Salah Kamar

Salah Kamar
Sebuah Senyuman


__ADS_3

BUGHHHH BUGHHHHH


Leo lalu mendekat pada tubuh Dimas yang kini telah terkapar. "Bagaimana anak ingusan? Apa kau masih tetap keras kepala?"


"CUIH! TIDAK ADA DALAM KAMUSKU UNTUK MENYERAH! APALAGI PADA ORANG SEPERTI KALIAN!"


Leo lalu melirik pada Calista. "Dia memang benar-benar anak yang keras kepala, Calista."


Calista pun hanya tersenyum.


"Mungkin dia lebih memilih gengsinya daripada nyawanya."


"Apa kau bilang, Calista! Jadi kau ingin membunuhku? Lakukan saja jika itu bisa membuat kalian merasa puas! Tapi perlu kalian ingat, aku tidak akan pernah menyerah pada orang seperti kalian! Dan lihat saja kalian tidak akan pernah bisa hidup tenang karena sudah mengusik orang dari keluarga terpandang seperti keluargaku!"


Leo dan Calista pun tersenyum.


"Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga Dimas, tapi sungguh aku tidak mau mengotori tanganku, tanganku terlalu berharga jika sampai menyentuh darahmu yang kotor itu."


"Bilang saja sebenarnya kau takut padaku! Kalian pasti takut pada kekuasaan keluargaku!"


Mendengar perkataan Dimas, Leo dan Calista pun tertawa.


"Calista, apa kau tahu siapa orang tuanya?"


"Tentu saja Leo, ayahnya bernama Leman Prihatmojo, dia adalah pengusaha meubel, barang antik, dan ukiran kayu."


"Kau dengar sendiri kan Leo, orang tuaku bukanlah orang sembarangan!"


"Hahahaha, bukan orang sembarangan katamu, baik jika orang tuamu bukan orang sembarangan aku akan sedikit bermain-main dengan orang tuamu." kata Leo dia lalu mengambil ponselnya.


"Hei apa yang akan kau lakukan! Jangan coba-coba bermain-main dengan orang tuaku atau kau akan menyesal!"


Namun Leo tetap berbicara sambil sesekali tertawa dengan beberapa orang yang dia hubungi di telepon. Dimas pun semakin penasaran dengan apa yang diperbuat Leo, hingga akhirnya Leo pun selesai berbicara. Dia kemudian mendekat pada Dimas.


"Ayahmu Leman Prihatmojo kan?"


"Ya! Memangnya kenapa? Apa kau takut?"


"Kau yang seharusnya takut padaku, bersiaplah mulai hari ini usaha orang tuamu akan segera gulung tikar karena aku sudah menghubungi semua distributor dan eksportir yang menampung semua hasil kerajinan milik ayahmu agar mereka menghentikan kerjasamanya dengan Ayahmu." kata Leo sambil tersenyum kecut. Dia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan ikatan Dimas.


"Heh memangnya kau siapa bisa mengatur bisnis keluargaku!"


"Itu tidak penting bagimu, seperti permintaanmu, sekarang aku akan melepaskanmu tapi kau juga harus bersiap hidup dengan kemiskinan yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya."


"DASAR BRENGSEK KAU LEO!!"


"Lihat Calista, dia masih saja keras kepala." kata Leo sambil tersenyum.


"Memang begitulah sifatnya, sudah biarkan saja lebih baik kita pergi saja dari sini Leo, biarkan dia mengurus dirinya sendiri."

__ADS_1


"Iya Calista, ayo kita pergi."


"Hei tunggu!! Tunggu dulu!"


Leo dan Calista pun membalikkan tubuhnya.


"Ada urusan apa lagi?"


"Apa usaha orang tuaku kini benar-benar hancur karena kalian?"


Leo dan Calista pun tersenyum. "Dimas bukankah kemarin sudah kukatakan padamu jika suamiku jauh lebih tampan, kaya, dan berpengaruh dibandingkan dirimu, mematikan usaha orang tuamu sangat mudah bagi suamiku, kalau kau tak percaya lebih baik sekarang kau telepon orang tuamu, aku yakin mereka pasti sedang kebingungan karena partner bisnisnya memutuskan hubungan kerja sama mereka begitu saja."


Mendengar kata-kata Calista, Dimas pun terlihat panik, dia lalu mengambil ponselnya lalu menghubungi orang tuanya. Leo dan Calista pun hanya tersenyum saat melihat raut wajah kepanikan saat Dimas menelepon orang tuanya.


"Bagaimana? Apakah kami berbohong padamu?" tanya Calista saat Dimas selesai menelepon orang tuanya.


"Kalian benar, semua partner bisnis orang tuaku memutuskan hubungan kerjasama mereka." jawab Dimas dengan lemas.


Dimas lalu termenung dengan tatapan kosong.


"Aku minta maaf." kata Dimas.


"Aku minta maaf, aku minta maaf atas semua sikapku, aku ingin benar-benar minta maaf tapi tolong jangan kau usik kehidupan orang tuaku, tolong jangan buat usahanya hancur karena harus menanggung perbuatan yang telah kulakukan."


"Apa kata-katamu bisa kupegang?" tanya Leo. Dimas pun mengangguk lemas.


"Ya, aku akan melakukan apapun yang kalian perintahkan, aku akan pergi dari sini, aku juga tidak akan mengusik kembali kehidupan Aini, aku mau bercerai dengannya, yang terpenting kalian jangan menghancurkan bisnis keluargaku."


Calista pun tersenyum, dia lalu mendekat pada Dimas.


"Tanda tangani semua berkas-berkas ini." kata Calista.


"Apa ini?"


"Surat pernyataan darimu agar tidak menggangu kehidupan Aini lagi sekaligus surat persetujuan cerai." kata Calista sambil tersenyum.


Dimas pun begitu kaget harus menandatangani surat-surat tersebut, namun dia tidak punya pilihan. Dia kemudian menandatangani berkas-berkas tersebut dengan terpaksa.


"Ini sudah selesai." kata Dimas sambil menyerahkan berkas tersebut pada Calista.


"Baik, sekarang juga aku akan menyuruh partner bisnis ayahmu untuk kembali bekerja sama dengan keluargamu." kata Leo kemudian sibuk menelepon beberapa orang. Dimas pun kini menghembuskan nafasnya dengan lega, hingga beberapa saat kemudian Leo pun selesai.


"Sudah selesai, sekarang kau pulanglah, anak buahku akan mengantarmu ke bandara." kata Leo.


"Ayo Calista, kita pergi dari sini." kata Leo sambil menggandeng tangan Calista.


Dimas yang kini tubuhnya penuh luka pun hanya bisa menatap kepergian Leo dan Calista dengan tatapan tajam. 'Kurang ajar, aku benar-benar kalah telak hingga tidak bisa berbuat apapun untuk melawan mereka.' kata Dimas dalam hati.


πŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€πŸ₯€πŸŒΏ

__ADS_1


Aini keluar dari ruang bayi lalu mendekat pada Roy yang sedang duduk menunggunya di depan ruangan.


"Kau sudah selesai, Aini."


"Iya Roy, ayo kita masuk ke dalam."


Roy pun menganggukkan kepalanya.


"Lihat itu Darren sedang meminum ASI yang kuberikan untuknya."


"Iya Aini, lihat dia sangat lahap meminum ASI mu."


"Iya, semoga tubuhnya cepat membesar agar bisa secepatnya keluar dari inkubator itu."


"Iya Aini."


"Lihat Roy, dia tersenyum."


"Iya Aini, mungkin dia menganggap kita berdua adalah orang tuanya, aku ayahnya dan kau ibunya." kata Roy sambil tersenyum. Mendengar perkataan Roy, Aini pun kemudian memandangnya.


"Roy."


"Oh... E.. Maaf Aini, aku tidak sengaja mengatakan semua itu."


'Astaga, sepertinya aku salah berbicara.' kata Roy di dalam hati.


"Maaf Aini." kata Roy kembali dengan begitu salah tingkah. Namun Aini hanya tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum Aini?"


"Tidak apa-apa, sikapmu hanya terlihat lucu beberapa hari ini, tidak seperti saat pertama kali aku bertemu denganmu."


"Benarkah?"


"Ya, aku senang melihatmu yang sekarang Roy, jauh lebih ceria dan bersemangat. Aku juga senang jika Darren menganggapku sebagai ibunya."


"Iya Aini terimakasih, tapi bagaimana dengan suamimu? Apa dia tidak keberatan dengan semua ini?"


Aini kemudian tersenyum kecut. "Tidak usah kau pikirkan, karena sebentar aku akan bercerai dengannya. Mba Calista yang sedang mengurus perceraian kami."


"Yeah." teriak Roy secara spontan.


"Kau kenapa Roy? Kenapa tiba-tiba kau berteriak?"


"Ohh.. O... Itu karena aku melihat Darren sedang tersenyum lagi pada kita berdua." jawab Roy dengan begitu gugup.


"Oh."


'Hampir saja.' kata Roy dalam hati sambil mengusap kasar wajahnya lalu melirik Aini yang kini sedang tersenyum saat melihat Darren.

__ADS_1


'Senyuman itu selalu saja membuat hatiku merasa bergetar.'


"ROYYYYY!!" tiba-tiba sebuah teriakkan dibelakang mereka pun begitu mengagetkan Aini dan Roy.


__ADS_2