
[Leoooo tolong aku, aku diculik.]
[Giselle, kau diculik?]
[Hahahaha.. Hahahaha...] Tiba-tiba suara di sambungan telepon berganti menjadi seorang lelaki.
[Hahahaha, jadi kau suami dari Giselle?] Tanya lelaki itu, namun Leo hanya diam mendengar perkataan lelaki itu, dia lalu menloudspeaker ponselnya agar Calista mendengar percakapan mereka.
[Heiii aku bertanya padamu Tuan, apakah kau suami dari Giselle?]
[Memangnya kenapa kalau aku suaminya?]
[Giselle memilki hutang yang cukup banyak padaku, dan kau sebagai suaminya harus bertanggung jawab!!! Kalau tidak Giselle akan kuhabisi sekarang juga!!]
[Itu bukan urusanku, berbuatlah semaumu, lagipula aku juga akan menceraikannya.] jawab Leo sambil menutup ponselnya.
"Apa-apaan ini Leo, kau harus menyelamatkan Giselle, bukankah kau tadi dengar sendiri jika dia telah diculik."
"Calista, kata penculik itu Giselle memiliki hutang yang cukup banyak, itu bukan urusanku karena selama ini aku sudah memberikan uang yang cukup besar padanya."
"Tapi Leo, bagaimana kalau sesuatu terjadi pada Giselle?"
"Itu resiko yang harus dia hadapi, Calista!" kata Leo sambil tetap melajukan mobilnya.
"Tapi kau tetap harus bertanggung jawab Leo karena bagaimanapun juga kau adalah suaminya. Bagaimana jika sesuatu hal yang buruk sampai terjadi pada Giselle?"
"Calista, jangan memaksaku untuk menolongnya!"
"Jika kau mencintaiku cepat tolong Giselle, Leo."
Leo lalu mengambil nafas panjang. " Baik jika itu maumu, akan kucari tahu siapa yang sudah menculik Giselle," kata Leo kemudian mengambil ponsel miliknya.
***
Sedangkan di ujung telepon seorang laki-laki tampak begitu marah pada Giselle.
"Hei Giselle, kau jangan mempermainkanku!! Kau bilang suamimu adalah orang kaya, tapi lihatlah dia bahkan tidak memedulikanmu!!!"
'Brengsek, tega sekali kau padaku Leo,' umpat Giselle di dalam hati.
"Sabar Niko, pasti Leo akan membayar uang tebusan padamu."
"Omong kosong!!! Kau mau macam-macam denganku Giselle! Aku menyesal sudah memberikan pinjaman padamu!! Janji manismu ternyata palsu!"
"Tenang Niko, aku pasti akan membayarnya." kata Giselle dengan gugup.
__ADS_1
"Bagaimana caranya!!! Sedangkan kau cuma wanita miskin yang tidak punya apa-apa!!"
"Niko, kita harus bekerja sama agar uangmu bisa kembali."
"Awas jika kau macam-macam lagi padaku, Giselle!!"
"Tidak.. Tidak akan Niko. Kita akan buat supaya kau bisa mendapatkan uangmu kembali, yang penting kita harus bekerja sama."
"Baik, terpaksa aku mau bekerja sama denganmu! Tapi awas jika rencana ini gagal, akan kusita rumah orang tuamu dan kuhabisi nyawamu."
"Iya Niko," jawab Giselle sambil menelan ludah.
'Brengsek, ini semua gara-gara Ramon, karena dia aku jadi memilki hutang pada lintah darat seperti ini!!! Awas kau Ramon, setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Niko, maka akan kubuat perhitungan denganmu!' kata Giselle dalam hati
***
Laras menunggu kedatangan Ramon di kantornya dengan raut wajah bahagia. 'Sebentar lagi, Ramon akan menjemputku, setelah ini aku akan meminta Ramon untuk segera menikahiku,' gumam Laras.
Sebuah mobil mewah pun berhenti di depan pelataran kantor Kenan, senyum Laras pun mengembang, dia lalu mendekat kemudian masuk ke dalam mobil itu
"Sudah lama Ras?"
"Belum," jawab Laras malu-malu.
"Emh Laras, aku mau bertanya sesuatu padamu."
"Soal permintaanku beberapa hari yang lalu."
"Permintaan apa Ramon?" tanya Laras pura-pura lupa.
"Itu Ras, soal uang lima miliar," jawab Ramon sambil sedikit malu-malu.
"Oh itu, iya aku ingat."
"Jadi bagaimana? Kamu mau meminjamkam uang padaku?"
Laras lalu mengangguk sambil tersenyum. 'Yes,' gumam Ramon sambil tersenyum menyeringai.
"Tapi..."
"Tapi kenapa Ras?"
"Tapi aku tidak bisa meminjamkan uang sebanyak lima miliar Ramon karena sedang ada sedikit masalah di kantorku, aku hanya bisa meminjamkanmu uang sebanyak satu miliar saja."
'Sial, apa dia tidak sekaya yang aku pikirkan,' gumam Ramon.
__ADS_1
"Bagaimana Ramon? Aku hanya bisa meminjamkanmu sebesar satu miliar saja."
"Oh tidak apa, nanti sisanya aku pinjam ke yang lain."
"Oh ya Ramon pake cek saja ya, soalnya aku ga pernah bawa uang cash," kata Laras sambil menyerahkan selembar cek.
'Untung uang itu sudah kumasukkan ke rekeningku, jika tidak, orang-orang pasti bisa curiga aku membawa uang sebanyak itu ke kantor dan melaporkan pada Kenan, bisa-bisa Kenan curiga aku sudah mengambil uangnya,' batin Laras.
"Baik Ras, terima kasih banyak," kata Ramon sambil mencium Laras yang membuat jantung Laras semakin berdegup kencang.
***
Saat hari menjelang tengah malam, Niko keluar dari persembunyiannya, dia dan Giselle lalu menaiki sebuah taksi menuju rumah Leo.
"Awas jika rencana ini gagal, kau harus bertanggung jawab Giselle."
"Iya Niko, aku jamin rencana ini pasti akan berhasil dan kau bisa mendapatkan uangmu kembali. Kunci mobil itu masih padaku, kita cukup mengambil mobil yang Leo belikan untukku di garasi mobil, mobil itu lebih dari cukup jika kau jual, Niko."
"Lalu bagaimana caranya kita keluar dari rumah itu dan melewati para penjaga rumah di pintu gerbang?"
"Hahahaha itu mudah, kita cukup menyalakan klakson mobil dan para penjaga itu pasti akan membukakan pintu untuk kita," jawab Giselle sambil tertawa.
"Baik, kuserahkan semua padamu, yang penting hari ini juga uangku kembali!"
"Iya Niko, kau tenang saja, kau ikuti saja kata-kataku!"
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah Leo, mereka kemudian masuk ke dalam rumah melalui pintu samping dekat kolam renang yang memang tidak terkunci. Mereka lalu mengendap-endap berjalan ke arah garasi mobil hingga akhirnya mereka sampai pada beberapa mobil mewah yang berjejer.
"Wahhh, semua mobil ini bagus Giselle, lalu mana mobilmu?"
"Itu yang berwarna putih, kedua dari pojok." jawab Giselle.
"Wahhh bagus Giselle, mobil yang bagus. Hahahaha...." kata Niko sambil tertawa.
"Jangan keras-keras Niko, tawamu bisa membangunkan mereka. Ayo kita masuk ke mobil dan cepat bawa pergi mobil ini dari rumah ini!"
Namun baru saja Giselle dan Niko membuka pintu mobil, lampu di garasi tiba-tiba menyala. Lalu, tampak berdiri lima orang laki-laki yang menghadang Niko dan Giselle.
"Siapa kalian?" Namun lima orang laki-laki itu hanya diam, dan hanya menyunggingkan senyum.
"Hei kenapa kalian diam, kalian mau macam-macam denganku?" tanya Giselle kembali.
"Duduk kalian!" perintah salah seorang lelaki sambil menyuruh Giselle dan Niko duduk di kursi di salah satu pojok garasi. Niko yang tampak panik lalu mencoba untuk kabur dengan berlari melalui celah-celah garasi, namun dia berhasil dilumpuhkan dan di dudukan di samping Giselle.
"Kau sudah membawa masalah baru bagiku, Giselle, awas kau jika nasibku sampai terancam gara-gara ulahmu," bisik Niko. Giselle hanya diam mendengar kata-kata Niko, perasaannya kian berkecamuk memikirkan nasibnya kelak.
__ADS_1
Tiba-tiba tampak dua sosok keluar dari dalam rumah menghampiri Giselle dan Niko. "Sudah cukup kau bermain-main denganku, Giselle."