
"TOLOOOOONNNGGGGGG!!!"
"Calista, coba kau dengarkan lagi."
"Memang sepertinya ada yang meminta tolong, dan suaranya dari dalam rumah."
"Jangan-jangan sesuatu terjadi pada mama?"
"Jangan mudah terkecoh Giselle, mungkin ini hanya sekedar triknya saja agar kita tidak jadi menemui mamamu."
Giselle pun termenung, namun sebuah teriakkan yang lebih keras kembali mengagetkan mereka.
"TOLONGGGGG... TOLONNNGGGGG!!!"
"Calista, sebaiknya kita memastikan lebih dulu keadaan Mama Santi."
"Baik Giselle, tapi kuminta kau jangan mudah terkecoh. Jika keadaannya baik-baik saja, kita harus secepatnya pergi dari sini."
"Iya Calista, aku janji." jawab Giselle.
Mereka berdua pun kemudian kembali masuk ke dalam rumah tersebut, dan betapa terkejutnya Calista dan Giselle saat mulai memasuki ruang tengah dan melihat Santi yang kini terkapar dengan darah yang mengalir deras di kepalanya.
Mereka pun bergegas mendekat pada Santi yang kini begitu tak berdaya.
"Mama, apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Hei Giselle, lihat ini gara-gara ulahmu yang sudah menaruh kain pel itu sembarangan yang membuatku terjatuh dan kepalaku terantuk ujung meja hingga robek dan mengeluarkan darah seperti ini!"
Melihat Santi yang bercucuran darah segar, Giselle pun kemudian mengambil kapas dan kain kasa lalu menaruhnya di kepala Santi yang robek dengan sedikit menekannya untuk menghentikan pendarahan.
"Hati-hati Giselle! Ini sakit! Kau lihat kan ini semua gara-gara ulahmu!"
"Heh Tante Santi, jangan hanya cuma bisa menyalakan orang lain, bukankah Tante Santi yang menyuruh Giselle mengepel lantai di rumah ini? Lalu Tante sendiri yang kurang berhati-hati, lantas kenapa harus menyalahkan Giselle?"
"Calista sebaiknya kau tutup mulutmu dan biarkan Giselle menolongku atas kesalahan yang dia lakukan."
"Ayo duduk ma." kata Giselle sambil membantu tubuh Santi untuk duduk.
"Jangan memaksakku Giselle kakiku juga sangat sakit dan tidak bisa digerakkan!" bentak Santi.
"Giselle jika dia masih membentakmu lebih baik kita tinggalkan saja dia sendirian."
"Kau jangan coba-coba mempengaruhi Giselle, Calista. Biarkan dia menolongku."
"Tidak, Giselle tidak akan menolong Tante, karena dia sedang hamil, mana sanggup dia menolong Tante yang tidak berdaya seperti itu?"
"Jika kau tidak mengijinkan Giselle menolongku, lebih baik kau saja yang menolongku sekarang!"
"Tentu saja aku akan menolong Tante karena aku wanita yang sangat baik dan berjiwa penolong tapi ada satu syaratnya."
__ADS_1
"Apa syaratnya? Cepat katakan! Apa kau tidak lihat keadaanku? Calista sebentar lagi aku bisa pingsan jika dibiarkan seperti ini!"
"Mudah saja Tante, aku hanya ingin Tante meminta maaf pada Giselle dan berjanji tidak akan memperlakukan Giselle dengan buruk dan tidak akan melakukan ancaman apapun padanya."
"Hanya itu?"
"Ya."
"Baik, aku akan melakukannya."
Calista lalu tersenyum kemudian mengambil ponselnya di dalam tasnya.
"Sekarang katakan Tante."
"Giselle, aku minta maaf padamu, aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik dan tidak akan pernah mengancammu lagi." kata Santi.
'Calista benar-benar bodoh, mengajukan syarat tidak berguna seperti ini yang masih bisa kuingkari.' gumam Santi dalam hati.
"Baik, sekarang aku akan menolong Tante." kata Calista.
"Sebentar ya." kata Calista lagi lalu berjalan keluar rumah.
"Dasar wanita kurang ajar, bukankah di berjanji akan menolongku tapi kenapa dia malah meninggalkanku begitu saja!"
"Sabar ma, mungkin Calista sedang mengambil mobilnya."
Beberapa saat kemudian, Calista pun masuk ke dalam rumah dengan seorang petugas security dan sopir pribadi mereka.
"Sekarang kalian angkat majikan kalian dan masukkan ke dalam mobilku!" kata Calista.
"DASAR BEDEBAH KAU CALISTA! KUPIKIR KAU YANG BENAR-BENAR AKAN MENOLONGKU! KAU MEMANG LICIK!" teriak Santi saat dipapah masuk ke dalam mobil Calista.
"Hei Tante, apa tante tidak bisa berfikir? Jika aku sendiri yang memapah Tante aku tidak akan sanggup, aku juga tidak mau penampilanku terlihat berantakan." gerutu Calista
"Ayo Giselle kita masuk ke dalam mobilku." kata Calista sambil menarik tangan Giselle.
Giselle pun mengangguk sambil tersenyum.
"Dasar wanita kurang ajar!" umpat Santi lagi saat mereka sudah ada di dalam mobil.
"Lebih baik Tante diam sekarang karena aku sudah berbaik hati mengantarkan Tante ke rumah sakit."
"Dasar breng*ek kau, Calista. Heh Giselle kenapa kau tidak membelaku? Bukankah aku adalah mertuamu!" bentak Santi.
"Tante bukankah Tante tadi sudah berjanji untuk bersikap baik pada Giselle."
"Heh janji masih bisa diingkari Calista karena kau pun tidak sepenuhnya menolongku."
"Benarkah? Coba Tante dengarkan ini." kata Calista sambil memperdengarkan voice note yang ada di ponselnya.
__ADS_1
"DASAR BREN*SEK KAU CALISTA! KENAPA KAU MEREKAM KATA-KATAKU!"
"Hahahaha, jika aku tidak merekamnya maka tante akan mengingkarinya. Bukankah sudah berulangkali Tante berjanji pada Revan dan Om Farhan tapi Tante selalu mengingkarinya."
"DASAR WANITA SIALAN!"
"Teruslah mengumpat Tante, karena itu tidak akan mengubah apapun." kata Calista sambil tersenyum kecut.
Giselle pun hanya tersenyum mendengar percakapan Santi dan Calista.
"Hei Giselle kau tidak usah tertawa, ini tidak lucu!"
"Tertawalah sepuasnya, Giselle." kata Calista yang membuat Santi kian begitu terbakar emosi.
Beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di rumah sakit. Calista lalu memanggil beberapa petugas medis agar membantunya membawa Santi ke ruang UGD.
Giselle dan Calista pun hanya melihat Santi dari depan ruang UGD yang kini sedang ditolong oleh beberapa perawat.
"Giselle aku pinjam ponselmu?"
"Untuk apa?" tanya Giselle dengan kening berkerut."
"Menghubungi Leo, ponselku mati." jawab Calista dengan senyum jahil di wajahnya. Giselle pun meminjamkan ponselnya pada Calista.
Seorang dokter pun kemudian keluar dari ruang UGD dan mendekat pada Giselle dan Calista.
"Bagaimana keadaan mertua saya dok?" tanya Giselle.
"Mertua anda mengalami robekan yang cukup dalam di kepalanya dan tulang keringnya retak. Kami sudah menjahit luka di kepalanya dan sebentar lagi kami akan memasang gips di kakinya. Tapi dia belum bisa diperbolehkan pulang karena tadi mama anda kehilangan darah yang cukup banyak jadi untuk sementara dia harus dirawat di sini selama satu malam untuk mendapat cairan infus agar tubuhnya lebih segar."
"Iya dok."
"Silahkan jika anda ingin melihat keadaan mertua anda."
"Iya dok, terimakasih."
Giselle dan Calista pun kemudian masuk ke ruang UGD dan mendekat pada Santi.
"Bagaimana keadaan mama?" tanya Giselle.
"Tidak usah berpura-pura, Giselle. Kau senang melihat keadaanku yang seperti ini kan?"
"Tante Santi apa perlu kuperingatkan lagi agar Tante tidak bersikap buruk pada Giselle jika tidak aku bisa saja melaporkan tante ke polisi atas semua sikap buruk Tante pada Giselle dengan tuduhan perlakuan tidak menyenangkan beserta ancaman."
"Kau benar-benar kurang ajar, Calista. Kau bahkan tidak memiliki bukti apapun aku berbuat jahat pada Giselle."
"Siapa yang bilang? Ada banyak bukti di ponsel Giselle yang berisi pesan bernada ancaman kan? Aku tadi meminjam ponsel Giselle dan sudah mengcapture semua pesan Tante. Lalu aku juga sudah merekam sikap buruk Tante tadi di rumah saat Tante menyuruh Giselle mengepel seluruh ruangan. Lalu aku juga punya ini, rekaman voice note yang berisi janji Tante untuk selalu berbuat baik pada Giselle. Hahahhaha" mata Calista sambil tertawa.
"DASAR WANITA SIALAN!!" umpat Santi yang menggema di seluruh ruangan.
__ADS_1