
"Kenapa kau terlihat gugup Roy? Apa ada wanita yang sudah kau cintai?" tanya Aini sambil meledek.
"Oh belum Aini. Maksudku tidak sesulit yang kupikirkan karena sekarang aku sedikit lebih bahagia, setelah mencoba membuka hatiku aku merasa jauh lebih bahagia, itu maksudku. Bukankah kau yang mengatakan jika aku sekarang berbeda dan tampak lebih ceria." jawab Roy dengan begitu gugup.
"Iya Roy, aku lebih senang melihatmu yang sekarang kau terlihat sangat ceria, itu membuatmu terlihat jauh lebih tampan." kata Aini yang membuat perasaan Roy semakin tak menentu.
'Apa aku tidak salah dengar? Aini mengatakan aku tampan?' gumam Roy di dalam hati.
"Terimakasih Aini."
"Iya Roy. Bagaimana kalau kita ke ruangan Darren sekarang?"
"Ayo, aku juga sudah rindu pada putraku." kata Roy, dia kemudian membantu Aini turun dari tempat tidurnya.
'Oh tidak, semoga Aini tidak mendengar debaran jantungku yang begitu cepat.' kata Roy saat memegang tubuh Aini untuk membantunya duduk di kursi roda. Mereka kemudian keluar dari kamar perawatan Aini menuju ke ruangan Darren.
"Aku masuk dulu ya Roy, aku mau memeras ASI ku dulu, nanti kalau sudah selesai kau kuberitahu."
"Iya Aini." jawab Roy.
'Oh Tuhan, apa aku benar-benar telah jatuh cinta? Kenapa tiba-tiba aku bertindak seperti ini? Rasanya seperti diluar nalarku saja.' gumam Roy di dalam hati.
π₯πΈπ₯ππ₯π
BYURRRRRR
Dimas begitu terkejut karena tiba-tiba tubuhnya basah tersiram air.
"BRENG*EK!! LANCANG SEKALI KALIAN!!! SIAPA YANG SUDAH BERANI MELAKUKAN INI PADAKU!!" teriak Dimas sambil membuka matanya. Netranya lalu tertuju pada beberapa sosok lelaki bertubuh besar yang kini berdiri di sekelilingnya.
"Hei!! Siapa sebenarnya kalian? Lancang sekali kalian sampai berbuat seperti ini padaku! Lebih baik kalian lepaskan aku!! Cepat lepaskan ikatanku!"
Namun beberapa lelaki tersebut hanya diam.
"Kenapa kalian diam? Lihat saja setelah keluar dari sini aku akan membalas perbuatan kalian sampai kalian semua menangis darah!!"
Beberapa laki-laki bertubuh besar itu pun hanya tertawa.
__ADS_1
"Hai kenapa kalian malah tertawa, lebih baik sekarang kalian lepaskan aku atau aku akan membuat hidup kalian menderita!"
"Hahahahahha... Hahahaha."
"Kenapa tawa kalian semakin kencang, apa kalian semua tuli? Berani-beraninya kalian berbuat seperti ini pada orang terpandang seperti diriku! Lihat saja akan kubuat perhitungan dengan kalian!!"
Baru saja Dimas selesai berbicara, tiba-tiba pintu ruangan itu pun terbuka. Seorang laki-laki bertubuh tinggi masuk ke dalam ruangan itu. Dia lalu tersenyum ke arah Dimas.
"Selamat pagi Dimas." kata laki-laki itu sambil tersenyum menyeringai.
"Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu? Lebih baik sekarang kau lepaskan aku atau aku akan memberitahukan orang tuaku untuk membuat perhitungan denganmu!!"
Laki-laki itu pun tersenyum.
"Dasar anak manja, anak mama. Hahahaha."
"Dasar bajingan! Berani sekali kau mengataiku seperti itu! Memangnya siapa dirimu, aku tidak memiliki urusan denganmu, bahkan aku juga tidak mengenalmu! Hai Bung, kau salah jika berani berurusan dengan orang terpandang seperti diriku!!" teriak Dimas, yang hanya dibalas oleh tawa semua orang yang ada di ruangan itu.
"BERANI SEKALI KALIAN TERTAWA! KALIAN BENAR-BENAR SUDAH MENGEJEKKU! AWAS SAJA TUNGGU PEMBALASANKU!"
Laki-laki yang ada di hadapan Dimas pun mendekat padanya. "Hei anak kecil, mungkin kau harus kuberitahu jika ini Jakarta dan bukanlah kampung halamanmu, disini kau hanyalah kerikil kecil seperti debu!"
"Tentu saja aku memiliki urusan denganmu karena kau telah begitu banyak menyakiti Aini!" teriak lelaki itu yang membuat Dimas terkejut.
"Ka... Kau mengenal Aini?"
"Tentu saja, tentu aku sangat mengenalnya, bukankah tadi malam kau hampir saja berbuat jahat padanya! Jika kami tidak mencegahmu entah apa yang akan terjadi dengan hidup Aini, apa selama ini belum cukup kejahatan yang telah kau perbuat padanya? Kau telah begitu banyak menyakiti hidup Aini, dan sekarang tidak akan kubiarkan lagi kau kembali menyakitinya bahkan untuk menyentuh kulitnya pun tak akan pernah kuijinkan!!!"
"Cuih, memangnya siapa dirimu berani berkata seperti itu? Kau bukan siapa-siapa Aini, kau tidak berhak mencampuri kehidupan rumah tangga kami! Camkan kata-kataku! Kau tidak memiliki hak apapun atas kehidupan Aini karena kau tidak memiliki hubungan apapun dengan Aini!" teriak Dimas.
"Tutup mulutmu, Dimas!" teriak seorang wanita yang kini tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Jangan bilang dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Aini! Aini adalah adikku!!!" teriak wanita itu. Dimas pun begitu terkejut melihat seorang wanita yang kini berdiri dihadapannya di samping lelaki tersebut.
"Mba Calista." kata Dimas sambil menelan air ludahnya.
"Ya, aku Calista dan dia suamiku! Jadi kau masih bisa mengatakan jika dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Aini? Kau salah besar, Dimas!"
__ADS_1
"Tapi aku suaminya, Mba Calista. Aku lebih berhak pada hidup Aini dibandingkan kalian berdua!"
"Suami kau bilang? Suami yang selalu menyakiti perasaan Aini maksudmu?"
"Aku tidak pernah menyakiti perasaan Aini tapi aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuknya karena aku sangat mencintainya."
"Cih terbaik untuknya atau untuk dirimu sendiri, Dimas? Kau bahkan tidak pernah memikirkan kebahagiaan Aini, yang kau pikirkan hanyalah egomu saja! Coba kau ingat baik-baik, apa pernah kau membuat Aini tersenyum?"
Dimas pun hanya terdiam.
"Kenapa kau diam? Kau sendiri yang mengatakan ingin melakukan yang terbaik untuk Aini tapi melakukan hal yang begitu mudah pun kau tidak bisa! Apa kau tidak sadar, selama ini kau selalu menyakiti hati Aini, apa itu yang disebut dengan cinta?"
Dimas pun masih terdiam.
"Kau lihat sendiri kan Leo, dia bahkan tidak bisa menjawab pertanyaanku sedikitpun. Itu karena yang dia lakukan selama ini hanya untuk kebahagiaannya dan egonya saja, itu bukan cinta, Dimas!!" teriak Calista dengan begitu berapi-api.
"Tenangkan dirimu Calista." kata Leo sambil mengelus punggung Calista.
"Kesabaranku sudah habis Leo, dia sudah begitu banyak menyakiti Aini. Coba kau bayangkan Leo, jika kemarin aku tidak memergokinya sedang melakukan rencana jahatnya ,sekarang aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup Aini, apa belum cukup dia memer*osa dan merenggut kebahagiaan Aini? Jika tadi malam kita tidak bertindak mungkin sepanjang hidupnya Aini akan selalu tertekan hidup bersama laki-laki egois itu!"
"Iya aku mengerti, Calista." kata Leo. Setelah memenangkan Calista, Leo lalu mendekat pada Dimas.
"Sekarang aku peringatkan padamu, mungkin di kampungmu kau bisa mengatur kehidupan seseorang tapi tidak disini! Jadi jangan pernah coba-coba kau mendekati Aini lagi, apalagi jika hanya untuk menyakitinya! Apa kau mengerti?"
Namun Dimas masih diam.
"Kutanya padamu apa kau mengerti!" teriak Leo.
"TIDAK!! TIDAK!!! DENGARKAN AKU! AKU AKAN MELAKUKAN APAPUN UNTUK MEREBUT AINI KEMBALI!!" jawab Dimas.
Mendengar perkataan Dimas, emosi Leo pun tersulut. Dia lalu mendekat ke arah Dimas kembali.
PLAKKK PLAKKKK PLAKKKK
BUGH BUGHHH BUGHHH
NOTE:
__ADS_1
Yang tanya alasan Aini manggil Roy dengan hanya memanggil namanya saja coba baca kembali Episode 186 Ruang Perawatan Bayi, disitu disebutkan alasan kenapa Roy meminta Aini memanggil namanya saja tanpa sebutan apapun.