Salah Kamar

Salah Kamar
Menikah


__ADS_3

"ROYYYY APA-APAAN INI!!" teriak Heni.


"Tadi kau bilang ada urusan dengan temanmu, tapi kenapa tiba-tiba kau pergi ke rumah sakit tanpa mengajak mama!!"


"Mama, jangan berteriak disini, lihat itu banyak perawat yang melihat ke arah kita. Ini ruang perawatan bayi, tidak boleh berisik di sini ma." kata Roy sambil menempelkan telunjuknya.


"Tante, lebih baik kita ke depan saja." kata Aini.


Heni pun tersenyum pada Aini. "Iya Aini, ayo kita ke depan terlebih dulu." kata Heni kemudian mendorong kursi roda Aini.


"Ayo kau ikut ke depan." bisik Heni pada Roy.


Mereka pun kini duduk di depan ruang perawatan tersebut.


"Mama, maaf ma tadi Roy memang ada urusan dengan teman Roy dan saat Roy akan pulang, Roy melewati rumah sakit ini jadi Roy sekalian mampir ke sini untuk menjenguk Darren."


"Iya benar apa yang dikatakan Roy tante, Roy tadi juga membawakan banyak makanan setelah selesai bertemu dengan temannya."


"Membawa makanan?" kata Heni sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, Roy sebenarnya membelikan makanan untuk temannya tapi temannya tidak mau membawa makanan tersebut jadi Roy membawakan makanan itu untuk kami."


"Oh." jawab Heni sambil menatap Roy. Roy pun kini terlihat salah tingkah karena ditatap oleh Heni dengan tatapan curiga.


'Aneh sekali, kenapa tiba-tiba Roy bersikap seperti ini, sangat jarang Roy membelikan makanan untuk teman-temannya, kenapa tiba-tiba dia jadi berubah seperti ini? Ah jangan-jangan Roy sedang jatuh cinta pada temannya tersebut. Oh tidak, ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak ingin Roy jatuh cinta pada wanita lain selain Aini, aku tidak ingin memiliki menantu seperti Diana lagi jika Roy sampai salah pilih.' gumam Heni di dalam hati.


"Tante, kenapa tante diam?"


"Oh tidak apa-apa Aini, tante hanya memikirkan keadaanmu, lebih baik sekarang kau kembali ke kamarmu saja." kata Heni sambil membelai rambut Aini.


"Iya benar apa yang dikatakan mama, lebih baik kita kembali ke kamarmu sekarang Aini."


"Oh apakah tante tidak apa-apa kami tinggal sendirian?"


"Tentu saja tidak apa-apa, Aini. Tante terbiasa sendiri."


"Roy, lebih baik sekarang kau bawa Aini kembali ke kamar."


"Iya ma." jawab Roy kemudian mendorong kursi roda Aini sambil tersenyum.


"Aini."


"Ya."


"Apa kau merasa lelah?"


"Tidak."


"Apa tubuhmu lemas?"


"Juga tidak."


'Bagus.' gumam Roy sambil tersenyum.


"Bagaimana jika kita berjalan-jalan dulu di taman?"

__ADS_1


"Jalan-jalan di taman?"


"Ya, tapi jika kau tidak mau juga tidak apa-apa, Aini."


"Tidak Roy, aku juga ingin melepas penat, ayo kita ke taman sekarang."


"Iya." jawab Roy sambil mendorong kursi roda Aini ke taman.


🌿πŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€


Calista dan Leo lalu menaiki mobil mereka. Calista kemudian mengambil ponsel di tasnya kemudian menghubungi Olivia.


[Halo Olive.]


[Halo Kak, kau dimana? Apa urusannya sudah beres?]


[Iya Olive, kami sudah membereskan Dimas, sebentar lagi anak buah Leo akan memulangkan Dimas ke kampung halamannya.]


[Bagus Kak, untungnya tadi malam kau bertindak cepat.]


[Iya, aku sudah yakin dia akan melakukan hal buruk pada Aini saat melihat gerak-geriknya di rumah sakit kemarin.]


[Iya Kak, sekarang aku dan Kenan sudah sampai di rumah sakit, aku tunggu kalian di rumah sakit untuk menceritakan kejadian tadi malam pada Aini.]


[Iya Olive, aku sebentar lagi juga sampai di rumah sakit.]


[Iya Kak.] jawab Olivia lalu menutup panggilan dari Calista.


Olivia dan Kenan lalu masuk ke dalam rumah sakit menuju ke ruang perawatan Aini. Namun saat mereka masuk kamar tersebut, kamar tersebut ternyata kosong.


"Iya mungkin dia ke kamar Darren, ayo kita kesana Kenan. Aku takut dia pergi ke ruangan itu sendirian."


"Iya Olive." jawab Kenan, mereka kemudian berjalan ke ruangan bayi. Namun saat mereka sudah sampai di ruangan itu tampak Heni yang sedang duduk sendirian di depan ruangan tersebut.


"Selamat siang Tante Heni, apa Aini ada di dalam?"


"Oh selamat pagi Olivia, Kenan, Aini tidak ada di dalam, tadi dia sudah kembali ke kamarnya bersama Roy."


"Tapi mereka juga tidak ada di kamar Aini."


Heni pun tersenyum.


"Mungkin mereka sedang berkencan." kata Heni sambil terkekeh. Olivia dan Kenan pun ikut tersenyum.


"Mungkin tante, tapi kami harus bertemu Aini secepatnya karena ada hal penting yang ingin kami sampaikan mengenai perceraiannya dengan Dimas."


"Iya Olive, lebih baik kalian cari saja mungkin masih ada di sekitar sini."


"Iya Tante, kami pergi dulu." kata Olivia dan Kenan bersamaan.


Mereka lalu berkeliling di sekitar rumah sakit hingga akhirnya saat mereka sampai di taman, mereka melihat Roy dan Aini yang sedang duduk di salah satu bangku taman.


"Kenan, lihat itu."


"Mereka terlihat sangat akrab."

__ADS_1


"Lalu kita harus bagaimana, Kenan?"


"Biarkan saja dulu, sementara kita menunggu mereka disini."


"Iya Kenan."


πŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€πŸŒΏ


"Aini, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"


"Tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apa kau yakin ingin bercerai dengan suamimu?"


"Sangat yakin."


"Memangnya kenapa? Bukankah dia sangat mencintaimu?"


"Sebuah hubungan yang diawali dengan sebuah tragedi tidak akan pernah berjalan dengan baik, Roy."


Mendengar perkataan Aini, perasaan Roy pun begitu tak menentu.


'Jika aku melanjutkan hubungan ini, apakah juga tidak akan berjalan dengan baik? Awal perkenalanku dengan Aini juga karena sebuah tragedi yang membuat masa depannya hancur.' gumam Roy di dalam hati.


"Kau kenapa Roy, kenapa kau diam?"


"Tidak apa-apa, Aini."


"Tapi selain itu juga karena aku tidak pernah bisa mencintainya, selama hidup dengannya yang kurasakan hanyalah sakit hati dan dendam, aku juga tidak pernah menyukai sifatnya yang angkuh dan egois, dia tidak pernah memikirkan kebahagiaanku." jawab Aini dengan raut wajah sendu.


"Aini, anggap saja semua sudah berlalu. Mulai saat ini kau harus hidup bahagia."


"Iya Roy, dan salah satu sumber kebahagiaanku adalah Darren."


"Iya Aini. Emhh.. E.. Aini, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu?"


"Apa?"


"Bagaimana jika Darren sudah pulang dari rumah sakit ini? Apakah kau masih mau menemuinya?"


Aini pun tersenyum. "Tentu saja, aku akan menemui Darren setiap hari." jawab Aini.


"Oh apa itu tidak merepotkanmu?"


"Tentu tidak, aku akan sangat senang bisa bertemu dengan Darren setiap hari."


"Kenapa kalian tidak menikah saja?" kata sebuah suara yang tiba-tiba mendekat pada mereka.


"Oh.. E.. Tentu." jawab Roy.


Aini pun memandang Roy sambil mengerutkan keningnya. Sedangkan Olivia dan Kenan hanya terkekeh melihat Roy yang terlihat salah tingkah.


"Roy." kata Aini.


"Oh maksudku bukan seperti itu, maksudku suatu saat kau pasti bisa menikah dengan orang yang kau cintai, Aini." kata Roy sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


__ADS_2