
"Dasar merepotkan saja, untungnya aku cepat bertindak sebelum dia menembakkan pistol di tangannya." kata salah seorang polisi yang duduk di bangku depan, dia kemudian memasukkan kembali pistolnya ke dalam holster yang ada di pinggangnya setelah menembak Ilham di bagian tangan dan kakinya.
"Ambil senjatamu kembali yang ada di tangannya." kata polisi itu lagi pada rekannya yang duduk di samping Ilham.
Dia kemudian menjambak Ilham yang kini dalam keadaan setengah sadar karena menahan sakit akibat luka tembak itu. "Makanya jangan coba-coba pada kami, memegang pistol saja tidak becus mau coba-coba kau menantang kami." kata polisi yang duduk di samping Ilham saat mengambil pistolnya yang ada di tangan Ilham.
"Aku sudah melaporkan kejadian ini pada komandan dan dia menyuruh kita untuk membawa Ilham ke rumah sakit terdekat."
"Ayo kita bawa dia ke rumah sakit sekarang." kata polisi yang ada di samping Ilham. Dia kemudian menjambak kembali rambut Ilham.
"Hei kau saat di rumah sakit jangan sampai membuat ulah lagi, atau kami akan menghabisi nyawamu!"
Ilham yang setengah sadar pun hanya bisa mendengus kesal.
'Dasar kalian semua kurang ajar.' kata Ilham dalam hati.
☘️☘️☘️☘️
"Rima.. Rima... Kau dimana?" panggil Risma saat masuk ke dalam rumah.
"Di ruang tengah ma." jawab Rima yang sedang menonton televisi.
"Lihat ini, ini mama belikan untukmu." kata Rima sambil memberikan sebuah paper bag pada Rima.
"Apa ini ma?" tanya Rima.
"Buka saja."
Rima pun kemudian membuka paper bag itu.
"Gaun? Indah sekali gaun ini ma."
"Ya itu untukmu."
"Untuk Rima ma?"
"Ya, tadi Drey bilang pada mama, nanti malam kau akan pergi menemaninya ke pesta pernikahan temannya. Jadi mama belikan gaun baru untukmu agar mudah kau pakai mengingat kondisi kakimu yang belum sembuh."
"Oh iya, terimakasih banyak ma."
"Sama-sama sayang, ini sudah pukul lima sore, sebenar lagi Drey pulang, lebih baik kau sekarang mandi setelah itu aku yang akan membantu merias wajahmu."
"Iya ma."
"Ayo kita ke kamarmu." kata Risma kemudian mendorong kursi roda Rima.
__ADS_1
'Mama begitu baik padaku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia tahu semua ini adalah kebohongan. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan mama jika tahu bagaimana hubunganku dengan Drey sebenarnya.' kata Rima dalam hati.
Satu jam kemudian, Drey masuk ke dalam rumah dengan sedikit terburu-buru.
"Pekerjaan di kantor tadi banyak sekali sampai membuatku pulang terlambat, aku harus cepat mandi, jika tidak aku bisa terlambat datang ke pesta pernikahan Vian." kata Drey sambil menaiki tangga.
Dia kemudian membuka pintu kamarnya. "Mama, ada apa mama di kamar Drey?" tanya Drey saat melihat mamanya sedang duduk di samping Rima di depan meja rias.
Risma pun kemudian tersenyum. "Ini yang mama lakukan disini." kata Risma kemudian membalikkan kursi roda Rima.
Drey yang melihat Rima kini terlihat begitu anggun menggunakan dress di tubuhnya pun memelototkan matanya. Apalagi kini wajah Rima juga tampak begitu cantik dengan sapuan make up minimalis di wajahnya.
'Cantik sekali.' kata Drey dalam hati.
"Bagaimana Drey? Cantik kan?" tanya Risma pada Drey.
"Emmm... E... Iya ma, cantik." jawab Drey begitu gugup yang membuat Rima tersenyum.
"Lebih baik kau mandi sekarang, kalau tidak kalian bisa terlambat ke pesta itu."
Namun Drey hanya berdiri mematung sambil menatap Rima. "DREYYY APA KAU TIDAK MENDENGAR KATA-KATA MAMA!!" teriak Risma di samping telinga Drey.
"Iya..Iya.." gerutu Drey kemudian berjalan ke arah kamar mandi di kamarnya.
"Iya ma."
☘️☘️☘️☘️
"Kau cantik sekali sayang." kata Kenan sambil mendekat pada Olivia yang sedang berdiri di depan cermin setelah selesai mengenakan gaun pesta. Dia kemudian memeluk tubuh Olivia dari belakang dan menciumi tengkuknya.
"Kenan kita harus pergi sekarang, sebentar lagi resepsi pernikahan Vian dimulai."
"Sebentar saja Olive."
"Tidak, kau bisa merusak make up ku, Kenan." gerutu Olivia.
"Hei kau tidak boleh terlalu cantik Olive, nanti orang-orang bisa tertarik padamu."
"Hahahaha, tidak ada yang akan berani melirikku saat kau ada di sampingku karena kau begitu galak Kenan."
"Kecuali Ilham. Hahahaha."
"Dia memiliki masalah kejiwaan, Kenan. Ingat itu."
"Lalu bagaimana dengan teman kerjamu saat di Australia yang pernah menyukaimu itu siapa namanya?"
__ADS_1
"Drey?"
"Iya Drey, apakah dia juga datang ke pesta pernikahan Vian?"
"Mungkin dia juga diundang."
"Baik, kalau begitu kau harus tetap ada di sampingku karena aku tidak ingin ada yang melirikmu sedikitpun."
"Hahahaha, kau ada-ada saja, Kenan."
"Ayo kita berangkat sekarang, aku sudah tidak sabar bertemu teman-temanmu, aku ingin semua temanmu tahu aku adalah suamimu." kata Kenan sambil menggandeng tangan Olivia yang membuat Olivia menggelengkan kepalanya.
🍀🍀🍀🍀
"Lihat Olivia, banyak lelaki yang melihat ke arahmu, lebih baik kau jangan-jangan jauh dariku." kata Kenan saat mereka sampai di pesta pernikahan Vian. Olivia pun hanya tersenyum mendengar kata-kata Kenan.
"Ayo kesana, itu teman-temanku saat berada di Australia." kata Olivia.
Kenan pun semakin menggandeng erat tangan Olivia. Saat mereka semua sedang asyik terlibat obrolan. Tiba-tiba salah seorang dari mereka tampak mencari seseorang.
"Sepertinya semua sudah datang kecuali Drey." kata lelaki itu.
"Tadi Vian mengatakan padaku jika hari ini Drey akan datang, katanya dia juga akan datang bersama istrinya."
"Bersama istrinya!" kata orang-orang yang ada dalam kerumunan itu.
"Ya, beberapa hari yang lalu Vian menelpon Drey untuk menanyakan kehadirannya di pesta ini, dan dia mengatakan akan datang bersama istrinya."
"Wow ini benar-benar kejutan, kita bahkan tak tahu kapan Drey menikah tapi dia sudah memiliki istri. Hahahaha."
Mereka pun kemudian tertawa bersama. Sedangkan Olivia langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Kenan.
"Kau dengar kan Kenan, Drey sudah menikah, jadi kau tidak perlu cemburu padanya."
"Tetap harus waspada Olive, apa kau sudah lupa bagaimana Ilham masih mencintaimu meskipun dia sudah menikah dengan Rima?"
"Terserah kau Kenan." jawab Olivia.
Saat sedang asyik mengamati beberapa tamu undangan, tiba-tiba netra Kenan tertuju pada sosok yang baru saja datang dengan seorang wanita yang duduk di kursi roda. Kenan pun kemudian menatapnya begitu tajam sambil sesekali mengucek matanya.
"Kau kenapa Kenan?" tanya Olivia yang heran melihat tingkah Kenan yang sedikit aneh.
"Olive, lihat itu." tunjuk Kenan pada sosok yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Astaga Kenan, bukankah itu Drey dan Rima? Kenapa mereka bisa bersama?"
__ADS_1