
"Masuk." jawab Firman.
"Firman."
"Iya Bu, ada apa?"
"Ada Delia Nak, dia menunggumu di depan."
"Delia?" tanya Firman sambil mengerutkan keningnya.
"Iya Firman, dia sedang menunggumu di ruang tamu."
"Tapi Firman sedang tidak ingin bertemu dengannya Bu."
"Firman, lebih baik kau temui saja, dia akan tetap menunggumu sampai kau mau bertemu dengannya."
Firman pun terdiam.
"Baik nanti aku akan menemuinya."
"Ya sudah, ibu akan menemani Delia, kasihan dia sendirian."
"Tapi Bu, dia sudah membohongiku? Kenapa ibu masih mau bersikap baik padanya?"
"Firman, ibu tahu dia sudah membohongimu, tapi apa kita harus membalasnya dengan berbuat tidak baik padanya."
Firman pun kembali terdiam.
"Nanti aku akan menemuinya, aku masih butuh waktu untuk menenangkan diriku."
"Iya Firman." jawab ibu Firman, kemudian menutup pintu kamar Firman.
Firman pun termenung di dalam kamar, beberapa saat kemudian ponselnya pun berbunyi. Firman lalu melihat ponsel itu, sebuah notifikasi dari salah satu akun sosial media miliknya pun membuat hatinya begitu berdegup kencang.
"Apa ini? Apakah akhirnya Aini membalas kotak masukku?" kata Firman.
Dia kemudian membuka kotak masuk itu, dan benar saja, Aini membalas pesan di kotak masuknya. Bergegas Firman pun membuka balasan pesan dari Aini. Namun, pesan balasan dari Aini semakin membuat perasaannya begitu hancur.
__ADS_1
Selamat Siang Mas Firman, maaf aku baru sempat membalas pesanmu. Sebelumnya aku turut prihatin dengan semua yang kejadian kau alami, aku juga minta maaf jika semua kemalangan pada hidupmu terjadi karena diriku. Tapi ini semua sudah menjadi bagian dari takdir mas, mungkin kita memang tidak berjodoh, dan kita harus menyadari itu. Sekali lagi maafkan aku mas, aku sudah tidak bisa membalas cintamu karena saat ini aku sudah menikah dan aku sangat mencintai suamiku. Semoga suatu saat nanti kau juga bisa menemukan jodoh yang baik untukmu.
Aini
Tanpa terasa, air mata kini pun mengalir di wajah Firman.
"Jadi kau benar-benar telah jatuh cinta pada suamimu, Aini? Jadi kau sudah melupakan semua perasaanmu padaku? Tuhan, kenapa nasibku seperti ini, dulu saat kami sudah berencana akan menikah, tiba-tiba ada kejadian yang membuat kami terpisah yang membuatku harus menikah dengan wanita lain dan membuatnya juga harus menikah dengan laki-laki lain. Lalu disaat dia sudah berpisah dari laki-laki itu, dan diriku juga sudah berpisah dengan pasanganku, dia juga meninggalkan aku kembali dengan menikah dengan laki-laki yang belum lama dikenalnya? Apakah aku dan Aini benar-benar tidak pernah bisa berjodoh, Tuhan?" kata Firman sambil terisak.
"Aku harus melanjutkan hidupku tanpa, Aini. Aku harus bisa melupakan Aini dan semua yang telah terjadi dalam hidupku, aku tidak ingin terpuruk. Masih ada kedua orang tuaku, aku harus membahagiakan mereka berdua. Aku harus bangkit dari keterpurukan ini dan melupakan semua masa laluku, sebaiknya aku pergi dari sini saja dan memulai lembaran baruku." kata Firman sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu Firman teringat sesuatu.
"Delia, oh iya Delia masih ada di depan, aku harus bertemu dengannya untuk mengakhiri kembali antara aku dan dirinya." kata Firman lagi.
Bergegas Firman berkemas memasukkan barang-barangnya kembali ke dalam sebuah koper dan tas punggung. Dia lalu keluar dari kamar dengan membawa barang-barang miliknya. Firman lalu mendekat pada ibunya yang sedang berbincang dengan Delia, mereka begitu terkejut melihat Firman yang sudah keluar dari kamar dengan begitu banyak barang di tubuhnya.
"Firman kamu mau kemana, Nak?"
"Firman mau mencari pekerjaan di luar kota, Firman ingin melupakan masa lalu Firman dan semua kenangan buruk yang terjadi pada Firman, Bu."
"Apa kau yakin?"
"Iya Firman, sebentar. Ibu ambilkan sesuatu dulu untukmu." kata ibunya lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya. Delia pun mendekat pada Firman.
"Mas, tapi bagaimana dengan diriku? Tolong pikirkan kembali perceraian kita, Mas."'
"Maaf Delia, aku tidak bisa menjalani rumah tangga lagi denganmu, kau tahu aku sangat benci dengan kebohongan, dan aku tidak mau menjalani kembali rumah tangga yang awalnya didasari akan sebuah kebohongan."
"Mas Firman, apa kau ingin pergi dari desa ini untuk mengejar kembali cinta Aini? Sadarlah mas, Aini sudah menikah dengan laki-laki lain. Lagipula kau harus tahu satu hal rahasia tentang Aini yang belum kau tahu!"
'Rahasia tentang, Aini? Rahasia apa itu?' gumam Firman dalam hati.
"Kenapa kau diam mas, jadi kau belum tahu kan alasan Aini dan Dimas bercerai? Itu karena Aini sudah tidak bisa lagi menjadi wanita yang sempurna, setelah kejadian kecelakaan yang dialaminya, dia mengalami masalah pada kesuburannya yang menyebabkan dirinya sulit mendapatkan keturunan! Dia bukanlah wanita sempurna yang pantas kau kejar mas! Itulah sebabnya dia menikah dengan seorang duda yang sudah memiliki seorang anak karena dia sadar jika tidak ada satupun laki-laki yang mau menikah lagi dengannya! Aini hanyalah seorang wanita mandul!"
PLAKKKKK
Firman pun menampar Delia, lalu menatapnya dengan tatapan tajam.
'Jadi Aini memiliki masalah pada kesuburannya, kasihan sekali Aini.' gumam Firman dalam hati.
__ADS_1
"Kau berani menamparku mas?"
"Jaga bicaramu, Delia! Memangnya jika aku pergi dari sini itu berarti aku akan mengejar cinta Aini? Perlu kau tanamkan dalam pikiranmu, aku bukanlah laki-laki yang tidak punya harga diri mengejar seorang wanita yang sudah tidak mau lagi menjalin hubungan denganku!"
"Jadi kau menyindir diriku mas? Kau menyindirku yang masih mengejarmu padahal kau sudah menalakku? Jadi kau menyebutku orang yang tidak punya harga diri?"
"Jadi kau sadar? Itulah dirimu, Delia! Sejak kau menjebakku untuk menutup aibmu! Kau benar-benar wanita hina yang tidak mempunyai harga diri!"
Ibu Dimas yang mendengar pertengkaran mereka pun mendekat pada mereka kembali.
"Delia, Firman lebih baik kalian tenangkan diri kalian masing-masing. Delia sebaiknya kau pulang saja, beri Firman waktu untuk bisa memaafkanmu."
"Firman, jika itu sudah menjadi keputusanmu, lebih baik kau pergi saja sekarang. Ini ibu ada sedikit bekal untukmu, semoga kau sukses di perantauan, Nak." kata ibu Firman sambil memberikan sebuah amplop padanya.
"Tidak usah bu."
"Tidak apa-apa Nak, kau bawa saja. Suatu saat kau pasti membutuhkannya."
"Terimakasih Bu, Firman pamit, sampaikan salam Firman pada bapak nanti saat bapak sudah pulang bekerja."
"Iya Nak, kau hati-hati di jalan ya."
"Iya Bu." jawab Firman sambil memeluk ibunya. Setelah melepaskan pelukannya, Firman lalu berjalan keluar dari rumah, namun Delia yang masih di rumah itu kembali mencegahnya.
"Mas, kau tidak bisa meninggalkan aku begitu saja mas." kata Delia sambil memeluk tubuh Firman.
"Lepaskan aku, Delia!"
"Tapi mas, kita masih bisa menjalani rumah tangga bersama."
"Lebih baik kau jalani rumah tangga dengan ayah dari anakmu, Delia. Kasihan anakmu, seharusnya dia hidup bersama orang tua kandungnya! Dia berhak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya!"
"Tapi mas, aku hanya ingin menjalani rumah tangga denganmu." kata Delia sambil menangis dan memeluk tubuh Firman makin kencang. Firman pun semakin terpancing emosinya.
"Lepaskan aku Delia!!" kata Firman sambil menghempaskan dan mendorongnya tubuh Delia ke atas tanah, bergegas Firman pun menaiki motornya keluar dari rumahnya. Delia pun hanya bisa menangis melihat kepergian Firman.
"Mas Firman!!" teriak Delia sambil terisak.
__ADS_1