Salah Kamar

Salah Kamar
Benar-benar Jodoh


__ADS_3

Olivia duduk di depan ruangan UGD dengan raut wajah yang begitu sendu. Calista pun memeluk Olivia yang kini menyenderkan kepalanya di atas pundaknya sambil sesekali menghapus air mata Olivia. Sedangkan Leo kini terlihat mondar-mandir di depan ruangan sambil mengusap kasar wajahnya. Beberapa saat kemudian, tampak David berlari kecil mendekat ke arah mereka.


"Leo apa yang sebenarnya sudah terjadi?"


"David, adik iparku tertusuk pisau."


"Apa? bagaimana ini bisa terjadi? Apa sesuatu telah terjadi pada kalian?"


"Panjang ceritanya, David. Bisakah kau memberitahu pada kami bagaimana keadaan Kenan?"


"Sebentar, aku masuk dulu ke dalam." kata David kemudian berjalan masuk ke dalam ruang UGD.


Leo pun sesekali mengintip David yang kini tampak berbicara dengan salah seorang dokter yang sedang menangani Kenan. Tak berapa lama, dia pun kemudian keluar dari ruang UGD dan menghampiri Leo. Olivia dan Calista pun ikut mendekat pada David.


"Dokter David, tolong cepat katakan bagaimana keadaan suami saya?" tanya Olivia sambil terus menangis.


"Emh begini, sebenarnya lukanya tidak terlalu dalam karena pisau yang pelaku gunakan hanyalah sebuah pisau kecil, tapi suami anda mengalami pendarahan yang cukup banyak, tapi untungnya dia cepat dibawa ke rumah sakit sehingga dia bisa cepat tertolong sebelum semakin banyak darah yang keluar. Lukanya juga sudah dijahit, kita tunggu saja sampai dia sadar."


"Jadi Kenan tidak apa-apa kan?" tanya Leo.


"Tidak, karena bagian yang terkena pisau itu hanya di sekitar lemak bawah kulit tidak masuk ke dalam. Kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi dia akan sadar." kata David sambil tersenyum.


Olivia pun menghembuskan nafas panjang sambil melirik Calista. "Aku yakin Kenan akan baik-baik saja, Olive." kata Calista sambil menggenggam tangan Olivia.


Mereka berempat akhirnya duduk di depan ruang UGD. Kini wajah mereka tampak begitu lega.


"Leo, sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya David.


"David, ini Olivia adik Calista, dan suaminya Kenan, selama satu bulan terakhir ini mereka mengalami teror dalam rumah tangga mereka."


"Apa? Teror?"


"Ya, awalnya mereka mendapat kiriman bunga dari seseorang untuk Olivia, di dalam bunga itu ada sebuah kertas bertuliskan jika pengirim bunga tersebut masih mencintai Olivia."


"Benar-benar kurang ajar."


"Iya David, tidak hanya itu selang beberapa hari mereka juga mendapat kiriman seekor bangkai ayam tanpa kepala yang berisi ancaman akan membunuh Kenan seperti bangkai ayam tersebut."


"Leo ini serius dan tidak bisa dibiarkan."

__ADS_1


"Iya David, karena itulah aku dan Kenan berusaha menyelidiki pelakunya, namun saat kami memergoki aksinya dia melukai Kenan dan seorang security di rumah kami."


"Dasar sakit jiwa!"


"Ya, aku juga berfikir seperti itu, pasti dia mengalami sedikit gangguan psikologis."


"Kau benar Leo, dia seperti Rima yang sedikit mengalami gangguan psikologis akibat trauma masa lalu ataupun kesehatan mental yang sedikit terganggu."


"Iya David."


"Lalu apakah ada seseorang yang kalian curigai?"


Leo pun kemudian melirik pada Calista dan Olivia. Mereka pun mengangguk. "Iya David, ada seseorang yang kami curigai."


"Apa itu orang terdekat kalian?"


"Ya, bahkan kau pun mengenalnya."


"Aku mengenalnya? Siapa dia?" tanya David sambil mengerutkan keningnya.


"Ilham."


"Ya Ilham, kami memang belum memiliki bukti yang konkret tapi kami yakin dialah pelakunya."


"Pantas saja saat di ruanganku dia pernah mengatakan jika dia sebenarnya mencintai seorang wanita tapi dia tidak mau mengejar cintanya karena ingin memenuhi janjinya pada ayahnya Rima."


"Dia mengatakan seperti itu?" tanya Leo kembali.


"Ya, dan aku benar-benar tak menyangka dia bisa berbuat seperti ini."


"Iya David, kita semua telah tertipu oleh kepolosannya."


"Sama seperti Rima. Hahahaha."


"Mereka memang benar-benar jodoh. Hahahaha."


Leo dan David kemudian tertawa terbahak-bahak. Calista yang melihat mereka tertawa lalu mendekat pada Leo.


"Kenapa kalian malah tertawa? Apa kalian tidak memikirkan bagaimana nasib Rima jika hidup dengan seorang psikopat seperti Ilham?"

__ADS_1


Seketika tawa Leo dan David pun terhenti. "Kau benar juga Calista, bagaimana nasib Rima sekarang?" kata Leo sambil menelan ludah kasar.


🌸🌸🌸


Ilham meninggalkan Rima lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti bajunya. Rima yang masih ketakutan lalu berusaha sekuat tenaga berjalan keluar dari dalam kamar dengan begitu tertatih.


'Aku harus pergi dari rumah ini.' kata Rima dalam hati. Dia lalu membuka pintu rumah itu dan mulai berjalan keluar.


"Aku harus pergi ke rumah Leo sebelum Ilham menemukanku." kata Rima sambil merogoh saku bajunya. Namun saat itu juga dia baru tersadar jika ponselnya tertinggal di dalam rumah.


"Sial, ponselku tertinggal di dalam rumah." kata Rima dengan wajah begitu masam.


Dia lalu melangkahkan kakinya kembali berjalan menjauhi rumah kontrakan Ilham. Namun saat itu juga tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Kaki Rima yang belum sembuh terasa begitu sakit saat dinginnya hujan terasa begitu menusuk tulangnya yang sakit.


"Astaga sakit sekali." kata Rima sambil menangis. Di saat itu juga tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya.


Perlahan Rima pun menengokkan kepalanya, dan melihat Ilham yang kini berdiri di belakangnya sambil tersenyum menyeringai.


"Kau mau kemana Rima sayang?" tanya Ilham.


"Il... Ilham, aku mau ke warung membeli makanan. Perutku tiba-tiba sangat lapar." kata Rima dengan begitu gugup.


"Hahahaha, kau jangan berbohong padaku Rima. Sekarang cepat ikut aku pulang." kata Ilham sambil menarik tangan Rima dengan begitu kasar.


"Pelan-pelan Ilham, kakiku sedang sakit." teriak Rima.


"Jika kakimu sedang sakit mengapa kau harus pergi dari rumah? Bukankah kau sudah berjanji akan selalu menuruti kata-kataku!" bentak Ilham.


Rima pun hanya terdiam sambil terus berjalan dengan menahan rasa sakit. Tak berapa lama mereka pun sudah sampai di rumah, Ilham langsung menarik tubuh Rima ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


"Cepat ganti bajumu! Aku tidak ingin kau sakit karena akan semakin merepotkanku!" teriak Ilham sambil meninggalkan Rima di dalam kamar. Perlahan Rima pun bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah lemari, namun karena kakinya kini sudah terasa begitu sakit langkahnya kemudian menabrak lemari yang akan dia buka. Seketika kotak kecil milik Ilham yang dia letakkan di atas lemari pun kembali terjatuh. Rima lalu mengambil kotak tersebut dan berniat menaruhnya di atas lemari kembali. Namun rasa penasaran akhirnya membuat Rima mengurungkan niatnya. Perlahan dia membuka kotak tersebut, dan begitu terkejutnya dia saat melihat isi kotak tersebut adalah foto-foto Olivia.


"Astaga, kenapa banyak sekali foto Olivia?" kata Rima sambil melihat foto Olivia satu per satu.


"Apa ini? Kenapa ada foto Kenan yang dicoret-coret?" kata Rima kembali kemudian menutup mulutnya.


'Apakah seseorang yang Ilham sukai adalah Olivia? Jika dia menyukai Olivia kenapa dia mau menikah denganku? Apa dia benar-benar hanya ingin balas dendam padaku? Kenapa aku harus tahu semua kenyataan ini saat rasa cinta ini mulai tumbuh begitu dalam?' kata Rima dalam hati sambil terisak.


Note:

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak ya dear, love you all 😘


__ADS_2