
"Delia, kami memahami bagaimana perasaanmu saat ini, tapi semua ini adalah konsekwensi yang harus ditanggung oleh Dimas karena perbuatannya."
"Tapi aku sedang mengandung anak dari Dimas, Firman."
"Ya, kami tahu itu. Tapi kami tidak bisa membantu banyak, mungkin kami bisa mempertemukanmu dengan Aini dan suaminya, namun kami tidak bisa membantumu membujuk mereka. Dimas telah begitu banyak menghancurkan kehidupan Aini, begitu banyak kejadian buruk yang Aini alami di dalam di dalam hidupnya karena ulah Dimas, dan perlu kau tahu. Karena perbuatan Dimas tempo hari, keadaan rahim Aini semakin memburuk akibat benturan keras saat Dimas menghempaskan tubuhnya ke tembok yang ada di gang tersebut."
"A... Apa maksudmu Vallen? Keadaan Aini semakin memburuk?"
"Ya, tadi aku baru saja bertemu dengan Aini dan memeriksa kondisi rahimnya, kondisi rahimnya semakin memburuk. Padahal sebelum kejadian itu, Aini telah mengalami perkembangan yang cukup bagus, sekarang bisa dibilang hanya keajaiban yang bisa menolongnya."
"Astaga," ucap Delia sambil menutup mulutnya.
"Dengarkan aku Delia, Dimas telah begitu banyak menghancurkan kehidupan Aini, dan sekarang kau meminta kemurahan hatinya? Aku sebenarnya tidak yakin tapi semua keputusan ada di tangan Aini dan Roy, dan aku akan mempertemukan kalian besok, besok tolong kau datang ke rumah sakitku pukul sepuluh pagi," ucap Vallen dengan ketus. Sedangkan Delia hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menangis.
Firman lalu memandang Vallen sambil menganggukkan kepalanya.
"Delia, kami permisi dulu. Saat ini Vallen sedang hamil muda, dia tidak boleh terlalu lelah."
Mendengar perkataan Firman, Delia lalu menganggkat kepalanya.
"Oh iya, terimakasih banyak kalian sudah mau datang menemuiku. Maaf aku sudah merepotkan kalian berdua."
"Tidak apa-apa Delia."
"Terimakasih banyak, Vallen. Besok aku datang ke kantormu pukul sepuluh pagi."
"Iya Delia, kutunggu kedatanganmu. Tapi maaf, aku tidak bisa membantu banyak, hanya itu yang bisa kulakukan untukmu."
"Tidak apa-apa, Vallen."
"Terimakasih."
"Ya, kami pulang dulu, Delia. Jaga kandunganmu, jangan terlalu banyak berfikir berat, serahkan semuanya pada Tuhan."
"Iya Vallen, sekali lagi terimakasih, hati-hati di jalan."
"Iya," jawab Vallen dan Firman bersamaan, sambil keluar dari rumah itu.
"Benar kan apa yang kuduga, sayang. Dia pasti meminta bantuanku untuk bertemu dengan Aini," kata Vallen saat duduk di dalam mobil.
"Dan kau jadi sangat kesal?"
"Tentu saja, Firman! Mereka sangatlah egois, kau tahu sendiri kan bagaimana menderitanya Aini? Lalu Delia dengan mudahnya meminta Aini memaafkan Dimas, bahkan mengeluarkannya dari penjara. Egois sekali," gerutu Vallen.
"Kau benar sayang, sudah sepantasnya Dimas mendekam dalam penjara untuk membayar semua perbuatannya."
"Ya, dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Tapi itu semua keputusan ada di tangan Aini dan Roy. Kita lihat saja besok, semoga mereka tidak mau mengabulkan permintaan Delia."
__ADS_1
Vallen kemudian melirik pada Firman yang tersenyum melihatnya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
"Kau sangat menggemaskan kalau sedang marah, Vallen."
"Hahahaha, tentu saja. Aku memang selalu cantik dan menarik setiap saat, termasuk saat aku sedang kesal dan marah."
"Ya, lebih baik sekarang kita cepat pulang ke rumah, kalau begini aku sudah tidak sabar."
"Tidak sabar?"
"Tidak sabar untuk bermesraan denganmu."
"Hahahaha, FIRMAN!!!"
🍒🍒🍒
"Sebenarnya ada apa sayang? Kenapa tiba-tiba kau mengajakku ikut bertemu dengan Dokter Vallen? Bukankah biasanya kau lebih senang kontrol sendiri karena lebih bebas mengobrol dengan Dokter Vallen?" tanya Roy saat di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
"Oh tidak apa-apa mas, Dokter Vallen hanya ingin bertemu denganmu, mungkin ada yang ingin dia bicarakan."
"Semoga ini kabar baik ya sayang?" kata Roy sambil tersenyum.
Mendengar perkataan Roy, hati Aini pun terasa begitu sakit, dia kemudian menghembuskan nafas panjangnya sambil memegang dadanya.
'Maaf mas,' gumam Aini sambil meneteskan air matanya. Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit, dan langsung bergegas menuju ke ruangan Vallen.
"Oh, kalian sudah datang?"
"Ya," jawab Roy sambil menyunggingkan senyumnya.
'Astaga, aku bahkan tidak sanggup untuk mengatakan ini pada mereka berdua,' gumam Vallen sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Kita duduk saja di sofa, agar lebih santai," kata Vallen sambil mempersilahkan Roy dan Aini duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Iya," jawab Roy dan Aini lalu mengikuti Vallen duduk di sofa.
"Sebelumnya, aku ingin memberikan ini pada kalian," kata Vallen sambil memberikan sebuah undangan pernikahan.
"Emh, sebenarnya kami sudah menikah tapi baru secara siri, dan kami akan meresmikan pernikahan kami dua minggu lagi, sekaligus mengadakan resepsinya."
"Oh ya, kami pasti akan datang," jawab Roy sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak. Emmmh sebenarnya aku meminta kalian datang ke sini, untuk membicarakan kondisi rahim Aini saat ini."
"Ya, ada apa sebenarnya dengan kondisi rahim Aini Dokter?"
__ADS_1
"Emh, begini Roy. Sebenernya kondisi rahim Aini memburuk."
"Memburuk? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi Dokter Vallen? Bukankah selama ini Aini rajin melakukan kontrol dan selalu menjaga gaya hidup dan asupan makanannya? Selain itu di juga selalu meminum vitamin yang diberikan olehmu."
"Oh iya aku tahu itu, Roy. Sebenarnya kondisi Aini beberapa bulan terakhir mengalami peningkatan yang cukup baik, hanya saja tiba-tiba saat melakukan pengecekan terakhir kemarin, kondisi rahimnya tidak seperti sebelumnya, kondisi rahim Aini memburuk, dan ini sangat mengecilkan kemungkinan Aini untuk tidak bisa hamil lagi bahkan untuk selama-lamanya."
"Astaga," kata Roy sambil mengusap kasar wajahnya. Raut sedih dan cemas pun begitu tergambar di wajahnya. Sedangkan Aini hanya menundukkan kepalanya sambil meneteskan air matanya.
"Aku menduga ini terjadi karena diakibatkan benturan yang cukup keras."
"Benturan yang cukup keras?"
"Ya, dan saat aku menanyakan pada Aini apakah dia telah mengalami suatu kejadian yang membuatnya mengalami benturan pada tubuhnya, Aini mengatakan jika saat akan diperkosa oleh Dimas, tubuhnya dihempaskan oleh Dimas pada tembok hingga mengalami benturan yang cukup keras."
"Jadi menurutmu semua ini terjadi karena Dimas?"
"Ya, maafkan aku Roy jika aku harus mengatakan semua ini. Aku yakin kalian pasti kecewa, tapi inilah kenyataan sebenarnya yang harus kusampaikan pada kalian."
"Ya, kami tahu itu Dokter Vallen. Lalu apa yang harus kami lakukan?"
"Aku akan tetap mencoba melakukan pengobatan pada Aini, aku akan berjuang semampuku dan aku juga akan berjuang semaksimal mungkin untuk membantu kalian. Aku janji akan melakukan yang terbaik untuk Aini," kata Vallen sambil menatap Roy dan Aini bergantian dengan tatapan mata yang begitu hangat. Mendengar perkataan Vallen, Aini lalu bangkit dari sofa lalu memeluk Vallen sambil menangis.
"Terimakasih banyak Vallen, terimakasih banyak. Selama ini kau sudah berusaha tapi aku yang tidak bisa menjaga kondisi kesehatanku sendiri, saat itu aku terlalu menuruti emosiku meninggalkan Mas Roy yang akhirnya merugikan diriku sendiri."
"Aini, sudahlah jangan menyalakan diri sendiri, sekarang bukan waktunya untuk menyesali kesalahan tapi sekarang waktunya untuk berjuang kembali, aku yakin suatu saat kau pasti bisa hamil."
"Ya, entah kapan."
Roy lalu mendekat pada Aini. "Aku memang kecewa harapanku untuk memiliki anak darimu seakan musnah begitu saja, tapi aku tidak mempermasalahkan itu, rasa cintaku tidak akan pernah berkurang padamu, aku sangat mencintaimu. Kita harus menjalani takdir ini bersama, kita ikhlaskan saja dan serahkan semua pada Tuhan."
"Maafkan aku mas, aku sangatlah kekanak-kanakan dan bertindak gegabah."
"Tidak apa-apa, Aini. Sudahlah jangan dipikirkan, seperti yang sudah kubilang, kita serahkan semuanya pada Tuhan."
"Iya Aini, benar apa yang dikatakan oleh suamimu."
Vallen lalu mengarahkan pandangannya pada Hani.
"Hani, tolong ambilkan minum untuk mereka."
"Iya Dokter."
Hani lalu menyuguhkan dua cangkir teh camomile untuk Roy dan Aini.
"Silahkan diminum."
"Terimakasih Dokter Vallen."
__ADS_1
Roy dan Aini lalu meminum teh tersebut, saat mereka baru saja selesai meletakkan gelas teh tersebut, tiba-tiba sebuah ketukan pintu pun terdengar.
TOK TOK TOK