
"Aku sadar, aku memang tidaklah pantas untuknya Olive. Kami berbeda, benar kata Mama Santi jika kami tidaklah sepadan."
"Kau salah Giselle, cinta itu tidak mengenal perbedaan."
"Kau bisa berkata seperti itu karena kau dan Kenan berasal dari kalangan yang sama Olive."
"Hahahaha bukankah sudah kukatakan jika kita itu sama saja Giselle, semua sama di hadapan Tuhan."
"Itu menurutmu tapi tidak menurut mertuaku." gerutu Giselle.
"Kau harus bersabar Giselle, cinta memang membutuhkan pengorbanan. Kau bisa lihat bagaimana aku, kak Calista dan Laras dalam menemukan cinta kami hingga akhirnya kami bisa hidup bahagia dengan pasangan masing-masing."
Giselle lalu terdiam dan menatap Olivia. "Aku tahu Olive.. Aku tahu... Tapi kalian tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya dibenci oleh mertua kalian sendiri."
"Giselle setiap pasangan memiliki ujian masing-masing. Kau dan Revan harus bisa melewati ini semua."
"Apa aku masih pantas untuknya? Aku bahkan tidak tahu apakah Revan masih mau menerimaku atau tidak setelah tahu masa laluku."
"Sudah cukup Giselle, sebaiknya kau kembali sekarang pada suamimu karena saat ini Revan sedang mencari dirimu." kata Calista yang tiba-tiba masuk ke rumah Olivia.
"Kakak, kau sudah datang?"
"Iya Olive, kau sudah cukup bersembunyi dan menenangkan diri, sekarang kembalilah pada Revan. Kasihan dia."
"Tapi aku tidak ingin kembali padanya Calista."
"Jangan egois Giselle, setidaknya pikirkan anak yang ada di dalam kandunganmu. Bagaimanapun juga dia membutuhkan ayahnya."
Giselle pun kemudian kembali menangis. Olivia pun menggenggam tangannya. "Giselle bukankah sudah kukatakan padamu jika setiap pasangan memiliki ujian masing-masing. Kau harus bisa melewati ini semua, aku yakin kau mampu."
"Baik.. Baik, tapi beri aku waktu beberapa hari lagi untuk menenangkan diri."
"Bagaimana kak?" tanya Olivia pada Calista yang hanya dibalas anggukan dengan sedikit senyuman.
"Tentu Giselle kau boleh tinggal disini denganku selama beberapa hari, kau tahu sendiri jika aku kini sedang sendirian di rumah karena Mama Gisa, Vansh dan Laurie sedang berlibur di rumah Alena."
Giselle pun mengangguk sambil tersenyum. "Terimakasih, terimakasih. Kalian begitu baik padaku."
***
"Hei, lihat itu Rima, aku tidak menyangka dokter David bersikap semanis itu pada kekasihnya." kata Sherly pada Rima saat mereka akan masuk ke ruangan tempat Stella saat ini dirawat, dan melihat David yang kini sedang duduk di samping Stella yang masih memejamkan matanya sambil menggenggam tangannya dan sesekali membelai rambutnya.
"Permisi dokter, kami mau mengganti infus Nyonya Stella." kata Sherly yang hanya dijawab anggukan oleh David.
Rima berdiri di samping Sherly mencatat rekam medis milik Stella sambil sesekali melirik ke arah David yang kini menatap Stella dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Rima kemudian melihat ke atas nakas dan meja di samping sofa, terdapat beberapa buket bunga dari dokter David untuk Stella.
'Romantis sekali.' gumam Rima.
"Ayo Rim, aku udah selesai." bisik Sherly pada Rima yang kini sibuk mengamati ruangan itu.
Rima pun menganggukan kepalanya. "Dokter kami permisi." kata Rima yang hanya dibalas anggukan kembali tanpa melihat sedikitpun pada mereka berdua.
Setelah mereka pergi, David kemudian mengusap wajah Stella yang kini masih terlihat begitu pucat.
"Stella, kenapa kau tidak mengatakan semua ini padaku." kata David sambil meneteskan sebutir air mata yang jatuh di punggung tangan Stella. Dan di saat itu pula lah Stella mulai membalas menggenggam tangan David.
"David." kata Stella lirih.
"Kau sudah bangun sayang?" tanya David sambil membelai wajah Stella.
"Jangan menangis." kata Stella saat melihat air mata yang kini mulai membasahi wajah kekasihnya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku Stella?"
"Aku juga baru mengetahui kemarin saat keluar dari ruanganmu dan mengambil hasil medical check up milikku."
David pun kembali meneteskan air matanya. "Ini belum terlambat Stella, kau harus memilih. Aku tidak mau mengambil resiko."
"Mengertilah Stella, kau tidak bisa mendapatkan pengobatan secara optimal jika kau sedang hamil."
"Tapi kapan lagi aku bisa mengandung buah hatimu? Karena mungkin waktuku tidak lah lama lagi di dunia ini."
"Cukup Stella jangan pernah mengatakan itu, kita akan terus bersama sampai menua. Kau pasti akan sembuh, aku akan melakukan berbagai cara agar kau bisa sembuh!" bentak David yang hanya dibalas isak tangis oleh Stella.
"Sebenarnya Stella sakit apa sih Sher? Sepertinya saat kemarin dia pulang dari rumah sakit, dia terlihat baik-baik saja."
"Leukimia Rim, baru stadium dua. Tapi ternyata dia sedang mengandung."
"Astaga." kata Rima sambil menutup mulutnya.
"Jadi dokter David begitu sedih melihat keadaan Stella karena itu?"
"Ya, sebenarnya kemungkinan untuk bisa sembuh masih ada tapi dia juga harus merelakan bayi yang dikandung Stella agar bisa mengobatinya secara maksimal."
"Pilihan yang berat." jawab Rima sambil sekilas melihat dokter David yang kini berjalan melewati ruangan mereka dengan wajah yang begitu sendu. Di saat itu juga sebuah perasaan hangat dan sakit tiba-tiba mulai merasuk ke dalam hatinya.
'Kenapa tiba-tiba aku merasakan perasaan seperti ini saat melihatnya.' gumam Rima yang kini menatap punggung David yang sedang berjalan.
***
__ADS_1
Leo tampak berdiri di depan sebuah pintu dengan perasaan sedikit cemas. 'Dasar, merepotkan saja.' gumam Leo sambil menatap ponselnya.
"Selamat siang Tuan Leo." kata seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuknya.
"Selamat siang bi, apakah saya bisa bertemu Revan?"
"Oh Tuan Revan, ada di kamarnya. Silahkan masuk."
"Iya Bi." jawab Leo kemudian duduk di sofa.
"Apa kabar Leo?" sapa sebuah suara yang berjalan mendekatinya.
"Oh Tante Santi, baik Tante."
"Ada apa Leo? Bukankah ini jam kerjamu? Apakah kau saat ini sedang tidak sibuk?"
"Saya tidak akan datang ke sini di saat jam kerja jika tidak ada urusannya dengan masalah pekerjaan Tante."
"Maksudmu?"
"Bukankah tante tahu jika saya dan Revan beberapa bulan terakhir sedang melakukan kerja sama untuk proyek kami di Bandung."
"Lalu?"
"Saya membutuhkan Revan tapi semenjak kemarin saya sangat sulit menghubungi dia, bahkan ponselnya tidak aktif. Saya harus bertemu Revan sekarang juga tante karena sebentar lagi kami harus bertemu dengan para investor, jika tidak kami tidak bisa melanjutkan kerja sama ini lagi."
"Dasar anak itu merepotkan saja, bisa-bisanya dia seceroboh ini mengabaikan pekerjaannya dan memilih meratapi wanita sialan itu di dalam kamar." gerutu Santi.
"Leo mari tante antar ke kamar Revan, sudah tiga hari ini dia tidak keluar dari dalam kamar karena ditinggalkan wanita sialan itu."
"Baik tante." jawab Leo kemudian mengikuti Santi pergi ke kamar Revan.
"Kau temui saja dia di dalam Leo, dan tolong bujuk dia agar tidak lagi terpuruk."
"Iya tante." jawab Leo kemudian membuka pintu kamar. Dia lalu mendekat ke arah Revan yang kini duduk diam sambil melihat ke arah balkon kamar. Leo mengusap wajahnya saat melihat penampilan Revan yang kini terlihat begitu berantakan.
"Dasar laki-laki lemah." kata Leo yang membuat Revan membalikkan badannya.
Note:
Jangan lewatkan episode selanjutnya ya.
kalau kalian suka tolong tinggalkan jejak ya, kalau ga suka skip aja 🤗✌️
Terimakasih 😘🤗
__ADS_1