Salah Kamar

Salah Kamar
Move On


__ADS_3

Giselle menangis di dalam kamar sambil menatap gelapnya malam. "Tuhan, aku wanita yang ingin dicinta, aku ingin mendapatkan cinta dari seorang laki-laki yang tulus mencintaiku, tapi kenapa Engkau mempertemukanku dengan laki-laki yang tak punya hati dan angkuh seperti Revan," isak Giselle sambil menutup kedua matanya. Sayup-sayup dia mendengar suara ketukan pintu, namun dia mengabaikannya, rasanya malam ini dia belum sanggup lagi menatap wajah Revan.


Giselle akhirnya merebahkan tubuhnya di atas ranjang, hatinya kian perih saat melihat foto Leo bersama Calista dan putra putri mereka di halaman rumahnya. 'Seandainya aku tidak terlalu ambisius saat hidup bersama kalian, tentu aku bisa melahirkan anakmu Leo, sama seperti Calista.' gumam Giselle, rasa kantuk yang mulai datang kini membuat Giselle tertidur sambil mendekap foto Leo.


Pukul tujuh pagi, Giselle keluar dari kamar untuk berangkat ke kantor. Namun saat dia membuka pintu kamarnya, tiba-tiba kakinya menabrak sesuatu si depan pintu itu, dan ketika Giselle melihat ke arah bawah, betapa terkejutnya dirinya saat melihat Revan tertidur di depan pintu.


"Astaga!! Pak Revan, apa yang anda lakukan di sini?"


Revan yang masih tertidur perlahan membuka matanya saat melihat teriakan Giselle. "Emhh.. Sudah pagi ya?" tanya Revan sambil mengucek kedua matanya.


"Giselle, kau mau kemana?"


"Tentu saja pergi ke kantor Pak Revan, kalau aku membolos terus-menerus bisa-bisa Leo memecatku." jawab Giselle ketus.


"Giselle, apakah kau masih marah padaku?"


Giselle hanya diam mendengar perkataan Revan. "Giselle, tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu, tadi malam aku hanya salah bicara."


"Tidak ada yang salah dengan perkataan anda Pak Revan, saya memang tidak sebanding dengan Calista ataupun Stella yang kaya dan cantik."


"Maaf Giselle, aku tidak bermaksud menghinamu, aku hanya membela diriku karena kau menuduhku akan berbuat jahat padamu."


"Aku juga berhak membela diri Pak Revan, karena kau sudah memelukku dengan begitu bernafsu sambil memanggil namaku dengan nama Stella."


"Hah? Benarkah yang kau katakan Giselle? Aku sudah memelukmu?" tanya Revan dengan raut wajah bingung.


"Tentu saja, untuk apa aku berbohong padamu, saat itu kau mabuk Pak Revan, mungkin kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan padaku."


Revan lalu mendekat pada Giselle kemudian menggenggam tangannya. "Maafkan aku Giselle, maafkan aku. Aku mohon maafkan aku." kata Revan dengan raut wajah sendu yang membuat Giselle sedikit luluh.


"Baik," jawab Giselle ketus.


"Saya berangkat kerja dulu Pak Revan."


Namun saat Giselle akan meninggalkan Revan, tiba-tiba Revan mencekal tangannya. "Bagaimana jika kau mengundurkan diri saja Giselle, kau tidak usah bekerja lagi, karena kau adalah istriku."

__ADS_1


"Ingat Pak Revan, saya hanya menjadi istri anda selama tiga bulan saja, jika saya tidak hamil dan kita bercerai, bagaimana hidup saya kedepan jika saya tidak memiliki pekerjaan? Tidak ada yang bisa menjamin kehidupan saya akan lebih baik jika saya sudah bercerai dengan anda."


Revan terdiam kembali. "Bagaimana jika aku tidak akan menceraikanmu?"


"Apa? Itu tidak sesuai dengan perjanjian kita Pak Revan!"


"Kenapa Giselle? Apa karena kau masih mencintai Leo dan kau tidak sanggup untuk jauh darinya sehingga kau menolak semua yang kupinta darimu?"


Jantung Giselle berdetak semakin kencang mendengar perkataan Revan, lidahnya seakan kelu untuk berkata-kata. "Kenapa kau diam Giselle? Kau masih mencintai Leo? Apa kau tidak pernah bisa berfikir jernih untuk memiliki masa depan dengan laki-laki lain tanpa hidup dalam bayang-bayang Leo? Bukankah kau juga tahu jika Leo sangat mencintai Calista dan sampai kapanpun dia tidak akan pernah mencintaimu! Kau harus bisa mengubur rasa cintamu Giselle!"


"Maaf itu bukan urusan anda Pak Revan, anda tidak perlu menasehati saya karena anda juga masih terjebak pada cinta yang tak terbalas."


"Itu jadi urusanku karena kita sudah menikah dan kau sekarang adalah istriku. Perlu kau tahu, aku selalu berusaha untuk melupakan cintaku pada Stella meski aku belum pernah bisa, aku selalu berusaha Giselle!"


"Ingat pernikahan kita hanyalah sebuah pernikahan kontrak Pak, sebaiknya anda tidak usah terlalu mengatur kehidupan pribadi saya. Permisi saya pergi ke kantor dulu." kata Giselle kemudian meninggalkan Revan yang masih termenung sambil menatap kepergiannya.


***


"Sayang, aku ke kantor dulu ya. Kau jangan terlalu lelah menjaga si kembar, nanti kau sakit." kata Leo sambil mengecup kening Calista.


"Iya Leo kau juga hati-hati di jalan."


"Iya sayang, twins papa berangkat dulu ya." kata Leo sambil mencium Nathan dan Nala.


"Dewi, Rima kalian tolong mandikan mereka ya, saya tadi malam kurang tidur, sekarang saya mau istirahat sebentar."


"Iya Nyonya." jawab Dewi dan Rima.


Mereka lalu bergegas masuk ke dalam rumah, kemudian memandikan si kembar. Saat sedang memakaikan baju, tiba-tiba suara bel berbunyi.


PAKET


Teriak seorang kurir di depan pintu. "Rima, tolong titip Nathan sebentar ya aku mau ambil kiriman paket di depan."


"Iya Dewi, tapi jangan lama-lama."

__ADS_1


"Siap," kata Dewi kemudian berlari ke arah pintu depan. Setelah mengambil paket yang dibawa kurir tersebut, Dewi memandang barang yang kini ada di tangannya sambil tersenyum. 'Pak Leo, kau sudah berani menjatuhkan harga diriku di depanmu. Sekarang rasakan pembalasaku.' gumam Dewi kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Leo yang kini sudah sampai di kantor sedikit terkejut melihat Giselle yang datang begitu pagi. "Tumben kamu datang pagi Giselle."


"Emhhh iya Pak, saya tadi bangun lebih pagi."


"Nah begitu dong, bangun yang pagi Giselle, biar cepet ketemu jodoh," ledek Leo.


Giselle hanya tersenyum mendengar perkataan Leo. "Oh iya kemaren kamu sakit?"


"Iya Pak, sedikit lelah setelah pulang dari Bandung."


"Oh ya bagaimana acara di Bandung? Lancar kan? Bagaimana dengan Revan? Kamu bisa mengatasi Revan kan? Ya dia memang sedikit galak, tapi sebenarnya dia orang yang baik."


DEGGGG


Perasaan Giselle begitu campur aduk mendengar nama Revan disebut. "Hei kamu kenapa Giselle? Apa Revan berbuat kasar pada kalian?"


"Tidak Pak, semuanya lancar, Pak Revan baik hanya sedikit angkuh."


"Hahahaha ya dia memang seperti itu, kau harus memakluminya, karena kita akan bekerja sama dengannya dalam jangka waktu yang tidak sebentar Giselle."


'Kau tidak tahu Leo, bahkan aku harus bertemu dengannya setiap hari, dan aku begitu tertekan akan sifatnya.'


"Hei kenapa kau melamun Giselle?"


"Tidak Pak."


"Apa kau masih sakit?"


"Tidak," jawab Giselle sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah saya masuk dulu, kalau kau masih kurang sehat, kau bisa ijin pulang."


"Iya Pak," jawab Giselle yang masih menatap Leo saat masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


'Daripada aku harus pulang dan bertemu dengan lelaki seperti Revan, lebih baik aku disini memandang wajah tampanmu Leo.' kata Giselle dalam hati.


Saat Giselle mulai duduk mengerjakan pekerjaannya tiba-tiba ponselnya berbunyi. 'Revan.' gumam Giselle saat melihat nama seseorang yang menelponnya.


__ADS_2