
"Aini, apakah kau mau berkencan denganku?" tanya Roy kembali.
Aini pun tersenyum, sambil perlahan menganggukan kepalanya.
'YES.' gumam Roy dalam hati. Dia kemudian melirik Aini kembali yang saat ini masih tersenyum malu disertai raut wajah yang terlihat bahagia.
'Apakah kau mulai bisa membuka hatimu untukku, Aini?' gumam Roy saat mengendarai mobilnya sambil melirik Aini yang kini terlihat salah tingkah jika dia sedang meliriknya.
'Roy, apakah ada rasa di hatimu untukku?' kata Aini dalam hati saat melirik Roy yang terlihat beberapa kali juga mencuri pandang ke arahnya. Hingga akhirnya kini mereka sampai di sebuah restoran mewah.
"Ayo Aini." kata Roy saat membukakan pintu mobilnya.
"Iya." jawab Aini.
Aini pun semakin tak bisa mengontrol perasaan di dalam hatinya yang semakin berkecamuk saat Roy kembali menggandeng tangannya saat memasuki restoran tersebut, apalagi saat ini Roy memesan private room untuk mereka berdua.
"Kau mau makan apa, Aini?"
"Apa saja, kau saja yang memesan. Maaf aku belum pernah pergi ke tempat seperti ini Roy, jadi aku bingung."
"Baik, akan kupesankan makanan untukmu."
Aini pun memandang Roy yang sedang memesan makanan pada seorang waiters yang berdiri di sampingnya.
'Aduh bagaimana ini, kenapa aku gugup sekali.' gumam Aini di dalam hati. Hatinya pun semakin tak menentu saat waiters tersebut sudah meninggalkan mereka, dan saat ini hanya dia dengan Roy berduaan di ruangan tersebut. Apalagi saat ini Roy mendekatkan tempat duduknya pada dirinya.
'Oh Tuhan, semoga Roy tidak mendengar jantungku yang berdegup semakin kencang.'
"Kau kenapa, Aini? Apa kau tidak nyaman aku mendekat padamu?"
"Oh tidak, tidak apa-apa." jawab Aini.
Roy pun kemudian menatap Aini yang semakin membuat perasaan Aini begitu tak menentu, dia pun hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
'Dia memang masih benar-benar polos.' gumam Roy dalam hati. Roy pun semakin mendekatkan posisi duduknya.
'Oh tidak, aku gugup sekali. Bagaimana ini?' gumam Aini yang kini semakin menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang kini bersemu merah. Roy pun mendekatkan tangannya ke wajah Aini lalu mengangkat wajah Aini yang masih tertunduk. Namun di saat itu juga pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka, beberapa orang waiters kemudian masuk untuk mengantarkan makan malam yang dipesan mereka.
"Aini ayo makan, energimu pasti sudah banyak terkuras karena beberapa kali kau sudah memeras ASI mu untuk Darren."
"Iya."
💓🍀💓🍀💓🍀💓
"Lihat Mba Olive dia sudah rapi sekali, mau kemana dia?" kata Laras pada Olivia saat mereka sedang duduk menemani Laurie dan Dennis bermain di rumah Laras.
"Mungkin mau mengunjungi Darren."
__ADS_1
Aini pun mendekat pada mereka. "Kau mau kemana Aini?"
"Mau ke rumah sakit mba, hari ini Darren sudah bisa dibawa pulang, aku dan Roy akan menjemputnya lalu membawanya pulang ke rumah."
"Oh, jadi sebentar lagi Roy akan menjemputmu?"
Aini pun mengangguk sambil tersenyum.
"Apa mba keberatan?"
Laras dan Olivia lalu berpandangan sambil tersenyum.
"Oh tentu tidak, mba sangat senang jika kau pergi dengan Roy." jawab Laras.
"Selama kau pergi dengan Roy kami tidak akan merasa keberatan Aini." tambah Olivia sambil meringis.
Aini pun begitu heran mendengar perkataan mereka. "Kenapa Mba Olive dan Mba Laras berkata seperti itu?" tanya Aini sambil mengerutkan keningnya.
"Karena kami sangat mendukung hubunganmu dengan Roy, bukankah kau juga sangat menyayangi Darren? Apa salahnya jika kalian menikah saja? Roy juga sepertinya memiliki rasa yang terpendam padamu." kata Olivia.
"Dan untuk saat ini memang cuma Roy yang pantas jadi suami kamu, Aini." tambah Laras sambil tersenyum.
"Mba Laras, Mba Olive bisa aja, kalian berbicara terlalu jauh, Aini juga belum resmi cerai."
"Sebentar lagi juga surat cerainya keluar Aini, tinggal nunggu masa idah kamu selesai terus kamu nikah deh sama Roy." jawab Laras sambil terkekeh.
"Mba Laras, Aini cuma gadis desa, tidak mungkin orang seperti Roy mau sama Aini, dia pasti mencari istri yang berpendidikan dan sepadan dengan dirinya."
"Iya Aini, kau jangan merasa rendah diri karena Mba yakin hanya Roy laki-laki yang pantas untukmu, dia sangat tulus menyayangimu dan menerima dirimu, Aini."
Mendengar perkataan Laras, Aini pun hanya tersenyum sambil tersipu malu.
"Mba Laras bisa aja deh, Roy juga tidak pernah mengatakan apapun ke Aini, kenapa Mba Laras bisa seyakin itu?" kata Aini sambil memonyongkan bibirnya.
"Aini, Roy belum pernah mengatakan apapun padamu karena kau saat ini kau masih belum resmi bercerai dari Dimas, saat kau sudah selesai menjalani masa idah, aku yakin Roy pasti akan mengungkapkan perasaannya padamu." jawab Olivia yang semakin membuat Aini tersipu malu.
"Eh Aini tapi bagaimana sebenarnya perasaan kamu? Kamu juga suka kan sama Roy?" tanya Laras.
Aini pun hanya diam.
"Apaan sih Mba Laras kok nanyanya gitu."
"Lihat Mba Olive, dia terlihat malu-malu. Eh Aini, kau sangat beruntung jika bisa menikah dengan Roy. Dia tampan dan kaya, ya meskipun perbedaan usia kalian cukup jauh tapi jika kau menikah dengannya hidupmu pasti terjamin Aini, dia juga bukan tipe laki-laki egois seperti Dimas, kau pasti bahagia hidup bersama Roy." kata Laras sambil terkekeh.
"Benar apa yang dikatakan Laras, Aini. Pikirkan baik-baik, Roy memang pilihan yang tepat untuk masa depanmu." kata Olivia ikut menimpali.
Laras dan Olivia lalu saling berpandangan saat melihat Aini yang mulai merenung sambil tersenyum.
__ADS_1
"Eh, sebentar lagi kau mau pergi sama Roy kan? Sebentar mba ambilkan make up dulu." kata Laras kemudian berlari ke arah kamarnya.
"MBA LARASSSS!!!" teriak Aini.
"Sudah Aini, kau turuti saja kata-kata kami. Sebentar ya, Mba Olive ambilkan baju dulu buat kamu." kata Olivia, dia lalu berlari ke rumahnya.
Beberapa saat kemudian Olivia pun kembali lalu mendekat ke arah Laras yang sedang mendandani Aini.
"Laras, ini dress milikku yang tidak pernah aku pakai karena kekecilan, lebih baik hari ini Aini memakai dress ini agar terlihat manis." kata Olivia sambil memperlihatkan sebuah dress casual bermotif stripe dress warna biru putih dengan merk Z***
"Iya mba, selama ini Aini belum pernah memakai dress seperti itu. Aini aku sudah selesai mendandanimu, sekarang kau ganti pakaianmu dengan pakaian milik Mba Olive itu."
"Ayo Aini, pakai ini saja." kata Olivia ikut membujuk Aini.
Aini pun masuk ke dalam kamarnya lalu berganti pakaian dengan menggunakan pakaian milik Olivia.
"Wooowww cantik sekali." teriak Olivia dan Laras saat Aini keluar dari kamarnya yang membuat Aini tersipu malu. Tiba-tiba sebuah suara klakson pun terdengar.
TINNNN TINNNN
"Itu pasti Roy, ayo cepat kau temui dia Aini."
Aini pun mengangguk. "Aini pergi dulu ya Mba."
"Iya Aini, goodluck ya!" teriak Laras dan Olivia bersamaan.
Aini pun berjalan memasuki mobil Roy. Roy yang melihat penampilan Aini pun hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.
'Oh Tuhan, astaga dia cantik sekali.' gumam Roy, tubuhnya pun kini terasa bergetar saat Aini duduk di sampingnya.
"Selamat siang, Roy."
"Selamat siang, Aini."
"Kau kenapa Roy, kenapa kau berkeringat? Apa AC mobil ini kurang dingin?"
"Oh tidak Aini, aku hanya gugup."
"Gugup kenapa?" tanya Aini sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, gugup karena ada bidadari yang duduk di sampingku." jawab Roy sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gombal." gerutu Aini.
Roy pun hanya bisa tersenyum.
'Seandainya aku punya mesin waktu, aku ingin memutar waktu lebih cepat agar aku bisa menikahimu secepatnya, Aini.' gumam Roy dalam hati sambil melirik Aini.
__ADS_1
NOTE:
Kayak lagunya Budi Doremi ya, mesin waktu 🤭🤭