Salah Kamar

Salah Kamar
Menjaga Jodohku


__ADS_3

Vallen pun mengangguk sambil tersenyum pada Firman. Kemudian Firman pun masuk ke dalam ruangan Vallen meskipun dengan langkah sedikit ragu.


"Apa kabar Aini? Kita sudah lama tidak bertemu."


"Baik Mas, kabarku sangat baik apalagi saat tahu jika kalian telah menjadi sepasang kekasih. Aku sangat bahagia dan mendukung hubungan kalian." kata Aini sambil tersenyum.


Firman dan Vallen pun saling berpandangan saat mendengar perkataan Aini. Akhirnya mereka bertiga pun kemudian tertawa.


"Sungguh aku tidak pernah menyangka jika kalian akan bertemu dan menjadi sepasang kekasih, kupikir kau masih hidup di Jogja mas."


"Tidak Aini, setelah mengetahui kebohongan Delia dan Dimas aku merasa begitu hancur, saat itu aku begitu marah pada Dimas dan Delia. Aku begitu muak melihat mereka, jadi aku memutuskan untuk merantau karena di saat itu juga Zidan menawarkan pekerjaan yang bagus untukku."


"Pekerjaan yang sekarang?"


"Iya Aini, dan saat itulah aku bertemu dengan Vallen. Kami dipertemukan di saat kami sedang sama-sama di titik terendah dalam hidup kami."


"Lalu kalian jatuh cinta?" tanya Aini sambil terkekeh.


"Tentu saja tidak, awal aku bertemu dengannya aku begitu membencinya, Aini. Dia adalah laki-laki paling sombong yang pernah kutemui. Dia bahkan tidak mau memperkenalkan namanya padaku." gerutu Vallen. Aini pun tersenyum.


"Kau ternyata tidak pernah berubah Mas Firman. Tapi pada akhirnya dia yang mengejar-ngejar dirimu kan, Dokter Vallen?"


"Sudah seharusnya dia bersikap seperti itu, dia pasti akan sangat menyesal kehilangan wanita semanis diriku yang begitu penurut dan juga pendiam."


"Vallen, sepertinya itu bukanlah sifatmu."


"Anggap saja seperti itu, Firman."


"Terserah kau saja."


"Hahahaha kalian memang benar-benar pasangan yang serasi dan juga lucu. Sebenarnya aku pernah melihat kalian berpelukan di area parkir rumah sakit tapi aku tidak terlalu jelas melihat wajahmu, jadi aku tidak tahu jika itu adalah dirimu." kata Aini sambil melirik Firman yang hanya dibalas senyuman sambil tersipu malu.


"Jadi kau pernah melihat kami berpelukan, Aini?"


"Ya, saat itu kau begitu tergesa-gesa keluar dari rumah sakit lalu berlari memeluk Mas Firman."


"Astaga, ternyata kita bertiga pernah begitu dekat?" kata Vallen sambil menutup wajahnya.


"Tapi aku juga pernah curiga jika kau ada di sini Mas Firman, karena saat itu kau pernah memarkirkan sepeda motormu di belakang mobilku."


"Benarkah?"


"Ya."


Aini pun tersenyum. "Firman, Dokter Vallen ini sudah sangat sore, sebentar lagi pasti Mas Roy pulang. Aku harus menyiapkan makan malam untuk dirinya. Aku pamit pulang dulu." kata Aini sambil beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Oh iya Aini." kata Vallen kemudian ikut berdiri lalu memeluk Aini.


"Terimakasih banyak Aini."


"Aku yang seharusnya berterimakasih kasih Dokter Vallen, aku pulang dulu ya."


"Iya hati-hati Aini." jawab Vallen dan Firman bersamaan. Namun saat Aini akan menutup pintu ruangan Vallen, tiba-tiba Vallen memanggilnya kembali.


"Aini."


"Iya ada apa Dokter Vallen?"


"Terimakasih telah menjaga jodohku selama dua tahun." kata Vallen sambil tersenyum kemudian memeluk pinggang Firman. Firman pun menatap Vallen sambil mengerutkan keningnya.


Aini pun tersenyum. "Ya, sekarang kau jaga jodohmu itu sebaik mungkin."


"Tentu."


"Permisi." kata Aini sambil tersenyum kemudian menutup pintu ruangan itu. Sedangkan Firman masih menatap Vallen dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Dasar gadis aneh." gerutu Firman kemudian mengacak-acak rambut Vallen. Vallen pun kini memeluk tubuhnya dengan begitu erat sambil memejamkan matanya. Firman kemudian membelai rambut Vallen.


"Kenapa? Apa masih terasa sakit? Hatimu masih sakit jika bertemu dengan Aini?"


"Tidak." jawab Vallen sambil menggelengkan kepalanya.


"Hari ini hari yang berat untukku Firman, rasanya hari ini begitu melelahkan." kata Vallen sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang Firman.


"Aku sudah membelikan es krim untukmu, kata orang memakan es krim akan membuat mood jadi lebih baik."


"Suapi aku."


"Dasar manja."


Firman kemudian menyuapi es krim pada Vallen sambil sesekali bercanda.


"Es krimnya sudah habis Vallen, kita pulang sekarang."


"Kau masih ingat kan akan mengajakku makan malam."


"Tentu saja, malam ini aku juga ingin makan malam bersama kekasihku yang cantik ini."


"Gombal!"


"Jadi kau tidak percaya padaku?"

__ADS_1


"Tentu saja aku percaya." kata Vallen kemudian mengalungkan tangannya pada leher Firman. Dia pun mendekatkan wajahnya pada wajah Firman tapi saat wajah mereka sudah begitu dekat, tiba-tiba Vallen menjauh lalu menjulurkan lidahnya.


"Hahahaha... Hahahaha."


"Dasar gadis aneh, kau memang sangat nakal." gerutu Firman. Dia kemudian memegang wajah Vallen, lalu mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Vallen.


"Gadis aneh, sekarang kau akan kuberi pelajaran." kata Firman kemudian mulai mencium bibir Vallen dengan begitu bergairah, mereka pun berciuman begitu lama hingga Vallen melepaskan ciumannya.


"Lama sekali."


"Jadi kau keberatan jika aku menciummu terlalu lama?"


"Tidak, bahkan aku sangat menyukainya. Bukankah sore ini bibirku terasa lebih nikmat?"


"Apa maksudmu, Vallen?"


"Firman, aku baru saja memakan es krim lalu kau menciumku begitu saja, bukankah rasanya terasa lebih nikmat karena ada rasa cokelat di bibirku?"


"Hahahaha, kau ada-ada saja."


"Baik, lain kali sebelum berciuman denganmu, aku akan memakan es krim cokelat dulu agar kau lebih lama menciumku."


"ASTAGA VALLEN!!!"


🖤🖤🖤🖤🖤


David memandang Vallen dan Firman yang kini berjalan di area parkir yang ada di depan rumah sakit. Dia kemudian menghirup lalu menghembuskan nafas panjangnya. Babeberapa saat kemudian, dia pun mengambil ponselnya.


[Halo Stella.]


[Ya, ada apa David.]


[Stella, aku sudah menyelidiki laki-laki itu.]


[Laki-laki? Laki-laki siapa maksudmu?]


[Kekasih Vallen, Stella.]


[Lalu?]


[Dia memang laki-laki yang baik dan sangat menyayangi Vallen, tapi itu tidak cukup.]


[Apa maksudmu David.]


[Stella, dia bukan dari kalangan berada, pekerjaannya pun hanya sebagai karyawan biasa, aku yakin mama pasti tidak akan menyetujui hubungan mereka.]

__ADS_1


[Lalu kita harus bagaimana David? Mereka tampaknya begitu saling mencintai, tolong kau bantu mereka. David kumohon, meskipun Vallen bukan adik kandungku, aku sangat menyayangi dirinya, aku tidak ingin dia berpisah dengan laki-laki yang dia cintai.]


[Aku akan mencobanya Stella.] jawab David kemudian menutup teleponnya.


__ADS_2