
Hanya butuh waktu sebulan antara Ayah dan Om Doni mempersiapkan pesta pernikahan kami. Dan dalam waktu sebulan itu aku juga tak pernah sekalipun diajak Ayah ke rumah Anita, meskipun hanya sekedar basa-basi. Semua yang mengurus Ayah, Ibu dan keluarga Anita. Sejujurnya aku sungguh penasaran dengan sosok Anita, karena setiap Ayah dan Ibu pulang dari pertemuan dengan keluarganya, Ibu akan selalu bilang ‘cantik’ atau kalau tidak ‘baik, sopan, dan jago masak lagi’. Akhhhh, seperti apakah wanita yang akan menjadi Ibu dari anak-anak ku ini?
Waktu yang ditunggu-tunggupun tiba, prosesi Ijab Kabul di Laksanakan. Tak sabar aku ingin segera melihat calon istriku. Sesekali aku melirik ke arah pintu Masjid. Berharap segera datang bidadari tak bersayap itu. Dua puluh menit kami menunggu, hingga akhirnya....
“Pengantinnya datang,” ucap seseorang diluar sana. Deg! Sejenak jantung ku berhenti berdetak. Dan seketika perasaan grogi menggerogotiku. Keringat dingin pun mulai muncul dipelipis. Rombongan iring-iringan dari keluarga Om Doni pun satu persatu mulai memasuki masjid, aku tertunduk tapi mataku tetap tajam melihat satu pesatu orang yang masuk. Begitu banyak yang ingin melihat prosesi Ijab kabul kami. Ijab kabul Rezky Aditya mah lewat.
Tak lama muncul Om Doni bersama istrinya, menggandeng seorang perempuan dalam balutan gaun putih khas Suku jawa. Aku yakin itu Anita. Ku tegakkan pandanganku ke arahnya, kuperhatikan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Di mulai dari bulu matanya, yah! Bulu matanya sangat lentik macem bulu matanya Gigi hadid, alisnya tebal bagai gerombolan semut berbaris, tersusun rapi dengan Indahnya. Bibirnya yang mungil nampak menggemaskan karena berhiaskan senyum manisnya. Wajah ovalnya bermake up tipis, menandakan dia gadis yang cantik alami. Ia melangkah dengan anggunnya, balutan hijab di kepalanya menambah kesan kelembutan dalam maghnet pesonanya. Dan saat aku sedang asik mengaguminya, tak sengaja tiba-tiba dia melihat ke arahku. Seketika aku gelagapan, apa lagi tatapan kami saling bertemu, aku kembali tertunduk, namun masih sempat ku berikan senyum kecilku, dan Dia pun membalasnya. Oh Good! Senyumnya ....
“Woy Mas! Kalau memuji Mbak Anita jangan berlebihan, ga kapok kah sama komentar netizen kemarin. Mas Rey dibilang halu,” bisik Meta yang duduk tepat dibelakang sebelah kananku.
“Ah, bodo amat. Netizen yang itu Cuma iri aja, Jomblo memang suka rese. Tapi ya doain yang terbaik ajalah buat dia. Minimal semoga Joni nya cuma jadi talangan air seumur hidup.” kataku terkikik.
“Haaaa,, Joni? Siapa tu Mas?” tanya Meta heran.
“Sttttt, bayi mana tau. Pokoknya kalau berdoa sebut aja gitu,” Kataku sambil menaruh telunjuk didepan mulutku, lalu aku tersenyum meringis.
Obrolanku terhenti saat gadis anggun itu terlihat mengambil duduk di samping kiriku, sesaat dia menoleh kearahku. Dia tersenyum, akupun membalas senyumannya. Grompyang.. grompyang.. Jebretttt! Keder rasanya hatiku.
“Baik nak Rey, apakah sudah siap?” tanya Pak Pengulu.
“Insya Allah, siap Pak!” kataku mantap.
“Ingat Rey! Mengucapkan Ijab Kabulnya satu kali tarikkan nafas, jangan kalah sama Ayah,” kata Ayah menyemangati. Dan aku jawab dengan angukkan kepala. Tapi dalam hati aku bergumam, ‘Emh, maaf Ayah, sepertinya aku tidak mungkin bisa dengan satu kali tarikan nafas, aku hanya mampu dengan tarikan separuh nafas. Lho kok gitu? Iya lah, karena..... Separus nafasku sudah ada pada Anita ... Eaaa Eaaaa! Pembaca baper! Padahal aku Cuma ngomong dalam hati.
Prosesi ijab kabul barjalan lancar, dengan satu tarikan nafas aku berhasil mengucapkannya dengan lancar, tegas, dan mantap. Lafas Alhamdulillah bergema ke seluruh ruangan masjid. Ada haru kulihat di sorot mata Anita, Istriku! Cieee, Istri! Sesuatu yang hangat jatuh tepat mengenai tanganku saat prosesi sungkem pada pasangan pengantin. Aku tau, dia sedang menangis. Menangis bahagia tentunya. Setelah semua rangkaian acara di Masjid selesai akhirnya kami semua beranjak menuju rumah istriku. Tempat dimana kami akan melangsungkan pesta perkawinan kami.
Diambang pintu masjid ...
“Selamat ya Rey,” kata Ferdy memberi ucapan, sambil menyodorkan tangannya.
“Oke, thanks Fer!” kataku sambil menyambut jabatan tangannya.
“Akhirnya ya Rey.. “ menggantung kalimat Ferdy. Hemmm, firasat mulai tidak enak ini. Pasti mau meledek lagi seperti kemarin.
“Akhirnya apaa?? Mau bilang akhirnya aku menikah juga gitu,” kataku mulai sewot.
“Bukanlah ...”
“Trus..??”
“Akhirnya si Joni malam ini di asah, rontok dah tu karat. Huahahhahhaha...” sambil ngeloyor pergi.
‘Nah kan, kamffrett kan si Ferdy!’
***********
Malam tiba, tamu-tamu pun sudah mulai sepi, bahkan perlengkapan pernikahan kami sudah mulai di simpun. Oang tua kami lalu menyuruh kami untuk beristirahat, mereka tau kami sangat lelah karena hampir kurang lebih lima jam kami berdiri demi menyambut tamu-tamu yang datang. Aku dan Istriku bergegas menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuk kami. Aku mengekori istriku, karena ini pertama kalinya aku kerumah Istriku. Setelah di kamar, dia menyiapkan segala keperluanku. Mulai dari handuk peralatan mandi dan pakaian.
“Kita istirahat di sini saja ya Mas, kamar pengantin kayaknya ada keponakan-keponakanku, kasihan kalo dibangunin,” terdengar sangat lembut suara istriku di telingaku bak suara bidadari. Halu lagi! Ah, bodo amat.
“Ya Dek, ga papa lah dek yang penting bisa tidur,” jawabku. Tidur? Bener nih tidur!
__ADS_1
“Ya udah kalo gitu mandi dulu Mas, air angetnya dah aku siapin. Dan ini bajunya, tadi si Meta yang kasih ke aku,” kata istriku sambil menyodorkan handuk dan baju ganti.
“Oke, makasih ya, kamu belum mandi juga kan?” tanyaku sambil mengambil handuk dan baju yang disodorkannya.
“Belum Mas, kamu aja duluan.” Katanya sambil tersenyum.
“Baiklah,,, “ kataku sambil berlalu menuju kearah kamar mandi yang letaknya berada di dalam kamar ini juga. Sempat kulihat istriku pun beranjak bergegas hendak keluar kamar.
“Dekkk,,” panggilku saat aku hampir sampai di kamar mandi.
“Ya masss,” jawabnya sambil menoleh ke arahku.
“Ga mau mandi bareng?”
“Apa Massss?” jawabnya sedikit berteriak, terbelalak matanya membulat indah.
“Ehh, enggak-enggak,, anu, maksudku kita belum kenalan, kenalan dulu ya.” Kataku gelagapan, menyadari bicaraku yang di luar kontrolku. Akhirnya dia tersenyum, lalu berjalan mendekatiku.
“Anita,” katanya sambil mengulurkan tangannya. Cepat kusambut, karena sebenarnya ajakan perkenalan hanya modus, supaya aku bisa memegang tangannya.
“Rey, Rey Nichol. Hehe!” kataku bercanda.
“Oh Rey Nichol, kukira Rey Mashon seperti kata Netizen,” katanya sambil tertawa. Wew, ternyata dia juga bisa bercanda. Dan akupun ikut tertawa.
Selesai mandi bergegas aku ingin memanggil Istriku untuk bergantian mandinya. Namun langkahku terhenti saat ku lihat dia sudah duduk di depan meja riasnya. Nampak rambutnya yang panjang dan hitam terjuntai indah.
“Lho, sudah mandi juga rupanya,” kataku sambil mendekatinya. Lalu aku duduk ditepi ranjang tepat di belakangnya.
“Dek, kalo udah selesai kesini ya,” kataku sambil menepuk tempat disebelah kananku. Ia mengangguk. Tak lama Istriku pun beranjak mendekatiku, duduk tepat disebelah kananku. Dekat sekali, bahkan kurasakan lengan kami bersentuhan. Degup jantung pun mulai bertalu-talu, kulihat tanganku sedikit gemetar. Seperti inikah grogi. Seperti inikah jatuh cinta.
“Kenapa mas?” tanyanya kemudian, demi melihat aku yang tidak langsung bicara padanya.
“Emh, boleh aku buka sekarang kah ini Dek?” tanyaku hati-hati. Dia tersenyum.
“Tentu saja boleh mas, kan sekarang itu milik kamu Mas,” katanya masih tetap tersenyum. Sebelum aku membukanya, kuberanikan diri memberikan kecupan di keningnya sebagai tanda terima kasihku. Dan kulihat matanya terpejam tanda pasrah. Setelah itu ...... tik tok tik tok .... eh Nungguin ya?
“Bukanya dari atas Mas,” kata Istrku lagi.
“Oke,” jawabku. Tapi belum sempat aku membuka, terdengar ketukan dari bawah ranjang.
“Reyyy, maaf Rey, nanti aja buka-bukaannya,” sebuah teriakan dari bawah ranjang, aku terkejut, begitu juga Istriku. Lalu kami sama-sama turun dari ranjang dan melihat kebawah kolong ranjang. Ferdy?
“Woy, ngapain kamu?” tanyaku penasaran. Tak lama Ferdy pun dengan susah payah keluar dari bawah ranjang. Sementara Istriku cepat menyambar jilbab sekenanya.
“Maaf Rey, tadi aku ngantuk banget. Trus kata saudara Anita aku di suruh tidur di sini. Eh, pas lagi enak-enak tidur aku dengar ada orang mau masuk kesini. Ya udah aku ngumpet aja, takut disangka maling. Untungnya kamu yang masuk ke sini Rey, kalo keluarga Anita yang lain bisa-bisa mati lemas aku di kolong” katanya memberi penjelasan.
“Tampang kriminal memang suka was-was ya Fer,” kataku disambut tawa renyah Istriku.
“Wedus! Ya udah, lanjut lagi buka-bukanya, jangan lupa pelan-pelan aja” kata Ferdy ngedumel.
“Lahhh, emang apaan?”
__ADS_1
“Anu kan?”
“Dih, ngeres aja pikirannya. Aku mau buka kado dari Anita.”
“Ebuset, kirain.” Kata Ferdy sambil garuk-garuk kepala, entah karena kutu entah karena ketombean.
"Eh Rey, kamu SALAH KAMAR ga sih, ini kan kamar tamu," tanyanya penuh keheranan.
"Yang salah kamar bukan cuma aku, tapi kamu juga,"
"Kok bisa?"
"Ya, harusnya aku di kamar pengantin. Kamu di kamar mandi," kataku tertawa.
"Weh, semprul kamu Rey." katanya sambil manyun.
Tak lama dia pun pamit keluar, kulihat Istriku hanya tersenyum saja melihat tingkah polah saudaraku ini. Ku antar Ferdy sampai pintu kamar.
“Rey, kayaknya aku pulang duluan pakai motor deh!” katanya sebelum beranjak pergi.
“Ga nunggu Ayah dan Ibu sekalian kah?” kataku, dan tentu ini basa basi.
“Enggak, kayaknya mereka lama, malah bisa jadi nginap. Aku duluan aja.”
“Oh, ya udah! Kalau gitu hati-hati ya!” dan dijawab anggukan oleh Ferdy. Lalu aku beranjak, bergegas ingin menutup pintu.
“Reyyy,, “ panggil Ferdy lagi.
“Apa lagi?” tanyaku pura-pura ramah, aslinya dongkol. Ganggu orang mau buka kado aja.
“Minta ongkos dong, dompetku isinya ketinggalan,” kata Ferdy dengan muka memelas.
“Allahu Akbar, emang ada ya orang bawa dompet isinya ketinggalan.” Kataku sambil menggambil dompetku di kantong celana.
“Ya ada, nih aku buktinya.” Kata ferdy sambil nyengir pastinya. Ku ambilkan beberapa lembar uang lima puluhan.
“Nih, hati-hati dijalan!”
“Oke Sister, tengkyu,”katanya sambi mencium uang yang kini berada di tangannya.
“Sister mbahmu kiper itu,” kataku sewot. Dismbut olehnya dengan tawa.
“Ya udah, aku pulang,” katanya, dan aku mengangguk dan berbalik masuk lalu menutup pintu.
“Reyyyyyyyy... “ si tengil memanggil lagi. Astaqfirullah, sabar Rey sabar. Kubuka pintu, tapi kali ini aku hanya mengeluarkan kepalaku saja.
“Apa lagi?” kataku ogah-ogahan.
“Itu,,, Cuma mau bilang, si Joni kan pemain baru. Kalau kewalahan, si Bejo siap jadi pemain cadangan,” katanya terkekeh. Lalu berlari karena melihat aku bergerak mengambil sandal yang ada di luar kamar di dekat pintu kamarku.
“Lambemu Leeeeee....” kataku sambil melempar sandal di gengamanku ke arahnya.
__ADS_1