
"Aku mau menikah denganmu Ramon, jadilah suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk kami." jawab Laras sambil tersenyum.
"Benarkah Laras?"
"Ya." jawab Laras sambil tersenyum.
"Terimakasih, terimakasih Laras aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Aku akan memperbaiki semua kesalahan yang pernah kulakukan dalam hidupku."
"Iya Ramon, sekarang ayo kita bicara dengan Om Herman tentang pernikahan kita."
"Iya Laras,"
***
"Tidakkkkk." jerit Calista.
"Ada apa Calista? Apa sesuatu telah terjadi pada anak kita?"
"Bukan, bukan itu Leo."
"Lalu kenapa kau berteriak?"
"Papa baru saja mengirim pesan padaku jika Ramon datang ke rumah untuk melamar Laras."
"Memangnya kenapa? Bukankah Ramon sekarang sudah berubah?"
"Tapi aku tidak percaya padanya Leo."
"Kita harus memberinya kesempatan Calista, tidak baik berprasangka buruk terus menerus. Kita lihat saja bagaimana hubungan mereka kedepan, mereka harus diberi kesempatan untuk mencoba menjalani rumah tangga."
"Kau pikir Laras kelinci percobaan Leo." gerutu Calista.
"Eh ngomong-ngomong mana baby sitter yang kau carikan untukku?"
"Iya sebentar lagi mereka datang Calista sayang." kata Leo sambil mencubit pipi Calista.
"Lama banget sih, aku repot ngurusin mereka berdua sendirian, apa kau tidak lihat semalaman aku tidak tidur? Lihat kantung mataku semakin besar saja." gerutu Calista sambil melihat wajahnya di cermin.
"Kau berlebihan Calista, kau baru kurang tidur selama tiga haru bukan sebulan."
"Itu sama saja Leo."
TOK TOK TOK
"Mungkin itu mereka datang." kata Leo.
"Biiii Bi Asih tolong buka pintunya."
"Iya Tuan." jawab Bi Asih sambil tergopoh-gopoh membukakan pintunya.
"Silahkan." kata Bi Asih sambil mempersilahkan dua orang baby sitter masuk ke dalam rumah.
"Itu Tuan Leo dan Nyonya Calista."
Dua orang baby sitter itu lalu mendekat pada Leo dan Calista yang sedang asyik menimang Nala dan Nathan.
"Tuan ini baby sitternya sudah datang."
__ADS_1
Leo dan Calista lalu memandang dua orang baby sitter yang berdiri di samping mereka.
"Perkenalkan saya Dewi, Tuan Nyonya." kata seorang baby sitter.
"Saya Rima." kata salah seorang lagi.
"Oh ya kalian tolong bantu istri saya mengurus anak kembar kami ya. Kau Dewi tolong urus Nathan dan kau Rima, kau yang mengurus Nala."
"Baik Tuan." jawab mereka serempak.
"Sekarang kalian masuklah ke kamar kalian dan bereskan barang-barang kalian setelah itu baru kalian membantu istri saya."
"Baik Tuan." kata Dewi dan Rima kemudian masuk ke dalam kamar mereka diantar oleh Bi Asih.
Di dalam kamar, tampak Dewi menjerit kegirangan. "Rimmaaaaa."
"Kenapa sih Dew kok histeris gitu."
"Ternyata majikan kita ganteng banget ya Rim."
"Ya namanya juga orang kaya, istrinya juga cantik. Nyonya Calista, dia dulu pernah jadi fotomodel juga kan?"
"Ya iya sih Nyonya Calista memang cantik." gerutu Dewi
"Udah yuk kita ke depan, yang semangat kerjanya, jangan sampe mereka kecewa sama kita."
"Ya udah yuk."
Mereka lalu berjalan ke arah ruang keluarga tempat Calista dan Leo sedang mengasuh anak mereka.
"Kalian udah selesai merapihkan barang-barang?" tanya Calista.
"Ya sudah kalian sekarang mulai mengasuh Nathan dan Nala ya, saya dan Calista mau istirahat ke kamar, kasihan Calista dia sudah beberapa malam kurang tidur."
"Iya Tuan."
"Yuk sayang, kamu istirahat." kata Leo sambil membantu Calista berdiri.
"Kamu jalannya pas naik tangga jalannya hati-hati ya sayang."
Calista hanya mengangguk, dia berjalan dengan sedikit tertatih karena masih merasakan sakit pada luka jahit saat melahirkan.
"Yah kok malah pergi sih." kata Dewi saat melihat Leo dan Calista masuk ke dalam kamar.
"Hahahaha lagian kamu aneh Dew, memangnya untuk apa mereka nungguin kita kerja."
"Aku kan pengen liat wajah gantengnya Pak Leo."
"Heh kalian kerja yang bener, ga usah mikir yang macem-macem, apalagi kamu Dewi, ga usah kecentilan. Tuan Leo itu sangat mencintai Nyonya Calista, dia tidak akan pernah tertarik dengan wanita lain. Ini bibi saksinya bagaimana cintanya Tuan Leo ke Calista!!" hardik Bi Asih yang tiba-tiba ada di samping mereka.
"Eh iya Bi Asih." jawab Dewi gugup.
Leo membantu Calista naik ke atas ranjang kemudian membaringkan tubuhnya.
"Kamu sekarang tidur ya sayang."
"Iya Leo, kamu temenin aku ya."
__ADS_1
"Iya," kata Leo lalu tidur di samping Calista dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Aku rindu sayang." bisik Leo sambil mencium tengkuk Calista.
"Sabar Leo."
"Iya.. iya sabar, masa nifasmu masih satu bulan lagi kan?"
"Hahahaha iya." jawab Calista sambil tertawa.
***
Giselle masuk ke dalam sebuah gedung dengan begitu tergesa-gesa. Dia kemudian berjalan ke arah resepsionis dan menanyakan ruangan yang dia cari.
"Terimakasih Mba." kata Giselle kemudian berlari ke arah lift. BUGHHHHHH. Tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang yang sama-sama akan masuk ke dalam lift.
"Maaf saya terburu-buru." kata Giselle lalu masuk ke dalam lift dan meninggalkan laki-laki yang baru ditabraknya.
"Dasar, bukannya minta maaf malah masuk ke dalam lift begitu saja."
"Akhirnya sampai juga." kata Giselle sambil keluar lift dan berjalan ke arah ruang milik Tuan Revan yang dia tuju.
"Maaf Mba saya mau bertemu dengan Tuan Revan." kata Giselle pada seorang perempuan di depan ruangan itu.
"Sebentar ya Mba, Tuan Revan sedang dalam perjalanan, silahkan duduk dulu."
'Aduh syukurlah, aku belum terlambat padahal tadi aku sudah begitu terburu-buru.' gumam Giselle sambil menghembuskan nafas panjang.
Tiba-tiba seorang lelaki melewatinya lalu masuk ke ruangan milik Revan. 'Bukankah itu laki-laki yang kutabrak tadi.' gumam Gisslle sambil mengigit bibirnya.
"Mba, itu Tuan Revan sudah datang, silahkan temui dia sekarang."
"Oh iya Mba terimakasih." jawab Giselle sambil menelan ludah kasar.
Giselle lalu masuk ke dalam ruangan Revan dengan sedikit langkah ragu.
TOK TOK TOK
"Masuk." jawab seseorang di dalam ruangan.
Giselle lalu membuka pintu itu kemudian tersenyum saat melihat lelaki yang ada di dalam ruangan itu melihatnya dengan sedikit sinis.
"Maaf Tuan, saya sekretaris Tuan Leo mau mengantarkan berkas ini, Tuan Leo sedang mengambil cuti, dia sedang menemani istrinya yang baru saja melahirkan."
"Oh ya, taruh saja di situ."
"Baik Tuan, terimakasih. Saya pergi dulu." kata Giselle sambil berbalik untuk keluar dari ruangan.
"Hei tunggu sebentar, bukankah tadi kau sudah menabrakku di depan lift? enak saja kau pergi begitu saja tanpa minta maaf padaku." kata Revan sambil tersenyum kecut.
"Ma.. Maaf Tuan, tadi saya sedikit kesiangan, saya pikir saya sudah terlambat menyerahkan berkas ini, jadi saya sedikit terburu-buru."
"Tidak cukup hanya dengan kata maaf, kau harus bertanggung jawab."
"Baa.. Bagaimana maksud Tuan? Bagaimana cara saya mempertanggungjawabkan kesalahan saya."
"Kau harus mentraktirku sarapan, kebetulan tadi aku belum sempat sarapan karena kupikir Leo yang akan ke kantorku, dan Leo tidak suka akan keterlambatan." jawab Revan sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
Giselle yang awalnya tertunduk lalu mengangkat wajahnya dan menatap Revan yang kini mulai menghampirinya. "Ayo traktir aku sarapan." kata Revan sambil berjalan keluar dari ruangan.
'Aduh, kenapa aku ceroboh gini sih.' gumam Giselle sambil berjalan mengikuti Revan.