
Firman kemudian menarik tangan Vallen lalu berjalan mendekat ke arah motornya. Kemudian mereka menaiki motor tersebut keluar dari cafe.
'Astaga, Vallen mau naik motor? Bukankah jika menaiki motor perut Vallen selalu mual? Kenapa dia mau menaiki motor dengan lelaki itu, hebat sekali dia. Mengejar cinta Vallen bukanlah hal yang mudah, aku saja perlu waktu sampai satu tahun. Tapi dia melakukan itu hanya dalam beberapa hari saja, benar-benar aneh.' gumam Rayhan dalam hati sambil tersenyum kecut.
"Apa yang kau lihat, Mas? Apa kau masih mengamati Vallen di luar? Apakah yang dikatakan Vallen belum cukup? Dia sudah memiliki kekasih, dan biarkan Vallen bahagia dengan kekasihnya."
"Aku tidak pernah mengganggu kehidupan mereka, aku hanya ingin melihat Vallen untuk yang terakhir kalinya."
"Apa dia begitu berarti dalam hidup?"
"Tidak usah kau tanyakan, kau juga sudah tahu jawabannya."
Inara pun tersenyum.
"Memangnya apa kelebihan dia? Aku sudah bertemu dengan dirinya, bagiku dia tidak memiliki kelebihan apapun selain kecantikan yang dimiliknya."
"Cukup Inara, sifatmu inilah yang selalu membuatku tidak pernah bisa mencintaimu. Kau selalu membandingkan dirimu yang kau pikir jauh lebih baik dibandingkan dengan Vallen."
"Bukankah memang kenyataannya seperti itu? Auraku tertutup, dia tidak. Sikapku juga lembut, sedangkan dia terkadang tidak bisa menjaga sikapnya, bukankah kau lihat sendiri, dia bahkan berpelukan dengan laki-laki di tempat umum. Tidak itu saja, dia juga tidak bisa mengendalikan sikapnya untuk bisa bersikap selayaknya wanita terpelajar lainnya."
"CUKUP INARA! AKU MENYESAL TELAH MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK KEMBALI PADAMU! TERNYATA KAU SAMA SAJA, TIDAK BERUBAH!"
"Kau yang tidak pernah berubah, Mas. Kau tidak pernah bisa menjaga perasaanku."
"Aku selalu berusaha mencintai dirimu, karena itulah aku mau menggaulimu tapi kau selalu saja membandingkan dirimu dengan Vallen, padahal aku sudah memilihmu dan merelakan cintaku kandas untuk memenuhi keinginan kedua orang tuaku."
"Aku seperti ini karena hanya ada Vallen yang ada di dalam hatimu."
"Bukankah sudah kukatakan, aku sedang berusaha untuk mencintaimu, aku selalu berusaha membuka lembaran baru bersamamu."
"Karena aku istrimu, aku juga memiliki hak untuk bisa kau cintai."
"Inara, aku perlu waktu. Tidak mudah melupakan seseorang yang sudah bertahun-tahun ada di dalam hatiku, kau yang tidak bisa bersabar karena hanya selalu ada kedengkian di dalam hatimu."
Mendengar perkataan Rayhan, Inara pun terdiam.
'Dasar wanita kurang ajar, memang apa hebatnya Vallen? Aku jelas lebih baik dibandingkan dirinya.' gumam Inara.
"Ingat Inara, aku sudah memberimu kesempatan lagi, tapi tolong jangan pernah kau banding-bandingkan dirimu dengan Vallen karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, kau harusnya menyadari itu, apa kau mengerti?"
Inara pun mengangguk.
"Sekarang kita pulang, tapi tolong perbaiki sikapmu!"
"Ya, aku akan mencobanya."
Rayhan pun bangun dari tempat duduknya, lalu Inara mengikuti di belakangnya.
💜💜💜💜💜
__ADS_1
"Kau mau makan apa, Vallen?"
"Apa saja."
"Hei, kau seorang nona muda aku tidak boleh sembarang memberikan makanan padamu, nanti kau bisa sakit perut."'
"Bukankah jika aku sakit itu lebih baik, karena aku akan memintamu untuk menungguiku seharian."
"Hahaha dasar gadis aneh."
"Kita makan di sana saja ya?" kata Firman sambil menunjuk sebuah resto yang ada di dekat mereka.
Firman lalu mengendarai motornya ke resto tersebut.
"Firman, bolehkah kutanyakan sesuatu?" tanya Vallen setelah mereka selesai memesan makanan.
"Ya."
"Ini tentang yang kau ucapkan pada Rayhan tadi."
"Yang aku ucapkan? Yang mana?"
"Mengenai jodoh begini bunyinya : jika dia bukan jodohmu sekuat apapun kau mencengkeramnya dia tetap akan pergi darimu tapi jika kau sudah bertemu dengan jodohmu, meskipun kau sudah melepasnya jauh-jauh dia pasti akan kembali padamu. Kenapa kau bisa mengatakan seperti itu?"
Firman pun tersenyum.
"Saat pertama bertemu denganmu, aku kembali ke mess milik Zidan, saat melewati taman aku bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang sedang mengamati persiapan pesta, saat melihat penampilanku yang berantakan, dia mendekat padaku lalu kami mengobrol sebentar dan dia mengatakan kata-kata itu. Bukankah memang benar apa yang dia katakan?"
"Kenapa kau tertawa?"
"Karena dia juga mengatakan hal yang sama denganku saat aku mendapat bunga pengantin itu."
"Jadi kau juga bertemu dengannya?"
"Ya, dia adalah orang tua dari mempelai laki-laki. Saat aku sedang menangkap bunga pengantin itu dia berada di dekatku lalu kami mengobrol dan dia mengatakan hal yang sama padaku."
Firman pun tersenyum.
"Rasanya seperti sebuah kebetulan."
"Firman, bagaimana jika ternyata aku adalah jodohmu?"
"Hahahaha.. Hahahahahha."
"Kenapa kau tertawa?"
"Sepertinya tidak mungkin."
"Tapi bukankah tadi kau sudah berjanji akan selalu ada di sampingmu dan akan selalu menjagaku?"
__ADS_1
"Bukankah aku adalah temanmu, aku tidak akan membiarkan temanku disakiti oleh orang lain, aku akan selalu menjagamu."
"Tapi kenapa kau berpikir aku bukanlah jodohmu? Apakah kau masih mencintai mantan kekasihmu?"
"Tidak Vallen, aku sudah melupakannya."
"Benarkah?"
"Ya, aku sudah mengubur dalam-dalam rasa cintaku padanya."
"Jadi kau sudah tidak mencintainya?"
Firman pun menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah tidak mencintainya, aku tidak akan pernah mencintai orang yang sudah tidak mencintaiku. Percuma saja, hanya sakit yang akan kudapatkan."
"Bagus jika kau berpikir seperti itu."
Firman pun tersenyum.
"Jadi kau sudah melupakannya kan?"
Firman pun mengangguk.
"Lalu kenapa kau bisa mengatakan aku tidak mungkin menjadi jodohmu? Apakah kau tidak pernah berfikir jika pertemuan kita berdua sepertinya bukan sebuah kebetulan semata, bagaimana jika aku benar-benar jodohmu?"
Firman pun tersenyum.
"Vallen, kita berbeda. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah pantas mendampingi dirimu, kau berhak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Aku hanyalah seorang duda miskin yang tidak memiliki apa-apa, sedangkan dirimu, kau wanita yang sangat cantik dan pintar, akan sangat mudah bagimu mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dibandingkan diriku."
"Tapi Firman, cinta tidak mengenal semua itu. Bagiku cinta adalah kenyamanan, dan tahukah kamu aku begitu nyaman bersamamu."
"Apa maksudmu Vallen?"
"Bagaimana jika aku mulai jatuh cinta padamu?"
Firman pun terdiam.
"Kau jangan bercanda Vallen, tidak mungkin kau melupakan Rayhan secepat itu."
"Aku tidak bercanda, Firman. Sejak pertama bertemu denganmu, aku tidak pernah bisa berhenti memikirkanmu, bahkan rasa sakit di dalam hatiku karena Rayhan rasanya hilang begitu saja saat bersamamu, aku juga tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi padaku."
Perasaan Firman pun begitu tak menentu. 'Akhirnya yang kutakutkan terjadi.' gumam Firman sambil mengusap kasar wajahnya.
"Firman, aku mencintaimu. Apakah kau mau menjadi kekasihku?"
'Astaga, aku tidak mau membohongi perasaanku tapi aku sadar aku tidak pantas menjadi kekasihnya.' gumam Firman dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Firman, aku bertanya padamu. Tolong kau jawab pertanyaanku."
__ADS_1
Firman pun mengambil nafas dalam-dalam.
"Maaf aku tidak bisa."