
"Bagaimana ini bisa terjadi, Olive? Bukankah dia baru saja selesai dioperasi? Bagaimana mungkin dia bisa bergerak dengan bebas? Bukankah bekas jahitan operasi di perutnya juga belum kering?"
"Entahlah Kenan, mungkin dorongan dari dalam hatinyalah yang membuat dia mengabaikan rasa sakit itu hingga bisa membuatnya keluar dari ruang perawatan sendirian. Lalu kita harus mencarinya dimana, Kenan?"
Kenan pun kemudian berfikir sejenak.
"Olivia, mungkin Aini ingin melihat jenazah anaknya."
"Iya, kau benar Kenan. Lebih baik sekarang kita ke ruang jenazah, barangkali Aini ada di sana."
"Ayo kita kesana."
Olivia dan Kenan lalu berlari ke ruang jenazah untuk mencari Aini.
🌿🌸🌿🌸🌿🌸🌿🌸
Roy menatap wajah istrinya yang kini terbujur kaku dengan mata tertutup dan wajah yang terlihat begitu tenang sesaat sebelum dikafani dan dimasukkan ke dalam peti jenazah. Roy sengaja menyuruh pihak rumah sakit untuk merawat tubuh istrinya sampai proses dikafani dan dimasukkan ke dalam peti jenazah karena banyak bagian tubuh istrinya yang rusak akibat kecelakaan tersebut.
"Selamat jalan sayang, beristirahatlah dengan tenang. Aku akan menjaga dan merawat anak kita sebaik mungkin." kata Roy dengan tatapan sendu saat tubuh istrinya dimasukkan ke dalam peti jenazah.
Saat pihak rumah sakit mengeluarkan peti jenazah istrinya untuk dimasukkan ke dalam ambulans tiba-tiba Roy melihat seorang wanita dengan mengunakan kursi roda otomatis serta membawa infus di tangannya datang mendekat ke arah ruang jenazah.
"Tolong beri saya waktu setengah jam lagi." kata Roy pada pihak rumah sakit yang sedang membawa peti jenazah istri Roy ke dalam ambulans.
"Baik kami tunggu anda setengah jam lagi di dalam ambulans." jawab petugas rumah sakit tersebut.
Roy pun kemudian mengangguk. Dia lalu mendekat pada wanita yang kini tampak kebingungan di depan ruang jenazah. Raut wajahnya begitu sendu, dan air mata masih mengalir deras di pipinya.
"Kau mencari siapa?" tanya Roy.
"Putraku."
"Putramu meninggal?"
"Ya, putraku meninggal dalam kecelakaan tadi siang."
"Ayo kutemani." kata Roy kemudian masuk bersama ke ruang jenazah itu dia lalu mendekat ke salah seorang petugas yang ada di dalam ruangan itu lalu menanyakan jenazah bayi yang menjadi korban kecelakaan beruntun.
"Permisi Pak, bisakah kami melihat jenazah bayi yang menjadi korban dalam kecelakaan tadi siang?"
"Anda siapa?"
"Saya ibunya, saya hanya ingin melihatnya karena saya tahu besok saya tidak akan bisa melihat pemakamannya." jawab Aini dengan terisak yang membuat Roy semakin merasa bersalah.
__ADS_1
"Seharusnya prosedurnya tidak seperti ini tapi karena ini sedikit mendesak baiklah saya akan mempertemukan anda dengan jenazah putra anda, tapi maaf tidak boleh terlalu lama."
"Iya tidak apa-apa yang terpenting saya bisa melihat jenazah putra saya."
Petugas tersebut lalu membawa Aini dan Roy ke dalam ruang jenazah lalu berjalan mendekat ke arah jenazah anak Aini yang sudah meninggal.
"Ini jenazah putra anda." kata petugas tersebut.
"Terimakasih, terimakasih banyak." kata Aini.
Perasaannya kian campur aduk saat mulai mendekat pada jenazah bayi itu. Aini lalu memandang jenazah bayi yang ada di depannya. "Nak." kata Aini sambil membelai wajah mungil bayi itu, hatinya terasa begitu sakit melihat sosok mungil yang terbujur kaku di depannya.
'Oh Tuhan, rasanya sesak sekali, hati ini terasa begitu sakit.'
"Nak, maafkan mama yang tidak bisa menjagamu. Mama memang tidak berguna, jika saja mama tidak pergi dari rumah kakekmu tentu saja kita tidak akan mengalami kecelakaan ini. Mama memang benar-benar bodoh Nak."
Aini pun kini tampak memandang wajah putranya sambil sesekali membelai wajah mungil itu, hatinya pun terasa begitu teriris saat menyadari jika saat ini adalah kesempatan terakhir untuk bisa bertemu dengannya.
"Kau harus sabar, ini sudah takdir." kata Roy sambil menepuk bahu Aini.
Aini pun kemudian memandang wajah Roy.
"Kau bisa mengatakan seperti ini karena kau tidak merasakan kehilangan orang yang kau sayangi, putraku adalah satu-satunya alasanku untuk hidup di dunia ini dan aku harus kehilangan dia." kata Aini sambil terisak.
Mendengar perkataan Roy. Aini pun terdiam. "Benarkah? Jadi istrimu juga meninggal dalam kecelakaan itu?"
"Ya."
"Lalu bagaimana dengan anakmu?"
"Dia hidup, tapi dia masih ada di dalam inkubator." jawab Roy yang kini ikut terisak.
"Kasihan sekali anakmu, dia harus kehilangan ibu kandungnya sebelum sempat merasakan kasih sayangnya."
"Ya." jawab Roy yang kini semakin terisak.
Aini pun kembali memandang dan membelai wajah putranya. Air matanya tidak pernah berhenti membasahi wajahnya.
Tiba-tiba petugas ruang jenazah pun mendekat ke arah mereka.
"Maaf waktu anda sudah habis." kata petugas tersebut.
"Sebentar." jawab Aini lalu mendekat lagi ke arah putranya kemudian membelai wajahnya dan menciumnya berkali-kali.
__ADS_1
"Selamat tinggal sayang, beristirahatlah dengan tenang, suatu saat kita pasti akan bertemu di surga." kata Aini disertai isakan yang terdengar begitu menyayat hati.
Aini lalu menjauhi jenazah tersebut, kemudian dia bersama Roy keluar dari ruang jenazah.
'Selamat tinggal Nak.' kata Aini dalam hati saat meninggalkan ruang jenazah tersebut.
"Bisakah aku bertemu dengan anakmu?" tanya Aini pada Roy saat mereka keluar dari ruang jenazah.
Roy pun begitu terkejut mendengar perkataan Aini.
"Untuk apa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertemu dengannya saja."
"Baiklah, setelah pemakaman istriku aku akan pergi ke sini sebentar untuk mempertemukanmu dengannya."
"Terimakasih banyak."
"Sama-sama, aku pergi dulu, aku harus memulangkan jenazah istriku ke rumah duka. Keluarga kami sudah menunggu."
"Ya." jawab Aini.
Roy lalu meninggalkan Aini yang masih terdiam di depan ruang jenazah. Sedangkan Aini masih berdiam diri di depan ruang jenazah sambil menatap ruangan itu dengan tatapan kosong.
"Anakku." kata Aini sambil meneteskan air mata.
Di saat itulah tiba-tiba Kenan dan Olivia mendekat kearahnya.
"Aini, apa yang kau lakukan disini? Kau masih sakit Aini?"
"Aku hanya ingin bertemu dengan putraku, Mba Olive." jawab Aini sambil terisak.
Kenan dan Olivia kemudian berpandangan.
"Ayo kami temani." kata Olivia.
"Tidak, aku sudah bertemu dengannya, tadi ada seseorang yang menemaniku."
"Seseorang? Siapa dia?" tanya Olivia.
"Entahlah aku juga tidak mengenalnya, yang kutahu istrinya juga menjadi korban dalam kecelakaan itu." jawab Aini yang membuat Kenan dan Olivia berpandangan.
"Olive, apakah kau memiliki pemikiran yang sama denganku?" bisik Kenan.
__ADS_1
"Ya."