Salah Kamar

Salah Kamar
Anak Kita


__ADS_3

"Heiiii kalian kenapa? Kenapa kalian semua tiba-tiba bertingkah aneh seperti ini?" kata Nurma sambil melihat semua orang yang ada di ruangan itu.


"Oh iyu ma, tadi kami melihat Vallen ingin menginjak kaku Firman jadi kami berteriak, tapi ternyata Vallen terlebih dulu menginjak kaki Firman, kami terlambat," jawab Stella sambil meringis.


"Vallen!! Kau memang sangat ceroboh!! Kau senang sekali menginjak kaki suamimu sendiri! Mungkin seharusnya anak sepertimu harus mama rukyah saja agar kau lebih menghormati suamimu!" gerutu Nurma.


"Mama, sudah ma. Mungkin Vallen tidak sengaja, lebih baik kita makan malam sekarang, sepertinya Firman juga sudah lapar."


"Ya, kau benar David. Pasti Firman sudah lapar, iya kan Firman?" tanya Nurma sambil tersenyum.


"Oh, e iya ma."


"Ayo kita makan sekarang," kata Nurma, kemudian berjalan ke arah meja makan. Sementara Firman memalingkan pandangannya pada Vallen.


"Vallen, ada apa ini sebenarnya? Tadi mama mengatakan jika sudah tahu semuanya tentang hubungan kita. Tapi saat aku akan mengatakan statusku padanya, kenapa kalian malah mencegahku?"


"Firman, tidak semuanya mama ketahui. Dia hanya mengetahui jika kita sudah menikah karena melihat tespack yang ada di atas sofa."


"Tespack? Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku? Kapan kau melakukan tes itu?"


"Firman, aku baru saja membeli tespack itu saat kau kau pergi ke kantor, setelah melakukan tes itu dan melihat jika hasilnya positif aku langsung menelponmu."


"Jadi ini kejutan yang kau maksud saat meneleponku?"


Vallen pun mengangguk sambil tersenyum.


"Ya, dan di saat aku selesai meneleponmu tiba-tiba mama datang dan melihat tespack di atas sofa."


"Lalu apa mama tidak marah?"


"Tentu saja sangat marah, dia sangat marah bahkan selalu mendesakku untuk mengatakan siapa laki-laki yang sudah menghamiliku."


"Lalu kau katakan apa pada mama?"


"Saat aku mengatakan kaulah orang yang sudah menghamiliku, dia malah tidak percaya padaku. Apalagi saat aku mengatakan jika kita sudah menikah, dia sangat marah pada Kak David karena sudah mengambil keputusan secara sepihak."


"Lalu kenapa tiba-tiba mama berubah? Kenapa dia sekarang bersikap sangat baik pada kita?".

__ADS_1


"Oh itu karena ada Kak Stella. Kak Stella bisa meredam emosi mama, dia mencari berbagai alasan agar mama tidak marah pada kita."


"Oh syukurlah."


"Karena itulah, sebaiknya kau jangan bertindak dengan gegabah, Firman."


"Tapi bagaimanapun juga mama harus mengetahui kebenaran tentang statusku, Vallen."


"Iya iya sayang, tapi tidak sekarang. Apa kau mengerti?"


"Ya, tapi sebelum kita menikah secara resmi mama sudah harus terlebih dulu tahu kebenaran tentang statusku, apa kau tahu saat menjelang ijab qabul biasanya penghulu yang menikahkan kita akan membacakan statusku. Aku hanya tidak ingin ada masalah di kemudian hari jika mama terlambat mengetahuinya, Vallen."


"Iya, aku mengerti, nanti kupikirkan lagi semua ini."


"Baiklah."


"FIRMAN!! VALLEN!! KENAPA KALIAN MASIH DI SITU! APA KALIAN MAU MEMBUAT MAMA MATI KELAPARAN HANYA UNTUK MENUNGGU KALIAN BERDUA? KALAU KALIAN INGIN BERMESRAAN LEBIH BAIK NANTI SAJA SAAT KAMI SUDAH PULANG!!"


"IYA MAAAA!!" jawab Vallen, kemudian terkekeh.


"Vallen!! Jangan bicara keras-keras pada mama."


"Ayo."


"Gendong aku, Firman. Hahahaha..."


"Vallenn!!!"


🍒🍒🍒


Seorang wanita tampak duduk di sebuah kursi kayu dengan meja berukuran sedang di depannya. Beberapa saat kemudian, tampak seorang laki-laki dengan menggunakan baju tahanan mendekat padanya. Laki-laki tersebut lalu tersenyum kecut.


"Kenapa kau datang ke sini?"


"Aku ingin bertemu denganmu."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Karena aku merindukanmu."


"Merindukanku? Yang benar saja, bukankah seharusnya kau malu karena memiliki seorang calon suami yang ditahan atas kasus percobaan pemerkosaan pada wanita lain?"


"Aku sudah terbiasa menghadapi kelakuanmu."


"Kenapa kau tidak meninggalkanku saja? Apa yang bisa kau harapkan dari laki-laki seperti diriku yang selalu menyakitimu."


"Tidak semudah itu."


"Memangnya kenapa? Jika kau mau, kau bisa meninggalkan aku kapanpun kau mau."


"Tapi bagaimana jika aku tidak mau meninggalkanmu?"


"Kau wanita yang sangat bodoh jika tidak mau meninggalkan aku."


"Memang aku bodoh, itulah sebabnya aku tidak mau meninggalkanmu."


"Apa kau mencintaiku?"


"Ya, mencintaimu, Dimas."


"Kau benar-benar bodoh, Delia!"


"Bukankah sudah kukatakan padamu jika aku adalah orang yang bodoh, itulah alasannya aku mencintaimu, aku mencintaimu karena kebodohanku," jawab Delia disertai air mata yang mulai membasahi wajahnya. Melihat Delia yang kini menangis, hati Dimas pun bergetar. Perlahan tangannya mulai menggenggam tangan Delia.


"De..Delia,. maafkan aku. Maafkan aku Delia, aku hanya merasa tidak pantas bagimu, aku selalu berbuat semauku tanpa bisa berfikir panjang, aku selalu menuruti nafsuku dan tidak pernah bisa mengendalikan egoku, sebenarnya aku sangat malu padamu dan kedua orang tua kita, Delia. Saat menjelang hari pernikahan kita, aku malah menghancurkan semua itu dengan bertindak bodoh. Maafkan aku, Delia, aku benar-benar laki-laki bodoh, kupikir aku sudah tidak pantas bersanding denganmu lagi. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana malunya dan hancurnya perasaanmu saat aku mengalami semua ini. Sekali lagi, maafkan aku, Delia."


"Aku memang sangat hancur, aku memang sangat malu karena calon suamiku dipenjara menjelang hari pernikahan kami karena kasus yang begitu memalukan, tapi aku bisa apa, Dimas? Aku sebenarnya juga begitu marah padamu, karena itulah aku baru datang ke sini sekarang! Tapi, aku memang hanya wanita bodoh yang masih saja mencintaimu meskipun kau selalu menyakitiku!" ucap Delia sambil terisak.


"Delia, maafkan aku. Sungguh aku benar-benar minta maaf padamu, aku memang laki-laki bodoh yang tidak pernah bisa bersyukur pada apa yang telah menjadi milikku, maafkan aku Delia, aku janji akan berubah setelah aku keluar dari penjara. Aku janji aku akan berubah, Delia. Apa kau mau menungguku sampai aku keluar dari penjara ini, Delia?"


Mendengar perkataan Dimas, Delia hanya terisak.


"Delia, aku berjanji, aku akan berubah, aku akan menjadi ayah dan suami yang bertanggung jawab untukmu, dan anak kita."


"Anak-anak kita, Dimas."

__ADS_1


"Anak-anak kita? Apa maksudmu?"


"Kau pikirkan saja sendiri," jawab Delia sambil berjalan meninggalkan Dimas yang masih termenung.


__ADS_2