
"Sebentar lagi ayah Rima datang kesini, saudara Calista yang sudah mengundang mereka ke Jakarta."
"Pemilik studio foto itu?" tanya David.
"Ya, istri dari pemilik studio foto itu adalah tetangga ayahnya Rima di kampung. David, aku yakin saat ini dia pasti sedang merencanakan sesuatu di luar."
"Ya, aku juga berfikiran sama denganmu, Stella."
"Biarkan saja, aku ingin melihat sejauh mana dia bertindak untuk menyakiti kita."
"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak bisa bersikap baik padanya terus-menerus setelah semua yang dia lakukan padamu. Aku sudah muak melihat wajahnya."
"Kau bersikap sewajarnya saja sayang, jika kau berubah baik padanya, dia bisa curiga."
"Ya, aku pun tak mau berbuat baik padanya." jawab David yang membuat Stella tertawa. Tiba-tiba pintu pun terbuka, Rima kemudian masuk ke ruangan itu sambil tersenyum.
'Kenapa mereka tertawa? Pasti mereka sedang menertawakan aku.' kata Rima dalam hati.
***
Leo dan Calista turun dari mobil dan tersenyum pada dua orang yang sedang menunggu mereka di halaman rumah.
"Apa kabar Ilham, lama tidak bertemu?" sapa Calista pada Ilham yang kini berdiri di hadapannya.
"Baik Calista, dia suamimu?"
"Ya, kenalkan dia Leo suamiku." jawab Calista.
"Senang berkenalan dengan anda Leo, kalian pasangan yang sangat serasi." kata Ilham.
"Terimakasih Ilham." jawab Leo sambil tersenyum.
"Hai kenapa kalian cuma berdua? Kemana Laras?"
"Oh Laras sedang mengantarkan peralatan Ramon yang tertinggal."
"Oh." jawab Calista. Tiba-tiba laki-laki tua yang berdiri di samping Ilham mendekat pada Leo dan Calista.
"Tuan Leo, Nyonya Calista, tolong maafkan putri saya." kata lelaki tua itu dengan raut wajah memelas.
"Sudah Pak, ini bukan salah anda. Lagipula Rima sudah lama tidak tinggal dengan anda. Ini diluar kendali anda."
"Pak Pram, ini sudah sore. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang untuk menemui Rima." kata Calista.
__ADS_1
"Iya Nyonya Calista."
"Panggil Calista saja." jawab Calista sambil menuntun ayah Rima untuk masuk ke mobilnya.
Olivia yang melihat mereka dari balik jendela merasa sedikit sedih. Kenan pun kemudian menghampirinya.
"Kau kenapa sayang?" bisik Kenan di telinga Olivia.
"Lihat itu Kenan, Leo pun tidak marah saat Kak Calista mengobrol dengan Ilham." kata Olivia sambil berjalan menjauhi Kenan.
"Tapi Olive..."
Belum sempat Kenan melanjutkan kata-katanya Olivia sudah meninggalkannya di dalam kamar.
'Mungkinkah ada yang salah dalam hubungan kami berdua?' gumam Kenan sambil mengerutkan keningnya.
***
"Apa kau tidak lelah?" tanya Stella pada Rima saat mereka sedang berdua di kamar perawatan Stella.
"Kenapa aku harus lelah? Aku dari tadi hanya duduk di sini menemanimu."
Stella pun kemudian tersenyum kecut. "Memahami kata-kataku saja kau tidak bisa, lalu kau berharap menjadi istri seorang laki-laki terpelajar seperti David? Bisa-bisa seluruh dunia mengolok-olok David karena memiliki istri sepertimu."
'Kau boleh berkata apapun sekarang, tapi lihat saja Stella, nanti malam kau akan menangis darah karena akan kubuat David jatuh ke dalam pelukanku.' kata Rima dalam hati sambil menatap tajam pada Stella.
"Lakukan saja, bukankah itu sudah berulangkali kau lakukan agar aku bisa mati secepatnya?"
"Baik jika itu maumu, aku akan merusak CCTV itu agar mereka semua tidak mempunyai bukti jika aku telah membunuhmu." kata Rima sambil berjalan ke arah CCTV.
"Lantas jika kau berhasil membunuhku, kau yakin bisa menikah dengan David? Apakah kau sudah lupa jika Tante Nurma sekarang juga membencimu?" kata Stella sambil tersenyum.
"BRENGSEK!"
"Benar kan apa yang kukatakan? Coba kau pikir, memangnya David mau menikah denganmu? Jika kau mau menjaga sikapmu, mungkin David masih bisa bersikap baik padamu, tapi lihat yang kau lakukan? Kau tidak pernah menggunakan akal sehatmu dan lebih menuruti ambisimu. Akibat perbuatanmu sekarang kau tidak mendapatkan apapun karena orang-orang hanya akan semakin membencimu."
"Diam kau Stella! Kesabaranku kini sudah habis! Sekarang aku tak segan-segan untuk membunuhmu!" kata Rima kemudian mengambil sebuah pisau buah di nakas samping ranjang Stella. Namun belum sempat Rima mengayunkan pisau itu, pintu ruangan itu pun terbuka dan Leo bergegas mengambil pisau yang ada di dalam genggaman Rima.
"Rima, kau benar-benar sudah gila." kata Calista yang kini menenangkan Stella yang terlihat sedikit syok.
"Kau tidak apa-apa Stella?"
"Aku tidak apa-apa Calista, aku hanya terkejut dia tiba-tiba mengambil pisau di sampingku."
__ADS_1
"Rima kau benar-benar sudah keterlaluan!" bentak Leo.
"Sudah cukup Stella, jangan pertaruhkan dirimu lagi, ini terlalu berbahaya. Kita harus memenjarakan wanita ini!" kata Leo pada Stella.
Namun tiba-tiba ayah Rima mendekat pada Leo. "Tolong jangan penjarakan anak saya. Ini semua karena kesalahan saya yang tidak mampu mendidiknya. Dia selama ini selalu hidup sendiri dan tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya karena saya dan Ibunya Rima sudah berpisah sejak Rima masih kecil." kata ayah Rima sambil bersimpuh di kaki Leo.
"Tolong beri saya kesempatan untuk mendidik anak saya." kata ayah Rima kembali sambil terisak.
"Sudah Pak Pram, ini bukan kesalahan anda, sekarang bangunlah." jawab Leo.
Namun ayah Rima tak bergeming dan tetap bersimpuh di depan Leo. llham pun kemudian mendekat pada ayah Rima dan menyuruhnya bangun.
"Rima, ini ayahmu." kata Ilham sambil mendekatkan Pram pada Rima. Pram pun kemudian memeluk Rima sambil terisak.
"Maafkan ayah Nak, maaf selama ini ayah tidak pernah mengunjungimu." kata Pram.
"Lepaskan aku, tolong jangan sentuh aku!" bentak Rima sambil melepaskan pelukan Pram dari tubuhnya.
"Rima jangan seperti itu, bagaimanapun juga dia adalah ayahmu!" bentak Calista.
"Aku sudah lama tidak memiliki seorang ayah! Lebih baik kau pergi dan jangan ganggu aku! Lebih baik aku mati daripada memiliki ayah sepertimu yang tidak pernah mempedulikan aku!"
"RIMA JAGA KATA-KATA MU!" bentak Leo karena melihat Pram yang kini semakin terisak hingga tubuhnya terjatuh di atas lantai karena menahan tangis.
Ilham yang ada di sampingnya lalu memapah Pram untuk duduk di atas sofa. "Bapak istirahat saja disini, biar saya yang bicara pada Rima." kata Ilham. Pram pun kemudian mengangguk perlahan.
Ilham lalu mendekat pada Rima. "Ikut aku, aku mau bicara denganmu." kata Ilham dengan tatapan mata tajam pada Rima.
"Leo aku akan bicara dengan Rima di depan." kata Ilham sambil menarik tangan Rima.
"Iya Ilham."
Ilham pun kemudian mencekal tangan Rima dan membawanya duduk di taman rumah sakit.
"Kau tidak usah ikut campur karena aku tidak mengenalmu!!"
"Tentu menjadi urusanku karena sejak kecil orang tua kita sudah menjodohkan kita berdua, tapi ibumu terlanjur membawamu ke Jakarta jadi rencana perjodohan itu batal! Aku sudah berjanji pada ayahmu untuk menjagamu dan saat ini kau adalah tanggung jawabku!"
"Tidak, aku tidak mau dijodohkan dengan lelaki desa sepertimu! Kau bahkan terlihat sangat culun dan sangat tidak pantas bersanding denganku!" bentak Rima pada Ilham yang membuat Ilham terdiam.
Note:
Jangan lewatkan episode selanjutnya ya,
__ADS_1
kalau kalian suka tolong tinggalkan jejak, kalau ga suka skip aja 🤗✌️