
"Bagaimana David apa kau menemukan Rima?" tanya Revan pada David yang baru saja datang bersama beberapa orang petugas security.
"Aku sudah memerintahkan pada para penjaga pintu keluar rumah sakit untuk mengecek setiap kendaraan yang keluar, tapi mereka tidak menemukan Rima." kata David sambil mengusap kasar wajahnya.
"BRENGSEK KAU RIMA!" Umpat David lagi sambil memukul-mukul tembok rumah sakit.
"Hei ada apa ini?" tanya Leo dan Calista yang baru saja datang.
"Kita kehilangan Rima." gerutu Revan.
"Astaga, kenapa kalian begitu bodoh! Mengawasi satu wanita saja tidak becus!"
"Kondisinya tidak seperti yang kau pikirkan Leo, Rima tadi sempat menghasut David agar emosinya terpancing untuk mengalihkan perhatian kami semua." jawab Giselle.
"Lalu kau terpancing dengan kata-katanya?" tanya Leo pada David yang dijawab dengan anggukan lemah David disertai raut wajah penuh kemarahan.
"Leo jangan menyalahkan mereka. Rima memang sangat licik, dia memanfaatkan situasi untuk menghasut David agar marah kepada Revan. Sekarang bukan saatnya berdebat dan saling menyalahkan."
"Benar apa Calista, kita harus menemukan Rima secepatnya." kata Revan.
"Iya aku tahu itu tapi aku sudah mencari ke seluruh sudut rumah sakit tapi aku tak menemukannya."
"Jika kita sudah tidak menemukannya lagi di rumah sakit ini berarti Rima sudah tidak ada lagi di rumah sakit ini, dia pasti sudah keluar dari sini." kata Calista.
"Tidak mungkin Calista, aku sudah mengecek semua kendaraan yang keluar dari rumah sakit ini." jawab David.
Mereka pun kemudian termenung. "Kalau seperti itu, kemungkinan dia sudah mengecoh para penjaga di pintu keluar dengan menaiki salah satu kendaraan yang tidak dicek penjaga di pintu keluar."
"Apa maksudmu Leo?"
"David apa di rumah sakit ini sedang ada pembangunan gedung ataupun kegiatan lain yang para pekerjanya bisa bebas keluar masuk tanpa mendapat pengecekan dari petugas pintu?"
"Tidak ada pembangunan apapun di sini, hanya ada pemotretan untuk baliho baru di rumah sakit ini." jawab David santai.
"NAH ITU DIA!!" teriak Leo.
"Apa maksudmu Leo?" tanya David.
"Dia pasti menaiki mobil operasional dari para fotografer itu."
"Kendaraan apa yang mereka pakai?" tanya Revan.
"Satu buah SUV dan mobil bak terbuka."
"Aku yakin Rima pasti mengecoh para petugas penjaga pintu dengan menaiki mobil itu." kata Leo.
"Memangnya siapa fotografer yang kau sewa David?"
"Kalau tidak salah dari RAMON STUDIO. Pemiliknya bernama Ramon."
"APAAAAA???" Teriak Leo, Calista, dan Giselle bersamaan.
"Kenapa? Apa kalian mengenalnya?"
"Tentu saja dia adalah saudara iparku, ayo kita ke tempat Ramon sekarang sebelum Rima melarikan diri lagi." jawab Calista.
__ADS_1
"Ayo kita ke sana sekarang." kata Revan.
Di saat itu pula ponsel David pun berbunyi.
"Iya tante." jawab David.
Lalu David pun tampak serius menerima panggilan itu.
"Ada apa David?" tanya Revan.
"Operasi Stella sudah selesai, aku pergi sebentar melihat kondisi Stella lebih dulu."
"Kau tenang saja David, biar kami saja yang mengurus Rima." jawab Revan.
"Terimakasih, terimakasih banyak Revan, tapi bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"Iya tentu saja, memangnya ada apa David?"
"Bisakah aku meminta Giselle menemani Stella disini?"
"Tentu saja. Lagipula saat ini Giselle sedang hamil, dia tidak boleh terlalu lelah."
"Terimakasih."
"Kami pergi dulu David." kata Leo.
Mereka pun pergi meninggalkan David dan Giselle yang kini tampak berjalan menuju ruang operasi.
Saat mereka sudah sampai di sana terlihat beberapa orang perawat sedang mengeluarkan Stella dari ruang operasi untuk dibawa ke ruang perawatan. David pun kemudian menghampiri dokter Fadli yang melakukan operasi pada Stella.
"Dokter Fadli bagaimana operasinya?"
"Iya dokter, terimakasih banyak."
Rena kemudian berjalan ke arah David.
"David, bisakah kau menemani Stella di kamar perawatannya? Tante mau menemani om Hilman karena mereka tidak bisa dimasukkan ke kamar perawatan yang sama."
"Iya tante tentu saja, di sini juga ada Giselle yang akan menemani Stella. Tante lebih baik menemani Om Hilman saja."
"Iya David." jawab Rena.
Kini David dan Giselle berada di dalam kamar perawatan Stella. Beberapa kali tampak David membelai wajah Stella yang belum sadarkan diri.
"Kenapa Giselle?" tanya David tiba-tiba.
"Maksudmu?"
"Kenapa Rima tega berbuat seperti itu pada Stella? Apa karena aku sudah begitu galak padanya sehingga dia jadi dendam padaku?"
"Tidak, bukan seperti itu David."
"Lalu?"
"Karena dia mencintaimu, dia mencintaimu David."
__ADS_1
"APAAA?" teriak David.
"Tidak mungkin."
"Itu benar David, aku yang melihat dan mendengar dengan mata kepalaku sendiri saat aku secara tidak sengaja memergoki Rima yang sedang mengatakan jika dia mencintaimu."
"Tapi kenapa? Kenapa dia sampai mencintaiku?"
"Entahlah, aku juga tak tahu."
Di saat itu pula perlahan mata Stella pun terbuka.
"Stella, kau sudah sadar?" tanya David dan Giselle bersamaan.
Stella pun kemudian mengangguk lemah.
"David, dimana Rima?" tanya Stella yang membuat David dan Giselle kini berpandangan.
***
"Hei, siapa yang ada di situ?" teriak Ramon saat mendengar suara wanita.
Rima pun ketakutan saat melihat Ramon yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Siapa kamu? Berani-beraninya kau menaiki mobilku!" teriak Ramon.
"Emhh... E.. Maaf.. Maaf Tuan, saya baru datang dari desa dan tadi dikejar-kejar oleh preman, jadi saya tidak sengaja menaiki mobil tuan saat tadi berhenti di lampu merah untuk menghindar dari kejaran para preman itu."
Ramon lalu menatap Rima dengan begitu seksama. "Jangan bohong padaku karena penampilanmu tidak seperti gadis dari desa." kata Ramon dengan tatapan curiga.
"Be.. Benar Tuan, saya dari desa. Lihat ini." kata Rima sambil menunjukkan KTP nya."
"Tapi ini bukan jaminan kau benar-benar berasal dari desa Nona."
Rima pun kini semakin gugup dan mulai dilanda ketakutan. Disaat itu pula terdengar suara teriakan.
"RAMON... RAMON." teriak Leo, Calista, dan Revan.
"Aku disini, di garasi." jawab Ramon.
Rima pun semakin merasa takut, di saat itulah dia melihat Leo, Calista, dan Revan yang datang ke garasi itu.
'Oh tidak kenapa aku harus bertemu mereka di sini.' gumam Rima sambil menggigit bibirnya.
"Hei lihat itu Rima ada di sana." teriak Revan sambil berlari ke arah Ramon dan Rima.
Melihat Leo, Calista dan Revan yang semakin dekat, Rima pun kemudian mencoba untuk kabur.
"Ramon jangan biarkan dia kabur, dia penjahat yang berbahaya, dia hampir saja membunuh teman kami." teriak Calista.
Ramon pun secepat kilat mencekal tangan Rima saat dia akan berlari.
"Hei, untungnya aku tidak begitu saja percaya padamu wanita ja*ang." kata Ramon sambil mencengkram tangan Rima dengan tatapan tajam.
"Mau kemana kau sekarang Rima? Kau tidak bisa melarikan diri lagi dari kami semua. Aku akan membuat perhitungan denganmu karena selain mencelakakan Stella, kau juga telah membohongiku mentah-mentah!" teriak Leo sambil memegang dagu Rima.
__ADS_1
"Revan, cepat telepon David sekarang!"
"Iya Leo."