Salah Kamar

Salah Kamar
Tak Bersisa


__ADS_3

"Vallen, kau benar-benar mengagetkanku, untung saja tubuhku kokoh jadi aku tidak ambruk."


"Hahahaha, karena kau terlihat menggemaskan jadi aku reflek memelukmu." jawab Vallen sambil terkekeh.


"Menggemaskan?" kata Firman sambil mengerutkan keningnya.


"Ya."


"Apanya yang menggemaskan?"


"Kenapa kau berpakaian seperti ini?"


"Oh ini, tadi pagi aku ada wawancara kerja."


"Wawancara kerja?"


"Ya, di resort tempat kemarin kau menginap. Aku baru saja selesai wawancara kerja di sana."


"Lalu?"


"Lalu aku diterima." jawab Firman sambil tersenyum.


"Jadi kau akan bekerja di resort itu? Di Anyer?"


Firman lalu menggelengkan kepalanya.


"Kau bilang kau diterima kerja, tapi kenapa kau menggelengkan kepalamu?" gerutu Vallen.


"Karena aku tidak akan bekerja di sana, mulai besok aku akan bekerja di Jakarta, di kantor pusat yang ada di sini."


"Benarkah?" tanya Vallen dengan raut wajah berseri.


"Ya, aku akan bekerja di sini, dan aku baru saja memindahkan barang-barangku di mess yang ada di sini."


"Wow berita yang bagus, jadi kita bisa sering bertemu kan? Aku pasti akan sering datang mengunjungimu di mess dan membawakan makanan untukmu."


Mendengar perkataan Vallen, Firman pun tersenyum.


"Kenapa kau hanya tersenyum? Apakah kau tidak mau bertemu denganku?"


"Bukan, bukan seperti itu."


"Kau tidak usah sering datang ke messku."


"Tapi kenapa?"


"Semua penghuni mess hampir seluruhnya lelaki, aku tidak ingin ada temanku yang melihatmu lalu tertarik padamu. Ayo kita pergi sekarang." kata Firman sambil menarik tangan Vallen lalu berjalan ke arah motornya.

__ADS_1


Vallen pun tersenyum mendengar perkataan Firman.


'Dasar laki-laki sombong, kau terlalu angkuh dan gengsi untuk mengakui perasaanmu.' gumam Vallen dalam hati sambil menatap Firman yang menggandeng tangannya.


🏡🏡🏡🏡🏡


Inara duduk di salah satu pojok cafe sambil mengamati seorang laki-laki yang kini duduk sambil sesekali melihat ke arlojinya. Raut wajah bahagia yang tergambar di wajahnya semakin membuat hati Inara terasa begitu sakit.


"Mas, aku baru pernah melihat raut wajah yang begitu bahagia pada dirimu. Vallen benar-benar menjadi sumber kebahagiaan bagimu." kata Inara sambil menatap sendu Rayhan yang kini sedang memainkan ponselnya.


Sedangkan Rayhan tampak sedang mengetik pesan di ponselnya untuk memberitahu Vallen.


Vallen:


Vallen, aku sudah ada di cafe. Di meja no 15.


"Aku sudah memberitahunya, sekarang aku tinggal menunggu kedatangannya. Semoga saja Vallen mau kembali padaku, dan mau memutuskan kekasihnya itu." kata Rayhan sambil tersenyum.


Di saat itulah netranya tertuju pada seorang wanita dan laki-laki yang masuk ke dalam cafe tersebut.


"Sial!! Kenapa Vallen datang bersama seorang laki-laki? Apakah laki-laki itu yang bernama Firman?" kata Rayhan sambil menatap Firman dari ujung kaki sampai ujung rambut hingga mereka kini sudah ada di dekat meja tersebut lalu duduk di depan Rayhan.


Vallen pun tersenyum pada Rayhan. "Apa kabar Rayhan? Apa kau sudah lama menunggu?"


"Belum terlalu lama, kupikir kau datang sendiri."


"Tapi sayangnya, aku sudah tidak memiliki istri karena aku sudah menalak istriku."


Vallen pun menatap Rayhan.


"Kenapa kau melakukan itu, Rayhan?"


"Karena aku baru sadar sangat sulit mencintai wanita selain dirimu." jawab Rayhan yang membuat hati Firman terasa begitu bergemuruh matanya kini pun menatap tajam ke arah Rayhan. Namun saat akan berkata, Vallen meliriknya dan meminta Firman untuk diam terlebih dahulu.


"Rayhan, tidak sepantasnya kau berkata seperti itu. Saat kau sudah mengambil keputusan untuk menikahi Inara, kau seharusnya bertanggung jawab atas semua keputusan yang kau ambil. Ingat Rayhan, kau sudah berjanji di depan Tuhan saat kau mengucapkan ijab qabul. Kau tidak boleh mengingkari itu dengan berbuat dzolim terhadap istrimu."


"Apa yang sebenarnya kau katakan, Vallen?"


"Kau tidak pernah melakukan kewajibanmu sebagai seorang suami kan? Bukankah sejak kecil kau selalu diajarkan ilmu agama secara mendalam oleh kedua orang tuamu? Kau seharusnya tahu itu Rayhan."


"Vallen, tahukah kamu? Aku sudah berusaha mencintai Inara, tapi ternyata itu tidak semudah yang kubayangkan, terlalu sulit dan akhirnya membuatku menyerah."


"Kau terlalu gampang menyerah Rayhan. Kalian baru menikah beberapa bulan tapi kau sudah menyerah pada keadaan?"


"Ya, karena aku tahu sampai kapanpun aku takkan sanggup. Vallen, aku minta maaf. Jika hanya ini yang ingin kau bicarakan sebaiknya aku pulang saja, sampai kapanpun keputusanku tetap sama."


"Tapi Rayhan, Inara sedang mengandung anakmu, darah dagingmu Rayhan!!"

__ADS_1


"A.. Aaapa?"


"Ya Inara sedang mengandung, kau tidak bisa meninggalkan dia begitu saja. Kau adalah ayah dari anak yang ada di dalam kandungan Inara. Kau tidak boleh egois, Rayhan! Kau harus memikirkan anak dan istrimu!"


"Ba.. Bagaimana kau tahu dia sedang hamil?"


"Itu semua karenamu. Kau sudah menutup semua akses komunikasi dirimu dengan Inara ataupun keluargamu, dia begitu kebingungan bagaimana caranya memberitahukan dirimu!"


"Jadi dia menemuimu untuk memberitahukan padaku mengenai kehamilannya?"


"Ya, karena hanya dengan cara inilah dia bisa memberitahu jika dirinya sedang hamil."


"Lancang sekali, dia sampai mendatangimu? Dasar memalukan!"


"Rayhan kenapa kau berkata seperti itu? Kau kini seperti bukan Rayhan yang kukenal. Dulu kau tidak pernah bersikap seperti ini. Kau selalu bersikap lembut dan menghormati wanita."


"Rayhan, bagaimanapun juga Inara sedang mengandung anakmu, sebagai seorang lelaki kau seharusnya bertanggung jawab pada anak dan istrimu." kata Firman ikut menimpali.


"Sebaiknya kau tidak usah ikut campur." jawab Rayhan sambil menatap tajam ke arah Firman.


"Rayhan dengarkan aku, kau tidak pernah bisa mencintai Inara karena kau tidak pernah membuka hatimu, kau selalu hidup dalam bayang-bayang masa lalumu. Kau harus membuang jauh-jauh semua kenangan yang telah kita lalui bersama lalu coba kau buka pintu hatimu untuknya, beri dia kesempatan dan bukalah lembaran baru. Aku yakin suatu saat nanti kau pasti bisa mencintainya."


"Maksudmu seperti dirimu yang kini sudah mencintai laki-laki lain?"


Vallen pun tersenyum.


"Ya, sama sepertiku. Aku selalu mencoba ikhlas dan melupakan semua masa laluku denganmu karena aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang masa lalu, aku selalu berusaha membuka lembaran baru sampai aku bertemu dengan Firman."


"Jadi saat ini tidak ada lagi perasaan cintamu untukku meskipun sedikit saja?"


"Sudah tidak ada, semuanya sudah habis tak bersisa."


Mendengar perkataan Vallen, Rayhan pun tersenyum. Dia kemudian menatap Firman.


"Sebenarnya apa yang telah kau lakukan hingga Vallen begitu tergila-gila padamu?"


"Aku tidak melakukan apapun, karena rasa cinta itu datang dengan sendirinya. Rayhan, kembalilah pada istrimu. Ikhlaskan saja semua yang telah terjadi, jika dia bukan jodohmu sekuat apapun kau mencengkeramnya dia tetap akan pergi darimu tapi jika kau sudah bertemu dengan jodohmu, meskipun kau sudah melepasnya jauh-jauh dia pasti akan kembali padamu."


Mendengar perkataan Firman, Vallen pun kemudian menatapnya.


'Bukankah kata-kata ini pernah dikatakan oleh mamanya Drey di pesta pernikahan itu? Bagaimana bisa Firman mengatakan hal seperti ini juga? Lebih baik kutanyakan nanti saja.' gumam Vallen sambil menatap Firman yang semakin membuat Rayhan dipenuhi perasaan cemburu.


'Vallen, apa saat ini kau begitu mengagumi kekasihmu? Apa dia begitu hebat hingga membuatmu benar-benar tergila-gila padanya?' kata Rayhan dalam hati.


Rayhan kemudian mengambil nafas panjang.


"Vallen, bisakah kita berbicara empat mata?"

__ADS_1


__ADS_2