
"Aini, sebenarnya aku dan Firman sudah menikah, dan saat ini aku sedang mengandung anak dari Firman."
"Ka, kalian sudah menikah?"
"Ya, lihat ini buktinya," kata Vallen sambil memperlihatkan foto pernikahannya dan Firman.
"Dokter Vallen, kenapa kalian tidak memberitahukanku?"
"Oh itu karena kami menikah dengan sangat mendadak dan sedikit dipaksa oleh Kak David karena suatu alasan, tapi kau tenang saja, satu bulan lagi kami akan menikah secara resmi."
"Jadi satu bulan lagi kau akan mengadakan resepsi pernikahan kan?"
"Ya, tentu saja Aini, hahahaha, aku pun ingin semua orang tahu kalau aku sudah menikah dengan Firman, hahahaha. Semua orang harua tahu aku adalah istri dari Firman, hahahaha."
Aini pun mengerutkan keningnya saat mendengar kata-kata Vallen. "Hahahaha, kau pasti merasa aneh padaku kan, Aini?"
"Ya, kenapa kau sangat bersemangat agar semua orang tahu kalau kau adalah istri dari Firman?"
"Oh, itu karena aku tidak ingin ada wanita lain yang menyukai suamiku, Aini. Apa kau tahu, banyak karyawan di kantor Firman yang jatuh cinta padanya, dan aku sangatlah cemburu."
"Hahahaha, kau ada-ada saja Dokter Vallen, bukankah Firman sangat mencintaimu, kau tidak perlu cemburu."
"Ya, aku tahu itu hanya saja aku tidak suka jika mereka menyukai suamiku."
"Hahahaha, ya ya ya, memang sebaiknya kalian meresmikan pernikahan kalian secepatnya, agar menghindari prasangka karena kau sedang hamil."
"Iya Aini. Hei, kita terlalu lama mengobrol sampai aku belum memeriksa perutmu, ayo naik ke atas brankar, Aini."
"Iya Dokter Vallen."
"Aini, bukankah sudah berulangkali kukatakan jika kau cukup memanggil namaku saja, aku tidak ingin ada sekat diantara kita, bukankah kita berteman baik?"
"Ya baiklah, Vallen."
"Nah, begitu jauh lebih baik."
Aini lalu menuju ke brankar, sedangkan Vallen mulai beranjak dari tempat duduknya, sambil menatap Hani yang melihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Hani?"
__ADS_1
"Ternyata benar firasatku, saat itu aku melihat cara berjalan dokter yang sangat aneh, ternyata dokter sudah tidak pera*an, hahahaha."
"Lancang sekali, kau Hani!!" gerutu Vallen kemudian berjalan ke arah Aini yang sudah ada di atas brankar. Vallen pun dengan lincah memainkan alat USG di atas perut Aini.
'Astaga, oh tidak.' gumam Vallen saat melihat kondisi rahim Aini. Melihat perubahan raut wajah Vallen, seketika Aini perasaan Aini pun begitu cemas.
"Vallen, kenapa tiba-tiba kau tampak cemas? Apakah sesuatu telah terjadi padaku?"
"Nanti kita bicarakan di depan, Aini."
"Baik."
Vallen kemudian menyelesaikan pemeriksaannya pada Aini lalu berjalan ke mejanya kembali.
"Ada apa Vallen? Apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Emmhhh, E.. Aini, apakah beberapa hari terakhir ini sesuatu telah terjadi padamu? Misalnya kau terjatuh atau tubuhmu terbentur sesuatu?"
"Tidak pernah, aku tidak pernah terjatuh Vallen, memangnya ada apa?"
"Emhhh Aini, sebenarnya bulan lalu kondisi rahimmu sudah sangat membaik, namun aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja sekarang kondisi rahimmu memburuk kembali, aku menduga jika itu terjadi akibat benturan ataupun kau terjatuh tapi tadi kau mengatakan jika kau tidak mengalami hal itu, jadi aku juga tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi."
Aini kemudian mengerutkan keningnya.
"Apa? Apa benar sesuatu telah terjadi padamu seperti dugaanku?"
"Ya, aku baru ingat saat aku hampir diperkosa oleh Dimas, dia sempat membenturkan tubuhku ke tembok di dalam gang itu, apakah itu bisa menyebabkan kondisi rahimku kembali memburuk?"
"Ya, tentu saja, Aini. Apakah setelah mengalami benturan itu, kau merasakan sesuatu di perutmu? Misalnya sedikit mual atau sakit?"
"Ya, sebenarnya aku merasa sedikit sakit tapi saat itu aku begitu panik jadi aku tidak terlalu merasakannya."
"Ya, kemungkinan besar itu yang menjadi akibatnya, Aini."
"Lalu aku harus bagaimana, Vallen?"
"Mungkin aku juga harus berbicara dengan suamimu?"
"Dengan Mas Roy?"
__ADS_1
"Ya, ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Bisakah kalian bertemu lagi denganku besok?"
"Ya, tentu saja."
"Baiklah, kami akan menemuimu besok."
"Baik kutunggu kedatanganmu besok."
"Iya Vallen, sekarang aku pulang dulu, sampai bertemu besok, Vallen," kata Aini sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Iya Aini, hati-hati di jalan."
Aini lalu mengangguk sambil tersenyum, dia kemudian keluar dari ruangan Vallen dengan perasaan yang begitu tak menentu, hatinya terasa begitu berkecamuk hingga menyesakkan dadanya.
'Oh tidak, apa lagi ini? Kenapa ini harus terjadi lagi padaku? Kupikir aku bisa sembuh, aku juga ingin memiliki anak, darah daging Mas Roy, tapi kenapa semua ini terjadi lagi padaku? Maafkan aku mas, seandainya aku tidak pergi dari rumah, maka semua ini tidak akan terjadi, ini semua memang salahku, aku tidak dapat berfikir dengan jernih dan hanya menuruti egoku saja yang akhirnya merugikan diriku sendiri,' gumam Aini sambil meneteskan air matanya saat keluar dari rumah sakit.
Sementara Vallen yang melihat kepergian Aini hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya. "Aini, kenapa ini bisa terjadi lagi padamu? Padahal jika kau bisa menjaga kondisi kesehatanmu, aku bisa memprediksi kau bisa sembuh dalam waktu dekat. Tapi kenapa ini semua terjadi lagi padamu?"
Tiba-tiba ponsel Vallen pun berbunyi, dia kemudian mengambil ponselnya dan melihat nama Firman ada di layar ponselnya.
"Firman," teriak Vallen kemudian mengangkat panggilan itu.
[Halo sayang, apakah kau sudah merindukan aku?]
[Hahahaha, tentu saja Vallen, setiap saat aku selalu merindukan jika kita sedang tidak bersama.]
[Oh baguslah kalau begitu.]
[Vallen, sebenarnya aku meneleponmu untuk membicarakan sesuatu, apa nanti sore kau bisa pulang lebih awal?]
[Oh ya tentu saja, itu semua bisa diatur Firman.]
[Baiklah kalau begitu, sampai jumpa nanti sore.]
[Sampai jumpa, Firman sayang.]
[Iya Vallen sayang.] kata Firman kemudian menutup teleponnya lalu tampak mengutak-atik ponselnya kembali.
[Halo, aku sudah menghubungi Vallen, nanti sore kami akan menemuimu.]
__ADS_1
[Terimakasih Firman, aku akan menunggu kalian di alamat yang sudah kuberikan padamu.]
[Iya, baik.] jawab Firman kemudian menutup teleponnya sambil menghembuskan nafas panjangnya.