
Revan masuk ke ruangan kerja David beserta Giselle dan Stella yang mereka dorong di atas kursi roda.
"Ada apa ini?" tanya Revan pada David yang kini duduk di sofa, dihadapannya tampak Rima dengan raut wajah penuh kemarahan sedangkan Ilham hanya menundukkan wajahnya.
"Mereka telah melakukan perbuatan layaknya suami istri di kamar pribadiku."
"Astaga." teriak Revan sedangkan Giselle dan Stella saling bertatapan.
"Memangnya kenapa? Tidak usah munafik, bukankah kalian juga sering melakukan perbuatan seperti itu sebelum kalian semua menikah? Bahkan Stella sampai hamil anak dokter David padahal dia sudah menikah dengan Revan."
"Rima, jika masa idah Stella sudah selesai aku tentu akan menikah dengan Stella. Lalu bagaimana dengan dirimu?"
"David, aku sungguh tak mengerti mengapa tiba-tiba mereka melakukan semua itu di kamar pribadimu?" tanya Revan.
"Aku juga tidak tahu, yang aku ingat kemarin sore aku bertemu dengan Ilham, lalu kuajak dia berbicara di ruangan ini, tapi belum sempat aku bicara dengannya tiba-tiba aku harus melakukan operasi mendadak menggantikan dokter Roni, namun sebelum kutinggal Ilham mengeluh kepalanya sakit sehingga aku menyuruhnya tidur di kamar kerjaku, kupikir dia sudah pulang jadi aku tidak kembali ke ruangan ini setelah melakukan operasi."
'Jadi yang memakan biskuit itu bukan David tapi Ilham?' gerutu Rima dalam hati sambil melirik Ilham dengan tatapan kebencian.
"Maaf dokter David, saat itu kepala saya memang sangat pusing jadi saya tidur di kamar dokter, namun tiba-tiba saja saat malam hari, Rima masuk ke kamar itu lalu meminta maaf dan mengajak saya berhubungan layaknya suami istri, dia terus menerus memancing saya hingga akhirnya saya menuruti permintaannya. Tapi saja juga heran kenapa tiba-tiba Rima marah-marah setelah melihat saya, padahal tadi malam dia yang merayu saya terlebih dulu."
Semua orang yang ada di ruangan itu pun kemudian memandang pada Rima yang kini tampak begitu gugup.
"Kau tidak perlu malu-malu Rima, jika kalian memang sudah dijodohkan lebih baik kau menikah dengan Ilham." kata Stella sambil tersenyum jahil.
"Tutup mulutmu Stella!"
"Rima kau jangan membentak Stella, sekarang kutanyakan padamu kenapa kau bisa masuk ke kamar pribadiku lalu mengajak Ilham berhubungan badan?"
"Emh.. E.. Itu." jawab Rima gugup.
"Sebenarnya apa yang sudah kau rencanakan, Rima?" tanya Revan sambil mengambil biskuit di meja. Namun saat Revan akan memakannya tiba-tiba Rima berteriak.
"Jangan Revan, jangan kau makan biskuit itu!" teriak Rima.
"Memangnya kenapa? Biskuit ini terlihat sangat nikmat." kata Revan sambil memasukkan biskuit ke mulutnya. Namun sebelum biskuit itu sampai di mulut Revan, Giselle menangkis tangan Revan hingga biskuit itu terjatuh.
__ADS_1
"Apa-apaan ini Giselle, kenapa kau melakukan ini padaku?" gerutu Revan.
"Jangan dimakan Revan, aku yakin Rima telah menaruh sesuatu di biskuit itu sampai Ilham sakit kepala. Benar kan Rima?" tanya Giselle dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Tidak, aku tidak menaruh apapun di biskuit itu!" teriak Rima.
"Jika kau tidak menaruh sesuatu di biskuit itu, coba kau makan biskuit itu Rima?" kata Stella sambil tersenyum.
"Tidak, tidak mau." teriak Rima.
David pun kemudian tersenyum. "Jadi kau menaruh sesuatu di biskuit itu dan berharap aku yang memakannya? Lalu kau berfikir aku sudah memakan biskuit itu jadi malam-malam kau masuk ke kamar pribadiku dan mengira yang tidur di atas ranjang adalah aku?" kata David sambil tersenyum. Sedangkan Rima kini hanya bisa tertunduk kesal sambil sesekali menggerutu.
"Rima, itulah jawaban Tuhan untukmu jika sebenarnya jodohmu adalah Ilham. Ilham lelaki yang sangat baik, terimalah Ilham dengan lapang dada, aku yakin kau pasti bisa hidup bahagia dengan Ilham." kata Revan.
"Tidak, aku tidak mau menikah dengan Ilham."
"Memangnya kau pikir aku mau menikah denganmu? Aku juga pernah menyukai wanita lain selain dirimu, tapi aku membuang seluruh perasaan cintaku dan menerima perjodohan ini karena kasihan dengan ayahmu, sejak dulu dia hidup sendirian dan hidup penuh kepahitan, dia begitu tersiksa karena berpisah denganmu dan ingin menemuimu tapi selalu terkendala biaya dan minimnya informasi tentangmu. Setiap aku mengunjunginya dia selalu memintaku untuk menikahimu jika dia sudah menemukanmu. Karena itulah aku sudah berjanji pada ayahmu untuk menikahimu."
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Ilham yang berbicara dengan begitu tenang.
"Aku juga yakin Ilham laki-laki yang baik dan bisa membahagiakanmu." kata Revan.
"Jadi kalian memaksaku?" jawab Rima.
"Kami tidak memaksamu, tapi inilah takdirmu." kata Giselle.
"Rima, coba kau lihat Ilham pun tidak kalah tampan dibandingkan dengan David." kata Stella sambil terkekeh, David pun kemudian memelototi Stella yang kini tertawa.
"Maaf." jawab Stella sambil menahan tawa.
"Baik kalau itu mau kalian, aku akan menikah dengan Ilham tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" tanya David.
"Aku tidak mau kembali ke Jogja, setelah aku menikah aku ingin hidup di sini saja."
__ADS_1
"Tidak mungkin Rima, aku memiliki pekerjaan di Jogja, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja. Jika hidup di sini bagaimana aku bisa menafkahimu jika aku tidak memiliki pekerjaan?" kata Ilham.
"Oh itu tidak masalah, kau akan kucarikan pekerjaan pada teman-temanku. Aku dengar di perusahaan milik Leo atau Kenan sedang membutuhkan seorang karyawan untuk bagian pemasaran." kata Revan sambil tersenyum.
"Bagus sekali Revan, coba kau hubungi mereka."
"Iya David." kata Revan kemudian berjalan keluar untuk menghubungi Leo dan Kenan.
'Brengsek, kenapa ini terasa begitu mudah bagi mereka.' kata Rima dalam hati.
"Giselle tampaknya kita harus memberikan perawatan pernikahan untuk Rima." kata Stella sambil terkekeh.
"Kau benar Stella mungkin kita harus membawanya ke salon." jawab Giselle sambil tersenyum.
"Kita carikan make up artist terbaik untuk mendadani Rima yang cantik ini." kata Stella lagi.
"Hei kalian bisa diam atau tidak?" bentak Rima.
"Memangnya kenapa? Bukankah kami sedang membicarakan rencana pernikahanmu? Kau tenang saja Rima, kami akan membuat pernikahanmu menjadi pernikahan yang paling berkesan sepanjang hidupmu, benar kan Giselle?"
"Tentu Stella." jawab Giselle sambil tersenyum.
'Lebih baik aku keluar dari ruangan ini.' kata Rima dalam hati sambil berjalan keluar dari ruang kerja David.
"Kau mau kemana Rima?" tanya Giselle.
"Cari makan." jawab Rima dengan begitu ketus.
Stella dan Giselle lalu tertawa terbahak-bahak saat Rima sudah meninggalkan ruangan itu.
***
'Dasar Stella dan Giselle brengsek!' umpat Rima saat baru saja menutup pintu, saat mulai membalikkan tubuhnya tiba-tiba Rima menabrak seorang lelaki yang mengenakan pakaian formal dengan tatanan rambut dan pakaian yang begitu rapi.
'Tampan sekali.' kata Rima sambil memperhatikan lelaki yang ada di hadapannya.
__ADS_1