Salah Kamar

Salah Kamar
Kekasih Vallen


__ADS_3

Vallen sudah menyelesaikan sarapannya kemudian melihat ke sekelilingnya. Lalu netranya tertuju pada sepasang suami istri yang membawa seorang bayi yang kira-kira berusia dua bulan yang seringkali bertengkar sejak tadi malam kini terlihat begitu akur dan saling menyayangi. Sang istri tampak sedang menyusui putri kecil mereka dan suaminya mengipasi sang anak yang sedikit kepanasan karena tidak ada AC di restoran itu. Sambil sesekali meledek putri kecil mereka yang bernama Shaden.


"Mungkin jika aku menikah dengan Firman, kami akan seperti mereka yang seringkali bertengkar kemudian akur kembali." kata Vallen sambil tersenyum.


"Vallen, kau bicara apa?" tanya Stella yang duduk di sampingnya.


"Oh tidak apa-apa, aku hanya sedang melihat pasangan suami-istri itu."


"Oh itu Revan dan Giselle."


"Ya, mereka seringkali bertengkar lalu akur lagi." kata Vallen sambil terkekeh.


Stella pun tersenyum.


"Mereka memang seperti itu."


"Sungguh berbeda dengan Aini dan suaminya yang tampak begitu romantis. Mungkin karena suami Aini memiliki jarak usia yang cukup jauh dengan Aini sehingga dia bisa bersikap lebih dewasa dan memperlakukan istrinya dengan begitu istimewa."


"Vallen, setiap manusia memiliki sifat dan karakter yang berbeda begitupula saat menjalani rumah tangga, kita harus bisa saling memahami sifat pasangan kita masing-masing. Sedangkan cara setiap orang dalam mengungkapkan isi hatinya itu berbeda." kata Stella sambil melirik Vallen yang kini sedang melamun.


'Mungkin Firman juga begitu, cara mengekspresikan yang ada di dalam hatinya sangat berbeda dengan Rayhan yang begitu lembut.' gumam Vallen sambil tersenyum.


"Vallen, apa kau melamun lagi?"


"Vallen!!" bentak David.


"Iya Kak, iya aku dengar. Aku cuma sedang memikirkan sesuatu."


"Rayhan?"


"BUKANNNN!!!" teriak Vallen yang membuat Stella dan David tertawa.


"Kalian berdua benar-benar menyebalkan." gerutu Vallen. Dia kemudian melihat arloji di tangannya.


'Sudah hampir pukul sembilan pagi, sebaiknya aku pergi sekarang.'


"Kak David, Kak Stella, aku mau pergi bersama temanku, mungkin agak sedikit lama atau bahkan aku pulang sore hari."


"Pergi bersama teman? Apakah kau memiliki teman di tempat ini?"


"Bukan urusanmu Kak."


"Atau jangan-jangan kau sudah memiliki kekasih baru?"


"Ya, bisa saja seperti itu David karena sejak tadi dia selalu melamun dan memperhatikan semua pasangan yang ada di sini." kata Stella sambil terkekeh.


"Kalian tidak usah meledekku. Aku hanya pergi dengan temanku yang kebetulan bekerja di sini."


"Oh baguslah kalau begitu, setidaknya sepulang dari sini kau bisa melupakan sakit hatimu, jadi tidak sia-sia kami membawamu kemari." jawab David sambil tersenyum.


"Sepertinya begitu, aku cukup bersenang-senang disini dan sudah melupakan semua yang terjadi."


"Bagus Vallen, jadi kau bisa bekerja di rumah sakitku secepatnya kan?"


"Apa tidak ada pertanyaan lain selain itu? Aku pergi dulu." kata Vallen sambil mencibir dan pergi meninggalkan David dan Stella.


"Stella, apakah dia sedang jatuh cinta lagi?"


"Aku tidak tahu tapi sepertinya begitu."


"Bagus jika dia bisa mencintai laki-laki lain selain Rayhan, sudah tiga bulan terakhir ini dia selalu terpuruk."


"Semoga saja dia sudah menemukan pengganti di hatinya."


"Semoga saja."


💙💙💙💙💙


Vallen berjalan mendekat ke seorang lelaki yang sedang duduk di sebuah tempat duduk di tepi pantai.


"Kau sudah disini?"


Mendengar sebuah suara, Firman pun memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Kau sudah datang?"


"Ya, apa kau sudah lama menunggu?"


"Aku tadi keluar untuk sarapan, jadi aku langsung pergi kesini."


"Jadi kau sudah lama menunggu?"


"Itu tidak terlalu penting. Ayo kita pergi sekarang."


"Kemana?"


"Naik saja." jawab Firman sambil mempersilahkan Vallen untuk membonceng motornya.


"Naik ini?" tanya Vallen sambil mengerutkan keningnya melihat sebuah sepeda motor sport 150 cc.


Firman pun tersenyum.


"Nona Vallen, aku tidak memiliki sebuah mobil. Hanya ini yang kupunya. Kalau kau tidak mau, aku pergi sendiri saja."


"Oh tidak, tidak, maksudku aku tidak membawa jaket. Kau tidak mengatakan padaku akan pergi dengan motormu." jawab Vallen sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kau pakai jaketku saja."


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa."


"Benarkah?"


"Ya, sebaiknya kau tidak usah terlalu banyak bertanya. Kalau kau mau ikut, cepat naik sekarang."


"Iya... Iya, aku naik sekarang." gerutu Vallen kemudian naik ke atas sepeda motor tersebut.


'Dingin sekali, tidak ada lembut-lembutnya sama sekali.' gumam Vallen saat naik ke atas sepeda motor tersebut.


"Pegangan."


"Oh ya."


"Kita mau kemana?"


"Ke pulau kecil yang ada di dekat sini, tidak jauh mungkin hanya sekitar 45 menit. Kenapa? Apa kau takut aku akan menculikmu?"


"Apa kau tidak bisa berhenti berfikiran buruk padaku?"


Firman pun tersenyum.


"Lalu kenapa kau menanyakan seperti itu?"


"Bukankah kemarin kau mengatakan jika kau hanya seorang perantau yang baru datang di sini? Kenapa kau bisa tahu tempat seperti itu disini? Bagaimana jika kita tersesat?"


"Apa duniamu begitu sempit? Ini jaman canggih nona Vallen, semua orang bisa tahu keberadaan obyek wisata hanya melalui media sosial dan aplikasi di ponsel."


'Aduh, kenapa aku jadi terlihat bodoh seperti ini?' gumam Vallen sambil memonyongkan bibirnya.


"Kenapa kau diam?"


"Tidak apa-apa, hanya sedang menikmati pemandangan saja. Ini panas sekali, aku belum terlalu terbiasa dengan cuaca di sini."


"Memangnya sebelumnya kau tinggal dimana?"


"Aku baru saja menyelesaikan kuliah spesialisku di London."


"Oh, jadi kau seorang dokter?" tanya Firman sambil terkekeh.


"Ya, kenapa kau seperti mengejekku seperti itu?"


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak menyangka jika orang aneh sepertimu ternyata sangat pintar."


"Jadi kau meremehkan aku?"


"Tidak hanya sedikit terkejut. Kau kepanasan kan?"

__ADS_1


"Ya."


"Lebih baik kencangkan peganganmu, aku akan memacu motorku lebih cepat agar kau tidak kepanasan."


"Baik." jawab Vallen sambil mengencangkan pegangannya. Firman pun mengegas motornya lebih kencang yang membuat Vallen terkejut hingga berteriak.


"FIRMANNNNNN!!"


Setengah jam kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah pulau yang ada di Selat Sunda dengan hamparan pasir putih dan dihiasi tanaman bakau di pinggir pantai.


"Kita sudah sampai."


"Tempat yang bagus." kata Vallen saat turun dari motor Firman.


"Ayo kita duduk di sana, aku tidak ingin kau kepanasan."


"Ya." jawab Vallen sambil tersenyum.


Mereka lalu duduk di sebuah warung di tepi pantai tersebut. Namun baru saja mereka duduk, sebuah pesan masuk ke ponsel Vallen.


"Rayhan." kata Vallen, dia lalu membuka pesan tersebut.


"Vallen, how are you? I miss you so much. Maafkan aku Vallen.


Vallen pun mengabaikan pesan tersebut tapi saat akan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas tiba-tiba Rayhan menelponnya.


"Astaga." kata Vallen sambil mengusap kasar wajahnya.


"Kenapa tidak kau angkat saja teleponnya?"


"Tidak." kata Vallen sambil menggelengkan kepalanya.


"Memangnya dia siapa?"


"Mantan kekasihku."


"Bukannya itu bagus? Mungkin dia ingin kembali padamu."


"Tidak, aku tidak akan pernah kembali padanya?"


"Memangnya kenapa? Bukankah kau mencintainya?"


"Tidak, dia sudah memiliki istri. Tepatnya istri yang dipilihkan oleh orang tuanya."


"Jadi dia menikah dengan istrinya karena dijodohkan?"


"Ya, dan aku tidak ingin mengganggu kehidupan rumah tangganya. Aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya."


"Itu prinsip yang bagus."


"Ya, dia sudah memilih wanita itu menjadi istrinya dan dia harus memegang teguh janji yang diucapkannya saat menikahi wanita itu."


Firman pun tersenyum.


"Ternyata kau wanita yang pintar dan berprinsip."


"Tentu saja." jawab Vallen sambil tersenyum.


"Nona Vallen, lihat dia meneleponmu kembali."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Kau benar-benar tidak ingin berbicara dengannya?"


Vallen pun mengangguk.


"Biar aku saja yang menjawabnya." kata Firman sambil mengambil ponsel Vallen.


[Halo Vallen?]


[Ya halo, Vallen sedang sibuk jadi saya yang mengangkat ponselnya. Maaf apa ada yang bisa saya bantu?]


[Anda siapa?]

__ADS_1


[Oh saya Firman, kekasih Vallen.]


__ADS_2