
"Bagaimana jika kau saja yang menikahinya, Kenan?"
"Apa kau sudah gila Leo, aku tidak akan pernah mau menduakan Olivia, kenapa tidak kau saja? Kau pernah memiliki dua orang istri kan? Kau pasti lebih berpengalaman." kata Kenan sambil tersenyum kecut.
"Enak saja, aku tidak akan pernah melakukan kesalahan seperti itu lagi. Dia kan sekretarismu, kau pasti sudah memiliki ikatan yang kuat dengan Laras."
"S*it, jika aku punya pilihan untuk memecatnya, sudah lama aku memecatnya."
"Lalu harus bagaimana? Apakah kita harus membiarkan Laras hamil tanpa seorang suami? Bagaimana dengan anak itu?"
"Anak itu akan kuangkat sebagai anakku." kata Calista tiba-tiba.
"Calista, apa maksudmu sayang?"
"Ya Leo, aku akan mengangkat anak itu sebagai anak angkatku."
"Kau jangan bercanda Calista,"
"Aku tidak bercanda, setelah anak itu lahir, aku akan mengurus surat adopsinya dan Laras bisa meneruskan hidupnya kembali."
"Tapi Calista, aku yakin suatu hari nanti kau bisa hamil anak kita!"
"Itu bukan masalah untukku Leo, kita bisa mengasuh mereka bersama-sama."
"Baik jika itu maumu Calista, kita akan mengadopsi anak itu."
"Terima kasih Leo." jawab Calista sambil tersenyum.
"Aku masuk dulu, akan kubicarakan hal ini dengan Laras." Leo lalu mengangguk.
"Leo, sekalian saja kau menikahi Laras. Hahahaha."
"Kau tidak usah meledekku, Kenan."
***
Lima tahun kemudian
Seorang anak tampak sedang meniup lilin bertuliskan angka empat tahun di atas sebuah roti ulang tahun di sebuah taman bermain.
"Selamat ulang tahun Denis," kata seorang wanita pada anak kecil itu.
"Terima kasih Ma, kue pertama untuk Mama."
__ADS_1
"Terima kasih sayang, sekarang berikan juga untuk saudara dan teman-temanmu."
"Iya Ma," jawab Denis.
"Laras."
"Olive, kau sudah datang?"
"Iya maaf kami terlambat, tadi Laurie bangun sedikit terlambat."
"Tidak apa, hai Vansh, Laurie kau mainlah bersama Denis, dia sedang membagikan kue ulang tahunnya."
"Iya Aunty," jawab Vansh dan Laurie serempak.
"Laras, dimana Calista." tanya Olivia.
"Itu," jawab Laras sambil menunjuk Calista yang sedang duduk bersama Leo di pojok taman.
"Ayo kita ke sana."
"Cepat ikat rambutku Leo, aku sudah banyak mengeluarkan keringat." kata Calista sambil menggerutu.
"Sabar Calista sayang, ini sudah selesai."
"Dasar!!" umpat Leo sambil mengipasi Calista yang duduk bersandar di sebuah kursi malas.
"Apa kau mengataiku?"
"Tidak.. Tidak Calista sayang."
"Kakak."
"Olive, Kenan kau sudah datang?"
"Kau sedang apa Leo?" tanya Kenan sambil tersenyum.
"Tidak usah banyak bertanya, kau bisa lihat sendiri aku sedang mengipasi istriku,"
"Hahahaha.. Hahahahaha."
"Tidak usah menertawakanku, Calista sedang kepanasan." jawab Leo kesal.
"Itu wajar Kenan, kau tidak boleh meledek mereka apalagi Kak Calista hamil anak kembar."
__ADS_1
'Hahaha, iya Olive. Memangnya kapan kau akan melahirkan Calista?"
"Seharusnya minggu depan setelah aku melahirkan aku akan langsung memiliki dua orang anak sekaligus, laki-laki dan perempuan seperti kalian," jawab Calista sambil tersenyum.
"Kalian memang luar biasa, akhirnya kesabaran kalian berbuah manis," balas Olivia.
"Tentu Olive, karena aku sangat yakin istriku yang cantik ini pasti akan bisa hamil dan melahirkan anak-anakku," ujar, Leo sambil mencubit pipi Calista yang tembam, sekaligus meledeknya
"Kau meledek pipiku lagi Leo."
"Tidak Calista sayang, aku hanya gemas padamu." kata Leo sambil terkekeh.
"Hei Laras, bagaimana kabar Ramon? Bukankah minggu lalu kau baru saja menemuinya?" tanya Calista yang melihat Laras diam saat melihat mereka.
"Dia jauh lebih baik, banyak perubahan terjadi pada dirinya saat di tahanan, aku baru mengatakan jika dia memiliki seorang anak laki-laki denganku, dan sepertinya hari ini dia keluar dari penjara."
"Lalu apa kata Ramon?"
"Dia terkejut, dan minta maaf."
"Jangan pernah percaya lagi pada Ramon, Laras. Bagiku kau sudah begitu hebat bisa membesarkan Denis sendirian, bahkan aku tak menyangka kau akan menolakku saat aku dan Leo akan mengadopsi Denis."
Laras tersenyum mendengar perkataan Calista. "Bagaimanapun juga Denis adalah anakku, aku harus membesarkannya dengan tanganku sendiri."
"Semoga kau menemukan laki-laki yang tepat untukmu, Laras."
"Aku sudah tidak memikirkan itu, yang terpenting bagiku saat ini adalah membesarkan Denis."
"Wow aku tak menyangka kehadiran Denis akan membuatmu berubah Laras, aku tak menyangka kau yang begitu centil akan berubah seperti ini." kata Kenan. Olivia lalu mencubit Kenan. "Jangan berkata seperti itu Kenan, kasihan Laras," bisik Olivia.
"Tidak apa Olive," jawab Laras sambil tertawa.
Di pintu masuk taman, tampak seorang laki-laki mengamati Denis yang bermain dengan saudara dan teman-temannya.
"Kau adalah anakku Denis, darah dagingku. Maafkan Papamu, Laras maafkan aku, aku bukan laki-laki yng baik dan tidak pantas untuk kalian berdua," guman Ramon sambil menitikkan air mata lalu berjalan menjauhi taman, dadanya terasa begitu sesak melihat pemandangan yang ada di depannya. Ingin rasanya dia mendekat, tetapi tak bisa.
"Jangan pergi!" teriak sebuah suara.
"Laras?" jawab Ramon sambil membalikkan badannya.
"Temui Denis, dia putramu."
"Kau memperbolehkan aku bertemu dengannya, Laras?" tanya Ramon sambil tersenyum yang dibalas anggukan oleh Laras. Ramon lalu masuk ke dalam taman kemudian memeluk Denis, meskipun Denis begitu kebingungan karena tiba-tiba ada pria asing yang memeluk dirinya.
__ADS_1
'Aku tahu kau sudah banyak berubah Ramon, para sipir penjara yang menceritakan semua perubahanmu padaku, aku tahu kau sudah menyadari semua kesalahanmu karena itulah aku memperbolehkan kau bertemu dengan Denis.' gumam Laras sambil tersenyum.