
"Roy, dimana Aini?" tanya Olivia dengan begitu panik.
"Di dalam." jawab Roy lirih.
"Di dalam ruangan ini maksudmu?" tanya Olivia lagi.
"Ya." jawab Roy dengan begitu lirih.
"Untuk apa?" tanya Olivia, namun Roy kembali terdiam.
"Roy, kau kenapa? Sebenarnya apa yang telah terjadi, kenapa kau tampak begitu bingung?"
"Olive, Aini ada di dalam untuk memberikan ASI untuk putraku." jawab Roy sambil meneteskan air mata.
"Apa maksudmu, Roy? Aini memberikan ASI untuk putramu?"
"Iya Olive."
"Ta.. Tapi bagaimana mungkin ini bisa terjadi?"
"Dia sendiri yang meminta, tadi seorang perawat datang padaku dan memintaku untuk membelikan susu formula, tapi saat aku akan pergi untuk membeli susu formula tiba-tiba Aini mencegatku dan memintaku agar memperbolehkannya memberikan ASI nya untuk putraku."
"Astaga." kata Olivia sambil menutup mulutnya, dia lalu memandang David dengan tatapan kosong.
"Tidak apa, Olive. Kehilangan seorang anak merupakan hal yang begitu berat bagi Aini, mungkin dengan memberikan kasih sayangnya pada bayi lain yang membutuhkan, akan memberi kebahagiaan tersendiri bagi Aini, ini sebenarnya salah satu bentuk hal yang bagus untuk mengurangi stres akibat rasa sedih dan tekanan yang dia rasakan." kata David pada Olivia dan Roy.
"Iya David, semoga rasa sedih Aini sedikit berkurang."
"Ya, semoga saja. Olive, Roy saya sedang ada urusan, saya permisi dulu jika kalian membutuhkan sesuatu kalian bisa menghubungi saya."
"Iya David, terimakasih banyak." kata Olivia.
"Terimakasih Dokter David." kata Roy ikut menimpali.
David lalu tersenyum kemudian meninggalkan Roy dan Olivia yang sedang menunggu Aini memberikan ASI untuk anak Roy di dalam ruang perawatan bayi. Beberapa saat kemudian, Aini pun keluar dari ruangan tersebut dengan raut wajah yang berseri.
"Mba Olive ada di sini?" tanya Aini.
"Ya, tadi Mba Olive ke minimarket untuk membeli makanan untukmu tapi saat Mba kembali, kau sudah tidak ada di kamar."
"Iya Mba Olive, maaf. Tadi malam aku memang yang meminta pada Roy untuk mengantarkanku bertemu dengan putranya."
"Iya mba tahu itu, lalu kau juga yang meminta pada Roy untuk memberikan ASI mu untuk putranya kan?"
__ADS_1
Aini pun kemudian mengangguk.
"Lalu apakah kau bahagia?"
Aini pun sedikit terkejut mendengar pertanyaan Olivia, dia lalu terdiam kemudian menundukkan kepalanya.
"Tidak usah malu, katakan saja yang sebenarnya apa kau bahagia?"
"Ya, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan bayi itu dan memberikan ASI untuknya." jawab Aini sambil tersenyum.
Roy pun kemudian menatap Aini yang kini terlihat begitu bahagia.
"Tapi dia bukan putramu, Aini. Mungkin saat masih berada di rumah sakit kau masih bisa bebas bertemu dengannya tapi bagaimana jika kau dan putranya Roy sudah tidak dirawat lagi di rumah sakit ini? Kau juga harus memikirkan itu, Aini."
"Ya, aku tahu itu Mba Olive. Tapi meskipun suatu saat kamu berpisah, setidaknya untuk saat ini aku bisa merasakan rasanya menjadi seorang ibu karena sepanjang hidupku mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu." kata Aini sambil meneteskan air matanya. Mendengar perkataan Aini, Olivia pun dihinggapi perasaan bersalah karena mengatakan hal seperti itu padanya. Olivia lalu menatap Roy yang kini duduk sambil menatap mereka. Roy lalu mendekat pada Aini.
"Dengarkan aku, meskipun kau dan putraku sudah tidak lagi dirawat di rumah sakit ini, kau tetap boleh bertemu dengan putraku kapanpun kau mau."
"Benarkah?"
"Ya." jawab Roy sambil menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih banyak."
"Iya." jawab Olivia lalu mendorong kursi roda Aini.
Roy pun kemudian mengikutimu mereka berjalan di belakangnya.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Aini pada Olivia dan Roy.
"Ya, Roy adalah teman Mas Kenan."
"Oh, kenapa tiba-tiba jadi kebetulan seperti ini?" kata Aini sambil tersenyum.
"Ya, mungkin sudah takdir dari Tuhan." jawab Olivia.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di kamar perawatan Aini.
"Aini, sebaiknya sekarang kau beristirahat. Kau sudah terlalu banyak bergerak, itu tidak baik untukmu. Ingat luka operasi di perutmu belum sembuh. Kau tidak ingin sakit kan? Jika kau sakit, kau tidak bisa memberikan ASI mu lagi untuk bayi itu."
"Iya Mba Olive, Aini akan istirahat sekarang." kata Aini kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Setelah Aini tertidur, Olivia lalu mendekat pada Roy yang kini duduk di sofa di dalam ruang perawatan itu.
"Apa kau yakin dengan keputusan untuk mendekatkan Aini dengan putramu?"
__ADS_1
"Ya, aku yakin Olive. Hidup Aini hancur itu semua karena diriku, jadi aku harus bertanggung jawab untuk mengembalikan kebahagiaan yang hilang darinya."
"Dengan cara seperti ini?"
"Ya, karena hanya dengan cara itu aku bisa memberikan kebahagiaan bagi Aini, memberikan kebahagiaan seorang wanita yang kehilangan putranya adalah dengan cara memberikan pengganti untuknya."
"Jadi kau sebut anakmu itu sebagai pengganti putra Aini yang sudah meninggal?"
"Bukan seperti itu maksudku, Olive tapi dengan adanya kehadiran putraku dalam hidupnya setidaknya bisa sedikit menghapus rasa sedih yang dirasakannya, bukankah tadi kau sudah mendengar jika dokter David pun mengatakan hal yang sama sepertiku?"
Olivia pun mengangguk. "Ya, aku juga tahu itu, namun sebenarnya ada satu hal yang begitu aku khawatirkan."
"Apa Olive?"
"Kehidupan rumah tangga Aini dan suaminya tidaklah bahagia."
"Ya, aku sudah pernah mendengarnya. Mungkin mereka masih muda jadi kondisi psikologis mereka belum begitu stabil hingga menyebabkan mereka sering bertengkar."
"Bukan, bukan itu, bukan pertengkaran, yang menyebabkan rumah tangga mereka tidak bahagia, ada hal lain, Roy."
"Apa Itu, Olive?"
"Dia tidak bahagia menjalani rumah tangga dengan suaminya karena dia tidak pernah mencintai suaminya, yang ada di dalam hati Aini hanyalah rasa dendam pada suaminya."
"Kenapa hal itu bisa terjadi Olive, bagaimana mungkin seorang istri bisa menyimpan dendam pada suaminya?"
"Tapi itulah kenyataannya, rasa dendam itu memenuhi isi hatinya karena orang yang Aini cintai gagal menikahinya karena harus menikah dengan wanita lain akibat fitnah yang dilakukan oleh suami Aini."
"Astaga."
"Tidak hanya itu Roy, selain memfitnah kekasih Aini, suami Aini juga memperko*anya sebelum mereka menikah."
"Astaga, dia benar-benar sungguh keterlaluan, dasar laki-laki biadab."
"Ya karena itulah Aini begitu membenci suaminya."
"Lalu apa hubungannya denganku? Apa yang kau takutkan jika Aini ikut mengasuh putraku?"
"Roy, jangan pernah sepelekan perasaan seorang wanita, perasaan seorang wanita itu begitu halus, saat Aini ikut mengasuh putramu, bagaimana jika suatu saat dia terpaut hati padamu? Bagaimana jika suatu saat Aini jatuh cinta padamu?" tanya Olivia pada Roy yang membuat Roy terdiam.
Note:
Maaf ya dear, othor lagi Crazy Up di novel sebelah jadi up nya telat & ga bisa up banyak.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mampir, love you dear 😘❤️