
Revan bergegas masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. 'Stella, semoga kau baik-baik saja,' batin Revan sambil berlari ke kamarnya. Namun saat di depan pintu kamar, Revan menghentikan langkahnya kemudian sedikit merapikan pakaiannya. "Aku harus terlihat biasa saja, jangan sampai dia tahu aku begitu mencemaskannya." Revan kemudian membuka pintu kamar itu. Dia lalu masuk ke dalam kamar dan menghampiri Stella yang kini tampak tidur di atas ranjang. Revan lalu duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah Stella.
"Stella!" panggil Revan. Namun Stella masih tidur dengan begitu lelap.
"Stella." panggil Revan lagi, tapi hanya sebuah dengkuran halus yang terdengar. Revan lalu tersenyum sambil memandang wajah Stella dengan hati yang terasa begitu perih.
'Tidurlah Stella, dan biarkan aku puas memandang wajahmu, aku sebenarnya begitu merindukanmu, tapi aku tahu sampai kapanpun kau tidak akan pernah mencintaiku, karena aku hanya bisa memiliki ragamu, bukan hatimu,' kata Revan dalam hati sambil terus menatap Stella.
"Revan, kau sudah pulang?" tanya Stella saat dia mulai membuka matanya.
"Iya," jawab Revan datar.
"Memangnya dimana kekasihmu sampai kau harus merepotkan aku?"
"Oh David? Dia sedang ada di Surabaya."
"Oh, jadi kau membutuhkan aku karena kekasihmu sedang pergi?"
"Revan, sudahlah. Bukankah memang seperti ini rumah tangga yang sedang kita jalani, aku tidak pernah mengusik kehidupanmu dengan wanita-wanitamu dan kau juga jangan pernah mengusik kehidupan pribadiku dengan David! Kau tahu sebentar lagi Papa dan Mama pulang dari New York, aku tidak ingin mereka tahu kehidupan rumah tangga kita yang sebenarnya!"
'Kau tidak pernah tahu Stella, aku selalu mencari wanita bayaran itu karenamu, aku sebenarnya ingin mencari perhatian darimu! Namun ternyata aku salah, kau sama sekali tidak pernah peduli sedikitpun padaku,' kata Revan dalam hati.
"Jika kau sangat mencintai kekasihmu kenapa kita tidak bercerai saja Stella? Aku sudah muak diperlakukan layaknya lelaki cadangan olehmu!"
"Revan, bukankah sudah kukatakan berulang kali jika Papa mengidap penyakit jantung! Aku tidak mau jika kita bercerai keadaan Papa akan semakin memburuk! Lalu bagaimana hubungan kedua orang tua kita? Apakah kau mau menghancurkan persahabatan mereka begitu saja?"
Revan hanya terdiam mendengar perkataan Stella. 'Semua ini tidak akan pernah menjadi masalah jika sejak awal kau mau membuka hatimu untukku Stella, aku bahkan sudah begitu lama mencintaimu sejak kau belum memahami apa itu arti cinta,' batin Revan sambil menatap tajam pada Stella.
"Aduh..." kata Stella sambil memegang kepalanya.
"Kau kenapa Stella?" tanya Revan, raut kecemasan tampak jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Aku pusing Revan, sejak kemarin sore aku flu dan deman," jawab Stella sambil memegang kepalanya.
"Kau istirahat saja Stella, akan kupanggilkan dokter untukmu."
"Terima kasih." jawab Stella singkat kemudian memejamkan matanya.
"Beristirahatlah sebentar lagi dokter akan datang."
Stella lalu mengangguk sambil tetap memejamkan matanya. "Revan, bisakah kau menolongku?"
"Menolong apa Stella?"
"Tolong pijat kepalaku Revan, biasanya Mama selalu melakukan ini saat aku sakit kepala."
"Baiklah," jawab Revan datar sambil menyembunyikan perasaannya yang begitu bahagia karena akhirnya dia bisa berdekatan kembali dengan Stella. Namun baru saja Revan akan menyentuh wajah Stella tiba-tiba ponsel Stella berbunyi. Stella lalu membuka matanya, senyumnya langsung mengembang saat melihat nama seseorang di layar ponsel itu.
"David." kata Stella, dia lalu bergegas menjawab panggilan itu. Emosi begitu memenuhi hati Revan saat melihat Stella yang tampak begitu bahagia mendapat telepon dari kekasihnya. Dia lalu bergegas meninggalkan kamar Stella sambil mengumpat dalam hati. 'Dasar brengsek!!!! Kapan aku bisa lepas dari pernikahan terkutuk ini!' kata Revan sambil berjalan keluar dari rumahnya.
***
Saat Giselle tengah terkantuk-kantuk, tiba-tiba dia mendengar suara ketukan pintu. 'Itu mungkin Revan,' batin Giselle sambil berjalan ke arah pintu.
"Giselle!" panggil Revan dari luar.
"Iya.. Iya sebentar," jawab Giselle kemudian bergegas membukakan pintu. Namun saat pintu dibuka, betapa terkejutnya Giselle karena tubuh Revan langsung ambruk di hadapannya.
"Astaga Pak Revan!! Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa anda mabuk seperti ini Pak?"
"Itu bukan urusanmu Giselle," jawab Revan sambil merancau tak jelas.
"Merepotkan saja." Giselle sambil memapah tubuh Revan ke atas sofa. Dia lalu bergegas ke arah dapur untuk mengambil minuman hangat untuk Revan.
__ADS_1
"Pak Revan, ini diminum dulu."
Namun Revan hanya diam sambil terus merancau tidak jelas. Beberapa saat kemudian, Revan pun tertidur di atas sofa. "Dasar laki-laki pemabuk, kau benar-benar merepotkan diriku." kata Giselle lalu melepas sepatu Revan.
"Seumur-umur aku menikah dengan Leo, dia tidak pernah seperti ini, kau memang laki-laki yang tidak jelas, pantas saja wanita yang kau cintai tidak pernah mau denganmu."
"Stella, jangan tinggalkan aku Stella." kata Revan sambil menarik tubuh Giselle ke dalam pelukannya.
"Stella aku mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku." kata Revan sambil memeluk Giselle kian erat.
'Tuhannn jangan sampai ini terjadi lagi. Tolong aku Tuhan, aku harus berbuat sesuatu,' batin Giselle sambil mencari sesuatu di dekatnya.
'Ahaaa aku punya ide.'
Giselle lalu mengambil air hangat yang ada di meja lalu. BYURRRRR.
"Siapaaaa yang berani menyiram air padaku!!!" teriak Revan.
Giselle yang masih duduk di dekat Revan begitu takut melihat Revan yang kini begitu marah, kini wajahnya begitu pucat dan tubuhnya gemetar. Revan lalu memalingkan pandangannya pada Giselle.
"Giselle, pasti kau yang melakukan semua ini."
"Maaf Pak Revan, saya melakukan semua ini karena takut anda menodai saya lagi." jawab Giselle dengan gemetar. Revan begitu marah mendengar perkataan Giselle.
"Hei apa kau tidak punya cermin??? Memangnya kau siapa sampai aku harus begitu bernafsu padamu? Bukankah sudah berulangkali kukatakan jika kau bukan tipeku! Hai Giselle, bukankah kau mencintai Leo? Kau bisa lihat kan seperti apa istri Leo? Ya seperti itulah kurang lebih tipeku! Bukan wanita seperti dirimu! Dasar wanita menjijikan!!" kata Revan dengan begitu kasar.
Giselle hanya bisa menangis mendengar perkataan Revan. "Aku memang tidak secantik Calista, aku juga mungkin tidak sepadan dengan Stella, wanita yang selalu kau sebut. Aku bisa terima itu, aku memang tidak pantas untuk dicintai oleh orang-orang seperti kalian. Tapi aku bukanlah wanita yang menjijikan, aku hanya ingin melindungi harga diriku yang sudah pernah kau renggut." kata Giselle sambil menangis. Dia lalu berlari menuju kamarnya dengan terisak.
Revan menatap kepergian Giselle dengan tatapan sendu. Hatinya kian dipenuhi rasa bersalah yang amat dalam. Revan lalu berjalan ke arah kamar Giselle kemudian mengetuk pintunya.
TOK TOK TOK
__ADS_1
Namun tak ada jawaban. "Giselle, maafkan kau Giselle, maafkan kata-kataku yang sudah begitu kasar padamu." kata Revan sambil terus mengetuk pintu Giselle, namun tetap saja tidak ada jawaban.
"Giselle maafkan aku." kata Revan terus menerus hingga akhirnya dia tertidur di depan kamar Giselle.