
"Aku cinta kamu dokter." kata Rima sambil memeluk foto David di ponselnya. Giselle pun begitu terkejut mendengar perkataan Rima meskipun terdengar sangat lirih.
'Ja... Jadi Rima mencintai David? Oh tidak.' gumam Giselle sambil menutup mulutnya.
Perlahan Giselle pun memegang pundak Rima. "Rima." panggil Giselle yang membuat Rima tampak begitu gugup.
"O.. Oh iya Kak Giselle." jawab Rima kemudian menyembunyikan ponselnya di saku bajunya.
"Kau sedang apa?" tanya Giselle mencoba untuk bersikap biasa saja menyembunyikan rasa kagetnya.
"Emm.. E.. Itu sedang menjawab pesan dari Kak Calista." jawab Rima gugup.
"Kenapa Kak Giselle ada di sini?" tanya Rima lagi.
"Aku sedang menjenguk Stella dan tadi David mencarimu?"
"Dokter David mencariku?" tanya Rima dengan raut wajah berbinar yang membuat Giselle semakin yakin jika Rima mencintai David.
"Ya, dia mencarimu untuk menemani Stella karena dia sedang banyak pekerjaan hari ini."
"Oh iya."
"Ayo Rima sebaiknya kita ke ruangan Stella sekarang."
"Iya Kak." jawab Rima yang kini mengikuti Giselle berjalan di belakangnya.
Kini mereka sudah di kamar perawatan Stella, Giselle pun semakin mengamati gerak-gerik Rima yang selalu mengamati David, dan terlihat murung saat David bersikap romantis pada Stella.
"Stella, aku ke ruanganku dulu ya, nanti kita makan siang bersama. Revan, Giselle aku tinggal dulu ya, tolong temani dan hibur Stella." kata David kemudian membelai wajah Stella dan mengecup keningnya.
"Iya sayang." jawab Stella sambil tersenyum. Giselle sekilas melirik pada Rima yang kini tertunduk dengan raut wajah sedih saat David mengecup kening Stella.
"Iya David kau tenang saja ada kami di sini." jawab Revan.
'Benar dugaanku.' gumam Giselle, apalagi saat dia melihat Rima yang terus memperhatikan David saat pergi meninggalkan ruangan itu dengan tatapan sendu.
Revan lalu mendekat pada Stella yang kini tidur di atas ranjang dengan tubuh terlihat begitu lemas. "Maafkan aku Stella, aku tidak tahu ternyata kisah cintamu ternyata serumit ini."
Stella lalu tersenyum. "Ya, sangat rumit karena itulah aku selalu ragu apakah David benar-benar jodohku atau bukan. Jika suatu saat nanti kami bisa menikah, aku tahu jika waktuku bersamanya tidak lah lama. Aku juga tidak tahu apakah aku masih memiliki waktu untuk melahirkan anak dalam kandunganku atau tidak." jawab Stella sambil terisak.
"Stella kumohon jangan bicara seperti itu!" bentak Revan.
"Meskipun aku bukan lagi suamimu tapi ingatlah aku adalah sahabatmu, aku sahabatmu sejak kecil, aku akan selalu membantumu Stella!"
"Benar apa yang dikatakan Revan, Stella. Kau jangan putus asa, ada kami yang akan selalu membantumu." kata Giselle sambil membelai rambut Stella.
__ADS_1
"Terimakasih." jawab Stella kemudian memeluk Giselle yang duduk di sampingnya.
Rima menatap tajam Stella sambil mendengarkan perbincangan mereka bertiga, berbagai tanda tanya pun muncul di benaknya.
'Bagaimana sebenarnya hubungan Stella dan dokter David? Apa yang sebenarnya telah terjadi?' kata Rima dalam hati.
***
"Revan, kita harus ke rumah Calista sekarang. Ada yang ingin kubicarakan dengan Calista." kata Giselle saat mereka ada di dalam mobil.
"Ini sudah sore, sebaiknya kita pulang. Kita ke rumah Calista besok."
"Tidak, hari ini juga aku harus bertemu Calista." kata Giselle sambil menatap tajam pada Revan.
"Baik.. Baik sayang jika itu maumu aku bisa apa."
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah Calista tepat saat Leo pulang ke rumah itu dan tengah memarkirkan mobilnya.
"Hei, ada apa kalian datang ke rumahku? Apa kalian mau berterima kasih padaku? Hahahaha."
"Cih, kau terlalu percaya diri." jawab Revan sambil menggerutu.
"Hei Giselle, Revan. Kapan kalian datang?" tanya Calista saat keluar dari dalam rumah.
"Baru saja Calista, ada hal penting yang ingin kami bicarakan." kata Giselle.
"Ya." jawab Giselle sambil mengangguk.
"Ayo, sebaiknya kita bicara di dalam." kata Calista sambil menarik tangan Giselle.
"Ada apa Giselle? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa sesuatu kembali terjadi pada hubungan kalian berdua?"
"Tidak Calista, ini tidak ada hubungannya dengan kami tapi Rima."
"APA RIMA?" teriak Leo dan Calista, Revan yang duduk di samping Giselle pun tak kalah terkejutnya.
"Kenapa dengan Rima?"
"Rima... Rima menyukai David."
"APA????" teriak mereka bertiga kembali.
"Bagaimana kau bisa tahu semua itu Giselle?" tanya Calista.
"Aku mendengar sendiri Calista, saat itu aku ke ruangan Rima dan aku lihat sendiri dengan mata kepalaku saat Rima tengah memandang foto David di ponselnya dan mengatakan jika dia mencintainya."
__ADS_1
"Oh tidak." kata Leo sambil mengusap wajahnya.
"Leo, Calista tolong bantu kami. Saat ini Stella sedang sakit, dia sakit kanker darah stadium dua, dan hubungannya dengan David pun tidak lah mudah karena terhambat restu orang tua mereka."
"Kasihan sekali Stella, aku jadi merasa bersalah telah begitu jahat padanya." kata Calista.
"Karena itulah Calista, tolong kalian bantu kami, nasehati Rima agar dia tidak terlalu berharap pada David, kehadiran Rima justru semakin membuat hubungan mereka menjadi semakin rumit dan membuat Rima semakin terluka karena aku tidak yakin David bisa mencintai wanita lain selain Stella."
"Mencoba bersaing dengan Stella saja itu sebuah kesalahan bagi Rima, dia tidak ada apa-apanya dibandingkan Stella." jawab Leo.
"Jadi menurutmu Rima tidak cantik? Dia juga cantik Leo." gerutu Calista.
"Ya, tapi sangat jauh jika dibandingkan dengan Stella. David bahkan sungguh beruntung bisa mendapatkan cinta seorang Stella." kata Leo tanpa sadar yang membuat hati Calista bergemuruh.
"LEOOOOOOO JADI MENURUTMU STELLA LEBIH CANTIK DARI AKU!!!" bentak Calista yang duduk di sampingnya.
"Ampun Calista, aku tidak bermaksud berkata seperti itu, kau tetap yang tercantik di mataku." jawab Leo sambil menggaruk kepalanya dan sedikit salah tingkah.
"DASAR BUAYA DARAT!" bentak Calista lagi.
"Sayang, sayang maafkan aku sayang, aku hanya membandingkan Stella dan Rima, jika kau dibandingkan dengan Stella tentu kau lebih cantik sayang." kata Leo merayu Calista yang kini tampak begitu kesal. Giselle dan Revan pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka.
***
"Kau boleh pulang Rima, pekerjaanku sudah selesai." kata David saat masuk ke dalam kamar perawatan Stella.
"Iya dok." jawab Rima.
"Terimakasih banyak untuk hari ini Rima, sampai bertemu lagi besok." kata Stella yang hanya dibalas anggukan oleh Rima.
"Permisi, saya pulang dulu." kata Rima kemudian berjalan keluar tanpa memandang ke arah David dan Stella kembali. Namun, saat Rima baru saja menutup pintu kamar tiba-tiba rasa rindunya pada David kian bergemuruh. Dia lalu mengurungkan niatnya untuk pergi dan secara diam-diam mengintip David di balik celah pintu meskipun harus menahan perasaan sakit karena melihat David yang sedang bermesraan dengan Stella.
'Lebih baik aku pulang saja, daripada perasaanku semakin sakit.' gumam Rima sambil membalikkan tubuhnya. Tapi di saat itu juga di hadapannya kini berdiri seorang wanita paruh baya yang pernah dia temui di toilet rumah sakit.
"Bagaimana dengan penawaran saya tadi pagi? Apakah kamu mau menikah dengan putra saya?"
"Putra Ibu?" kata Rima balik bertanya.
"Ya. David adalah putra saya. Saya tahu kamu mencintai David. Beberapa kali saya melihat kamu mengamati gerak-gerik David dengan tatapan yang tidak biasa." kata wanita itu yang membuat Rima semakin gugup.
'Aku harus bagaimana? Bukankah ini kesempatan bagus untukku?' kata Rima dalam hati sambil terus menatap wanita itu.
Note:
Jangan lewatkan episode selanjutnya ya.
__ADS_1
kalau kalian suka tolong tinggalkan jejak, kalau ga suka skip aja 🤗✌️
Terimakasih 😘🤗