
❣️Satu minggu kemudian ❣️
Vallen memainkan sebuah pulpen di atas mejanya sambil termenung. Hani yang melihatnya pun hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Anda kenapa Dokter Vallen? Anda sepertinya sangat lesu beberapa hari ini. Apa karena pangeran bermotor anda beberapa hari ini sudah tidak pernah mengirimkan bunga lagi?" kata Hani sambil terkekeh.
"Tidak usah ikut campur urusanku, Hani. Lebih baik kau urusi saja pekerjaanmu, cepat selesaikan data-data pasien itu." gerutu Vallen sambil melirik pada Hani.
"Dokter Vallen, benar apa yang Tuan Roy katakan, lebih baik anda cepat selesaikan masalah anda dengannya, apalagi jika anda masih mencintainya, jangan sampai anda menyesal saat dia sudah pergi menjauh."
"HANIIIII!! Lebih baik kau urusi pekerjaanmu saja, tidak usah ikut campur urusan pribadiku."
"Iya.. Iya Dok."
Vallen pun termenung sejenak, dia kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Anda kenapa Dok? Apa anda lapar? Bukankah ini masih pagi?"
"Hani, aku tidak enak badan. Aku pulang sekarang, nanti aku bilang Kak David hari ini aku ijin pulang lebih awal. Kau tolong kerjakan pekerjaanmu dengan baik."
"Iya Dok."
"Rasakan Dok, makanya jangan sok jual mahal, apalagi kalau masih cinta." kata Hani sambil terkekeh saat melihat Vallen sudah keluar dari ruangannya.
Vallen lalu melangkahkan kakinya dengan begitu lemas keluar dari ruangannya.
"Vallen, kau mau kemana? Ini baru pukul sembilan pagi." tanya David saat bertemu dengannya di lorong rumah sakit.
"Aku ijin pulang Kak, aku sedang tidak enak badan." kata Vallen sambil meninggalkan David begitu saja.
"Aneh sekali dia." gerutu David.
Vallen pun mengendarai mobilnya dengan perasaan yang begitu tak menentu, air mata mulai mengalir di wajahnya. Beberapa saat kemudian, Vallen pun sudah sampai di rumahnya. Dia melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya dengan begitu lemas. Saat membuka pintu kamarnya, netranya langsung tertuju pada sebuah kotak kardus di salah satu pojok kamar itu. Dia lalu berjalan ke arah kardus itu lalu memandang satu per satu barang yang ada di dalam kardus.
"Aku selalu menyimpan barang-barang pemberian darimu yang selalu kau kirimkan setiap hari padaku, Firman." kata Vallen sambil memegang sebuah boneka Teddy Bear yang sedang memegang sebuah tanda hati bertuliskan VALLEN, I ❤️ U. Vallen kemudian mengambil sebuah barang lagi, satu kotak musik berwarna pink kemudian dia tempelkan pada dadanya.
"FIRMANNNNN!!!" teriak Vallen.
"Apa yang harus kulakukan? Aku tidak boleh seperti ini, ya aku harus menemui Firman dan meminta maaf akan semua sikapku." kata Vallen sambil menghapus air matanya.
Dia kemudian bergegas keluar dari kamarnya lalu mengendarai mobilnya menuju ke kantor Firman. Vallen lalu turun dari dalam mobil dengan begitu tergesa-gesa lalu masuk ke dalam kantor tersebut dan menemui resepsionis untuk menanyakan keberadaan Firman.
__ADS_1
"Selamat pagi, bisakah saya bertemu dengan Firman?"
"Oh selamat pagi, maaf Firman tidak ada di sini."
"Tidak ada di sini?"
"Ya, dia pulang ke kampung halamannya."
Mendengar perkataan resepsionis itu perasaan Vallen pun begitu tak menentu.
"Astaga, apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak tahu alamat rumahnya." gerutu Vallen.
"Bagaimana jika dia meninggalkanku untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah kembali padaku? Aku tidak akan pernah bertemu dengannya? ini sangatlah menakutkan, oh tidak aku pasti akan menyesal seumur hidupku."
"Oh ya, aku punya ide."
Dia kemudian mendekat kembali ke arah resepsionis tersebut.
"Begini mba, sebenarnya ada suatu barang penting yang akan keluarga saya berikan pada keluarganya Firman, bisakah saya meminta alamat rumahnya di kampungnya? Saya akan mengirimkan paket tersebut, ini pesan dari orang tua saya. Tolong ya mba, mintakan alamat Firman pada bagian HRD, karena ini sangatlah penting." kata Vallen sambil tersenyum dengan begitu manis.
"Oh kalau ini menyangkut dengan keluarga kalian, akan saya usahakan." kata resepsionis tersebut. Dia lalu menghubungi pihak HRD kemudian sibuk menuliskan sesuatu.
"Terimakasih banyak." jawab Vallen sambil tersenyum.
"Sama-sama."
Vallen kemudian meninggalkan kantor itu sambil tersenyum menyeringai. Dia kemudian sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Yes, masih ada bangku kosong untuk penerbangan pukul dua siang, ini masih pukul sepuluh pagi lebih baik aku pulang dulu ke rumah untuk mempersiapkan barang-barangku. Firman tunggu aku, aku akan mengejarmu, semoga kau mau memaafkanku." kata Vallen sambil berjalan menuju ke mobilnya.
💜💜💜💜💜
Setelah melalui perjalanan selama satu setengah jam, akhirnya Vallen pun sampai di kota tujuan. Dia kemudian menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya saat keluar dari bandara.
"Firman aku datang." kata Vallen sambil terkekeh kemudian berjalan ke sebuah taksi yang ada di area bandara.
"Ke alamat ini ya Pak." kata Vallen saat menaiki taksi tersebut.
"Baik Mba." jawab sopir taksi itu.
Setengah jam kemudian, Vallen pun sudah sampai di sebuah desa yang terletak di pinggiran kota Jogja.
__ADS_1
"Jadi ini kampung halaman Firman, jauh sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana lelahnya dia dulu mengendarai sepeda motornya sampai ke ujung Pulau Jawa untuk membuang semua rasa sakit di hatinya, tapi ternyata aku malah mengecewakannya dan membuatnya terluka." gerutu Vallen sambil mengigit bibir bawahnya.
Taksi tersebut lalu berhenti di sebuah rumah dua lantai yang tidak terlalu besar tapi memiliki halaman yang luas dan dipenuhi dengan beberapa pohon dan berbagai bunga di halamannya.
"Ini Pak, ambil saja kembaliannya." kata Vallen sambil memberikan beberapa lembar uang pada sopir taksi tersebut.
"Terimakasih banyak Mba, semoga dilancarkan semua urusannya."
"Sama-sama Pak." jawab Vallen kemudian turun dari taksi tersebut.
Meskipun dengan sedikit keraguan, Vallen pun melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah itu. Netranya langsung tertuju pada sosok laki-laki berbadan kekar yang sedang berdiri di depan pintu. Melihat sosok itu, Vallen pun tidak dapat lagi menahan perasaannya, air mata pun mulai mengalir membasahi wajahnya. Dia kemudian berlari menghampiri laki-laki tersebut.
Firman yang sedang mengunci rumah miliknya pun begitu terkejut mendengar suara langkah sepatu yang mendekat ke arahnya. Dia kemudian membalikkan badannya, dan di saat itulah dia melihat Vallen sedang berlari ke arahnya sambil menangis. Firman pun tersenyum, perasaannya kini terasa begitu campur aduk.
Vallen yang ada di depannya lalu langsung menghambur ke tubuh Firman, mengalungkan tangannya di leher Firman sambil mengangkat kedua kakinya. Firman pun tersenyum kemudian balas memeluk Vallen.
"Awwww Vallen, kau kembali mengagetkanku dengan pelukan manjamu seperti ini."
"Maafkan aku Firman, aku sangat merindukanmu. Maafkan sikapku yang telah menyakitimu. Tolong jangan pernah tinggalkan aku."
"Tidak, tidak Vallen, kau seperti itu karena aku. Aku sudah begitu sombong membohongi perasaanku."
"Tidak hanya kamu Firman, aku juga sudah begitu sombong menyangkal perasaanku. Aku terlalu egois, dan hanya mementingkan egoku saja." kata Vallen sambil menangis tersedu-sedu.
"Maafkan aku." kata Vallen kemudian melepaskan tangannya di leher Firman kemudian memeluk tubuhnya.
"Sudahlah Vallen, anggap saja itu semua sudah berlalu. Lebih baik sekarang kita perbaiki hubungan ini."
"Ya."
Vallen pun kemudian melepaskan pelukannya pada Firman sambil tersenyum. Firman kemudian menghapus air mata Vallen yang membasahi wajahnya.
"Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?" kata Firman sambil membelai wajah Vallen.
Vallen pun tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Firman.
"Tentu saja, karena aku sangat mencintai laki-laki sombong yang ada di depanku." jawab Vallen sambil tersenyum kemudian mengecup bibir Firman lalu mereka tertawa bersama.
NOTE:
Tiga episode hari ini sedikit menguras perasaan ya dear 🤭🥰
__ADS_1