Salah Kamar

Salah Kamar
Strategi


__ADS_3

"Mama....Kenapa mama berteriak-teriak seperti ini ma?"


"ROYYYYY APA KAMU TIDAK SADAR YANG TELAH KAU PERBUATAN!!! Lihat Roy, kamarmu seperti kapal pecah. Apa sebenarnya yang telah kau lakukan? Kenapa banyak sekali tumpukkan baju di atas tempat tidurmu, Roy?"


Roy pun kemudian tersipu malu dan terlihat salah tingkah.


"Tidak apa-apa ma, Roy hanya ingin mencoba baju-baju lama Roy yang sudah lama tidak terpakai. Ada beberapa baju yang Diana tidak suka jadi Roy cuma menyimpannya dan jarang memakainya, sekarang sudah tidak ada Diana jadi Roy ingin memakai pakaian itu lagi."


"Oh begitu, ah Diana memang terlalu suka mengatur, bahkan cara berpakaianmu sampai diatur olehnya. Benar-benar keterlaluan." gerutu Heni sambil menggelengkan kepalanya.


"Emh.. Iya ma."


"Ya sudah nanti biar Bi Sri yang rapikan. Lebih baik kau sekarang sarapan saja."


"Ma, sepertinya Roy tidak bisa sarapan di rumah, Roy sedang ada urusan yang sangat penting, jadi sepertinya Roy sarapan di luar saja."


"Oh ya sudah kalau begitu."


"Roy pergi dulu ma."


"Iya Roy, hati-hati di jalan."


Roy pun mengangguk, kemudian dia keluar dari kamarnya lalu bergegas menaiki mobilnya menuju ke rumah sakit.


Jarum jam baru saja menunjukkan pukul 07.30 pagi tapi pintu kamar perawatan Aini tiba-tiba sudah dibuka oleh seseorang.


CEKLEK


Aini dan Laras yang sedang berbincang-bincang pun begitu terkejut ketika pintu perawatan tersebut terbuka.


"Roy." kata Aini saat melihat Roy yang kini sudah memasuki kamar perawatan Aini. Roy pun tersenyum, sedangkan Aini dan Laras sedikit heran dengan penampilan Roy yang berbeda dari biasanya.


"Maaf, sepertinya aku datang terlalu pagi. Tadi aku ada urusan dengan temanku dan tidak sengaja lewat rumah sakit ini, jadi aku langsung mampir."


"Oh." jawab Aini dan Laras bersamaan.


"Ini aku juga bawakan sarapan untuk kalian berdua." kata Roy sambil memberikan beberapa paper bag pada Laras.


"Kau bawa makanan banyak sekali Roy."


"Oh ya, karena tadi aku juga membelikan untuk temanku tapi dia tidak mau jadi aku bawakan saja untuk kalian berdua. Kalau masih ada sisa kau bisa membawanya pulang untuk putramu, Laras."


Raut wajah Laras pun berubah menjadi berseri-seri. "Benarkah aku boleh membawa makanan ini untuk Dennis?"


"Tentu saja."

__ADS_1


"Wah terimakasih banyak Roy, ini makanan eropa yang sudah jarang kami makan, pasti Dennis dan Ramon senang sekali."


Roy pun tersenyum mendengar perkataan Laras.


"Iya Laras, kau bawa pulang saja untuk mereka."


"Baik Roy, terimakasih banyak. Emh Roy, apa kau tidak keberatan jika kau saja yang menunggu Laras sampai nanti siang Olive datang, aku ingin pulang secepatnya ke rumah dan memberikan makanan ini untuk Dennis dan Ramon."


"Oh tentu tidak, lagipula aku juga sedang tidak sibuk, aku masih memiliki cuti 2 hari dari kantor." jawab Roy sambil tersenyum.


"Aini, mba Laras pulang sekarang, kau ditemani Roy saja ya. Gapapa kan Aini?"


"O..Oh...Iya gapapa mba." jawab Aini.


'YESSS.' kata Roy dalam hati sambil tersenyum menyeringai.


"Ya sudah mba pulang dulu, Roy titip Aini ya."


"Iya Laras hati-hati di jalan."


Laras pun keluar dari kamar perawatan Aini. Roy pun kian gugup karena saat ini tinggal mereka berdua di ruangan tersebut.


"Aini apa kau sudah sarapan?"


"Kau harus sarapan Aini, kau sedang memberikan ASI pada Darren, kau harus mendapatkan asupan makanan yang cukup agar kualitas ASI mu terjaga."


"Kau benar Roy."


"Ya, kau makan makanan ini saja, aku tahu makanan rumah sakit itu tidak enak."


Aini pun tersenyum sambil mengangguk. Roy lalu membuka makanan yang dibawa olehnya.


"Kau mau apa? waffle, churros, atau avocado toast?"


Aini pun tertawa mendengar perkataan Roy.


"Kau kenapa tertawa, Aini?"


"Kau terlalu banyak membawakan makanan sampai aku pun bingung mau memakan yang mana terlebih dulu. Hahahaha."


Melihat tawa dan senyuman di wajah Aini, hati Roy pun bergetar. 'Senyuman ini, senyuman ini yang membuatku tiba-tiba tertarik padamu Aini, dan sekarang kau tersenyum dengan begitu manis di depanku. Sekarang aku pun tak tahu bagaimana caranya mengendalikan perasaanku.' gumam Roy dalam hati sambil terus menatap Aini.


"Roy.. Roy.. Roy, kau kenapa?" tanya Aini karena melihat Roy yang kini terus menatap wajahnya.


"O.. Oh tidak, aku hanya sedang memikirkan kata-katamu, aku terlalu banyak membawa makanan."

__ADS_1


"Oh iya." kata Aini dia lalu mengambil sebuah waffle lalu mulai memakannya.


"Roy, apakah kau sudah sarapan?"


"Belum."


"Oh jadi kau juga belum sarapan, lebih baik kita sarapan bersama-sama saja Roy."


"Iya Aini." jawab Roy. Dia lalu mengambil sebuah avocado toast. Roy yang kini duduk di samping Aini sambil menikmati sarapan pun sesekali melirik pada Aini yang kini sedang memakan sarapannya sambil tersenyum.


'Indah sekali pemandangan di depanku, Aini kenapa aku baru sadar jika kau ternyata sangat cantik. Astaga Roy, sadar dia masih memiliki suami, kau tidak pantas terlalu mengagumi yang masih menjadi milik orang lain.' kata Roy dalam hati sambil mengusap kasar wajahnya.


"Terimakasih banyak Roy, aku sudah selesai." kata Aini beberapa saat kemudian setelah menyelesaikan sarapannya.


"Oh iya Aini, aku juga sudah selesai. Kau istirahat saja dulu sebentar, setelah itu baru kita ke ruang perawatan Darren."


"Iya Roy." kata Aini sambil merebahkan tubuhnya.


Roy kemudian mengambil ponselnya lalu berpura-pura sibuk memainkan ponsel tersebut. Aini lalu memandang Roy yang kini terlihat serius mengetik sesuatu di ponselnya.


"Kau tampak berbeda, Roy." kata Aini.


Roy pun begitu terkejut mendengar perkataan Aini.


"Berbeda?" tanya Roy sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, sejak kemarin siang kau tampak berbeda, wajahmu saat ini lebih ceria dibandingkan sebelumnya." kata Aini sambil tersenyum.


Roy pun ikut tersenyum, dia lalu mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. "Aku hanya mencoba ikhlas menerima kenyataan, Aini." jawab Roy.


"Ikhlas? Jadi beberapa hari ini kau belum ikhlas menerima kenyataan atas kepergian istrimu?"


"Iya Aini, sebelumnya aku tidak pernah ikhlas dan belum rela Diana pergi meninggalkanku begitu saja. Aku selalu meratapi nasibku, bahkan aku berjanji untuk mencintai Diana saja sepanjang hidupku."


"Kenapa tiba-tiba kau berubah."


"Karena mama, tanpa kusadari selama ini aku sudah begitu banyak mengecewakan mama, melihat raut kesedihan dan keputusasaan di wajah mama, membuatku berfikir untuk mengubah prinsip hidupku."


"Bagus Roy kau akhirnya memiliki keberanian untuk tidak hidup dalam belenggu masa lalumu. Jadi kau sekarang sedang berusaha untuk membuka hatimu?"


"Ya, aku sedang berusaha membuka hatiku sampai aku benar-benar menemukan orang yang aku cintai, dan ternyata itu tidak sesulit yang kupikirkan." kata Roy sambil tersenyum.


"Tidak sesulit yang kau pikirkan? Apakah kau kini sedang menyukai seseorang, Roy?" tanya Aini yang membuat Roy tampak begitu gugup.


"Oh kalau itu... Emhh.. Itu.."

__ADS_1


__ADS_2