama kami saja?"


"Tidak Ilham, kota ini menyimpan sejuta kenangan pahit untuk ayah dan ibunya Rima. Ayah tidak tenang tinggal di sini. Satu pesan ayah, kalian sering-seringlah mengunjungi ayah jika sudah menikah."


"Iya Pak." jawab Ilham, sedangkan Rima terlihat begitu cuek sambil sesekali melirik pada Ilham.


Di saat itulah Olivia dan Kenan masuk ke rumah Laras.


"Hai Ilham, Pak Pram, selamat siang. Jadi ini yang namanya Rima, calon istrimu Ilham? Cantik sekali kau Rima." kata Olivia.


"Kak Olive bisa saja." jawab Rima sambil tersipu malu.


"Ada apa Olive?" tanya Ilham.


"Ilham, apa kau melihat Laras dan Dennis?" tanya Olivia.


"Oh mereka sedang ke minimarket sebentar. Kau ada perlu dengan mereka?"


"Vansh dan Laurie rindu dengan Dennis, tapi aku harus menemani Kenan ke pesta pernikahan rekan bisnisnya. Maukah kalian menjaga Vansh dan Laurie sampai Laras dan Dennis pulang?"


"Kalian jangan nakal sama Om Ilham dan Tante Rima ya." kata Olivia sambil mengelus kepala Vansh dan Laurie.


"Iya mommy, daddy."


"Terimakasih Ilham, kami pergi dulu." kata Kenan sambil menggandeng tangan Olivia.


Rima pun menatap Kenan dan Olivia yang berjalan keluar dari rumah Laras.


'Sebenarnya keinginanku menikah dengan orang yang terpandang seperti dokter David ataupun lelaki berkelas seperti Leo, Revan ataupun Kenan yang tampan itu, tapi jika ternyata jodohku adalah Ilham, aku tidak bisa berbuat banyak. Melihat penampilannya saat ini, dia pun tidak terlalu buruk.' kata Rima dalam hati.


"Ayah ke kamar dulu ya, mau istirahat. Kepala ayah sedikit pusing."


"Iya Pak Pram." jawab Ilham sedangkan Rima hanya tersenyum kecut melihat ayahnya yang sedang masuk ke dalam kamar.


"Rima, besok aku ingin mencari kontrakan. Setelah kita menikah, kita akan tinggal di kontrakan itu untuk sementara waktu sampai aku bisa membeli rumah untuk kita." kata Ilham sambil sesekali mengamati Vansh dan Laurie yang sedang asyik bermain Lego di depan mereka.


Mendengar perkataan Ilham, Rima pun hanya mengangguk. Perasaannya pun mulai sedikit merasakan sebuah getaran apalagi saat ini Ilham tampak menggenggam tangannya.

__ADS_1


'Ilham memang benar-benar laki-laki yang baik, mungkin memang aku harus bisa melupakan David dan mencintai Ilham.' kata Rima sambil melirik Ilham yang terlihat tampan saat tersenyum melihat tingkah Vansh dan Laurie.


***


Dua minggu kemudian


"Kau cantik sekali Rima." kata Calista saat melihat Rima yang telah selesai berdandan.


"Tentu saja Calista, karena aku yang memilihkan seorang make up artist terbaik untuk Rima." jawab Stella sambil terkekeh.


"Dan aku yang sudah menemani Rima untuk melakukan perawatan sebelum pernikahan di salon." kata Giselle sambil meringis.


"Terimakasih kalian sudah sangat baik padaku, padahal aku sudah sangat jahat pada kalian semua, terutama kau Stella."


"Rima, kami mengurungkan niat kami untuk memenjarakanmu itu karena ayahmu. Jika tidak karena ayahmu aku tidak akan pernah terima kau pernah menyakitiku dan keluargaku. Jadi kami minta kau berbaktilah pada orang tuamu." jawab Stella.


"Iya.. Iya aku mengerti." gerutu Rima dengan sedikit kesal.


Pintu kamar pun terbuka. Olivia dan Laras pun masuk ke dalam kamar itu untuk memanggil Rima.


"Ayo Rima acara ijab qabulnya akan segera dimulai." kata Laras sambil berjalan ke arah Rima kemudian membantunya untuk berdiri.


Olivia dan Laras pun menuntun Rima berjalan ke meja akad. "Hei lihat itu Ilham sudah beberapa kali melirikmu, Rima." bisik Laras yang membuat Rima tersenyum. Akhirnya akad nikah pun berlangsung dengan lancar, Ilham mengucapkan ijab qabul dengan sekali tarikan nafas.


Setelah acara ijab qabul selesai, semua orang pun mendekat pada Ilham dan Laras untuk mengucapkan selamat. Sesekali Rima melirik pada David yang beberapa kali memeluk Stella dengan raut wajah begitu bahagia.


'Memang kau tercipta bukan untukku, aku pun akan menjalani takdirku.' kata Rima dalam hati.


Saat hari beranjak petang, Ilham dan Rima pun undur diri untuk pulang ke kontrakan mereka. "Maaf Rima, aku cuma bisa mengontak rumah sederhana."


"Tidak apa-apa." jawab Rima kemudian masuk ke dalam kontrakan tersebut sambil menyeret koper miliknya. Setelah Rima masuk ke dalam rumah, tampak Ilham masih berdiri di depan.


"Selamat datang Rima, selamat menjalani pernikahan yang akan menjadi neraka bagimu. Kau sudah begitu menghinaku saat itu, aku bagaikan lelaki yang tidak memiliki harga diri di matamu, sekarang terimalah pembalasanku. Akan kupastikan kau menderita dalam pernikahan ini. Hahahaha." kata Ilham sambil tersenyum menyeringai.


***


Kenan membuka pintu rumah setelah beberapa kali mendengarkan bel yang berbunyi. "Awas jika ada kiriman bunga untuk Olivia lagi, akan kubunuh sekarang juga yang mengirimkan bunga itu." gerutu Kenan saat membuka pintu.


Namun saat Kenan membuka pintu tersebut, tidak ada seorang pun yang datang, dia lalu melihat ke arah lantai, namun bukan bunga yang dia temukan tapi seekor bangkai ayam tanpa kepala dengan ceceran darah di sekitarnya. Di samping bangkai ayam itu juga terdapat tulisan.


Teruntuk Kenan:


Aku pasti akan membunuhmu

__ADS_1


sama seperti ini.


"BRENG*EK!!!!" teriak Kenan.


__ADS_2