Salah Kamar

Salah Kamar
Rahasia


__ADS_3

"Kau mengerti Stella?" tanya Calista. Stella hanya mengangguk sambil menelan ludah. Santi yang mendengar seseorang berbicara pada Stella lalu ikut menengok ke arah belakang.


"Oh Tante Santi, saya pikir Tante seharusnya cukup pintar untuk bisa menilai mana yang batu permata dan mana yang batu kerikil agar tidak menjadi benalu dalam keluarga Tante." kata Calista sambil tersenyum yang hanya dibalas Santi dengan senyum kecutnya.


'Dasar, Calista benar-benar brengsek! Lihat saja, aku pasti akan membalas semua yang pernah kau lalukan padaku, Calista!' umpat Stella dalam hati sambil melirik Calista yang kini tampak sibuk menggedong putrinya.


Revan tampak bernafas lega saat acara ijab qabul sudah selesai dan dia bisa dengan lancar mengucapkan ijab qabul dengan satu tarikan nafas.


"Akhirnya kita bisa menikah secara resmi ya Giselle."


"Heh Giselle, kamu lagi ngapain kok senyum-senyum sendiri sambil liat mereka." kata Revan lagi saat Giselle sedang tersenyum ke arah Calista dan Leo.


"Ya ampun Revan, aku cuma membalas senyuman mereka karena mengucapkan selamat."


"Bohong! Bilang saja kamu masih menyimpan perasaan sama Leo kan?" gerutu Revan.


"Enak saja kau berkata seperti itu, aku sedang mengandung anak darimu tega-teganya kau berkata seperti itu padaku." jawab Giselle ketus.


"Eh, kau marah padaku Giselle?" tanya Revan yang hanya dibalas dengusan kesal dari Giselle.


"Jangan marah dong, aku kan hanya bercanda."


"Bercandamu itu ga lucu Revan." kata Giselle kemudian berjalan ke arah toilet karena mulai merasakan mual.


"Aduh, salah ngomong deh." kata Revan sambil menepuk jidatnya.


Melihat Giselle yang kini berjalan ke arah toilet, Stella lalu ikut berjalan mengikutinya. 'Menjijikan sekali.' gumam Stella saat mendengar Giselle muntah-muntah di dalam toilet.


"Stella, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Giselle saat keluar dari dalam toilet.


"Menunggumu Giselle."


"Mau apa kau menungguku?" jawab Giselle sambil tersenyum kecut.


"Tentu saja memberi peringatan padamu, Giselle."


"Peringatan apa?" tanya Giselle sambil mengerutkan keningnya.


"Giselle tolong kau dan Calista jaga sikap kalian kepadaku, atau akan kubocorkan rahasia kalian pada Revan."

__ADS_1


"Rahasia apa yang kau maksud?"


"Hahahaha, tidak usah berpura-pura menjadi orang suci Giselle karena ternyata kau sungguh menjijikan. Kau pernah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Leo dan Calista kan? Sama seperti saat ini, menjadi orang ketiga dalam rumah tanggaku dan Revan!"


"Ja.. Jadi." jawab Giselle dengan perasaan begitu takut.


"Ya, aku sudah tahu semuanya tentang kalian bertiga."


"Jadi kau sudah tahu jika aku juga pernah menikah siri dengan Leo?" kata Giselle yang membuat Stella sangat terkejut.


'Dasar bodoh kau Giselle, kau membuka rahasiamu sendiri padaku padahal aku hanya memancingmu.' gumam Stella sambil tersenyum menyeringai.


"Ya aku tahu semuanya, jadi mulai saat ini kau harus menuruti semua kata-kataku dan jangan pernah sekalipun membangkang padaku atau aku akan memberitahu Revan dan orang tuanya rahasia terbesarmu itu. Apa kau mengerti!"


"Ya." jawab Giselle lemas.


"Jawab yang keras Giselle, jangan lemas seperti itu, aku bahkan tak mendengar suaramu."


"Iya Stella, aku mengerti." jawab Giselle dengan perasaan yang begitu campur aduk.


"Bagus, aku pergi dulu." kata Stella kemudian meninggalkan Giselle yang masih berdiri termenung. Hingga beberapa saat kemudian, sebuah suara mengagetkan dirinya.


Namun Giselle hanya diam, tiba-tiba dia menangis kemudian memeluk Revan. "Revan, aku tidak mau kehilanganmu." kata Giselle sambil memeluk Revan kian erat.


"Iya.. Iya Giselle aku tahu, kamu ga sabaran banget sih, tunggu nanti malam Giselle." jawab Revan dengan genit sambil mengedipkan matanya.


"Dasaarrr, bukan itu maksudku Revan!" gerutu Giselle.


"Sudah tak usah malu-malu, sekarang ayo kita temui para tamu. Leo dan Calista juga sudah menunggumu."


Giselle lalu mengangguk sambil melirik pada Revan. 'Semoga, hal buruk tidak terjadi di antara kita semua, Revan.' gumam Giselle dalam hati.


***


"Aduh, terlambat gue." kata Rima sambil keluar dari mobil lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit, namun disaat itu juga tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan seseorang hingga membuat dirinya terjatuh.


BRUGHHHHH


"Eh kamu ga punya mata ya." kata seseorang yang ditabraknya.

__ADS_1


"Eh ternyata kamu lagi." kata orang itu lagi.


"Maaf, maaf saya terlambat jadi saya sedikit tergesa-gesa." jawab Rima sambil bangkit untuk berdiri lalu melihat laki-laki yang ditabraknya. Betapa terkejutnya dirinya saat melihat seseorang yang dia tabrak adalah direktur rumah sakit itu.


"E.. E... Maaf dokter David, saya tidak sengaja, saya benar-benar minta maaf." kata Rima sambil menundukkan kepalanya.


"Ya sudah, lain kali hati-hati." gerutu David sambil berjalan meninggalkan Rima yang masih berdiri.


"Kenapa aku bisa seceroboh ini." kata Rima sambil mengusap wajahnya. 'Tuhan, bagaimana caranya aku membantu Revan untuk menyelidiki perselingkuhan dia dan Stella di masa lalu? Bertemu dengan dokter David saja sudah membuatku merasa begitu takut.' gumam Rima sambil masuk ke dalam rumah sakit.


"Sherly, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Rima di sela-sela pekerjaannya.


"Tanya apa Rim?"


"Tentang dokter David." jawab Rima ragu.


"Dokter David?"


"Ya, dokter David itu gimana sih Sher?"


"Dokter David itu dokter yang paling galak, ga pernah senyum, super disiplin, kebanyakan perawat di sini sih paling males kalau jadi asisten dokter david soalnya kerjanya tegang terus, bicara sama bercanda aja ga pernah. Tapi dia juga punya segudang prestasi sih, makanya dia diangkat jadi direktur di rumah sakit ini padahal usianya masih muda."


"Ooooh." jawab Rima.


"Ih Rima, jelasin panjang lebar kok cuma di jawab oh sih?"


"Memangnya aku harus jawab apa? Wow gitu? Hahahaha." kata Rima sambil meledek.


"Hahahaha, ga juga sih. Eh kamu kok tiba-tiba tanya-tanya tentang dokter David? Kamu suka sama dokter David? Aduh Rim mending ga usah deh deket-deket sama dokter sekiller dia." kata Sherly sambil bergidik ngeri.


"Eh.. Eh bukan Sherly, siapa juga yang suka sama orang kaya gitu, liat aja udah serem."


"Nah itu loe paham Rim, terus kenapa loe tiba-tiba tanya tentang dokter David?"


"Gini Sher, sebenarnya gue udah janji mau bantuin temen gue buat selidikin dokter David, lebih tepatnya menyelidiki masa lalu dokter David."


"Aduh Rimmaaaa, mau-maunya kamu nyanggupin permintaan temen kamu. Kalau aku sih mending ga usah Rim itu namanya cari penyakit." kata Sherly yang membuat perasaan Rima kini campur aduk.


"Selamat siang." Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Sherly dan Rima, mereka lalu membalikkan badan mereka.

__ADS_1


"Dokter David." jawab Sherly dan Rima bersamaan disertai perasaan takut jika dia sudah mendengar percakapan mereka.


__ADS_2