
"Giselle ini sudah malam, sebaiknya kita tidur." kata Revan sambil membelai rambut Giselle.
"Iya Revan." jawab Giselle kemudian mengikuti Revan berjalan naik ke kamar mereka.
"Giselle, sebenarnya bagaimana sikap mama padamu?" tanya Revan saat mereka sudah berbaring di dalam kamar.
Giselle pun hanya tersenyum mendengar pertanyaan Revan.
"Revan, terkadang apa yang kita lihat itu sangat berbeda dengan yang sebenarnya terjadi karena kita tidak akan pernah tahu seberapa dalam hati seseorang."
"Giselle, sungguh aku tak mengerti. Sebenarnya apa maksudmu? Apakah mama masih bersikap tidak baik padamu."
"Biar waktu yang menjawabnya Revan, aku tidak ingin mengambil kesimpulan sementara yang bisa membuat hubungan yang sedang terjalin dengan baik ini tiba-tiba berantakan." jawab Giselle kemudian memejamkan matanya.
"Giselle sungguh aku tak mengerti."
"Giselle, kenapa kau diam?"
"Giselle." panggil Revan lagi, namun tetap tidak ada jawaban. Dia lalu mendekat ke arah Giselle yang kini sudah memejamkan matanya.
"Astaga, kau meninggalkanku tidur." gerutu Revan.
"Tega sekali kau Giselle, bukankah kita sudah tiga hari tidak bertemu, tapi kenapa kau tega meninggalkan aku tidur." gerutu Revan lagi.
Mendengar perkataan Revan, Giselle pun kemudian tersenyum. "Memangnya kau mau apa Revan?" kata Giselle kemudian membuka matanya.
"Giselle, jadi kau pura-pura tidur?" gerutu Revan.
Giselle pun kemudian duduk sambil tertawa. "Hahahaha.. Hahahaha."
"Kenapa kau tertawa? Memangnya ini lucu?"
"Tidak, aku hanya ingin tertawa saja."
"Baik inilah akibatnya jika sudah berani membohongi dan menertawakan aku." kata Revan sambil membuka seluruh pakaian Giselle.
🍀🍀🍀🍀🍀
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Kau jangan terlalu lelah jika kau menginginkan sesuatu kau tinggal bilang saja pada Mama atau Bi Cici." kata Revan saat mereka selesai sarapan.
"Iya Revan, lebih baik sekarang kau pergi ke kantor karena ini sudah siang."
"Iya iya Giselle, Papa sudah selesai kan?"
"Iya Revan, ayo kita pergi ke kantor sekarang." jawab Farhan.
__ADS_1
Revan kemudian membelai wajah Giselle. "Aku masih rindu kamu, Giselle. Nanti malam kita lanjutkan permainannya lagi ya." bisik Revan di telinga Giselle yang membuat Giselle tersipu malu.
'Mereka sedang apa sih?' gumam Santi di dalam hati.
"Ehem.. Revan, sebenarnya mama ingin meminta tolong padamu."
Revan lalu mengalihkan pandangannya pada Santi. "Minta tolong? Minta tolong apa ma?" tanya Revan dengan kening berkerut.
"Begini Revan, bisakah nanti saat jam makan siang kau mengantarkan kado untuk Tante Resti."
"Kado? Kado apa ma? Bukankah semalam mama sudah ke pesta pernikahan anak Tante Resti."
"Iya Revan, tapi tadi malam mama sedikit terburu-buru jadi kado untuk anak Tante Resti tertinggal."
"Astaga mama, kenapa mama ceroboh sekali?"
"Hehehe iya Revan, karena itulah mama mau minta tolong padamu untuk mengantarkan kado ini ke rumah Tante Resti."
"Ya ampun ma, kenapa harus Revan yang repot-repot mengantarkan kado ini. Hari ini Revan sibuk, lebih baik mama suruh kurir saja untuk mengantarkan kado itu. Ini sudah siang, Revan berangkat dulu ya." kata Revan kemudian berjalan meninggalkan rumahnya.
Giselle pun tersenyum melihat tingkah Revan. "Hai Giselle, kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa kau mau meledekku lagi?"
"Meledek? Apa maksud mama? Giselle sungguh tak mengerti maksud mama."
"Tidak usah munafik."
"Itu bukan urusanmu, Giselle."
"Tentu jadi urusanku ma, karena Revan adalah suamiku."
"Revan juga anak mama, jadi mama berhak menentukan hidup dan masa depannya."
"Masa depan apa yang mama maksud? Bukankah aku dan anak ini adalah masa depan Revan?"
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika anakku hidup bersama wanita yang mengalami masa lalu yang begitu buruk? Aibmu di masa lalu tidak akan pernah bisa memberikan masa depan yang baik untuk anakku. Bahkan sebenarnya aku masih malu mengakuimu sebagai menantuku." kata Santi sambil menatap tajam pada Giselle.
"Kenapa hanya selalu itu yang mama bicarakan? Semua orang memiliki masa lalu. Seseorang yang memiliki masa lalu yang buruk pun berhak memiliki masa depan dan memperbaiki semua kesalahannya."
"Apapun yang kau bicarakan tidak akan pernah mengubah pandanganku padamu, Giselle. Dan satu lagi, mulai hari ini kau harus menuruti semua kata-kata yang mama perintahkan padamu."
"Menuruti semua kata-kata mama?"
"Ya, kau harus mengikuti semua kata-kataku."
Giselle pun mengerutkan keningnya. "Giselle, bukankah kau tadi bilang ingin memperbaiki kesalahanmu?"
__ADS_1
"Ya."
"Sekarang perbaiki semua kesalahmu dengan menjadi menantu yang baik bagiku dan menuruti semua perintahku." kata Santi sambil tersenyum menyeringai.
"Bukankah selama ini aku sudah berusaha menjadi menantu yang baik untuk mama?"
"Ya, tapi aku ingin kau menjadi lebih baik lagi dengan menuruti semua perintahku."
"Bagaimana jika aku tidak mau? Jika perintah mama diluar batas maka aku tidak akan menurutinya."
"Hahahaha... Hahahaha, jika kau tidak mau maka aku akan memberitahukan masa lalumu yang begitu buruk pada ibumu."
Perasaan Giselle pun begitu campur aduk mendengar perkataan Santi. "Tolong jangan pernah bocorkan rahasia ini pada mama, mama memiliki penyakit jantung. Aku tidak mau sesuatu terjadi padanya jika dia tahu tentang masa laluku yang selalu kututupi."
"Hahahaha.. Hahahaha, akhirnya kau takut juga kan Giselle, itulah akibatnya jika kau memiliki masa lalu yang buruk, hidupmu akan selalu dibayang-bayangi masa lalumu. Hahahaha."
"Jadi mulai hari ini kau harus mengikuti semua kata-kataku, sekarang tolong kau buatkan sarapan lagi untukku, aku sedang tidak ingin makan makanan ini. Aku ingin makan bubur hangat yang rasanya tidak terlalu asin dan kuahnya tidak terlalu manis." kata Santi sambil tersenyum menyeringai.
Giselle pun hanya termenung mendekat kata-kata Santi, perasaannya begitu berkecamuk memikirkan kesehatan ibunya.
'Kenapa masa lalu itu masih selalu membayangi kehidupanku, bahkan mama pun kini ikut terseret untuk menanggung masa laluku.' gumam Giselle dalam hati.
"Giselle kenapa kau diam saja? Cepat buatkan mama bubur sekarang juga!"
"Baik ma." kata Giselle kemudian berjalan menuju dapur.
'Heh, ternyata ancaman itu masih berlaku. Hidupnya memang masih dibayang-bayangi masa lalunya.' gumam Santi dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Giselle pun kembali ke meja makan dengan membawa semangkuk bubur untuk Santi.
"Ini ma buburnya." kata Giselle kemudian berjalan meninggalkan Santi.
"Kau mau kemana?"
"Istirahat."
"Dasar menantu malas." kata Santi sambil menyantap buburnya.
Namun saat Giselle baru saja masuk ke dalam kamarnya tiba-tiba terdengar suara teriakan Santi.
"GISELLE apa-apaan ini!!!" teriak Santi dari meja makan.
Giselle yang sayup-sayup mendengar teriakkan Santi pun tersenyum.
"Bukankah mama bilang jika mama tidak ingin bubur yang tidak terlalu asin dan kuah yang tidak terlalu manis? Jadi kubuat saja bubur dengan rasa asam di buburnya dan rasa pahit di kuahnya." kata Giselle sambil terkekeh.
__ADS_1
"AWASSSSS KAU GISELLE!!" teriak Santi lagi.
"Sekarang juga aku harus pergi ke rumah orang tuanya untuk memberinya pelajaran." gerutu Santi.