
Roy kemudian membuka pesan dari Aini dan melihat kiriman sebuah foto buket bunga yang seharusnya dia berikan untuknya. Roy pun tampak bingung membalas pesan tersebut beberapa kali dia tampak mengetik balasan namun dia menghapus pesan itu lagi. Setelah kebingungan, akhirnya dia memilih untuk menghubungi Aini.
[Halo Aini.]
[Oh ya halo Roy, kenapa kau tidak membalas pesanku? Apa bunga ini yang mamamu berikan untukku?]
[Oh... E.. Ya, itu bunga dari mamaku.]
[Tapi kenapa kau letakkan di atas tempat sampah?]
[Itu karena aku lupa, ya aku lupa Aini tadi saat aku ingin memberikan bunga itu untukmu tiba-tiba seseorang meneleponku lalu aku menaruh bunga itu sembarangan hingga aku lupa memberikannya untukmu.]
Mendengar perkataan Roy, Aini pun tertawa.
[Kau kenapa tertawa, Aini?]
[Ternyata kau sangat lucu, Roy.]
Roy pun ikut tersenyum, apalagi saat ini debaran di jantungnya terasa semakin cepat.
[Aini, apakah kau menyukai bunga itu?]
[Tentu, aku sangat menyukainya Roy karena aku sangat menyukai bunga mawar merah.]
'Yessss!!' teriak Roy dalam hati.
[Roy kau kenapa?]
[Oh tidak apa-apa Aini, sekarang sudah malam lebih baik kau beristirahat.] kata Roy.
[Iya Roy, sampai bertemu besok.]
'Sampai bertemu besok? Apakah besok dia ingin bertemu denganku?'
[Apa Aini? Apa yang kau katakan?]
[Sampai bertemu besok Roy, bukankah besok kau pasti juga akan ke rumah sakit untuk menjenguk Darren?]
[Oh ya tentu, tentu saja besok aku ke rumah sakit untuk menemui putraku.]
[Iya Roy, sampai bertemu besok.] kata Aini.
[Sampai bertemu besok Aini.] jawab Roy kemudian menutup panggilan telepon tersebut sambil tersenyum.
Roy kemudian mengusap wajahnya. 'Astaga, aku kenapa? Apa sebenarnya yang telah terjadi padaku?' gumam Roy di dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa sejak melihat senyuman Aini tadi siang di rumah sakit perasaanku jadi seperti ini? Apa sebenarnya yang telah terjadi padaku?"
"Tidak Roy, aku tidak boleh jatuh cinta padanya, dia masih begitu muda sedangkan usiaku sudah menginjak 35 tahun. Dia lebih pantas kuanggap sebagai adik atau bahkan keponakan."
"Ah tapi kenapa sulit sekali rasanya membendung perasaan ini. Ah tidak, Roy sadarlah istriku saja baru saja meninggal satu minggu yang lalu kenapa tiba-tiba aku sudah seperti ini?"
"Daripada aku gila lebih baik aku mandi, makan malam lalu tidur." kata Roy kemudian masuk ke kamar mandi.
β€οΈ Dua jam kemudian β€οΈ
"Sudah satu jam aku di atas tempat tidur ini tapi kenapa mataku belum juga terpejam. Oh tidak apakah aku mulai merindukannya? Kenapa tiba-tiba aku sangat merindukannya?"
'Rasanya aku benar-benar ingin berteriak. Mungkin sekarang aku harus berteriak.'
'AINI AKU MERINDUKANMU!!!' teriak Roy di dalam hati.
π₯πΈπ₯πΈπ₯πΈπΈπ₯
"Kau kenapa Aini?" tanya Laras yang kaget karena tiba-tiba Aini bangun dari tidurnya.
"Tidak apa-apa mba, aku mendengar seseorang seperti meneriakkan namaku."
Laras pun tersenyum mendengar perkataan Ani. "Aini kau lucu sekali, dari tadi mba disini dan tidak bada siapapun yang memanggilmu, mungkin hanya perasaanmu saja atau kau sedang bermimpi."
"Iya Mba Laras, mungkin aku sedang bermimpi."
"Iya Mba." jawab Aini kemudian merebahkan tubuhnya kembali lalu memejamkan matanya.
Sementara di balik jendela kamar perawatan Aini, tampak seseorang memakai pakaian serba hitam tampak mengendap-endap, dia lalu mengetuk pintu kamar perawatan Aini.
TOK TOK TOK
"Permisi, ada kiriman makanan." kata laki-laki berbaju hitam tersebut lalu setelah mendengar langkah yang mendekat ke arah pintu, laki-laki berpakaian hitam tersebut kemudian bergegas bersembunyi di balik tembok. Laki-laki yang yang kini bersembunyi di balik tembok tersebut kini pun terkekeh. "Setelah Mba Laras memakan roti tersebut, dia pasti akan sangat mengantuk, lalu aku akan membawa pergi Aini dari rumah sakit ini."
Namun baru saja dia selesai berhenti berbicara tiba-tiba dua orang laki-laki bertubuh besar menghampirinya.
"Kau yang bernama Dimas kan?"
Dimas pun kini dilanda ketakutan.
"I.. Iya. Ada apa?" jawab Dimas sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Ayo ikut kami, kalau tidak kami akan menghabisimu." kata dua orang lelaki itu. Dimas yang begitu ketakutan lalu mengikuti kedua laki-laki itu masuk ke dalam sebuah mobil, apalagi salah seorang dari mereka mengancam Dimas dengan menggunakan sebuah pisau di samping perutnya.
Sementara Laras yang sudah mengambil kantong kresek tersebut kini tampak begitu kebingungan.
__ADS_1
"Kiriman makanan?" kata Laras. Dia lalu membuka kantong kresek tersebut yang berisi bolu chiffon cake.
"Siapa yang mengantarkan makanan ini? Apa Mba Olive? Atau Mba Calista tapi sebelum Mba Olive pulang dia sudah memberikan makanan untukku, sedangkan Mba Calista dia sedang pergi ke pesta, tidak mungkin dia sempat memesan kue bolu seperti ini. Ah lebih baik aku tidak usah memakannya terlebih dulu, mungkin pengirim makanan tersebut salah kamar." kata Laras sambil menaruh kantong kresek tersebut di atas meja. Di saat itulah tiba-tiba ponsel Laras pun berdering.
"Mba Calista." kata Laras saat melihat nama Calista di ponselnya. Dia lalu bergegas mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo Laras.] kata Calista dengan begitu gugup.
[Ya Mba Calista, ada apa?]
[Laras, apakah ada sesuatu yang mencurigakan?] tanya Calista dengan begitu berapi-api.
[Tidak ada apa-apa Mba Calista, hanya saja tiba-tiba ada seseorang yang mengantarkan kue. Apakah Mba Calista yang mengantar kue ini?]
[Oh tidak itu bukan aku. Laras tolong dengarkan aku lebih baik kau buang saja kue itu.]
[Hah dibuang mba, kan sayang?]
[Laras cepat turuti kata-kataku jika kau tidak ingin sesuatu terjadi pada Aini.]
[Sebenarnya apa yang sudah terjadi Mba?]
[Aku ceritakan besok, lebih baik sekarang kau jaga Aini baik-baik.]
[Iya Mba Calista.] jawab Laras kemudian menutup panggilan itu. Dia lalu membuang chiffon cake tersebut di tempat sampah.
"Sayang sekali." gerutu Laras.
π₯πΏπ₯β€οΈβ€οΈβ€οΈ
Roy tampak gusar di dalam kamarnya. Sudah beberapa kali dia berganti baju namun tetap saja dia tidak yakin dengan penampilannya.
"Ah tidak ini terlihat tua sekali." kata Roy saat mengenakan kemeja berwarna merah marun. Dia lalu mengganti pakaiannya dengan sebuah kaos berwarna cokelat.
"Ah tidak ini sepertinya juga tidak terlalu cocok di kulitku karena kulitku sedikit gelap."
Dia kemudian mengamati sebuah kaos berkerah berwarna biru dongker dengan bagian kerah dan ujung tangan bergaris putih.
"Lebih baik aku memakai ini saja, tidak terlalu tua dan bisa menonjolkan otot di lenganku, mungkin setelah melihat penampilanku saat ini Aini bisa jatuh cinta padaku." kata Roy sambil bercermin.
"Oh tidak kenapa tiba-tiba aku berkata seperti ini, bukankah aku akan pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan Darren kenapa aku sampai memiliki pikiran seperti ini? Oh tidak Roy sadarlah." kata Roy sambil mengusap kasar wajahnya.
TOK TOK TOK
"Masuk." jawab Roy.
__ADS_1
Namun baru saja Heni memasuki kamar tersebut, dia begitu terkejut karena melihat begitu banyak tumpukkan pakaian di atas tempat tidur Roy.
"ROYYYYYYY APA-APAAN INI!!! APA YANG SEBENARNYA TELAH TERJADI PADAMU!!! APA KAU TIDAK WARAS ROYYYY!!!" Teriak Heni dengan begitu menggema.