Salah Kamar

Salah Kamar
Memberi Pelajaran


__ADS_3

"Dimana Rima?" tanya Stella lirih.


"Stella kau baru saja selesai operasi, kenapa kau sudah menanyakan Rima? Keadaanmu masih sangat lemah, lebih baik kau memulihkan keadaanmu dulu "


"Aku sudah mendengarnya, aku sudah mendengar percakapan kalian berdua."


David dan Giselle pun kemudian saling bertatapan. "Kau sudah mendengar percakapan kami, Stella?"


"Ya, tolong pertemukan aku dengannya."


"Tapi Stella, dia akan kami bawa ke kantor polisi, dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan jahatnya. Dia yang sudah membuatmu keguguran, dia juga yang sudah membuat kondisimu semakin memburuk."


"David, aku hanya ingin kau mempertemukan aku dengannya."


"Baik, kami akan mempertemukanmu dengan Rima tapi setelah Revan dan Leo menemukannya. Tadi Rima melarikan diri, Stella." gerutu David.


Tiba-tiba ponsel David pun berbunyi.


"Dari Revan." kata David sambil bergantian menatap Giselle dan Stella.


"Cepat kau angkat David." kata Giselle.


David pun kemudian mengangkat panggilan telepon itu.


[Halo ada apa Revan?]


[Halo David, kami sudah menemukan Rima.]


[Kalian sudah menemukan Rima?] jawab David yang membuat Giselle dan Stella yang mendengarnya tampak begitu bahagia.


[Ya, bagaimana akan kita langsung bawa ke kantor polisi atau kau mau memberi pelajaran padanya David?]


[Stella ingin bertemu dengannya Revan, tolong bawa dia ke rumah sakit ini dulu sebelum kita memenjarakannya. Tapi tolong pastikan dia jangan sampai kabur lagi.]


[Iya David, kami ke sana sekarang.]


[Baik, terimakasih.]


David kemudian menutup teleponnya, dia lalu tersenyum pada Giselle dan Stella.


"Mereka sudah menemukan Rima, saat ini mereka sedang membawanya ke sini."


Stella dan Giselle pun tersenyum mendengar perkataan David.


'Bagus.' kata Stella dalam hati.


***


PLAK PLAK PLAK

__ADS_1


Leo beberapa kali menampar Rima, tubuhnya kini duduk di atas lantai dengan tangan yang telah terikat.


"Berani-beraninya kau mempermainkan kami! Kau tahu saat kau mengatakan orang tuaku telah menghancurkan kehidupan keluargamu, hatiku begitu hancur dan ingin memperbaiki semua kesalahan yang diperbuat oleh orang tuaku dengan menganggapmu sebagai adikku. Tapi ternyata kau berbohong pada kami semua! Semua yang kau ceritakan adalah palsu! Kau benar-benar wanita biadab karena telah mempermainkan kepercayaan yang kuberikan padamu!" bentak Leo.


"Sabar Leo." kata Calista sambil mengusap bahu Leo.


"Sabar katamu Calista? Wanita seperti ini harus diberi pelajaran yang setimpal!"


"Coba kau pikir, tega-teganya dia mengugurkan kandungan seseorang dan hampir saja membunuh seluruh keluarga Stella demi memenuhi ambisinya! Dasar wanita gila!"


Calista lalu memijit keningnya. "Benar juga apa yang kau katakan Leo, sejahat-jahatnya aku dulu, aku memang tidak pernah bermain-main dengan nyawa orang lain." kata Calista sambil tersenyum kecut.


Rima pun hanya bisa terdiam mendengar perkataan Leo dan Calista, saat ini yang dia rasakan hanyalah rasa takut. Beberapa saat kemudian Revan pun mendekat pada mereka.


"Bagaimana Revan, kau sudah menelepon David?" tanya Leo.


"Ya dia meminta Rima untuk dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu. Stella ingin bertemu dengannya."


"Baik, kita bawa dia sekarang."


"Kau sudah selesai memberi pelajaran pada nya?" tanya Revan sambil tersenyum.


"Sudah, sudah selesai." jawab Calista yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Leo.


"Belum Calista, aku belum selesai membuat perhitungan dengannya."


"Baik jika itu maumu, ayo bawa dia Revan." kata Leo kemudian Revan membantu Rima untuk berdiri.


"RAMON... RAMON." panggil Calista.


Beberapa saat kemudian Ramon pun datang, tapi dia tidak sendirian, sudah ada Laras yang kini bersamanya.


"Mba Calista, Mas Leo. Kalian ada di sini?" tanya Laras dengan raut wajah berbinar.


"Ya kami baru saja mengurusi penjahat yang tadi menumpang di mobil Ramon."


"Penjahat? Mana penjahatnya?" tanya Laras dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Itu." jawab Calista sambil menunjuk Rima.


Laras pun kini mengamati dengan seksama seorang wanita muda yang tangannya terikat dan diapit oleh Revan dan Leo.


"Apa kamu Rima?" kata Laras yang tampak sedikit mengenal sosok yang ada di hadapannya.


Rima pun mengangguk.


"Kamu kenal dia Ras?"


"Iya Mba, dia dulu tetangga Laras, saat dia berumur empat tahun dia hidup bersama ayahnya karena ibunya menjadi pembantu di Jakarta. Terus saat ibunya pulang ke Jogja, Laras dibawa pulang ibunya ke Jakarta dan orang tuanya berpisah. Yang Laras dengar dari orang-orang, ibunya Rima berselingkuh dengan laki-laki lain saat dia bekerja di Jakarta."

__ADS_1


"Tapi bagaimana kau bisa mengenal Rima? Bukankah Rima pergi dari desamu saat dia masih kecil?"


"Oh itu karena ayahnya Rima sering memperlihatkan foto-foto Rima saat dia kecil sampai dewasa. Panti asuhan tempat Rima dititipkan sering mengirimkan foto untuk ayahnya Laras. Dia sebenarnya ingin bertemu dengan putrinya tapi karena keterbatasan ekonomi dia pun tidak mampu untuk membawa Rima pulang dan hidup dengannya."


"Oh." jawab Calista singkat.


Mendengar cerita Laras, Rima pun kemudian mendekat pada Laras dan bersimpuh di hadapannya.


"Mba.. Mba Laras tolong saya. Cuma Mba Laras yang bisa menolong saya. Tolong bilang pada ayah tentang kondisi saya saat ini, saya didzolimi oleh mereka semua." teriak Rima.


"Rima jaga kata-katamu!" bentak Leo kemudian mendekat pada Rima dan menjambak rambutnya.


"Mba Laras lihat sendiri kan bagaimana mereka memperlakukan saya?" kata Rima lagi sambil menangis.


"DASAR WANITA BRENGSEK SIALAN BEDEBAH KAU LARAS!" teriak Calista yang mulai terpancing emosinya, kemudian dia mendekat pada Rima dan menamparnya.


PLAK PLAK PLAK


"Mba Laras, tolong bantu Rima, mba." kata Rima dengan begitu mengiba.


"Maaf Rima, saya lebih percaya pada Mba Calista dan Mas Leo, mereka tidak mungkin memperlakukanmu seperti ini jika tidak memiliki alasan yang jelas." jawab Laras.


"Tapi Mbaaaa."


"Aku akan memberitahu ayahmu, tapi aku tidak bisa memberikan pertolongan lebih padamu Rima." jawab Laras.


"Kau benar Laras, jangan pernah kasihan pada wanita seperti dia. Dia sudah membohongiku dan Leo mentah-mentah, mempermainkan kepercayaan yang kami berikan, bahkan dia tega menggugurkan kandungan seseorang dan hampir saja membunuh satu keluarga." kata Calista dengan sinis.


Laras pun sangat terkejut mendengar cerita Calista. "Aku tak menyangka kau tega berbuat seperti itu Rima. Padahal saat kau kecil, kau sangatlah manis." kata Laras sambil menatap tajam pada Rima.


"Mba Laras tolong jangan percaya kata-kata Calista."


PLAK PLAK PLAK


"DIAM KAU RIMA." bentak Leo.


***


"Kenapa kau ingin bertemu dengannya Stella?" tanya Giselle saat mereka hanya berduaan saja di ruangan itu karena David harus menyelesaikan pekerjaannya.


"Aku ingin memberinya pelajaran, Giselle."


"Pelajaran?"


"Ya, karena sekarang aku tahu wanita seperti apa itu Rima, dia begitu bebal. Penjara dan kekerasan tidak akan membuatnya jera, dia justru akan semakin menjadi-jadi."


"Lalu?"


"Aku akan memberinya pelajaran dengan caraku sendiri." kata Stella sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2